
Raisa membuka matanya perlahan dan melihat Revan. "Revan sudah pulang? Maaf aku baru sakit gak bisa beresin rumah. Uhuk...Uhuk...."
Raisa berusaha untuk bangun namun tubuhnya terlalu berat, ia kembali terjatuh, Revan dengan sigap menangkap tubuh Raisa yang lemah. Revan meletakkan tangannya ke dahi Raisa. Badannya demam!
Revan segera menggendong tubuh Raisa yang sudah tak bertenaga.
Raisa berusaha menolak" Jangan Revan! Aku berat!"
"Sudah gak usah protes! " Revan menatap Raisa galak.
Raisa hanya terdiam tanpa protes lagi ketika Revan mulai menggendongnya. Raisa melingkarkan tangan ke leher Revan agar ia tidak terjatuh. Raisa sekarang merasa tidak hanya kepalanya yang terasa sakit dan badannya lemas. Namun jantungnya juga bermasalah karena berdetak semakin tak karuan.
Revan merebahkan Raisa ke dalam ranjang dan mulai menyelimutinya. Ia bergegas mengambil termometer yang tersedia di kotak P3K. Revan mulai mengukur suhu Raisa. 39,5 derajat Celcius!!
"Kamu demam Sa! Sejak kapan kamu demam??" Tanya Revan khawatir.
" Sejak semalam... Uhuk... uhuk... Aku gak papa aku sedikit flu" Jelas Raisa lemah sambil terbatuk.
"Sejak kapan kamu demam? Kenapa tidak memberitahuku?" Tanya Revan khawatir.
"Sejak tadi pagi, Aku sudah mencoba memberitahumu dari tadi pagi. Tapi kamu tidak mengangkat telp. Aku gak papa kok. Aku hanya flu saja" Jawab Raisa lemah sambil. Revan terdiam merasa bersalah karena mengabaikannya seharian ini.
" Sudah makan? Sudah minum obat" Tanya Revan khawatir. Raisa hanya menggeleng lemah. Ia bahkan beluk memakan apapun seharian ini. Z
"Tunggu disini aku ambilkan makan. Aku membeli spageti sebelum pulang. Akan kuambilkan. Tunggu ya" Revan bergegas mengambil makanan yang sudah ia beli sebelum sampai ke rumah.
Revan membuka bungkusan makanan dan memindahkannya ke dalam piring. Revan mengambil sendok dan garpu dan menaruhnya di atas makanan. Revan mengambil obat di kotak P3K dan menuangkan air ke dalam gelas. Setelah semuanya siap Revan bergegas membawanya ke dalam kamar Raisa.
"Makanlah dan minum obatmu?" Revan meletakkan baki makanan di meja yang berada di samping Raisa.
"Terimakasih banyak" Raisa tersenyum menatap Revan. Raisa berusaha untuk bangun mengambil makanan di meja. Tanggannya bergetar saat meraih makanan tersebut. Kepalanya terasa berat. Ia belum makan sama sekali sehingga ia tidak mempunyai tenaga.
"Duduk dan diamlah" Revan yang melihat tangan Raisa bergetar langsung mengambil alih piring makanannya. Lalu ia duduk di sambing ranjang Raisa.
"Buka mulutmu" Perintah Revan sambil menodongkan sendok makan. Bersiap untuk
"Aku bisa makan sendiri. Gak perlu disuapin. " Ujar Raisa merasa tak nyaman di suapin Revan.
"Gak udah protes dan buka mulutmu!" Revan menodongkan sendok sambil memaksa Raisa untuk makan.
Raisa hanya terdiam lalu ia membuka mulutnya. Suap demi suap makanan mulai masuk ke mulutnya. Raisa menatap Revan penuh arti. Seuntas senyum manis terkembang manis di wajahnya.
"Terimakasih Revan. Ini gak pakai bayar kan?" tanya Raisa memecah keheningan.
"Bayar?! Kamu pikir aku sekejam itu. Sudahlah minum obat dan tidurlah!" Revan mengacak-acak lembut rambut Raisa.
Raisa meminum obat yang telah disiapkan Revan lalu membaringkan badannya bersiap untuk tidur. Revan membenarkan letak selimut Raisa.
"Aku pergi dulu ya. Panggil aku jika kamu perlu sesuatu" Ujar Revan sambil beranjak pergi
Raisa menatap punggung Revan yang mulai tak terlihat di balik pintu. Raisa memegang kembali rambutnya yang tadi di acak-acak Revan. Raisa kemudian tersenyum mengingat kejadian tadi. Kemudian ia mulai memejamkan mata.
*****
Raisa mendapati dirinya menjadi seorang gadis kecil sedang berlari lari di sebuah halaman yang sangat luas bersama beberapa orang yang wajahnya terlihat samar. Mereka tertawa bahagia. Tak lama kemudian Raisa mendapatkan dirinya menjelma menjadi dewasa dan berada di sebuah ruangan besar penuh gemerlap. Semua orang sedang berpesta hanya hanya ia yang terdiam, Raisapun dengan malas beranjak meninggalkan pesta tersebut dan ia sekarang berada di sebuah lorong ruangan berjalan menuju suatu tempat.
