
Kepuasan itu ada saat ada keberhasilan dan kelegaan itu ada saat memafkan. Selalu ada perpisaan jika ada sebuah pertemuan, hal yang tidak bisa dihindari hanya bisa dihadapi.
...
“Jangan pergi lagi, kau dengar aku?”
Perasaan cemas akan kondisi keadaan neneknya yang terus menurun bercampur denga perasaan lega saat Alice menemuinya. Apapun alasan Alice menemuinya Alvern sungguh tidak perduli, yang ia pikirkan hanya satu hal jika ia sudah mendapatkan maaf dari Alice.
“Sekarang katakan padaku, apa yang membawamu kemari huh?” tanya Alvern namun tidak melepaskan Alice sedikitpun.
“Granny,” ucap Alice sambil menundukkan kepalanya.
“Kau masih takut padaku tapi kau menghampiriku Alicia,” ucap Alvern perlahan dan melepaskan rengkuhannya dari Alice.
Sebastian hanya diam menatap interaksi antara kedua orang yang saling mencintai tapi juga saling menyakiti satu sama lain dan juga sama-sama keras kepala. Tanpa sepengetahuan Alice maupun Alvern, Sebastian mengabadikan moment di mana anak dan calon menantunya saling berpelukan dan mengirimkan pada Calvin sahabatnya yang mungkin sebentar lagi akan berubah status menjadi besannya. Ia hanya tersenyum berharap sesuatu yang baik terjadi antara Alvern anaknya dan Alice anak sahabat terbaiknya.
“Pulanglah Alice, jangan memaksakan dirimu jika kau masih tidak berani menatapku.”
“Tidak, dengarkan aku Alvern. Aku…”
“Silahkan masuk Tuan Sebastian dan Tuan Alvern, ibu anda sudah sadar tapi jangan terlalu banyak mengajaknya bicara karena beliau masih sangat lemah.” Alice tidak menyelesaikan ucapannya saat seorang dokter keluar dari ruang ICU tempat nenek Alvern dirawat.
Sebasatian mengangguk dan masuk ke ruang ICU namun ia menghentikan langkahnya dan berpaling pada Alvern.
“Son, apakah kau akan masuk?”
“Iya Dad, aku ikut bersamamu,” dan diangguki oleh Sebastian.
“Aku hanya sebentar, kau tunggulah disini atau kau ingin masuk bersamaku?” tanya Alvern pada Alice dengan ragu. Ia ragu meninggalkan Alice seorang diri saat dirinya menemui neneknya, ia takut jika nanti saat ia keluar Alice sudah pergi.
“Masuklah, ku rasa itu adalah waktu penting untuk keluarga kalian,” ucap Alice sambil menatap manik mata Alvern, dan d tanggapi dengan sebuah anggukan lemah dari Alvern. Sebelum Alvern msuk ke ruang ICU ia memberi kode pada salah satu anak buahnya yang berda tidak jauh dari mereka untuk mengawasi Alice.
Sebelum Alvern masuk ke ruang ICU untuk menemui neneknya, ia berbalik dan mendekati Alice, meraih tengkuk Alice dan menempelkan bibirnya pada bibir Alice. Bukan karena nafsu ataupun gairah namun lebih kepada sebuah kerinduan yang sudah lama terpendam.
“Tunggulah di sini untukku!” Setelah itu Alvern masuk ke ruang ICU menyusul ayahnya yang sudah sejak tadi menemui neneknya.
Saat alvern mendekati neneknya, ia tidak menyangka jika waktunya akan sangat singkat. Banyak waktu terbuang, karena keserakahan seorang Barbara. Dan sekarang kondisi neneknya sudah semakin melemah hanya kedipan mata yang ada sebagai jawaban dari sebuah pertanyaan yang dilontarkan padanya.
“Hallo Granny, aku merindukanmu. Ada seseorang yang juga merindukanmu, aku akan membawanya menemuimu,” ucap Alvern perlahan sambil mengusap dengan lembut jari jemari neneknya yang diwarnai dengan kerutan. Kedipan mata menjadi sebuah jawaban dari perkataan Alvern dan mata lelah itu menatap pada sosok Sebastian yang sejak tadi hanya berdiri dengan diam penuh dengan rasa bersalah dan menyesal.
