
Bukan matahari yang mengelilingi bumi tapi bumilah yang mengelilingi matahari, semua ada alasannya dan semu perlu penjelasan agar tidak ada warna abu-abu ataupun keraguan, hanya sebuah kepastian.
...
Berkali-kali Alvern mendapatkan penolakan dari Alice, tidak dapat diukur besarnya rasa cinta Alvern pada Alice meskipun ditolak dan diabaikan ia tidaklah perduli. Tidak ada yang dapat menggoyahkan tekad Alvern kali ini. Namun berbeda dengan Alice.
‘Arrrgghhhh…dia bisa membuatku gila jika seperti ini setiap hari,’ Alice sangat kesal dengan kegigihan Alvern yang ingin bicara padanya. Bahkan saat ini Alvern sudah masuk ke ruangannya menunggunya sampai waktu makan siang dan itu sangat mengganggu konsentrasi Alice dalam menyelesaikan pekerjaannya.
“Alvern, bisakah kau pergi dari sini? Kembalilah ke tempatmu!” geram Alice melihat Alvern yang sepertinya tidak terganggu dengan pengusirannya.
“Jika kau ingin aku pergi, kau harus mendengarkan penjelasanku Alice. Bukan hanya 5 menit atau 10 menit,” ucap Alvern dengan tatapan langsung ke manik mata Alice.
“Berjanjilah padaku kau akan pergi setelah aku mendengarkan kisahmu Al, sungguh aku sangat tidak nyaman jika kau sudah seperti seorang penguntit?” ucap Alice sambil menghela nafasnya dengan kasar.
‘Aku berjanji akan pergi Alicia, tapi tidak berjanji untuk meninggalkanmu.’ Gumam Alven dalam hatinya sambil terus menatap wajah Alice.
“Tidak hanya mendengarkan, tapi kau harus menjawab pertanyaanku. Setelah itu jika kau memang mau aku pergi meninggalkanmu maka aku dengan sangat berat hati akan memenuhinya.”
Deggg…
Ada sebuah perasaan tidak rela saat Alvern mangatakan akan meninggalkannya tapi kenapa? Alice berperang dengan batinnya karena tidak dapat dibohongi jika perasaan itu masih ada dan masih tersimpan dengan rapi dalam hatinya.
“Temui aku nanti malam di rumahku dan aku akan mendengarkan semua penjelasanmu Alvern. Hanya di rumahku, karena aku tidak ingin pergi kemana-mana denganmu,” tegas Alice.
“Ku pegang kata-katamu Alice, sekarang aku pergi dulu. Dan persiapkan dirimu untuk nanti malam. Aku mencintaimu!”
Alice menegakkan kepalanya saat mendengar kata-kata di akhir perkataan Alvern, tapi ia hanya melihat sosok Alvern menghilang di balik pintu ruang kerjanya.
‘Apa??? Dia mencintaiku??? Tidak, semua sudah tidak sama lagi.’ Gumam Alice dalam hatinya dengan tidak percaya akan kata-kata yang diucapkan oleh Alvern.
Berusaha tidak memikirkan lebih jauh, Alice memaksa dirinya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tapi ia gagal, kata-kata Alvern telah mengusiknya dengan sempurna dan mengacaukan pikirannya.
Alice mengambil tasnya dan pergi keluar ruangannya dan menghampiri asistennya.
“Aku pergi, tolong rapikan mejaku karena aku tidak akan kembali bekerja hari ini, tunda dan alihkan janji temu hari ini ke hari yang lain. Jika sudah selesai kau juga boleh pulang.” Tanpa menunggu jawaban dari aistennya, Alice meninggalkan kantornya setelah menghubungi kakaknya jika ia akan pulang lebih awal.
Sesampainya Alice di rumah, ia berganti pakaian dan bergabung dengan ibunya yang tengah asik bermain dengan keponakan kecilnya yang sangat menggemaskan.
“Fio, kau sakit, kenapa sudah pulang? Tidak biasanya,” tanya ibunya dengan nada cemas.
“Aku baik Mom, hanya ingin cepat pulang dan aku beruntung karena Jordan tidak tidur,” ucap Alice sambil mengelus pipi lembut keponakannya.
“Ceritakan pada Mommy ada apa,” ucap ibunya sambil memegang tangan Alice dengan lembut.
