Look at Me

Look at Me
Hasratku



Suatu hari aku pernah bertemu dengan seseorang yang bisa dibilang tipe idealku. Jika dipandang dari luarnya oke πŸ‘ dan care banget sama siapa aja. Ingat! "siapa saja". Nah kalimat itu yang membuat aku menjadi hancur dimasa laluku. Dan akhirnya kami malah dipertemukan kembali oleh salah seorang temanku. Kami bertemu di sebuah konser musik dan yang kurasakan saat pertemuan itu. Hatiku hancur, semua kenangan bodohku akankah terulang kembali? akanhkah aku meruntuhkan segala prinsip - prinsipku?


"hai shil. Hai din. udah lama? " terlihat seorang pria melambaikan tangannya dari kejauhan, berjalan menuju ke arah kami.


"hai roy. Darimana lu? Ada job gak? shila katanya bosan. Liat aja tuh mukanya jadi jelek banget kan" goda dinda padaku yang membuat roy tertawa tanpa henti.


"ada nih. Pas banget kan gua kesini. Hehe ntar gua kasih tau ya. Dah" roy bergegas meninggalkan kami seperti seolah akan menuju suatu tempat yang penting.


Perkuliahan telah usai, aku kembali kerumahku. Kulihat ibu sudah terlelap dengan tenangnya. Ku dengan suara Sheina yang masih tetap terjaga dengan aktivitas senagnya. Tak menyadari kepulanganku.


Kurebahkan tubuhku pada ranjang busukku. Berharap mimpi itu takkan kembali.


Esik pagi masih seperti biasa, aku berangkat menuju kampus meleawti rute yang sama. Setibanya dikampus aku tak sengaja melihat seseorang yang ku kenal tapi aku tak yakin apakah itu dia? Tidak mungkin pikirku. Aku bergegas meninggalkan pandanganku yang penuh kecemasan itu.


Dinda menghampiriku, berjalan bersama roy memandangku dari kejauhan penuh dengan semangat. Aku tau dia pasti akan berkicau seperti biasanya.


" Hai shil.. Aku punya kabar baik. Coba tebak, ayo tebak" ucap dinda seolah berharap bisa membuatu penasaran.


"pass. gua nyerah" jawabku dengan cepat


"ih gak asik ah. Oke aku kasih clue ya. Musik, Siund dan Panggung. Ayo ayo shil.. auo" dinda teus memaksa ku menebak semua perkataannya.


"ok. Bakalan ada konser musik dengan panggung yang wow" Jawabku membuat dinda tercengang.


Roy pun tertawa melihat tingkah dinda yang lucu.


"iya. bakalan ada konser musik minggu deoan shill, gua udah masukin nama lu buat manggung diacara itu. Dan tim pelaksananya trman-teman gua semua kok.


". Jelas roy padaku.


"No no no. Siapa yang minta nama gua di masukin ke list acara? pasti lu kan din? ayo ngaku deh! gua kan udah bilang gak din" jawabku kesal membuat raut muka dinda berubah.


"Gua cuma mau lu kayak dulu shil, gua tau lu senang kalau lagi nyanyi kan. gua tau itu yang lu sukai dari segala banyak hal di dunia ini. Please mau ya πŸ™ please gua mohon shil" mohon dinda berharap penuh padaku.


aku harus menolak, tapi tak bisa. Aku bahkan tak ingat lagi bagaimana ekspresiku dulu saat aku bernyanyi. Tapi apa yang ku lakukan sekarang? haruskah aku lakukan?


Mungkin aku memang harus membuka diriku yang lama, hal-hal menyenangkan yang harusnya terus kulakukan tak boleh berhenti hanya karena kenangan burukku di masa lalu.


"Baiklah?! Hanya karena namaku audah terlanjur tercantum dalam acara ya. Bukan karena aku ingin melakukannya Awas aja kalau terulang lagi, gua gamau berteman lagi sama lu din. " godaku pada dinda yang terus memohon padaku.


Semuanya terlihat senang dan dinda terlihat penuh harap padaku.


Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?