LBA

LBA
Nonton



Di bioskop



Raisa berlari kecil dengan gembira bak anak kecil yang berada di taman bermain. Revan lalu menarik Raisa kesal, malu karena beberapa orang mulai memperhatikannya.


"Stt... Jangan berisik kayak begitu. Malu-maluin aja," Bisik Revan sambil menari tangan Raisa, "Ingat kamu udah dewasa, bukan anak kecil".


"Ah.. Bodo amat, kan mereka bukan yang punya tempat ini," Raisa melepaskan tangan Revan lalu ia berjalan melihat satu persatu poster film di dinding. Revan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya.


Raisa... Raisa... penampilan aja yang berubah jadi cantik. Tapi sifat dan pemikiran masih aja sama. Amnesia membuatnya bertingkah seperti anak kecil.


"Revan, aku mau nonton yang ini," Raisa menunjuk salah satu gambar film horor.


"Gak!," Jawab Revan tegas.


Raisa lalu mendekati Revan. "Ayolah, kan aku yang menang. Kamu harus menuruti aku"


"Gak gak gak! Nonton sendiri aja sana! Lihat saja tu gambar hantunya, serem banget. Matanya merah dan mukanya menakutkan," Revan bergidik sendiri melihat poster tersebut.


"Yah curang! padahal kamu yang ngajakin kesini," Raisa bersungut kesal. Ia memang sengaja mencari film terseram di kala itu. Ia ingin memberi pelajaran bagi Revan tentunya.


"Gak ya gak!" Tegas Revan.


"Nonton ini aja!," Revan menunjuk salah satu film drama romantis.


"Yah...Masa nontonya drama percintaan gitu?," Raisa menggeleng.


"Ya kenapa. Kan bagus," Sahut Revan.


"Gak ah, kita kan bukan orang pacaran yang kudu nonton romantisan begitu," Sahut Raisa sambil bersungut kesal.


"Hm... bener juga ya, " kali ini Revan sependapat dengan ucapan Raisa.


"Ini aja, " Raisa menarik Revan kembali ke poster seram tadi.


"Dibilangin gak ya gak," Jawab Revan bersikukuh


"Takut ya?," Goda Raisa seraya mengerlingkan matanya meledek Revan


"Takut? Gak lah. Aku lebih takut ama kamu yang curi-curi kesempatan dengan dalih takut melihat adegan seram," Elak Revan dengan nada kesal.


"Mana ada aku begitu!"


"Masih gak inget waktu sakit? Revan... Revan... Jangan tinggalin aku. Aku takut," Ejek Revan sambil menirukan gaya Raisa


Raisa menonjok bahu Revan kesal,"Gak usah diungkit lagi!."


"Sa, lihat itu aja cocok ama kamu. Judulnya Lost memori," Revan tertawa mengejek sambil menunjuk sebuah poster.


"Kisah gadis hilang ingatan yang di culik dan di siksa terus menerus,"Raisa membaca sinopsis dari film tersebut.


"Cocok ama kamu," Revan terkekeh.


"Ih jahat kamu! Gak gak gak! Aku gak mau lihat itu! "Raisa kesal.


"Hm... Lalu apa?," Revan memutar pandangan melihat beberapa rekomendasi film yang sedang on going saat ini.


Raisa ikut memutar dan ia mulai tersenyum saat melihat sebuah film ber genre romantis thriler.


"Ini aja!."


"Ini aja."


Raisa dan Revan bersamaan sambil menunjuk ke film tersebut. Mereka berpandangan lalu tertawa menyadari bahwa mereka menujuk film yang sama.


"Ini ideku lho," Ujar Revan


"Ye.. aku duluan yang ngomong kok," Raisa tidak mau kalah.


Bruk... Seseorang pria tanpa sengaja menabrak Raisa, Raisa kehilangan keseimbangan dan terhuyung-huyung. Revan spontan menangkap Raisa dan memeluknya supaya Raisa tidak terjatuh.


"Hai bro! Kalau jalan hati-hati donk!," Revan menatap marah pada pria itu.


"Lain kali hati-hati ya," Revan melunak.


"Sa, kamu gak papa kan?," Revan melepaskan pelukannya dan menatap Raisa.


Raisa hanya terdiam, ia masih merasakan hangat pelukan Revan seakan Revan ingin melindunginya tadi. Raisa memegang dadanya, jantungnya berdetak semakin kencang. B**agaimana ini? Kenapa jantungku malah berdetak kencang begini?


"Sa? Kok malah diem? Kamu gak papa kan?," Revan menyentuk pipi Raisa degan kedua tangannya. Revan menatap lekat Raisa memastikan Raisa baik-baik saja.


Raisa merasakan wajahnya memerah, pipinya menjadi semakin panas di sentuh oleh Revan. Raisa menjadi salah tingkah sendiri.