Alvern beralih memberikan ruang untuk ayahnya yang sangat terpuruk melihat sosok lemah tak berdaya yang sudah banyak berkorban untuk mereka. Dan ia mengambil kesempatan tersebut untuk membawa Alice pada neneknya.
“Kau masih di sini?” tanya Alvern saat mendapati Alice masih duduk di depan ruang ICU sambil memainkan ponselnya.
“Jangan pernah sekalipun untuk meninggalkanku Alicia, kau tidak tahu apa yang bisa kulakukan. Sekarang ikutlah denganku menemui Granny Victoria,” bisik Alvern di telinga Alice.
Saat sudah berada dalam ruang ICU, mata Alice terpaku pada sosok yang terbaring lemah dengan alat bantu pernafasan yang masih terpasang, Alice menutup mulutnya tidak percaya jika yang tengah terbaring lemah itu adalah nenek Alvern yang sudah menerimanya dan memberikan perhatian juga kasih sayang selama Alice tinggal bersamanya.
“Mendekatlah kemari Alice,” Sebastian beralih ke sisi lain supaya Alice bisa mendekati nenek Alvern.
“Hmmm… Granny.”
Usapan lembut dan lemah di tangannya membuat Alice tidak dapat lagi menahan air matanya yang sudah sejak awal ia tahan saat melihat tubuh lemah Victoria. Kecupan ringan diberikan Alice di kening dan pipi nenek Alvern, berharap wanita yang terbaring di hadapannya saat ini dapat bertahan lebih lama.
“Terima kasih Granny, aku menyayangimu.” Dan kedipan mata sebagai jawaban dari ucapan Alice.
Suara isakan kecil dari mulut Alice terdengar saat Alvern memeluknya, sungguh bukankah Alvern yang harus dikuatkan saat keadaan neneknya sangat lemah? Alice hanya tidak menyangka jika kedatangannya akan disuguhkan dengan hal yang sangat menyedihkan.
Sebastian meraih tangan ibu mertuanya dan menciumnya berkali-kali mengungkapkan perasaan sayangnya kepada satu-satunya orang tua yang dimilikinya.
“Maafkan aku Mom, aku terlambat menemukanmu. Terima kasih untuk semuanya.”
Akhir dari ucapan Sebastian ditutup dengan bunyi dari alat monitor jantung Victoria dan kali ini adalah bunyi yang panjang menandakan akhir dari perjalanan seorang Victoria Baxter, nenek Alvern Baxter Trevor dan ibu mertua dari Sebastian Trevor.
Seorang dokter dan beberapa orang perawat melakukan pemeriksaan pada nenek Alvern setelah mendengar peringatan dari tuang ICU. Dan dokter itu terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Maaf…kami turut berduka cita untuk anda dan keluarga anda Tuan Sebastian Trevor.” Ucapan dokter tersebut dan hanya diangguki oleh Sebastian dan Alvern.
“Selamat jalan Granny dan terima kasih untuk semuanya. Kami mencintaimu,” ucap Alvern dengan lirih dan memberikan ciuman terakhir di kening neneknya yang sudah menutup mata untuk selamanya.
Tanpa ada kata-kata, Alice mendekati Alvern yang masih enggan melepaskan tangan nenek terkasihnya. Alvern menanggalkan sikap dingin dan arogannya saat kepergian orang yang sangat dicintainya, sekali lagi ia merasa kehilangan. Namun duka tetaplah duka tidak ada yang dapat mengira siapa yang akan mengalaminya. Dengan sedikit ragu Alice memberanikan diri menyentuh punggung Alvern dan sentuhan itu berubah menjadi usapan-usapan lembut sehingga berhasil menyentak Alvern kembali ke dunia nyata, berbalik dan menatap sepasang mata teduh yang sudah berhasil memporak porandakan perasaannya. Senyum yang diberikan Alice ditengah deraian air matanya membuat Alvern yakin jika Alice adalah tujuan akhirnya dan sungguh Alice adalah alam semesta untuk seorang Alvern.
“Aku mencintaimu Alicia, sangat mencintaimu,” bisik Alvern saat Alice sudah berada dalm pelukannya dan Alice pung mengangguk memberikan jawaban atas ucapan Alvern yang mana hanya dia yang mendengarnya.
...
😍😍😍😍😍
uwuuu uda dongg brantemnya hehe
.
jangan lupa like dan komen ya
thanks for read n i love you 😍