
Jam 16.00
ICU
Didepan ruang ICU, Hanna tertunduk lemas. Ia bingung harus bagaimana. Sampai ia sadar ada seseorang yang menyodorkan minuman hangat kearahnya.
"Nih minum dulu." ucap Sam
"Thanks, soal gue yang ketus sama lo tadi, gue minta maaf ya. Gue hanya ingin membuat jarak aja sama lo." ucap Hanna yang tak kuasa menahan tangisnya.
"Membuat jarak?? Maksut lo?!!" tanya Sam heran.
"Gue.. gue... bingung harus ngomongnya dari mana. Gue nggak tahu ini munculnya dari kapan, tp yang jelas hal itu gk akan bisa terjadi."
"Gue gak ngerti maksut lo. Hal apa?"
"Waktu papa lo datang, gue sempet denger kalau ternyata gue itu anaknya. Dan itu berarti kita saudaraan. Antara seneng dan sedih pas dengernya. Apa lo tahu kalau kita sebenernya adik kakak?" Ucap Hanna sambil menindukkan kepalanya.
"Iya, gue tahu kalau lo juga anak papa. Tapi kenapa lo sedih?"
"Karna..karna.. Lo nggak peka banget jadi cowok. Udah gue mau kekantin sebentar, nggak usah di bahas lagi." Lagi-lagi Hanna menjawabnya dengan ketus.
Namun sebelum Hanna berjalan, Sam langsung mendekap tubuhnya dari belakang.
"Gue tahu, gue tahu semuanya. Gue tahu kalau lo juga anak papa. Tapi lo gk usah sedih, karna sebenarnya gue juga sayang sama lo, gue cinta sama lo. Please jangan cuekin gue lagi."
Tangis Hanna pecah. Ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Kita saudaraan Sam, kita gak bisa memulai hubungan ini."
"Jangan mikir terlalu jauh dulu, sekarang fokus ama kesembuhan mama kamu ya. Dan kita jalanin seperti ini dulu." Sam memutar badan Hanna dan mengecup keningnya.
Hanna memeluk Sam sambil menangis. Ia bingung dengan perasaan yang tiba-tiba muncul seperti ini.
Syukurlah kau telah memilihku Hanna. Gumam Sam dalam hati.
Namun tiba-tiba mereka melihat suster yang sibuk berlari keluar masuk ruangan ICU.
"Apa yang terjadi Sam?" tanya Hanna bingung.
Lalu Sam menghentikan langkah suster yang berjalan cepat dihadapannya.
"Maaf sus, apa yang terjadi?"
"Salah satu pasien ada yang kritis, maaf saya terburu-buru."
"Mama.. apa itu mama?" Isak Hanna
"Tenanglah Hanna.." jawab Sam berusaha menenangkan Hanna.
Tak butuh waktu lama, suster itu keluar dari ruang ICU dan memanggil,
"Maaf, keluarga Nyonya Yolanda..?" panggol suster itu.
"Saya sus, saya anaknya."
"Mari ikut saya masuk, tapi maaf hanya satu orang saja ya." ucapnya
"Masuklah, gue akan menghubungi papa."
Hanna mengangguk.
***
"*Hallo pa, nyonya Yolanda sedang kritis pa, cepatlah kemari.."
Ya Allah, semoga semua akan baik-baik saja.
***
Diruang ICU
Hanna berjalan cepat menuju kearah Yolanda. Dengan berurai air mata ia berusaha tegar melihat orang yang sangat ia sayangi lemas tak berdaya.
"Maaf nak, hal yang bisa menolongnya saat ini hanyalah doa. Karna, alat medis sudah tidak bisa terus membantunya." ucap dokter itu sambil tertunduk sedih. "Kamu yang sabar ya." ibuhnya.
Tangisan Hanna semakin pecah.
"Mama, ini Hanna ma.. apa mama bisa mendengar Hanna."
Dengan mukzizat Allah Yolanda masih bisa membuka matanya.
"Hanna.. " ucap Yolanda lirih
"Ya ma, ini Hanna. Mama harus sembuh, demi Hanna. Mama nggak boleh ninggalin Hanna. Hanna nggak mau sendiri."
"Hanna, maafin mama. Maafin mama karna sudah membohongi kamu soal papa kamu."
"Hanna sudah tahu semuanya. Hanna hanya mau sama mama."
"Tapi mama nggak bisa menemani kamu sayang. Mungkin ini waktunya kamu untuk tinggal dengan papa kamu."
Hanna menggelengkan kepalanya sambil terus meneteskan air matanya.
Beberapa menit kemudian, Gerald dan Sam datang memasuki ruangan dengan persetujuan dokter.
Sam melihat Hanna menangis sambil terus menggenggam tangan Yolanda.
"Hai Gerald.." ucap Yolanda menyapa Gerald
"Berjuanglah untuk sembuh, kita akan tinggal bersama." ucapnya.
"Hanna begini, kamu sudah tahu mengenai siapa saya bukan." ucap Gerald
Hanna mengangguk
"Saya adalah papa kamu, dan rencananya saya akan bawa mama kamu berobat di Amerika. Bagaimana menurut pendapatmu, apa boleh?"
Tanpa berpikir panjang, Hanna langsung mengangguk menyetujui saran seseorang yang tak lain adalah papa biologisnya.
"Ya, lakukan apapun itu asal mama sembuh. Jika mama bisa sembuh, saya akan maafin anda dan menerima anda sebagai papa saya. Tapi jika tidak, jangan harap saya memanggil papa."
"Baiklah, saya akan mulai mengurus semuanya. Karna saya juga mau mama kamu sembuh." Gerald menepuk pundak Hanna.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin." imbuhnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
To be Continue
Hallo semua,
Maaf ya karna nggak up lama
Tapi kini akan mimin usahakan up setiap harinya.
Terima kasih karna terus setia menanti.
Love you allπ₯°π₯°