Look at Me

Look at Me
Bab 18.



Saat di UKS


Sam berjalan masuk ke ruang UKS, lalu ia merebahkan tubuhnya di bed kecil yang sudah disediakan.


"Kamu kenapa?" tanya seseorang yang tak lain adalah penjaga UKS.


"Hanya sedikit pusing pak. Saya hanya butuh istirahat sebentar." ucap Sam


"Oo ok, kalau butuh sesuatu segera tanya saya." jawab pak Husen yang memiliki perawakan seperti artis bollywood.


Namun Sam hanya terdiam tanpa menjawab ucapan pak Husen.


Gadis itu kenapa sih, sulit banget buat ditebak. Kemaren nangis-nangis dibahu gue, sekarang mala kayak ngejauh."


"Cewek itu emang seperti itu, jangan kamu paksa menanyakan apa yang terjadi, karna dia nggak akan menjawabnya sampai kapanpun. Cewek itu maunya kita kaum Adam berpikir lebih keras lagi buat ngebuktiin sampai mana kita memperjuangin dia." celetuk pak Husen yang masih pada posisi duduknya.


Sreeettt....


Sam membuka horden pembatas.


"Lalu bagaimana saya bisa tahu apa yang dia mau. Kan dia nggak bilang pak. Ribet banget..." celoteh Sam


"Ya mangkanya, kamu jangan ikutan keras, deketin dia perlahan, cari celah, baru dech... Kamu emang gak pernah pacaran."


Sam langsung terpaku mendengar kalimat akhir dari pak Husen.


"Ehm.. bukannya nggak pernah pacaran pak, cuman nggak mau ribet ajja. Kok saya jadi curhat ke bapak. Udah pak, saya mau langsung pulang." ucap Sam malu dengan berjalan cepat meninggalkan ruangan pak Husen.


"Hehehe... dasar remaja sekarang." pak Husen terkekeh melihat tingkah mahasiswanya.


Saat Sam hendak pulang, ia melihat sesorang yang berlari kecil dari kejauhan. Ya.. Hanna berlari kecil seakan ia terburu-buru.


Sam-pun akhirnya menyusul kearah Hanna


"Hannaaa...." teriaknya, sambil berlari mendekatinya.


Hanna melihat kearah Sam dengan mata yang berkaca-kaca.


"Lo kenapa?" tanya Sam


"Sam, anterin gue kerumab sakit ya. Nyokap gue Sam... nyokap gue..." ucapnya sambil terisak.


"Okey.. okey... ayo gue anterin. Lo yang tenang ya."


Mereka-pun akhirnya menuju parkiran motor.


.


.


.


.


.


DIRUMAH SAKIT


Hanna berjalan menelusuri koridor rumah sakit tanpa berkata apapun. Dan itu membuat Sam semakin bingung, ia tak tahu apa yang harus ia perbuat. Dan itu membuatnya frustasi.


"Mbak Hanna.." panggil salah satu suster yang ada disana.


"Dokter Santiago ingin bertemu dengan anda."


"Baik." Hanna-pun mengikuti langkah suster yang memanggilnya.


Tok..tok.. tok...


"Permisi dok, keluarga pasien sudah datang." ucap suster itu.


"Oh okey.. baik." jawab dokter Santiago


"Mbak Hanna dan mas silankan duduk" ucap suster.


"Baik sus, terima kasih." kini Sam yang menjawab.


Terlihat dokter Santiago menghela nafas berat. Dan dengan raut wajah yang tak sama sekali Hanna ingin lihat.


Pasti ada hal buruk dengan mama. Batinnya


"Ada apa dengan mama saya dok.." tanya Hanna


"Hasil tes Ny. Yolanda sudah keluar. Dan hasilnya cukup buruk. Penyakit yang ia derita sudah stadium akhir.Jadi saya harap anda sudah menyiapkan mental untuk segala hal yang terjadi. Tadi ibu anda sempat tak sadarkan diri, jadi saat ini saya pindahkan diruang ICU."


Hanna lemas mendengarnya, dadanya sesak, ia tak mampu mengeluarkan kata-kata apapun.


Sam hanya bisa memeluk Hanna


"Dok, apa boleh saya bertemu mama?"


"Boleh, tapi yang masuk hanya 1 orang ya."


"Oke."


*****


KAMPUS


Saat itu jam menunjukkan pukul sebelas siang, terlihat Reno yang celingukan diluar kelas Hanna. Siska-pun menyadari kehadiran Reno, dan Siska langsung menghampirinya.


"Kak Reno, kakak kesini mau nyariin Siska ya" ucap Siska genit


"Gue nyariin Hanna, dia dimana kok nggak ada."


"Ihh... Hanna mulu' , dia tadi buru-buru pulang karna ada telpon dari rumah sakit. Pas gue tanyain ada apa, dia nggak bilang." jelas Siska


"Oh, oke-oke. Thanks ya..." jawab Reno tersenyum dan pergi.


Ya ampuun kak Reno... senyummu membawa gula. Manis sekali .. ucap Siska lirih.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


LANJUT BAB 19


Dukung Mimi dengan vote ya...


Dan jangan lupa klik like dan coretan dikolom komentar.


Makacii...