Love & Hurt

Love & Hurt
Part 33: Eyes In The Dark



Terkadang tidak perlu semua orang tahu tentang kebaikanmu, dan terkadang kau hanya perlu satu orang untuk kau percayai dan yang mempercayaimu bahkan untuk meyakinkanmu.


...


Perlahan namun pasti Alice kembali melanjutkan kehidupannya, dan sedikit demi sedikit ia mulai bisa melupakan semua kepahitan yang dilaluinya sampai ia dipertemukan dengan orang tua kandungnya. Ia hanya berpikir jika Tuhan memberikan apa yang ia butuhkan yaitu sebuah keluarga yang mengasihinya dengan sepenuh hati. Dua tahun berlalu dan sekarang ia bukanlah Alice yang dulu, sekarang ia dapat mengangkat kepalanya dengan tinggi dan mengatakan siapa dia sebenarnya.


Hari ini Alice menggantikan kakak iparnya untuk mendampingi kakaknya menghadiri sebuah acara ulang tahun perusahaan rekanan yang menjadi partner bisnis perusahaan mereka karena kakak iparnya  masih menjadi nara sumber di sebuah seminar tentang kejiwaan yang dilaksanakan oleh rumah sakit tempatnya bekerja. Awalnya Alice sangat enggan karena ia merasa tidak siap berkumpul bersama orang banyak dalam satu ruangan, namun kakaknya Fabian dan juga kakak iparnya meyakinkan Alice jika ia harus mencoba bersosialisasi dengan skala yang lebih besar mengingat Alice sekarang seorang Direktur Utama walaupun di sebuah anak perusahaan milik keluarganya.


Dan disinilah ia memegang erat lengan kakaknya dan masuk ke sebuah ruangan yang luas dengan dekorasi cantik dan elegan menghiasinya. Alice semakin erat memegang lengan kakaknya tatkala ia melihat banyak orang yang sudah hadir dan menempati meja kursi yang sudah disediakan.


“Alice kau tenanglah, tidak ada yang kan mengganggumu hmmm…” ucap Fabian sambil mengelus tangan Alice yang mulai terasa dingin.


“Selamat malam tuan Fabian Smith, silahkan. Saya akan mengantarkan tuan ke meja tuan yang ada di depan.”


Fabian pun mengikuti karyawan tesebut yang sudah ditugaskan sebagai penerima tamu dan mengantarkan tamu_tamu penting ke meja VVIP.


Tanpa mereka sadari sepasang mata memandang dari kegelapan bayangsan sebuah pilar besar di sudut ruangan itu, bahkan sejak Alice dan kakaknya melalui pintu yang berukuran besar dan mewah sepasang mata dengan tajam menatap mereka sampai mereka duduk di meja yang sudah ditujukan untuk mereka tempati.


“Akhirnya aku menemukanmu, kau semakin cantik sayang. Kupastikan akan mendapatkanmu meskipun nyawa yang menjadi taruhannya,”


Keesokan harinya Alice bangun sedikit terlambat dari biasanya karena acara yang dihadirinya bersama kakaknya selesai hampir tengah malam. Dan saat Alice menuju ruang makan, kedua orang tuanya dan kakak serta keponakan kecilnya sudah berada di sana dengan pilihan sarapan yang berbeda.


“Selamat pagi semuanya!” sapa Alice dengan santai.


“Selamat pagi sayang, duduklah di sini,” sapa ibu Alice dengan lembut dan meminta Alice duduk disampingnya.


“Alice, hari ini kau pulang dengan supir ya. Kakak ada pertemuan dengan pemegang saham di perusahaan induk dan tidak tahu sampai jam berapa selesai,” ucap Fabian pada Alice.


“Tidak masalah Kak,” ucap Alice dan tersenyum pada kakaknya.


“Apakah kau mau Daddy yang menjemputmu?” tanya ibunya pada Alice.


“Astaga Mommy, bisa-bisa nama kantor nanti berubah jadi Taman Kanak-Kanak. Hehehehehe….” Ucap Alice pada ibunya seraya memeluk lengan ibunya dengan erat dan dibalas usapan hangat dan sebuah kecupan ringan di puncak kepalanya oleh sang ibu.


Setelah sarapan Alice dan Fabian bersama-sama berangkat ke kantor walaupun berbeda tempat tapi masih satu arah, selalu seperti itu sejak Alice resmi menggantikan posisi Kakaknya. Dan juga Fabian memaksa jika pulang pergi Alice harus bersama-sama dengannya, kecuali hari ini saat pulang Kakaknya tidak bisa menjemputnya.


Sedangkan di tempat lain namun masih di kota Georgia.


“Joe, sudahkah kau dapatkan?”


“Baru saja ku kirimkan alamatnya ke ponselmu tuan.”


“Terima kasih Joe, kembalilah ke tempatmu, biar aku sendiri yang menemuinya.


“Baiklah tuan Alvern sama pergi dulu,” ucap Joe dan diangguki oleh Alvern.


‘Aku merindukanmu Alicia…sangat merindukanmu.’


Sore harinya tepat pada jam pulang kantor semua terlihat sibuk untuk membereskan mejanya masing-masing seolah-olah ingin cepat pergi dari tempat yang sudah membuat kepala berputar-putar karena Lelah berpikir.


Kecuali satu orang, ia masih beteah denga kesibukannya saat ini.