“Nanti saja Mom, karena sepertinya Mommy harus menidurkan Jordan. Ia sudah menguap beberapa kali,” tunjuk Alice pada keponakannya yang sudah mulai mengeluarkan tangisannya.
“Kau tunggulah di taman belakang, Mommy akan menyusulmu sebentar lagi.”
Alice duduk di taman belakang rumahnya ditemani beberapa potong bolu dan segelas jus jeruk kesukaannya. Sentuhan lembut di bahu Alice membuatnya berpaling dan mendapati ibunya tersenyum dan duduk di sampingnya.
“Kau tau Fio, saat kau menghilang pada usia 6 bulan Mommy tidak bisa berpikir apa-apa, Mommy seperti mayat hidup yang mengerikan. Tidak hanya Mommy, Daddymu bahkan menghancurkan semua orang yang terlibat dalam konspirasi penculikanmu, namun itu semua tidak membuatmu kembali pada kami. Dan kakakmu Fabian, selama bertahun-tahun harus menjalani terapi karena rasa bersalahnya yang tidak bisa melindungimu, jadi jangan marah jika kakakmu itu sangat protektif terhadapmu. Kami harus berterima kasih pada Sebastian ayah Alvern yang lebih dulu menduga jika kau adalah putri kami yang hilang sejak lama, karena saat pertama kali ia bertemu denganmu ia melihat kemiripan antara kau dan ayahmu. Mereka bersahabat sejak lama jika kau ingin tahu,” cerita ibunya terus mengalir dan membuat Alice tersadar jika ia bisa selamat dari maut karena ia diberikan kesempatan bertemu keluarga kandungnya dan mungkin Alvern juga layak mendapatkan kesempatan darinya. Tapi, apakah ia bisa?
“Mom, Alvern menemuiku hari ini. Ia mengatakan jika ia mencintaku. Dan ia akan datang kemari nanti malam Mom, entah apa yang diinginkannya,” ucap Alice sambil menundukkan kepalanya dan menautkan kedua tangannya.
“Apakah kau mencintainya?”
“Entahlah Mom, aku takut.”
“Bicaralah padanya Fio, selesaikan semua. Bukan hanya kau sayang yang sudah menjadi korban, tapi Alvern juga. Berikan ia kesempatan, kau akan mengerti semua. Awali dan akhiri semuanya dengan baik jangan sampai ada kata menyesal. Tidak ada gunanya jika selalu menghindar, selesaikanlah,” ucap ibunya dan memeluk Alice dengan penuh kasih sayang.
“Apakah sedang ada arisan di sini?”
“Daddy.”
“Sayang, kau dari mana saja. Kau sudah melewatkan makan siangmu. Astaga Fio, apakah kau sudah makan siang sayang?” tanya ibunya karena baru menyadari jika mereka sudah begitu lama menghabiskan waktu berbicara dari hati ke hati. Girls Talk.
“Ayo, Daddy sudah lapar.”
Siang itu dihabiskan Alice bersama kedua orang tua dan juga keponakan kecilnya, dan itu semua cukup mengalihkan pikiran Alice dari kata-kata Alvern yang sangat mengusiknya.
Malampun tiba dan Alvern tidak pernah tidak menepati janjinya dan ia juga selalu menagih janji yang diucapkan padanya.
Dan sekarang Alvern duduk bersama Alice dan keluarganya, walaupun Alice tidak menatapnya bagi Alvern itu tidak masalah selama tidak menghindarinya.
“Apa yang mau kau bicarakan?” tanya Alice dengan tidak sabar dan membuat mereka menjadi pusat perhatian.
“Aku ingin melamarmu,” ucap Alvern dengan yakin.
“Kau membuang-buang waktuku untuk hal yang tidak berguna,” dengan wajah kesal Alice berdiri dan hendak meninggalkan Alvern bersama keluarganya.
“Tunggu Alicia, aku belum selesai,” tegas Alvern.
“Apa yang belum selesai huh? Sejak kau mengatakan jika aku tidak berharga maka kau adalah orang lain untukku. Kau tahu Alvern, dulu aku tidak pernah meminta untuk bekerja padamu dalam proyek itu, dan aku tidak pernah meminta supaya aku di tukarkan dengan hartamu yang melimpah itu, aku juga tidak pernah meminta supaya kau dekat denganku, aku juga tidak pernah meminta terseret dalam semua masalah keluargamu yang sangat pelik.”
