Love & Hurt

Love & Hurt
Part 26: Looking For You



Berusaha dengan sekuat tenaga apakah bisa dilakukan saat tak berdaya? Hanya cukup memasrahkan semua pada takdir dan waktu, berharap akan terjadi hal baik di tengah sebuah kesakitan bahkan kehancuran. Dari semua itu satu hal yang penting yaitu rasa percaya bahwa semua selalu ada akhirnya.


...


Drrrttt drrrttt…ponsel Alvern berbunyi dan ia meringis saat melihat siapa yang menghubunginya.


“Dad?”


“Son, apa yang sudah terjadi? Dimana Alice?”


“Kami masih melacak semua property milik wanita itu dad,” ucap Alvern dengan nada cemas.


“Alvern, dengarkan daddy baik-baik! Uncle Calvinmu sudah menemukan putrinya dan itu adalah Alice…Alicia Serenity. Dia ingin bertemu putrinya Al.”


“APAAAA????!!!!” Alvern langsung berdiri dari tempat duduknya dan semakin terlihat cemas, ia memikirkan apa yang akan dikatakannya pada sahabat ayahnya? Alvern mengusap wajahnya dengan keras dan menarik dasinya seolah-olah dasi yang berada dilehernya mencekiknya dengan keras.


“Alvern, kau masih di sana son?”


“Dad, bisakah aku minta tolong untuk membawa uncle Calvin ke kantorku? Sepertinya aku harus menceritakan semuanya. Apapun yang terjadi aku akan bertanggung jawab,” ucap Alvern dengan penuh keyakinan, karena biar bagaimanapun kejadian penculikan Alice sedikit banyak ialah penyebabnya,


“Son, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kau sudah tau jika yang menculik Alice adalah orang yang jiwanya sangat terganggu. Sekalipun kau tidak melibatkan Alice, ia pasti akan jadi sasaran karena Alice sejak awal sudah jadi bagian dari proyek besarmu. Kau ingat?”


“Tapi dad…”


“Daddy akan bicara lebih dulu pada Calvin, dan selebihnya kita akan mengatasinya bersama. Dad akan mengabarimu lagi, tenanglah Alver, dan berpikirlah dengan caramu.”


Setelah berbicara dengan ayahnya, Alvern memanggil Joe ke ruangannya.


“Joe, saat ini dimana keberadaan Devid?” tanya Alvern saat Joe sudah berada dalam ruangannya.


“Menurut anak buah kita yang berada di sana, Devid menghilang setelah semua perbuatannya mulai tercium, devid pun tidak terlihat di kantor komsultannya tuan sepertinya dia memang menghindari kita,” jelas Joe.


“Wanita itu tidak mungkin membawa Alice ke luar negri Joe karena semua jalur keluar masuk ke kota Midle sudah diberikan peringatan tentang wanita itu. Kalian awasi semua property atas namanya dan anaknya karena besar kemungkinan dia membawa Alice ke salah satu property miliknya, dan lakukan penyelidikan property yang baru saja dibeli oleh wanita itu namun belum di ganti kepemilikannya. Semua kemungkinan bahkan yang terkecil jangan sampai kau lewatkan Joe, aku tidak ingin Alicia lebih lama berada dekat wanita iblis itu.”


“Dan satu lagi Joe, retas ponsel wanita  itu dan cari tau apakah dia ada melakukana transaksi besar selama 3 bulan terakhir, tunai dan non tunai. Dan minta pengacara kita untuk membuat surat resmi untuk memeriksa transaksi keuangan wanita itu. Aku ingin kabar secepatnya Joe.


“Baiklah tuan Al, aku akan pergi dan secepatnya akan memberikan kabar padamu,” ucap Joe dan segera meninggalkan ruangan Alvern.”


‘Kau harus bertahan Alicia, aku pasti menemukanmu.’


Sedangkan di tempat lain.


“Apa yang kau inginkan Devid?” tanya Barbara saat berbicara pada seseorang melewati ponselnya.


“Aku ingin kita bertemu secepatnya.”


“Akan ku berikan alamatnya padamu,” ucap Barbara dan memutuskan panggilan dari Devid. Barbara tidak jadi meninggalkan markasnya setelah mendapat panggilan dari Devid, dan ia sekali lagi harus memanfaatkana Devid untuk mengawasi Alice selam ia mendatangi Alvern dan Sebastian.


Satu jam lebih Barbara menunggu akhirnya Devid tiba di tempatnya, dan Devid sempat terkejut saat tiba di rumah Barbara karena lokasi yang sunyi dan rumah yang tidak terlihat dari jalan utama, seperti tempat persembunyian.


“Aku baru tau jika kau memiliki tempat menarik seperti ini nyonya,” ucap Devid saat sudah masuk ke dalam rumah Barbara.


“Langsung saja Devid, apa maumu?”


“Aku hanya ingin kau membayarku nyonya, karena aku sudah meninggalkan pekerjaanku sebagai konsultan demi misi yang kau berikan. Dan aku hanya mengingatkan janjimu padaku.”


“Pekerjaan? Kebetulan sekali, aku ingin kau menjaga seseorang untukku di sini. Dan ingat jangan sesekali kau menyentuhnya, jika tidak ingin nyawamu melayang.”


“Apakah aku mengenal seseorang ini nyonya?”


“Kau pasti mengenalnya, dan ingat jika sampai pukul 7 nanti malam aku tidak kembali, kau bisa menghabisinya,” ucap Barbara dengan santai.