"Kau sudah boleh pulang, tidak ada lagi yang ku perlukan." Perintah wanita itu pada asistennya. Asistennya membungkuk dan segera meninggalkan ruangan atasannya.


Di saat tidak ada jawaban, wanita itu kembali menyandarkan dirinya untuk sebentar bersantai. Namun tak lama, malah terdengar suara pria yang tak asing untuknya, membuat dia langsung mengangkat kepalanya.


"Hallo sayang, long time no see you." Sapa seorang pria itu memberi salam.


Dia langsung bangkit dari tempat duduknya dan memundurkan tubuhnya sampai tertahan lemari yang ada di belakangnya, dengan ekspresi yang tegang dan marah. Dadanya sesak. Pikirannya berkelana jauh ketika kejadian itu terjadi. Dia tidak mau membayangkannya. Jangankan mengingat, mendengarnya saja dia terlalu lemah.


"Kau...mau apa kau ke sini??? Kita sudah tidak ada urusan lagi tuan!!!" Decak wanita itu terbata. Wajahnya benar benar menegang.


Lelaki itu menyeringai dan maju perlahan setelah mengunci pintu di belakangnya.


"tidak, kau salah sayang. Urusan kita tidak pernah habis smpai kapanpun. Jangan pernah kau lupa..kau milikku." Kata si Pria terus tersenyum dan mendekati wanita itu.


"jangan mendekat lagi!! Keluar dari sini atau kau melihatku menjadi seonggok tubuh tak bernyawa....KELUAR!!!" Ancam wanita itu tanpa takut sedikitpun. Perasaannya berkecamuk masih dengan amarah yang membuncah di dadanya.


Lelaki itu langsung terdiam, dan dengan suara rendahnya menahan emosi dan kecewa. Dia masih berusaha. Dia merindukan wanita ini, namun rasanya dia menyaksikan kebencian yang melekat di hati wanita itu.


"kau tak akan berani melakukannya sayang..." Ujar si pria meremehkan si wanita. Dia terus mendekati.


Wanita itu menarik napasnya dan Dengan nafas yg juga tersengal-sengal karna marah, wanita itu mendekatkan dan menekan sedikit pisau yang di genggamnya sampai dia tak menyadari bahwa lehernya telah sedikit tersayat.


"Ja, ja, jangan kau meragukanku. Coba saja!" Katanya Dengan suara terbata bata.


Lelaki itu tak ingin mengambil resiko besar karna posisinya saat ini benar-benar  tidak menguntungkan untuknya. Dia menarik napas panjang dan akhirnya menyerah. Sambil menggeram dia berbalik dan menyempatkan bicara.


"Saat ini kau ku biarkan, tapi lain kali tak akan ada lagi kesempatanmu untuk pergi sebelum ku jelaskan semua yang sudah terjadi." katanya dan dengan enggan dia pergi meninggalkan wanita yang bertahun-tahun sudah membawa hatinya pergi dan menyisakan penyesalan besar dlm hidupnya. Dia ingin sekali memeluk wanitanya itu, tapi sepertinya ini akan menjadi sulit jika dia terlalu memaksakan kehendaknya.


Sepeninggal tamu tak diundang tersebut, tubuh wanita itu langsung tersungkur dengan linangan air mata yang sejak tadi sudah di tahannya sekuat tenaga. Hatinya bergetir dan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Luka yang sempat tertutup rapi sepertinya akan terbuka kembali perlahan.


"Kenapa...kenapa kau harus datang lagi saat aku sudah hampir berhasil mengikis semua tentangmu?!" Katanya dengan isakan yang memilukan.


Yah Alice tidak menyangka jika setelah sekian lama Alvern bisa menemukannya, berbagai macam macam kenangan buruk berputar-putar silih berganti di benak Alice, isakannya masih terdengar dan iapun tetap dengan posisi meringkuk di dekat meja kerjanya. Setelah beberapa lama Alice perlahan bangkit berdiri meraih kursi kebesarannya dan duduk bersandar dengan lemah sambil memejamkan matanya.


‘Apa yang harus kulakukan? Apakah aku minta Daddy membawaku pergi? Apa yang akan terjadi dengan Mommy jika aku pergi? Mommy tidak akan sanggup. Tapi, Alvern…arrrggghhhhh…apa yang harus ku lakukan?’ Alice menjerit dalam hatinya karena berbagai macam pertanyaan yang hadir silih berganti di benaknya.


Sekalipun di sudut hatinya tersimpan rapi perasaannya untuk Alvern namun rasa itu dikalahkan oleh perasaan trauma yang masih besar dalam dirinya. Terlebih serentetan kata-kata yang diucapkan Alvern pada wanita yang menculiknya jika ia tidak berharga dibanding harta yang dimiliki oleh Alvern.


Sakit, tentu saja. Bahkan lebih dari itu. Ia tidak memilih untuk dijadikan sandra bahkan ia pun tidak meminta untuk ditukarkan dengan harta, tapi kenapa ia harus mendengar kata-kata yang menyayat hatinya disaat ia tidak mengerti apa-apa.


...


...


...


...


...


hemmm beri dia kesempatan menjelaskan alice, sedikit saja 😭😭


.


next part 34


apakah alice akan membuka hatinya?


apakah alvern akan terus mengejar alive?


.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN yaa


RATE DAN VOTE 😍


.


SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI


MOHON MAAF LAHIR & BATIN 🙏✨🍃


.


THANKS FOR READ