Look at Me

Look at Me
Bab 16.



~ DIKANTIN ~


"Kamu mau makan apa Han.." tanya Arnold


"Nasi goreng aja chef." jawab Hanna


"Jangan panggil chef dong kalau diluar. Panggil aja Arnold. Lagipula kita hanya beda setahun."


"Tapi..."


"Udah gak apa-apa."


"Bu, nasi gorengnya 2 ya dan minumnya teh hangat aja 2." ucap Arnold pada penjual kantin.


"Baik mas. Ditunggu ya.." jawab si penjual.


Lalu kami berdua duduk bersebelahan.


"Ee.. chef, eh maksut saya Arnold." belum selesai Hanna berbicara, Arnold tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha... gini aja, kamu kalau diresto boleh formal bahasanya, tapi diluar resto jangan pake bahasa formal. Setuju.. ?!! Misal kita saling lo gue gitu." ucap Arnold


"Serius,.. Hah... lega rasanya. Coz jadi berasa ngobrol sama yang lebih tua'an tadi, kalau ginikan enak." jawab Hanna tersenyum.


"Lo lucu banget Hanna."


"Permisi, ini pesanannya mas." penjual kantin datang membawa baki yang berisikan pesanan kami.


"O ya bu, terima kasih ya." ucap Hanna


Lalu kami berdua menyantap hidangan yang datang.


"Abisin Han, biar nambah tenaga."


"Ah chef bisa aja. Nanti gue gemuk siapa yang tanggung."


"Gue yang tanggung jawab."


"Ternyata chef orangnya humoris ya." ucap Hanna.


"Kok?!!" Arnold mengangkat satu alisnya


"Gue panggilnya tetep chef aja ya, coz itu lebih enak diucapin."


"Yaudah terserah lo aja."


.


.


.


.


.


~ SAM ~


"Sam kamu sudah pulang." tanya Gerald yang sedang menunggu di sofa ruang tamu.


"Ya pa. Bagaimana keadaan tante Yolanda. Apa kamu bertemu."


"Sam bertemu pas sore tadi aja pa. Tapi waktu malamnya Sam nggak dibolehin masuk sama Hanna."


"Lho kenapa?"


"Entahlah, mood Hanna cepet berubahnya tanpa Sam ketahui." Sam sengaja tidak menceritakan kalau Hanna sempet menangis di bahunya.


"Ya sudah, kamu istirahat langsung ya."


"Ya pa."


Sam berjalan memasuki kamarnya. Ia mengingat betapa sedihnya Sam melihat tangisan lelah Hanna. Menanggung semua sendiri, berjuang sendiri tanpa ada bahu yang menopangnya. Berusaha mempertahankan hidup keluarganya dan ia juga berjuang untuk masa depannya.


Hanna, gue janji akan selalu jagain lo. Tapi lo bener-bener juteknya minta ampun. Jadi bingung harus bagaimana.


Sam ngomong sendiri saat dikamarnya.


.


.


.


.


.


"Kita balik kekamar yuk." ucap Hanna yang disetujui sama Arnold


"Ya.."


Saat dikamar ternyata tante Arina terbangun.


"Mama kok bangun. Ada yang mama butuhkan?" tanya Arnold


"Nggak ada, hanya kebangun aja. Lho kalian sudah saling kenal." ucap Arina menunjuk antar Arnold dan juga Hanna


"Ya ma, dia Hanna pegawai d resto dan dia yang Arnold ceritain kemama."


"Benarkah?"


"Iya tante, saya pegawai chef Arnold."


"Pas sekali, kenapa kalau kalian sudah deket nggak pacaran aja. Arnold, mama setuju kalau calon kamu itu Hanna."


Hanna terkejut.


"Mama ngomong apaan sih, udah.. ini masih malam, sebaiknya mama kembali tidur. biar cepet baikan. Okey.." jawab Arnold dengan pipi memerah.


Hanna cuman tertawa kecil mendengarnya.


"Hanna, lo juga langsung istirahat ya. O ya, apa besok ada kelas?"


"Ada chef."


"Gue yang anterin lo ya."


Arina melihat dengan senyum bahagia.


"Apa nggak ngerepotin." tanya Hanna


"Nggak kok"


Hanna mengangguk tanda setuju.


Dan setelah itu mereka tidur ditempatnya masing-masing.


***


Keesokan paginya.


Pukul 05.00


"Hanna.. bangunlah. Pulanglah kerumah dan segera bersiap untuk kuliah."


"Hanna nggak pulang ma, karna Hanna sudah membawa baju ganti untuk kekampus.


"Oo... begitu."


"Hanna mandi dulu ya ma."


"Ya.."


Arnold yang terbangun sedari tadi melihat Hanna tanpa berkedip.


Saat bangun tidur, kaupun nampak cantik.


Gumamnya.


Tiba-tiba Arina memegang lengan anak semata wayangnya sambil tersenyum.


"Kalau suka, harus cepet sebelum didahului orang."


"Mama ini.. bisa ajja." jawabnya malu.


Setelah kurang lebih 20 menit Hanna keluar. Dan kali ini ganti Arnold yang memasuki kamar mandi.


"Hanna, jadikan gue anterin ke kampus." ucap Arnold.


"Ya chef."


"Okey... "


Jantung Arnold berdetak kencang saat berada dekat dengan Hanna. Entah mulai kapan perasaannya muncul. Yang jelas saat Hanna ijin tidak masuk kerja karna ibunya sakit, mulai dari situlah perasaan rindu ia rasakan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Lanjut Bab 17


Thanks for reading


Mohon maaf ya kalau masih ada typo bertebaran.