
Revan sedang melepaskan melepaskan sepatu olah raganya. Beberapa hari ini ia jadi lebih rutin berolah raga lari pagi Selain badannya lebih terlihat sehat dan fresh, dengan lari pagi dapat mengalihkan pikirannya yang mulai kacau.
"Van, Boleh nanti temenin aku sebentar?" Raisa menghampirinya.
Revan mengernyitkan dahinya "Temenin? Kemana?"
"Hm... supermarket. Please... biasa bulanan wanita." Raisa menyatukan tangannya memohon kepada Revan.
"Sendiri kan bisa?" Balas Revan
Raisa hanya menghela nafas kesal. "Biar cepet dianter kamu naik mobil"
"Jalan kaki aja biar sehat!" Timpal Revan
"Jauh Revan supermarketnya. Aku bisa capek" Rengek Raisa.
"Ya udah beli aja yang deket kan depan kompleks ada minimarket. Kan buka 24 jam. Aku lagi males keluar" Revan memberi solusi. Ia baru saja berlari-lari dan badannya mulai lelah dan lengket. Ia ingin segera mandi dan menikmatin hari liburnya.
Raisa merengut kesal. "Pelit!"
"Apa kamu bilang?" Revan menatap Raisa tajam
"Gak. Gak papa. Ya udah aku pergi dulu" Raisa ngacir kabur sebelum Revan mengamuknya lagi.
Revan menatap Raisa kesal. "Dasar cewek rese!"
Revan menatap dirinya yang keringatan. Ia pun bergegas naik ke atas menuju kamar mandi. Revan melalepaskan bajunya dan mulai menyalakan kran shower. Airpun mulai membasahi kepalanya dan badannya. ah... segar...
tok...tok...tok...
Terdengar suara pintu kamar mandi yang terketok.
Revan menatap pintu dengan kesal. Raisa selalu menganggunya. Revanpun mematikan kran showernya. "Apa Sa, aku baru mandi"
"Hm... Maaf, Anu... bisa minta uang? Uang yang kemarin sudah habis. Aku perlu membeli beberapa perlengkapan mandi yang mulai habis" Jelas Raisa dengan nada ragu.
"Ambil aja di dompet di kamar ya" Sahut Revan.
"Makasih Revan" Ucap Raisa dibalik pintu.
"Ya..."
Revan memincingkan matanya ke pintu. Sudah tidak ada suara lagi, berarti Raisa telah pergi. Revanpun melanjutkan aktivitasnya dengan senang. Akhirnya sang pengganggu pergi.
Selang berapa lama, Revan sudah selesai mandi, iapun segera mengambil handuk dan menujur almari. Ia mengambil satu stell baju dan mulai menggunakannya.
Kreettt.... terdengar suara pintu yang sedang dibuka.
Revan mengehentikan aktifitas merapikan rambutnya. Revan segera bergegas merapikan rambut dan bajunya. Iapun bergegas ke bawah. Raisa cepat amat pulangnya? Ia pasti lari atau naik ojek?
"Kok Cepet Ba...." Tanya Revan terputus saat ia melihat sesosok wanita cantik di ruang tamu menunggunya. Renata!!
"Renata!!" Revan terbelalak tidak percaya menatap wanita cantik di depannya.
"Hai kak Revan. Kenapa kaget begitu?" Tanya Renata heran.
"Ah... tidak apa-apa. Kamu ngapain kesini?" Tanya Revan sambil melihat pintu, berharap Raisa tidak segera datang.
"Ah, aku hari ini free. Ingin mengajak kak Revan jalan-jalan." Terang Renata tersenyum
"Jalan-jalan?" Revan bingung.
Renata mendekati Revan dan mengapit lengannya "Ayolah kak, lama kita tidak pergi jalan-jalan berdua. Hm... ke pantai sepertinya asik"
Revan menatap Renata tak berkedip, Jalan-jalan?! Sudah lama ia tidak pergi berdua dengan Renata. Mungkin ini waktunya ia bersama Renata kembali berbagi waktu dan kebahagiaan yang sudah lama tidak mereka lakukan. Tapi Raisa gimana? Ah... lupakan Raisa. Gadis menyebalkan itu kan bisa di rumah tiduran.
"Oke, aku ganti baju dulu ya" Revan tersenyum bahagia.
"Oke kak." Balas Renata lembut.
Revan bergegas ke atas dan mengganti bajunya. Ia harus bergegas pergi dengan Renata sebelum Raisa kembali dan mereka bertemu. Sejenak ia terdiam terpikirkan Raisa. Ia lalu mengambil handponennya dan mulai memencet no Raisa.
tit...tit...tit...Tidak ada jawaban
Revan menatap handponenya heran. Iapun kembali memecet tombol Raisa. Namun nihil! Tetap tidak ada jawaban.
Mengapa Raisa tidak menjawab?! Lagi ngapain sih dia?
Revan menghela nafas kesal. Iapun mulai membuka aplikasi chat dan mulai mengirimkan pesan
Revanpun segera turun dan menghampiri Renata yang menunggunya sedari tadi. "Yuk berangkat"
"Oke kak" Renata tersenyum senang dan merekapun keluar rumah bersama.
"Lho kak? Kok gak dikunci rumahnya?" Tanya Renata heran.