Raisa mendapati bayang seseorang disana. Raisa mendekat dan berusaha mendengarkan pembicaraan, Namun nihil. Ia bahkan tak bisa melihat sosok itu dengan jelas ataupun mendengar pembicaraan. Semuanya terlihat samar. Namun tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa dalam dirinya. Dadanya terasa sesak, dan sakit.
"Agh!..." Raisa mengerang kesakitan sambil memegang dadanya.
Raisa berlari kencang tak tentu arah. Ia merasa sekujur tubuhnya lemah dan sakit yang luar biasa. Mendadak badannya lemas.
"Tolong..!" Teriaknya sambil berjalan. Namun semuanya sepi dan gelap. Semua terasa menakutkan.
Raisa terjatuh, Ia menangis. Perlahan ia melihat sesosok pria datang mendekatinya. Raisa mendongak melihat sesosok yang tengah datang. Revan tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
"Bangun sa"
Sebuah suara terdengar menyadarkan Raisa dari mimpi buruknya. Badan Raisa terguncang, Revan mengguncang-gubcang badannya berusaha menyadarkan Raisa dari mimpi buruknya. Raisa membuka matanya, nafasnya terenggah enggah tak teratur. Raisa meraba pipinya yang sudah basah oleh air matanya. Raisa melihat ke sekelilingnya. Ia masih berada di kamarnya. Berarti tadi ia sedang bermimpi?
Aku sedang bermimpikah tadi? Mengapa semua terasa begitu nyata? Bahkan dadaku masih terasa sesak dan sakit?!
"Sa, Kamu gak papa?" Tanya Revan yang berada di dekatnya sambil menatapnya khawatir
"Aku...aku mimpi buruk!" Raisa menatap Revan sambil berkaca-kaca.
"Iya, aku tahu. Kamu mengingau berteriak ketakutan" Jelas Revan
"Rasanya semuanya seperti nyata Van" Raisa sedikit ketakutan.
"Sssttt... udah itu hanya mimpi. Gak usah takut. Badanmu masih demam. " Revan memegang kening Raisa yang masih demam.
"Minum obatny dan tidur lagi gih." Suruh Revan.
Raisapun mengangguk lemah, ia meminum obat dan meneguk air putih yang berada di meja samping ranjangnya. Ia masih merasakan rasa tidak enak dalam pikiran dan hatinya.
"Aku pergi dulu ya" Revan bersiap beranjak. Namun langkahnya terhenti. Raisa menarik ujung bajunya.
"Revan, bisa temanin aku sebentar? Aku takut sekali" Pinta Raisa.
Revan terdiam sejenak berfkir keras. "Oke. Aku temanin disini sampai kamu tidur. Lalu aku tinggal"
Raisa mengangguk senang, Revanpun kembali duduk dan menyurus Raisa untuk segera tidur. Raisa membenarkan posisi tidurnya. Tak berapa lama Raisa memejamkan mata berusaha untuk tidur. Revan menguap mengantuk.
*****
Raisa membuka mata perlahan, ia merasakan badannya sudah baikan meskipun belum seratus persen kembali kekuatannya. Raisa merasa merasakan ada sesuatu di lehernya. Raisa merabanya. Sebuah Tangan!
Tanganku disini semuanya. Lalu ini tangan siapa?!
Raisapun membalikkan diri untuk memastikan sesuatu. Dilihatnya ia sedang berbaring di tangan Revan. Revan yang sedang tertidur pulas mulai terganggu dengan suara dan gerakan Raisa. Iapun mulai membuka mata.
"Agh....!!!!" Pekik Revan kaget sambil menarik tangannya dan bergegas bangun.
Bluk.... Revan langsung terjatuh dari ranjang karena ia tak siap untuk bangun tiba-tiba. Raisa yang awalnya terkaget dengan mereka bersama dalam satu ranjang lantas tertawa melihat Revan yang terjatuh.
"Pelan-pelan Revan" Raisa tertawa
Revan hanya mendelik kesal menatap Raisa. Mengapa gadis itu bisa tertawa di saat mereka tidur dalam satu ranjang!
"Diam kamu Sa! Gak usah menertawaiku!" Revan melotot kesal.
" Iya... iya... " Raisa menghentikan tawanya. Lalu ia terdiam kagok. Ia teringat kondisi mereka saat ini! Bagaimana ini? apa yang harus ia lakukan. Semalam ia ingat ia memang meminta Revan menemaninya dan ia ingat pula bahwa Revan hanya duduk menamaninya.
" Ini tak seperti yang kamu pikirkan"
" Ini tak seperti yang kamu pikirkan"
Raisa dan Revan mengatakan hal yang sama bersamaan. Kemudian mereka terdiam canggung. Revan memilih berdiri dan membenahkan dirinya. Ia semalam memang menunggu Raisa sambil terkantuk-kantuk. Tetapi ia hanya duduk di rangjang. Mengapa ia bisa pindah di ranjang Raisa?! Ia pasti mengigau semalam!
Lalu mengecek dirinya dengan seksama, semoga tidak terjadi sesuatu semalam. Revanpun bernafas lega saat menyadari bajunya masih utuh tidak ada tanda-tanda yang aneh.
"Dengar ya! Anggap ini tidak pernah terjadi! Kita gak ngapa-ngapain semalam!" Tegas Revan sambil berjalan cepat meninggalkan Raisa yang bengong.