Look at Me

Look at Me
Bohong



"Selamat pagi cantik"


"Pagi.. "


"Siapa tu? anak baru? Lumayan tuh"


Terdengar bisik-bisik yang menyebalkan di setiap pagiku. Tak ku perdulikan namun semakin mengganggu.


Kampus ini seperti penjara bagiku. Terkekang dan selalu membuatku kesal saat aku menginjakkan kakiku di salah satu fakultas yang tak ingin kuinginkan tapi menjadi penentu masa depanku. Pendiam, kreatif, dan gdlooking. Seperi itu aku dikampus, entah siapa yang menyematkan panggilan itu padaku. Ah sudahlah! yang oenting itu bukan seuatu yang buruk pikirku.


"Shilll..... hey look at me! How do u think about me? Wait!!!! are u ok? Kenapa kamu terlihat buruk hari ini? Ayola.. ceritakan padaku apa yang terjadi? ayo shill... cerita.. cerita.. " kicaun burung disetiap pagi yang aku tak bisa hindari. Tak bisa marah. Tak bisa dihentikan.


Dia sahabatku sejaki kecil, Dinda namanya. Cewek centil dengan seribu kata-katanya yang kalau dia ngomong, orang-orang bakalan pake penutup telinga karena ributnya yang tak dapat dihentikan itu.


"Nooo! I'm fine! aku gak apa-apa kok din. Please deh stop menciptakan salit kepalaku di pagi hari. Oke? " ujarku yang blakblakan sama dinda. Aku tau aku gak bisa marah sama dinda. Ya. seperti itulah.


"Ok Ok Ok! Tapi beneran deh, wajahmu buruk buanget hari ini. Apa kamu gagal operasi plastik? iya? Gagal? Operasi dimana shila? Please shil kasih tau aku! "


Well. Seperti inilah setiap pagiku πŸ˜‘


"ooppss.. haha ok ok aku bercanda doang loh shil. Kamu kelihatan banget lagi banyak pikiran. Lagi ada masalah? gua nanyak serius ni" ucap dinda bertanya seolah-olah dia paham situasiku saat ini.


"aahh sudahlah biarin aja, aku dan wajahku ini. Beginilah kami" ucapku cuek.


Dinda hanya tertawa tanpa hentinya, seolah-olah yang kuucapkan begitu menggelikan dan menggelitik perutnya.


Dan ya itu yang selalu kami lakukan setiap pagi. Tertawa dan membahas hal - hal gila yang kamu sendiri tak paham. Aku sangat menyayangi dinda, dia sudah seperti adikku sendiri bahkan kami sudah seperti bemar - benar menjadi keluarga. Semuanya bersama, bahkan maslah cinta kami juga selalu sama. Entah apa yang menyebabkan semua itu. Menurutku itu aeperti sebuah kutukan di cerita dongeng yang suatu saat kami akan menemukan pangeran impian kami masing - masing.


Aku selalu menyendiri saat aku tak inginkan siapapun ada di dalam otakku, bahkan aku tak pernah memperdulikan semua yang menghampiriku. Egois? cuek? Tidak! aku bukan seperti itu. Hanya saja hayiku selalu menginginkan itu. Melankolis? Mungkin ya. Terlalu banyak hal yang membuatku jadi seperti ini, terutama masalah hati.


I love u.. Aku sayang kamu.. Jangan tinggalin aku..


Hah! itu takkan mempengaruhi ku lagi. Bahkan aku sidah muak sengan kata - kata seperti itu.


Bual aja deh cowok - cowok jaman sekarang. Yang kelihatannya serius eh malah bisanya bikin cewek nangis sampai seminggu. Dia tahu? Hah! Mana mungkin dia tahu!! mana mungkin dia tahu apa dirasakan cewek. Cowok yang bisa tau isi hati ceweknya. Hah itu masih ada? sayangnya aku tak pernah melihat yang seperti itu. Kenyataannya semuanya itu "nothing".