Look at Me

Look at Me
Kenangan itu



Aku mempersiapkan diri untuk acara musik itu, menghabiskan waktu istirahat ku untuk berlatih di rumah dinda. Dinda yang penuh semnagat memyiapkan segala keperluan ku. Bak seorang manajer dia menyiapkan pakaian, makan, mengatur segala jadwal dan rutinitasku. Please din, ini cuma konser musik kampus. Cuma acara kampus. Well, aku tak bisa menghentikan nya. Ku biarkan selagi dia masih merasa ini menyenangkan.


"Ayo shil, semua udah siap. Let's go girl. Aku udah gak sabar liat kamu nampil". tetiak dinda pemuh semangat srakan ini acara pencarian bakat.


Acara berlangsung meriah, sampai tiba giliranku. Aku duduk dengan tenang sambil ku petikkan gitar mengatur suara gitarku perlahan. Sampai suatu ketika aku lihat sekilas pandang yang sama seperti dulu. Ssnyuman yang dulu. Dan wajah yang dulu ku ingat dengan jelas.


Please, kumohon jangan. Aku mengalihkan pandangan ku ke sisi yang lain berharap semuanya hanya ilusi dan bukan apa - apa.


Kumulai pertunjukan ku dan berakhir pada kesenangan yang dirasakan semua pengunjung. Dan aku tak melihat nya lagi. Mungkin benar hanya halusinasiku.


Dinda menungguku di belakang panggung, menyiapkan minuman dan memperlakukan ku seperti artis.


"Din, lu gak capek apa? " tanyaku menatap dinda yang tersenyum.


"no no no, ini tuh itung - itung persiapan buat gua manatau ntar jadi manajer ulalaa.. hehe" jawab dinda dengan candaannya.


Dari luar roy telihat sedang berbicara dengan seseorang, dan terlihat cemas. aku tak tau apa yang sedang dihadapinya, dan kurasa aku tak perlu tau.


Ssbelum acara usai, aku meninggalkan tempat mencari udara segar di sekitar lokasi. Dan lagi - lagi aku melihatnya. ini bukan halusinasi ku. Aku mencoba mencari. Dengan bodohnya aku terus mencari kemana dia pergi. Tak ketemu. Dan aku menyerah. Apa yang kuharapkan? Terluka seperti dulu? Mengharapkan dia yang bukan milikku? dicampakkan? dipermainkan? betapa bodohnya aku! harusnya aku sadar. Aku tak bisa kembali dan melakukannya lagi.


Aku kembali kerumah dan mencoba terlelap dalam malamku yang sunyi.


Terdengan nada pesan dari hp ku. Yang kuharapkan atau yang sangat tak kuharapkan tibatiba mengirimiku pesan.


"sombong"


Balas? gak? balas? gak?


sejenakku biarkan pesan itu. Tak ku perdulikan tapi aku terus melihat layar ponselku.


Hingga esok hari aku masih menatap layar ponselku, dan ku balas pesan itu.


dengan cepat pesanku dibalas.


"siapa yang sombong?


"aku biasa aja kok, kamu kali yang sombong "


"oh kamu udah beda ya"


"beda gimana"


"iya kamu gak kayak dulu, aku gamau temenan ah sama kamu" candanya


"yaudah. Gausah gapapa kok"


"kok gitu? "


Kenapa dia seolah tak merasa apa - apa? dimana rasa bersalahnya? dimana rasa hatinya yang dulu katanya hancur? kenapa dia bisa berbicara sesantai itu? apa hanya aku yang bodoh disini masih terua memikirkannya?


Semakin aku melihatnya, semakin aku membencinya. Mungkin lebih tepatnya membenci diriku yang masih saja terus ingin melihatnya.


Kuakhiri chat itu, tak ku perdulikan apapun candaannya, semua tak bergairah lagi menurut ku. Hampa. Semua hanya omong kosong dari pria yang yang tak bisa memutuskan hatinya untuk siapa. Mempermainkan hati 2 wanita yang sangat mencintainya.


Lupakan! Tinggalkan!


Sejak saat itu aku tak pernah menerima pesan apapun darinya, dan aku tak lagi memandang layar ponselku, seperti berharap sesuatu. Aku lupa. Aku tenang. Aku bisa.


Sebelum aku berangkat ke kampus aku bertemu teman lamaku, yang masih ada hubungannya dengan dia. Namun kenangan buruk itu tidak ada diantara kami.


Dari kejauhan kulihat dia berjalan sendirian, kusapa dia sambil menghampirinya.


" hai, bi. Apakabar? udah lama gak ketemu"


"wah wah lihat siapa ini? ini beneran lu shil? wah gak nyangka banget ketemu disini ya" dengan semangatnya abi menjawab salamku.


Ya kami memang sudah sangat lama tak bertemu, terakhir ketemu saat acara perpisahan sekolah. Dan aku cukup lama mengenal abi muali dari awal sekolah.


Kami berjalan bersama ke satu arah, tapi tak satu tujuan. Kami berbincang - bincang dan aku mulai lupa dengan rasa sakitku yang terbuka kemarin.