Look at Me

Look at Me
BAB. 25



Sejenak, Hanna memikirkan agar dia tidak terlalu terbawa suasana dengan Sam. Hanna nggak mau terjadi perasaan yang ngga seharusnya tumbuh. Karna ia sadar bahwa menurutnya, kakak dan adik nggak boleh ada perasaan yang lebih. Mungkin ini adalah salah satu caranya.


Hanna berjalan mendekati chef Arnold.


"Chef, kita berangkat kerumah sakit sekarang yuk. Kasian nanti tante nungguin lama." ujarnya


'Iyah..."


Arnold pasrah dengan apa yang akan diputuskan Hanna nantinya. Karna memang dia nggak mau memaksa perasaan Hanna.


Kemudian merek berangkat menuju Rumah sakit bersama.


****


Dirumah Sam menunggu Hanna pulang kerumah.


"Kenapa anak itu belum pulang. Apa dia langsung berangkat ke resto." Sam sibuk mondar mandir di teras rumahnya.


"Awas aja kalau ntar pulang malam tanpa ngasih kabar." gerutunya


****


Di Rumah Sakit


Chef Arnold berjalan menyusuri koridor ruangan. Dan Hanna berjalan disamping Chef Arnold.


"Hanna... saya hargai segala keputusanmu. " Chef Arnold menoleh kearah Hanna sebelum memasuki ruangan mamanya.


Kini ruangannya berbeda dengan yang dulu saat berada bersebelahan dengan mamanya.


Segala alat-alat medis kini lebih banyak yang terpasang ditubuhnya.


"Tante..." ucapnya


Seketika Arina membuka matanya.


"Sayang, kamu datang Hanna."


"Bagaimana keadaanmu, apa kamu sudah makan, apa mama kamu sudah sehat?"


"Ma... mama... nanyanya pelan-pelan ya. " Ucap Arnold


"Xiixixi... gak apa-apa chef. Hallo tan, Hanna baik-baik aja, dan belum makan siang, dan soal mama, masih dalam pemantauan dokter. Tante, ini makanannya kenapa belum dimakan, Hanna suapin ya." Hanna menawarkan jasanya.


"Boleh.. tante seneng banget kalau Hanna yang suapin tante. Senengnya punya calon menantu seperti kamu."


"Eh..ii..iya tan..."


"Apa Arnold sudah memberitahumu?!!" ucap Arina sambil disuapin Hanna.


"Sudah tan, Saya mau mencoba jalanin hubungan dengan chef Arnold. "


Seketika Arnold berseri-seri.


"Kamu beneran nak. Syukurlah kalau begitu." ucap Arina senang dan juga lega.


"Iya chef, saya akan mencobanya." Hanna memberi senyuman terhangatnya.


"Terima kasih Na. Terima kasih..." Arnold reflek memeluk Hanna. Hanna sontak terkejut.


"Syukurlah.. mama senang melihat kalian." ucap Arina.


"Oops.. sorry Na. Saya kebawa suasana." ucap Arnold bersemu merah.


"Hehhe... gak apa-apa chef. " ucap Hanna kikuk.


(Hufft,... mungkin mulai sekarang gue harus terbiasa dengan pelukan chef Arnold.) Batin Hanna.


"Anold, sekarang kamu ajak Hanna makan siang. Kasian Hanna sudah lapar pastinya." ujar Arina.


"Nanti aja tan, Hanna belum lapar." terang Hanna.


"Na, kita makan dulu ya dikantin. Mama nggak apa-apakan Arnold tinggal sebentar?" Tanya Arnold.


"Nggak apa-apa sayang. Mama mala seneng kalian bisa berdua." ujar Arina


"Yuk Na, kit makan dulu." ajak Arnold


"Tan, Hanna pergii sebentar ya, nanti Hanna pasti balik lagi." kata Hanna


Arina menganggukkan kepalanya.


Lalu mereka berduapun berjalan menuju kekantin yang ada di rumah sakit.


Saat dmereka berjaln Arnold mebuka obrolan soal apa yang diutarakan Hanna sewaktu berada dikamar Arina.


"Na, saya boleh nanyain sesuatu?"


"Boleh chef." jawab Hanna singkat.


" Apa kamu tadi menerima karna terpaksa atau..."


"Nggak chef, saya akan coba memulai hubungan ini." ujarnya


"Syukurlah, terima kasih ya Na... Saya akan berusaha untuk mendapattkan hatimu seutuhnya."


"Berjuang ya chef... hehehe.." Hanna tertawa melihat chef Arnold yang terlihat kikuk sekarang.


"Hufftt... Saya beneran tegang tadi Na, takut kamu nggak besedia membantu saya dihadapan mama. Takut mama down lagi. Dan takut..."


"Chef, nggak akan terjadi apa-apa dengan tante Arina. Okey..."


Chef Arnold tanpa sadar meneteskan air matanya karna hanya mamalah yang ia miliki saat ini. Dan tanpa ia duga, Hanna memeluk guna mmenenangkannya saat ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


To be continue...