Look at Me

Look at Me
Aku



Denting jam dinding mulai terdengar di telinga membangunkanku dari mimipi-mimpi yang ku tahu takkan pernah terjadi. Kicauan burung kecil yang mengarahkan mata ini menyelinap ke sebuah ruangan kecil yang tak pernah terjamah lagi.


Kotor, hampa dan menyeramkan. Itu yang ada di benakku saat aku perlahan melangkahkan kakiku dan masuk semakin dalam tanpa tahu arah dan tujuanku. Tak ada yang spesial dan membuat hatiku tertarik, tak ada yang patut dicurigai dan tak ada rasa sama sekali yang membangkitkan semangatku.


Hampa.


Tak ingin rasa apa apa.


Tapi aku selalu menginginkan suatu hal yang seperti dulu, selalu seperti dulu.


Hah. tak mungkin pikirku, jangan bermain dengan pikiran bodohku.


Jangan lagi!


Kulangkahkan kaki meninggalkan bekas lama itu. Menatap ke sebuah ruangan kecil yang dipenuhi makanan.


"oh ibu sudah menyiapkan semuanya" pikirku sejenak


Kemudian terdengar suara halus menyerukan namaku sembari melangkah menuju ke arahku.


Tangannya yang hangat terlukis garis - garis tipis hadiah kehidupan yang telah ia jalani menyentuh pipiku, dengan manisnya ia berkata.


" makanan sudah siap, makanlah selagi hangat nak".


"yaa. Aku akan makan bu Duduklah bersamaku" ucapku sambil menyentuh tangan halus itu.


"ibu sudah kenyang, makanlah. Masih banyak hal yang harus ibu kerjakan".


"baik bu". jawabku.


Aku tau ini berat bagi ibu, harus mengurus kami berdua. Aku tak bisa banyak membantu ibu. Suatu hari nanti aku pasti akan mewujudkan semua impian ibu pada kami. Pasti!


Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang begitu keras bak seribu gajak berlari, menyergap sebuah kotak makanan dengan sekejap dan berteriak dengan kerasnya.


"aku pergi dulu bu. Jam 4 aku kembali. Dah ibu, dah ayah, dah shila"


Ya. Itu Sheina. Kakakku satu-satunya. Wanita cantik berusia 20 tahun dan sedang menempuh studi di salah satu universitas di Jakarta. Kamu hanya berjarak 2 tahun dan dia selalu mendapatkan apa yang sia inginkan. " Perfect" seperti itu orang selalu menyebutnya.Sikapnya yang selalu ceria dan mandiri membuatnya disenangi banyak orang. Dia selalu mengucapkan kalimat yang sama saat meninggalkan rumah. Entah itu saat hanya aku yang berada di rumah ataupun ibu saja, tetapi kalimat itu tetap sama. Ayah? Pria itu sudah tak ada. Pria yang selalu menjadi kebannggan kami sudah lama meninggalkan kami, bahkan itu saat usiaku masuh 5 tahun. Tapi kami masih menganggapnya ada di rumah ini karena dia akan selalu bersama kami, selau ada dimanapun kami berada.


"Bu, Aku pergi ke kampus ya. Mungkin aku akan pulang larut, maaf tidak bisa membantu ibu"


Tak terdengar suara, hanya terlihat ibu jari tangannya yang diangkat, seperti mengisyaratkan "oke"


Kulangkahkan kakiku, berjalan menyusuri jalan yang tak asing lagi bagiku, dan kehidupanku yang lain pun mulai kujalani kembali, di tempat yang harusnya membuka cerita baru, menciptakan aku dan hatiku di suasana yang baru namun ternyata tetap menyesakkan dada.


Dan aku harus menjalaninya dengan aku yang apa adanya, aku yang seperti biasanya. Karena aku bukan aku yang dulu, aku kini bersama dengan segala prinsipku dan segala kekuatanku.