
Seperti biasa aku menghabiskan waktu selalu bersama dinda. Mungkin hanya dia satu-satunya sahabatku.
Kami pergi ke sebuah toko barang antik, mencari beberapa barang untuk keperluan tugas kuliah. Mencari beberapa makanan menelusuri jalanan sekitar di tempat kami berada.
"Chocolate" ucapku dan dinda dengan girangnya.
Kesukaan kami terhadap seuatu hampir selalu sama. Kami menikmati cemilan kami di sebuah toko rotivyang menjual banyak menu - menu bertemakan coklat.
Aku dengan santainya menyantap cemilanku. Namun tiba - tiba aku melihat seseorang yang ku kenal di seberang jalan. Memunculkan rasa bersalahku, rasa maluku, mengingatkanku pada kebodohanku.
Aku terus menatapnya dari balik pembatas ruangan ini. Teringat terus dan terus menekan dada hingga sesak. Aku yang dulu menghancurkan kebahagiannya, membuatnya menderita.
"maaf dini" itu yang ingin kusampaikan padanya, namun tak dapat terucapku.
Kami tak saling mengenal tapi kami tau kami disakiti oleh orang yang sama. Ini membuatku terus mengingat kejadian dulu saat aku mengikuti sebuah acara di sekolahku.
1 tahun yang lalu.
Aku yang begitu ceria berada dalam sebuah kelompok melaksanakan kegiatan sekolah, acara pentas seni sekolah. Aku selalu bercanda gurau dengan trman - trmanku, siapapun iyu tanpa merasa ada jarak sedikitpun.
Di saat itu aku mengenalnya. Dia juga bagian dalam acara yang akan kami persiapkan. Kamera selalu ada ditangannya, meliput setiap kegiatan yang kami lakukan.
Berpandangan satu sama lain sudah pasti sering kami lakukan. Namun tidak untuk saling menyapa. Aku juga tak pernah berpikir untuk lebih jauh mengenalnya.
Hingga suatu saat. Aku yang sedang duduk sendiri di kursi taman sekolah, terkjeut aaat ada seseorang yang menepuk pundakku dan berkata.
"hai shil. Kok sendirian? " katanya
Aku sungguh terkejut, menatap sejenak ke arahnya.
"Oh. hai. Iya nih istirahat dulu, capek. " jawabku seolah sudah mengenal satu sama lain.
"thanks." jawabku dengan singkat sembari meraih botol minuman dari tangannya.
Perkenalan singkat, padahal aku tak tahu siapa namanya. Apa aku orang yang sungguh tidak perduli? tapi inilah yang selalu membuatku tertarik. Aku jadi penasaran untuk mengetahui siapa dia.
Esok hari saat acara dimulai aku menerima pesan manis di ponselku.
"selamat pagi shila, bagaimana hari ini? semoga kau selalu semangat ya. Sukses untuk semua kegiatanmu. Jangan lupa sarapan dan senyumanmu yang indah"
Aku terdiam sejenak dan berpikir "anak iseng mana nih? pasti ulah dinda yang nyebarin kontakku ke cowok-cowok gak jelas". Tak kuperdulian pesan itu.
Namun dia terus mengirimiku pesan, mengingatkanku untuk selalu tersenyum. Aku semakin penasaran dan ku balas pesan itu.
"maaf ini siapa? saya tidak kenal. Mengaoa mengirim pesan terus? "
"oh ya. Sorry. Gua Bayu yang kemarin ketemu di taman. Ingatkan? Lemon tea? " jawabnya membua rasa penasaran ku hilang seketika.
"oh.. yang kemarin ya. Thanks buat kalimat penyemangat nya".
Dan pesan itu berlanjut terus, terus dan terus sampai kami menjadi semakin dekat dan janjian untuk ketemuan.
Semuanya mengalir seperti air tanpa ada rasa tertahan, terjadi begitu saja. Dan mulai tumbuh rasa - rasa aneh di hatiku. Cinta? oh tidak secepat itu pikirku. Mungkin sekedar mengagumi, karena dia selalu ada.
Sampai saat pertemuan kami di sebuah toko kue, dan kami berbincang mengenai kegiatan masing - masing. Dan aku terkejut sampai tak sanggup menelan potongan kue yang baru saja ku masukkan ke dalam mulutku. Hilang rasa. Hilang selera.
"Sebenarnya gua udah tunangan shil"
Aku tertegun dan tak bisa berkata mendengar nya. Apa yang telah kulakukan dengan pria milik orang? Sebegitu senangnya aku dekat dengannya. Ternyata semua hanya aku yang rasa? Lalu semua ucapan nya, kehadirannya dan seluruh waktunya untukku. Apa yang sedang dia lakukan? Apa yang akan dipikirkan oleh wanita yang bertunangan dengannya?
Aku harus apa?