
"Maksud chef, Hanna dipecat. Kenapa? Apa karna Hanna hanya bisa kerja serabutan. Chef tolong chef, jangan pecat Hanna sekarang. Hanna butuh pekerjaan ini..." mata Hanna berkaca-kaca sambil memegang tangan chef Arnold.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari itu, sebelum Hanna berangkat ke restauran. Hanna terlebih dahulu menemui sahabatnya yaitu Siska.
"Ka, gue nyariin lo kemana-mana, nggak tahunya lo di toilet. Untung gue ketemu ama si Angel si tulang lunak. Jadi dia yang kasih tahu gue kalau lo ada di toilet.
Saat Hanna melihat wajah Siska, dia terkejut karna wajah Siska berurai air mata.
"Lo kenapa Ka. Kok lo nangis?!!" tanya Hanna penasaran.
"Gue nggak kenapa-napa. Dahh.. gue mau balik pulang dulu." ucapnya singkat.
"Tunggu!! Lo marah ya ama gue. Pasti soal kak Reno. Ya kan..."
"Nggak karna gue yakin bakalan gini akhirnya."
" Lo dengerin dulu penjelasan gue. Jadi gini, tadi kak Reno emang bener seperti dugaan lo, tapi gue nggak ada rasa ma dia, dan untungnya lagi tadi gue di tolongin ama Sam."
"Lo nggak bohong Na..."
"Nggak.. ngapain gue bohong. Sam da jelasin kalau Sam dan gue tinggal bareng, jadi kak Reno langsung mengundurkan diri."
"Serius Na, jadi lo ama Sam da nikahan."
"Enak ja, nggak laaahhh. Lo jangan asal kalo ngomong."
" Lha tadi lo bilang kalau lo da tinggal bareng ama Sam."
"Emang gue bilang gitu. "
(Mampus gue, kenapa gue bisa keceplosan.)
"Iya.." jawab Siska
"Eh dah siang nih... gue mau ke resto dulu yaa... Bye.." Hanna langsung berlalu pergi guna menghindari pertanyaan yang lebih dari sahabatnya itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Back to Restaurant chef Arnold
"Siang Chef, restonya rame banget, aku segera ambil apronnya chef."
"Nggak usah Na, kamu nggak usah ambil apron sekarang. Dan hari ini kamu nggak usah kerja." ucap chef Arnold.
"Maksut chef, Hanna dipecat. Kenapa? Apa karna Hanna hanya bisa kerja serabutan. Chef tolong chef, jangan pecat Hanna sekarang. Hanna butuh pekerjaan ini..." mata Hanna berkaca-kaca sambil memegang tangan chef Arnold.
"Hanna..Hanna.. Kamu itu lucu sekali. Siapa yang akan pecat kamu." ucap Chef Arnold
"Tadi chef yang nyuruh saya nggak boleh kerja hari ini." ucap Hanna lirih.
"Iya, saya emang nggak ngebolehin kamu kerja hari ini, karna saya akan ajak kamu buat nemuin mama saya dirumah sakit. Ini pesan dari mama, katanya dia mau ketemu kamu."
"Oo... jadi gitu. Syukurlah kalau gitu chef. Saya kira chef mau pecat saya. Jadi kapan kita berangkat."
"Begini Na.. sebenarnya mama saya sekarang kritis. Dan nggak tahu kenapa tiba-tiba pengen ketemu kamu. Dan pabila nanti mama berkata sesuatu yang nggak bisa kamu terima, saya mohon kamu jawab iya ajja ya. Dan itu kita lakukan hanya sandiwara aja." Arnold menjelaskan.
"Tunggu-tunggu, maksut chef.. saya nggak ngerti,."
"Kita keruangan saya. Nggak enak disini banyak pelanggan." chef Arnold berjalan dengan dibuntuti Hanna dibelakangnya.
***
Sesampai diruang kerja Chef Arnold.
Chef Arnold menjelaskan maksutnya.
"Begini Na, sebenarnya saya tahu apa yang akan mama ingin katakan sama kamu nanti. Dan saya sudah menolaknya. Tapi, mama langsung down lagi kondisinya. Sebelum itu mama sudah di vonis dokter kalau umurnya hanya tinggal beberapa bulan lagi."
"Jadi, apa yang sebenarnya mama chef ingin katakan?"
Chef Arnold menarik nafas panjang.
"Dia ingin saya melamar kamu."
"Apaaa!!!" Hanna terkejut
"Tenang Na, kita hanya melakukan secara pura-pura saja, walau sebenarnya saya emang nggak bisa memungkiri kalau sebenarnya saya memang suka sama kamu. Tapi saya nggak mau memaksa kamu buat balas perasaan saya."
"Chef, apa akan baik-baik saja kalau kita membohonginya. Saya nggak mau membohongi orang tua chef, apalagi dalam keadaan dia sakit."
"Tapi ini bohong demi kebaikannya Na. Saya hanya punya satu orang tua, dan saat saya menolak keinginannya tadi, mama langsung down, dan kata dokter saya nggak boleh membuatnya berpikir keras. Atau kalau tidak..." Chef Arrnold menangis dengan menundukkan kepalanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
To be Continue...