
Sam berjalan keluar dan lebih tepatnya didepan teras rumah Hanna.
Ya ampun ne cewek ceroboh banget. Mana jagoan gue langsung aktif lagi. Gumam Sam
Setelah sepuluh menit Hanna selesai bersiap-siap. Maklum Hanna tidak terlalu suka berdandan yang menor, jadi ia hanya memakai riasan tipis diwajahnya. Meskipun begitu, wajah Hanna tetap terlihat cantik natural.
"Sam, guee... udah siap." ucap Hanna
"Okey.. kita langsung berangkat aja. O ya, Maafin gue ya." ucap Hanna
"Maaf buat apa?" tanya Hanna
"Maaf soal yang dikantin kemarin lusa dan juga tadi.."
"Yang tadi bukan salah lo."
"Dan gue juga mau bilang makasih."
"Terima kasih.. Untuk?" tanya Hanna
"Terima kasih buat tehnya, rasanya enak."
"Yaelaaa... kan dimana-mana teh rasanya seperti itu. Udah yuk, jadi anterin gue kafe nggak?"
"Jadilah... yuk berangkat."
BRUUMMM...
Sam menstater motor sportnya. Dengan model jok belakangnya yang agak nungging, jadi mau tak mau posisi duduk Hanna jadi sedikit condong kedepan dan benda miliknya terkadang bergesekan dengan punggung milik Sam.
Saat diperjalan Sam berguman sendiri.
Sialll... kenapa benda ini menyiksaku.
.
.
.
.
.
KAFE
"Hanna..." terdengar suara seseorang dan melambaikan tangannya di sisi kanan kafe itu. Siapa lagi kalau bukan Reno dan Mila kekasihnya.
"Haii..." sapa Hanna balik.
"Berangkat sama siapa?" tanya Reno
"Gue yang anter Hanna." Sam tiba-tiba berada dibelakang Hanna.
"Hai bro.." sapa Reno. Mereka saling berdekapan.
"Kita mulai yuk Ren buat sapa pengunjung."
"Okey.." Reno menyetujui.
Mereka lalu menyapa pengunjung seperti yang mereka lakukan sehari-hari dan menyanyikan beberapa lagu.
Sedangkan Sam, ia melihat Hanna tanpa berkedip sedikitpun. Memandang betapa takjubnya wanita yang ada dihadapannya ini.
Walau apapun yang terjadi, ia tetap sanggup bertahan. Senyum yang yang selalu bisa menutup kesedihannya bisa dibaca jelas oleh Sam.
.
.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Hanna dan Sam memberikan lagu penutup untuk semua pengunjung.
"Baik semuanya, tak terasa gue udah nemenin kalian semua sampai pukul 9 malam ini. Dimana kali ini kita akan berpisah, dan gue akan mengakhirinya dengan lagu penutup berjudul "BUNDA by Potret".
Buat kalian tetap sayangi ibu kalian sebelum semuanya terlambat. Karna beliau kita ada.....
***
Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Telah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh, bunda ada dan tiada
Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku...
Semua penonton tersentuh mendengar nyanyian yang dibawakan Hanna malam itu. Terdengar suara salah satu dari mereka, Gila.. bulu kuduk gue sampai berdiri mendengar suara merdunya. Ada juga yang sampai menangis mendengarnya karna tersentuh.
PROKK...PROKK..PROKK....
Mereka semua memberi tepuk tangan. Termasuk juga Reno, Mila, dan juga Sam.
Hanna.. kau begitu sempurna.
.
.
.
.
.
"Suara lo bener-bener keren Hanna." ucap Mila.
"Thanks ya Mil..."jawab Hanna
"Lo mau langsung balik Han?" tanya Reno
"Gue mau langsung kerumah sakit, buat jagain nyokap."
"Oke dech.. be careful ya.." ucap Reno.
"Sob, nitip jagain Hanna ya." sambung Reno pada Sam.
"Yee... gue bisa sendiri juga kale' Ren. Emang gue anak kecil." solot Hanna.
"Hehehe... iya.. iya... Dah buruan balik, kasian nyokap lo ntar nungguin kelamaan." kekeh Reno
Hanna dan Sam-pun berjalan berdua.
"Eh Sam, lo langsung pulang aja. Gue bisa kok kerumah sakit sendiri." kata Hanna
"Nggak, gue bakal anterin lo kerumah sakit. Udah ayok..." Sam menarik tangan Hanna.
Hanna hanya diam menurut apa yang Sam ucapkan.
.
.
.
Saat diperjalanan
"Kalau lo merasa dingin, lo boleh lingkarin tangan lo ke badan gue." ucap Sam.
Namun tak seperti biasanya, kali ini Hanna langsung memeluk Sam dan merapatkan lingakaran tangannya. Kepalanya ia sandarkan sejenak ke punggung milik Sam.
Hanna menangis.. sampai isakan tangisnya terdengar oleh Sam.
Dan saat mendengar isakan Hanna Sam memilih membelokkan motornya kearah pantai. Dan berhenti sejenak disana.
"Sam, kok kita kesini." tanya Hanna.
"Lo mau nyokap lo melihat mata anaknya lebam akibat menangis."
Mendengar itu Hanna semakin menangis dipunggung Sam. Posisinya yang masih berada diatas motor milik Sam sehingga ia dapat memeluk Sam dan menenggelamkan mukanya dipunggungnya.
"Gue pinjem punggung lo ya Sam." ucapnya.
"Hmm..." jawab Sam masih dengan posisinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Lanjut Bab 15.
Jangan lupa dukung Author dengan like.
Terima kasih...