Ada apa denganku? Kenapa malah aku jadi salah tingkah begini! Halo Raisa sadarlah.


"Aku gak papa. Dah sana, antri!," Raisa mendorong Revan berbaris di antrian pembelian tiket. Berusaha untuk mengalihkan pandangan Revan terhadapnya.


"Kok aku sih?," Protes Revan.


"Jadi mau aku? Oke. Aku habiskan uangmu buat beli makanan dan lain-lain lagi lho,". Ancam Raisa sambil tersenyum picik.


"Gak! aku aja," Revan lalu berbaris.


Raisa kemudian celingak-celinguk mencari sesuatu.


"Kamu nyari apa?," Revan keheranan


"Toilet, aku mau ke toilet dulu ya," Raisa tersenyum lalu beranjak meninggalkan Revan yang kesal menuju ke toilet.


"Dasar gadis aneh," Runtuk Revan kesal. Namun sejenak kemudian ia tersenyum. Entah kenapa ia merasa bahagia saat ini.


"Kak__," Sebuah tangan memegang bahu Revan.


Revan mengernyitkan dahinya, Belum lima menit Raisa sudah kembali? Bukannya wanita selalu lama kalau di toilet?


"Kena_," Ucapan Revan terputus saat melihat sosok yang sedang berdiri tak jauh darinya.


Renata berdiri tegak sambil tersenyum menatapnya. Ia menurunkan kacamatanya sedikit dan memperlihatkan wajahnya ke Revan.


"Ini aku kak," Renata tersenyum gembira. Tidak menyangka keisengannya pergi untuk nonton dengan teman-temannya justru membawanya bertemu Revan.


"Renata??!!"


"Iya kak. ini aku. Aku sedang bersama teman-teman," Renata menunjuk beberapa wanita cantik di seberang.


"O...," Ucap Revan


"Kakak ama siapa?," Tanya Renata ganti saat melihat Revan berdiri sendirian mengantri tanpa ada Kevin atau siapapun yang biasa pergi bersamanya.


"Aku? Aku sendirian," Sahut Revan cepat sambil gelisah sambil melirik ke arah toilet.


"Hm teman-temanku banyak. Kakak sendirian. Hmm.. Baiklah, aku akan temanin," Renata segera mengapit lengan Revan sambil tersenyum lebar. Sementara Revan hanya pasrah tak bisa menolak.


******


Raisa keluar dari kamar mandi, lalu ia mencuci tangannya dengan sabun. Setelah ia membilas ia lalu mengeringkan tangannya. Raisa memandang dirinya di cermin, ia tersenyum simpul saat mengingat kejadian tadi. Saat ia dan Revan tertawa spontan saat menunjuk bersamaan film tadi. Saat ia hendak terjatuh dan Revan menangkap lalu memeluknya.


Deg....Deg... Deg..


Raisa memegang memegang dadanya dengan kedua telapak tangannya.


Kenapa dadaku berdetak semakin kencang? Kenapa selalu berdetak kencang saat ada Revan? Mukaku? Mengapa mukaku jadi panas begini membayangkan wajah Revan yang menatapku penuh khawatir?!


Raisa masih tersenyam-senyum penuh arti. Ia lalu mengeluarkan lipstik dari tasnya. Ia memoleskannya tipis ke bibirnya. Raisa melihat dirinya ke arah cermin dan merapikan bajunya, lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan terkena angin. Tak lupa Raisa menyemprotkan parfum leher dan belakang telinganya. Konon katanya ini membuat parfum lebih awet di badan. Begitu kata youtuber yang ia lihat.


Setelah merasa sudah beres dan rapi, Raisa beranjak pergi meninggalkan toilet


Seberkas senyum terkembang di wajahnya. Entah mengapa ia merasa bagaikan beribu-ribu bunga mengelilinginya, hatinya seolah dipenuhi dengan kebahagiaan.


Senyum Raisa menghilang saat melihat sosok Revan bersama seorang gadis cantik. Renata. Raisa hanya terdiam mematung melihat Renata yang mengapit lengan Revan. Mereka berbincang dengan senyum terkembang di wajahnya. Bunga-bunga di sekeliling Raisa seketika itu menghilang. Wajah bahagia yang menghiasi wajahnya, seketika berubah menjadi wajah kecewa.


Apa-apaan ini! Jadi Revan mengajakku kesini untuk mengantarkannya bertemu dengan Renata?! Jadi ini, alasan ia berkata harus pergi sekarang? Karena mau bertemu Renata? Jadi ini sebabnya ia mau menonton film Romantis, karena akan bersama Renata?!! Betapa bodohnya aku mengi iyakan dia tadi?


Tapi, Kenapa aku merasa kecewa begini? Rasanya ada yang sesak di dadaku dan... Mengapa hatiku sakit begini?!