Sebelum Alice malanjutkan kata-katanya ia menghela nafas dengan perlahan, “Tapi sekarang aku hanya meminta satu hal padamu, jangan pernah lagi menemuiku. Aku belum siap dengan sebuah komitmen jangka panjang terlebih itu denganmu. Maafkan aku.” Ucap Alice dengan berani menatap wajah Alvern, dan saat ia akan melangkah menjauh Alvern menghentikannya dengan meraih pergelangan tangannya. Tidak perduli tatapan orang tua dan kakak Alice, Alvern harus bicara.
“Alicia, jika kau terluka karena ucapanku aku sungguh minta maaf. Jika sampai aku mengatakan pada wanita itu bahwa aku sangat mencintaimu dan kau adalah duniaku, apa kau pikir kami sempat menyelamatkanmu? Tidak Alicia, ia tidak akan sebaik itu membiarkanmu hidup lebih lama. Bahkan ibu dan kekekku pun tidak mendapatkan kesempatan bertemu denganku karena harus meregang nyawa di tangannya. Ku harap kau mengerti jika aku harus mengatakan hal yang menyakitimu, sekali lagi aku minta maaf. Semua itu hanya untuk mengulur waktu Alicia, hanya demi sebuah waktu agar aku mendapatkan kesempatan menyelamatkanmu.”
Alvern tidak melepaskan tangan Alice selama ia masih bicara, karena tujuannya malam ini adalah supaya Alice tahu semua langsung dari mulutnya bukan dari orang lain.
“Kau tahu Alicia, aku memang tidak bisa memperbaiki masa lalu yang sudah membuatmu sangat benci bahkan takut padaku. Tapi, seandainya aku bisa kembali ke masa lalu mungkin aku lebih memilih untuk bertemu dengan ibuku Alicia. Karena ia sudah direnggut paksa dariku bahkan sebelum ia memberiku air kehidupannya. Maafkan aku jika kau sduah sangat terluka.” Tidak ingin lagi Alvern memaksa kehendaknya pada Alice, dengan perlahan ia melepaskan tangan Alice dari genggamannya dan membiarkan Alice memutuskan ingin seperti apa. Memaafkannya atau terus membencinya.
Alice terdiam dengan semua yang dikatakan Alvern, namun ia memang perlu waktu untuk dapat menerima semuanya. Tanpa ingin melihat ke belakang Alice berjalan menjauh dari Alvern dan keluarganya bahkan tanpa berkata apa-apa.
“Hmmm…Alvern, angkatlah ponselmu, sejak tadi sudah berbunyi,” tegur Calvin sehingga memecah keterpakuan Alvern saat ditinggalkan Alice begitu saja.
Dengan enggan Alvern mengambil posel dari saku jasnya, dan ternyata ayahnya yang sejak tadi menghubunginya.
“Daddy?”
“Alvern, Grannymu sudah sangat lemah dan ia mencarimu. Pulanglah segera Son.”
“Apaa?? Katakan pada Granny aku akan pulang malam ini, tunggu aku!”
“Sampai bertemu Son, sampaikan salam Daddy untuk Calvin.”
Setelah selesai bicara pada ayahnya, Alvern pun pamit pada Calvin dan keluarganya.
“Aku akan pergi dulu uncle, terima kasih atas semuanya dan sungguh maafkan aku. Selamat malam Uncle. Sampaikan maafku untuk Alicia, aku mencintainya Uncle…sungguh.”
Dengan perasaan berat Alvern meninggalkan ruangan dimana Calvin dan keluarganya berada, namun belum jauh ia melangkah Fabian menghampirinya.
“Apakah kau menyerah Alvern?”
“Tidak! Bukan aku yang menyerah, tapi Alicia. Ia tidak ingin berjuang untuk perasaannya untukku. Kau tau Fabian, aku tidak ingin lagi melihat sorot matanya yang takut saat aku mendekatinya. Biarkan ia membenciku tapi ku harap ia tidak takut padaku. Maafkan aku Fabian, aku harus segera kembali ke Midle, Granny sudah sangat lemah dan semoga aku sempat menemuinya.”
Tanpa menoleh lagi Alvern pergi, meninggalkan kediaman Calvin dan meninggalkan Alice, ia akan memberikan kesempatan pada Alice untuk memikirkan semua yang sudah dikatakannya. Mungkin dengan memberikan ruang pada Alice ia dapat berpikir tanpa rasa takut dan rasa benci.
...
😭😭😭
next
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa
thanks for read and i love you 💕💕