
Beberapa jam kemudian Gerald sudah mengurus semua administrasi termasuk juga jadwal keberangkatannya bersama Yolanda. Semua sudah terencana dengan sempurna.
Dan kini saatnya Hanna melepas ibunya untuk melakukan pengobatan diluar negri. Tempat dimana ia tak bisa menjenguk setiap harinya. Ia harus menahan rindunya demi kesembuhan orang yang sangat penting dalam hidupnya.
"Hanna, selama mama kamu melakukan pengobatan, kamu sementara menginap dirumah papa ya."
"Nggak usah om, Hanna tinggal dirumah aja."
"Hanna, dengarkanlah ucapan papa kamu. Ini semua demi kebaikan kamu juga. Kalau kamu sendirian dirumah, nanti mama jadi khawatir." ucap Yolanda lirih dan menggenggam tangan Hanna.
"Mama, mama jangan pikirin Hanna, yang penting mama sembuh ya."
"Kamu maukan menurut apa kata papa kamu."
Dengan terpaksa Ia mengangguk menuruti kemauan mamanya.
"Iya, ma. Hanna akan melakukan apa yang mama suruh. Mama sembuh ya, berjuanglah untuk Hanna."
Yolanda menganggukkan kepala dengan tersenyum.
"Sam, jaga Hanna. Okey!! Papa percayakan dia sama kamu."
"Baik pa, jangan khawatir. Papa jaga tante Yolanda ya, dan juga jaga kesehatan papa."
"Baik. Papa berangkat ya."
.
.
.
.
Hanna meneteskan air matanya menatap awan yang biru.
Mama cepat sembuh ya. Gumamnya
"Hanna, ayo kita pulang." ajak Sam
"Ya." jawab Hanna singkat.
.
.
.
.
* Kediaman Sam *
Sam membantu membukakan pintu mobil untuk Hanna.
Rumah yang super megah, bernuansa clasik dan memiliki halaman yang cukup luas, membuat Hanna melongo saat melihatnya.
"Hanna, ayo masuk." ajak Sam dengan mengulurkan tangannya.
Namun Hanna masih berdiri mamatung melihat keindahan rumah milik Gerald yang tak lain adalah papanya.
Kemudian Sam mendekat dan menggandeng tangan Hanna. Hanna sontak terkejut dan menyadarkan ia dari lamunannya.
Mulai saat ini, kita akan jadi keluarga.
Bagaikan disambar petir saat mendengar perkataan Sam.
Keluarga, ya Sam benar, aku dan dia akan jadi satu keluarga, sebagai adik dan kakak tentunya. Kenapa hati ini sakit.
"Hanna, apa yang lo pikirin." tanya Sam mendekatkan wajahnya.
"Ya, kau benar Sam. Kita akan jadi satu keluarga. Kita akan jadi adik dan kakak."
"Kau salah, kita akan jadi satu keluarga, namun bukan sebagai adik dan kakak." tangan Sam melingkup dikedua pipi Hanna.
"Maksut kamu?"
"Masuk dulu yuk." ajaknya
Saat masuk kedalam rumah, Hanna tak kalah terkejutnya saat melihat desaign interior rumah itu.
Benar-benar indah.
"Kamar lo ada diatas bersebelahan dengan kamar gue. Dan sekarang ikut gue kedapur."
"Lo duduk disini, dan gue akan masakin buat lo."
"Masak? emang lo bisa masak."
"Diam dan jangan cerewet." ucapnya sambil mencubit hidung Hanna.
"Aauuww... sialan lo, sakit tauk "
Sam tertawa kecil melihatnya.
Dengan kepiawaiannya, ia siapkan peralatan memasak dan bahan-bahan lainnya.
Satu persatu bawang ia potong ala-ala chef ternama. Hanna tercengang melihat, ternyata cowok yang ada dihadapannya piawai dalam hal memasak.
"Lo bisa masak Sam."
"Ya." Jawabnya singkat
.
.
.
.
Taraaa....
"Nih, lo cobain."
Gila, platingnya keren banget, berasa direstauran mahal gue. Gumamnya.
"Itu makanan buat dimakan Hanna, bukan buat lo pelototin."
Ikhh.. ini anak, nggak sabaran banget.
"Iya..iya.. gue makan."
Gila, bener-bener enak. Kayak di restauran eksklusif. Tapi kalau gue bilang enak banget, ntar dianya besar kepala lagi.
"Ehem..ehem.. gimana. Enak banget ya, sampe lo nggak bisa ngungkapin dengan kata-kata."
"Menurut gue biasa aja sih, memang enak tapi biasa aja. Kalau dibilang kayak direstauran mahal sih emang iya, tapi biasa aja."
Aduh.. gue ngomong apa'an sih, belibet banget. Batinnya.
Sam terkekeh mendengar Hanna yang berusaha menutupi kalau masakan dia enak.
"O ya Sam, lanjutin dong pembicaraan kita waktu diluar tadi. Gue masih nggak ngerti maksut lo tadi, keluarga tapi bukan sebagai adek kakak?!!"
Sam mendekat kearah Hanna. Ia kembali melingkup rahang Hanna dengan telapak tangannya. Dan..
Cup.. (kissing)
Sam mencium bibir Hanna.
"Akan ada waktunya saat semua harus lo ketahui, tapi bukan sekarang. Sekarang gue anterin kekamar lo, dan cepatlah tidur, okey."
"Tapi.."
"Udah, ayok." ajak Sam.
.
.
.
.
.
To be Continue,
***
Thanks for reading
Jangan lupa like dan komen dikolom komentar ya.