“Sekarang aku sangat penasaran siapa yang harus ku jaga untukmu.”


Devid hanya menganggukkan kepala tanda mengerti, devid bukanlah orang yang bodoh karena jika dilihat ia sangat memiliki keahlian di bidang yang serupa dengan Alice namun jika diiming-imingi dengan uang yang sangat banyak maka otak Devid akan menjadi setumpul ujung sebuah sumpit. Dana itulah Devid sekarang, tiba-tiba berubah menjadi pesuruh Barbara.


“Ikuti aku jika kau ingin tau,” kata Barbara seraya berdiri dari tempat duduknya dan menuju sebuah kamar yang terletak di lantai 2 dan ada 2 orang yang berjaga tidak jauh dari kamar yang di tuju Barbara. Saat Barbara membuka pintu kamar itu nampaklah sesosok tubuh yang tergeletak di lantai dengan kursi yang masih terikat di tubuhnya.


“Apakah itu Alice?”


“Hmmm…dialah yang harus kau awasi. Pastikan tidak ada yang masuk dan keluar kamar ini tanpa seijinku. Bahkan kau sekalipun tidak ku ijinkan masuk ke dalam kamar ini Devid, apa kau mengerti?”


“Jika sampai gadis dalam kamar ini meloloskan diri, maka bukan hanya saham milikmu yang lepas tapi juga nyawamu. Ingat itu!”


“Kau bisa pegang kata-kataku nyonya, akan ku pastikan ia tidak akan keluar dari kamar ini.”


“Satu lagi Devid dan ingatlah habisi dia jika sampai pukul 7 malam nanti aku tidak berada disini atau tidak menghubungimu,” kembali Barbara mengingatkan Devid dan ia pun berlalu untuk menemui Alvern dan juga Sebastian.


Di ruang kerja Sebastian suasana terasa menegangkan setelah Sebastian menceritakan jika Alice telah menjadi korban penculikan yang besar kemungkinan pelakunya adalah istrinya yang sebentar lagi akan diceraikan oleh Sebastian setelah ia menemukan ibu mertuanya.


Semua sudah diceritakan oleh Sebastian bahkan tentang kematian istri tercintanya Annita dan penyebab Alice menjadi sasaran Barbara. Calvin dan putranya Fabian terlihat dipenuhi oleh amarah saat mendengar semua yang diceritakan oleh Sebastian.


“Aku akan mencari putriku Bastian, dan maaf aku tidak akan memberikan keringanan apapun pada istrimu jika sampai menyakiti putriku,” Calvin berusaha mengendalikan dirinya saat berbicara pada Sebastian.


“Lakukan apa yang perlu kalian lakukan aku tidak perduli lagi padanya. Karena saat aku yang menemukannya lebih dulu maka akulah yang akan menghabisinya,” ucap Sebastian seolah-olah ia mengucapkan janji, janji untuk dirinya sendiri dan untuk mendiang istrinya.


“Maaf uncle Bastian, kami pergi dulu.” Fabian mengajak ayahnya segera pergi karena ia akan langsung mencari adik kecilnya, dulu ia gagal melindungi adiknya namun sekarang semuanya berbeda. Ia bertekad akan melakukan segala cara untuk menebus kesalahannya di masa lalu, demi mengubur rasa bersalahyang teramat besar pada adik kecilnya.


Sepeninggal Calvin dan putranya, Sebastian memerintahkan Jack melacak jalur keluar masuk keuangan milik Barbara karena ia yakin Barbara telah melakukan sesuatu demi semua rencana busuknya.


Di tempat lain jauh dari hiruk pikuk perkotaan, tempat dimana Alice berada.


Saat Devid memandang pintu sebuah kamar dimana Alice disekap, tiba-tiba ia membayangkan tubuh Alice yang tak berdaya dan membuat Devid tersenyum senang akan sebuaah rencana yang ada di kepalanya.


Sedangkan Alice sedikit demi sedikit mulai memperoleh kesadarannya dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Ia memandang ruangan dimana ia berada, ternyata ia masih terkurung dan masih dalam kondisi terikat. Ia hanya dapat melenguh kesakitan, nyeri di tubuhnya hampir tak tertahankan namun ia harus berusaha keluar dari ruangan itu sebelum wanita gila itu datang lagi menemuinya.


‘Arrggghhh…sakit sekali. Wanita itu gila, aku tidak boleh berlama-lama di sini,’ ucap Alice dalam hatinya dan saat ia menggerakkan tubuhnya berusaha untuk melepaskan diri dari jeratan tali yang membelitnya ia memekik kesakitan karena nyeri yang begitu hebat pada lengannya.


Walaupun berusaha dengan tenaga yang masih tersisa, Alice masih tidak dapat melepaskan dirinya. Ia hanya dapat menitikkan air mata karena benci dengan keadaan yang menimpanya saat ini. Alice benci dengan ketidakberdayaannya dan benci dengan kebodohannya yang begitu saja mau didekati oleh Alvern sehingga terjerumus dalam lubang ketamakan ibu seorang Alvern Trevor.


Krieettt…


Bunyi pintu kamar tempat Alice disekap terbuka perlahan dan sosok seorang laki-laki berdiri di ambang pintu dengan seringai mengerikan di wajahnya.


“Hallo Alice rupanya kau sudah sadar.”


...


...


...


...


...


mending bebasin Dev, setega itu dirimu 😭😭


.


next part 26


kapan Alvern atau keluarga Alice menyelamatkannya?


apa yang akan terjadi dengan Alice?


staytune Ges


.


.


pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