"Ah...Aku lupa gak papa, Aman kok. Yuk pergi." Revan mengalihkan pembicaraan. Ia sengaja tidak mengunci pintu rumah, paling sebentar lagi Raisa pulang.
"Ah .... jangan begitu, jaman sekarang kejahatan terjadi karena ada kesempatan" Renata menghampiri pintu Revan dan mulai menekan tombol pin
Tit...Tut... 'Pasword yang anda masukan salah'
Renata mengernyitkan dahinya heran, setahu dia pasword pintu rumah Revan adalah tanggal lahirnya. Mengapa salah?!
Revan segera menghampiri Renata panik. Ia memang mengubah pasword rumah karena Raisa suka lupa dengan pasword. Akhirnya pasword ia ganti no 1 sampai dengan 6
"Kak, kok berubah?" Tanya Renata penuh selidik.
"Ah... aku lupa memberitahumu. Kemarin pintuku rusak, jadi sekarang kembali ke pengaturan awal" Revan berbohong sambil tertawa
"O... begitu rupaya" Renata menghela nafas lega. Kemudian ia menekan tombol pasword rumah Kevin.
"Eh, kamu ganti paswordnya?" Tanya Revan heran.
"Iya, aku kembalikan seperti awal. Tanggal lahirku kan?" Tanya Renata sambil menatap Revan.
"Eh, iya..." Jawab Revan ragu. Raisa bisa mengingat pasword awal tidak ya??
"Yuk Kak berangkat" Ajak Renata sambil beranjak menuju parkir mobil.
"Ia, ayo kita berangkat sekarang" Revan bergegas membukakan pintu mobilnya untuk Renata. Renata dan aku harus segara pergi dari sini, Sebelum Raisa datang dan mereka berpapasan.
*****
Raisa berjalan mengitari jalan ke rumah Revan, ia bersengut kesal karena minimarketnya belum buka. Jadi terpaksa ia pulang lagi dengan tangan kosong. Mana ia jalan kaki. Kakinya mulai pegal. Revan berbohong kalau bilang minimarket itu 24 jam. Ia pasti sengaja mengerjaiku!
Raisa menemukan sebuah kaleng minuman tergeletak di jalan. Ia menatapnya risih. Dipungutnya botol minuman itu dan ia buang ke sampah. Kenapa jaman sekarang masih ada orang buang sampah sembarang. Padahal udah ada tempat sampah tapi milih di jalan!
Raisa menuju ke arah rumah Revan, langkahnya terhenti saat melihat Revan bersama dengan seorang wanita cantik. Wanita yang sama dengan di foto dan di mall!
Raisapun mulai panik, ia lalu bersembunyi di belakang sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari rumah Revan. Duh... ada wanita itu lagi!! aku harus gimana??
Raisa mengintip di balik mobil, ia melihat Revan berjalan berdua dengan wanita itu, mereka saling pandang dan melempar senyum satu sama lain. Mata Raisa melotot saat Revan membukakan pintu mobilnya untuk Renata dan mempersilahkannya untuk masuk dengan senyum. Raisa menatap Revan kesal.
Dasar menyebalkan, bagaimana kamu bisa tersenyum seperti itu dengan wanita itu? Lihat saja kelakuannya, sok kayak pangeran. Bagaimana ia bisa memperlakukan wanita itu bertolak belakang denganku?! Dengan wanita itu kamu baik, lemah lembut dan penuh perhatian, denganku selalu jahat!!
"Ngomong-ngomong mereka naik mobil? Mereka mau pergi? Kemana?!" Guman Raisa penasaran.
Raisa hanya menghela nafas berat saat melihat mobil Revan yang melintas di depannya. Tampaknya Revan tidak melihatnya karena ia tak menoleh sedikitpun. Raisa hanya melihat Revan sepintas yang sedang terlihat berbicara sambil tertawa dengan wanita di sampingnya. Tiba-tiba Raisa merasa kesal
"Segitu senangnya pergi sama pujaan hatinya sampai tertawa seperti itu." Sindir Raisa kesal. Ah bodo amat!
Raisa segera menuju ke rumah Revan, ia segera memencet tombol pasword pintu Revan.
Tit...Tut... 'Pasword yang anda masukan salah'
Raisa mendelik kesal, ia kembali memasukan pasword rumah.
Tit...Tut... 'Pasword yang anda masukan salah'
Raisa mulai panik." Kok salah paswordnya? Revan barusan mengantinya?! Kenapa??"
Raisa mengambil handponenya kesal. Ia melihat beberapa chat dan panggilan tidak terjawab.
- Jangan pulang dulu! Renata di rumah- Revan
- Kok gak diangkat telpku?Jangan pulang dulu ya, ada Renata - Revan
- Raisa, aku pergi dulu dengan Renata ya - Revan
Raisa bersungut melihat chat Revan. "Renata.. Renata...Renata... nama itu terus di chat kamu."
Raisa melirik pintu rumah yang masih belum bisa terbuka. Duh, gimana ini? Aku gak bisa masuk?!
Raisa segera menelpon no Revan. 'No yang anda tuju sedang sibuk. '
Raisa mengulangi untuk menelpon Revan. Namun nihil, no Revan masih tetap sibuk. Raisa terkulai lemas. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Pintu terkunci, Revan tidak bisa dihubungi?? Aku harus bagaimana??