Look at Me

Look at Me
Menyerah



"kenapa harus sekarang sih? "


Kalimat itu membuatku kacau, apa maksudnya? sekarang? bukankah jika dikatakan nanti juga akan seperti ini? Lantas kenapa?


Bayu memutar kunci motornya dan pergi meninggalkan ku tanpa sepatah katapun. Aku bingung dan melangkah kan kakiku ke kamar, menyudutkan diri ke pojok ruangan dan mulai menangis. Seperti sepasang kekasih yang bertengkar pikirku. Tapi aku sadar kami bukan siapa - siapa.


2 hari pun berlalu dan tak ada kabar darinya. Aku mulai melupakan kejadian kemarin malam. Hingga aku melihat bayu dan tunangannya berfoto bersama di sebuah sosmed. Aku terus menyalahkan diriku dengan harapan - harapan bodohku. Seperti dicampakkan pikirku. Tapi bukan itu.


Esok harinya aku menerima pesan di ponselku, dan aku tau nada notifikasi itu. Ya itu dari bayu.


"shil, lu dimana? Gua rindu banget sama lu. Bisa ketemuan gak? " isi pesan itu.


Apa lagi ini? Belum usaikah permainannya?


Aku membalas pesannya namu seperti hambar, walaupun kalimat yang ku tulis seperti menggoda.


"Gua di kampus, sama gue juga rindu. Ayuk ketemuan di taman biasa ya"


Siang itu kami bertemu, seperti tak ada kejadian dia tersenyum dan memperlakukan ku seperti biasa. Tapi tidak denganku. Aku seperti sedang bersandiwara. Hanya tersenyum tapi sangat banyak penjelasan yang ingin kudengar dari mulutnya.


Bayu mengantarku pulang dan berpamitan seperti biasanya. Aku juga seperti tak ingin kejadian kemarin terulang, lantas aku tak menyakan apapun.


Tiba - tiba ponselku berdering, panggilan dari bayu.


"hallo bay" jawabku


"udah masuk? udah ganti baju ya? " tanya bayu padaku.


"iya udah bersih - bersih nih, paling bentar lagi tidur"


"shil gue mau minta tolong, boleh gak" tanya bayu membuatku penasaran, apa lagi ini pikirku.


"Mau minta tolong apa? " jawabku


"Lu bia lepas baju lu gak? Gua butuh asupan"


Sontak jawaban bayu membuatku takut. Ini seperti bukan dia, bukan bayu yang kukenal.


Aku terdiam menelan ludahku dalam - dalam.


Aku harus pergi, harus menjauh dari yang seperti ini.


"shil? shil? kalau gamau gapapa shil. sorry ya. " ucapan bayu seperti tanpa rasa malu dan bersalah. Jariku langsung bergerak mengakhiri panggilan itu. Dan aku masih tercengang.


Berhari - hari kalaimat itu terngiang di telingaku. Semakin takut dan tak ingin berurusan lagi dengan orang seperti itu pikirku.


Dinda semakin penasaran padaku, kenapa aku berusah menghindar dari bayu.


"ada yang mencurigakan nih. Pasti ada sesuatu kan antara lu sama baybay" tanya dinda padaku, mendekatkan wajahnya kearahku sambil menyipitkan matanya.


"ada, sudah pasti ada" jawabku


"ha.. sudah kuduga. Emang ada masalah apa lu sama bayu? Cerita ke gue sekarang"


Haruskah aku menceritakan yang sebenarnya pada dinda? haruskah? Tapi aku sangat takut dinda akan marah besar padaku, dengan apa yang trlah kulakukan selama ini. Aku sudah mengecewakan semuanya.


"gak ada apa - apa kok, tenang aja din" dan aku masih terus membohongi dinda dan terus membohongi diri ssndiri. Rasa malu akan di tertawakan terus membayangi pikiran ku. Tahan! selalu kata itu dalam pikiran ku. Pasti ada waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya pasa dinda dan pada semua orang termasuk diriku sendiri.


"ayo shil, apalagi sih yang lu sembunyi in dari gue? lu udah gak anggap gue teman lagi " dinda terus mengoceh membujukku.


Dan disaat itulah tiba - tiba bayu muncul dihadapanku. Aku tak berkutik dan terdiam.


"shil ada yang mau gue omongin sama lu, bisakan? "