LBA

LBA
Raisa, Kamu dimana?



Disebuah ruangan Rumah sakit, Raisa terbaring tidak sadarkan diri di ranjang sebuah ruangan. Sementara itu, di sofa yang terletak tidak jauh dari ranjang pasien, Kevin duduk sambil menyandarkan kepalanya di leher sofa. Sudah beberapa jam ia disini. Menunggu Raisa, tetapi Raisa masih belum bangun juga.


Dokter mengatakan Raisa secara fisik sehat, tetapi ia merasakan sakit kepala mungkin Raisa kecapekan atau pernah mengalami trauma menyebabkan ia pingsan. Saat Raisa tersadar ia berteriak dan menangis mengeluhkan kepalanya sakit sekali. Karena itu dokter memberikannya penenang dan Raisapun kembali tenang dan tertidur.


Kevin menatap layar ponsel di depannya. Handpone Raisa mati karena habis batrei. Barusan ia mencargernya dan mulai ia hidupkan. Namun ponselnya terkunci, ia tidak bisa mencari sebuah no untuk ia hubungin dan akhirnya Kevin memutuskan untuk tetap tinggal menunggu Raisa.


Raisa membuka matanya perlahan. Ia mengerjab-ngerjabkan matanya perlahan sambil berusaha untuk mengembalikan kesadaran dirinya. Raisa lalu terhenyak kaget saat ia menyadari bahwa ia terbaring di sebuah ranjang pasien dengan selang infus yang terpasang di tangannya. Ia kemudian berusaha duduk, namun kepalanya masih terasa sakit.


"Raisa, kamu sudah bangun?" Kevin mendekati Raisa dan membantunya untuk duduk.


"Dimana aku?"


"Kamu pingsan, jadi aku membawamu ke rumah sakit. Kata dokter kamu hanya kecapekan. Butuh banyak istirahat" Terang Kevin.


"Hm....Terimakasih ya Kevin". Ucap Raisa lemah sambil berusaha untuk bangun.


"Sekarang bagaimana denganmu? Apa yang kamu rasakan sekarang?". Tanya Kevin khawatir


"Hm... Aku sedikit pusing. Tapi tidak apa-apa kamu tidak usah khawatir. Aku sering seperti ini. Sakit kepala tiba-tiba" Terang Raisa berusaha kuat.


Ya... aku memang sering seperti ini, di saat aku sendirian dalam keramaian, ketakutan kepalaku sakit. Di saat aku merasakan potongan-potongan memori yang sepertinya memoriku yang lama aku merasakan sakit yang luar biasa. Mungkinkah efek dari kecelakaan?!


"Tidurlah kembali. Kata dokter kamu masih butuh banyak istirahat". Kevin membaringkan Raisa.


Raisa meletakkan kembali kepalanya di bantal. Ia mulai melihat langit-langit dan dinding rumah sakit. Mengingat saat pertama kali dirinya membuka mata, ia melihat Revan dan langsung menonjoknya. Raisa membelalakkan mata saat melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul 1 malam.


"sekarang jam 1 malam?!" pekik Raisa kaget. Revan pasti mencarinya!


"Iya sa, sudah malam. Kenapa? tidurlah. Tadi kamu mengerang kesakitan terus pada kepala sehingga diberikan obat penenang dan kamu tertidur lama. Sebaiknya malam ini kamu rawat inap dulu disini. Supaya mendapatkan perawatan." Kevin menenangkannya.


"Orang rumah pasti khawatir. Aku belum pulang." Raisa gelisah.


"Raisa... ini sudah malam. Apa kamu mau membangunkan orang rumahmu yang pastinya sudah tidur jam segini". Ucap Kevin sambil melihat jam di tangannya.


Raisa terdiam sejenak, benar juga kata Kevin. Ini sudah malam, ia yakin Revan pasti sudah tertidur. Lagipula untuk apa dia memberi kabar Revan? Revan bahkan tidak mau tahu keadaannya seharian ini. Terlalu sibuk dengan pacarnya sampai tidak ingat kalau ada orang yang bergantung dengannya!


"Iya, kamu benar Kevin. Pasti dia sudah tidur. Sebaiknya aku tidur." Raisa menerawang membayangkan Revan yang mungkin saja masih bersama wanita itu.


"Sudah.. Jangan mikir apa-apa. Kata dokter kamu harus rileks jangan memikirkan sesuatu yang berat dulu." Kevin menutup mata Raisa dengan telapak tangan kanannya. Ia tahu Raisa sedang memikirkan sesuatu.


Raisa lalu tersenyum dan melepaskan tangan Kevin. "iya .. iya aku tidur"


"Nah begitu donk. Aku juga sudah mengantuk". Ujar Kevin sambil kembali ke sofanya.


"Kevin... Maaf, merepotkanmu terus dan terimakasih ya, sudah menolongku lagi." Raisa memiringkan badannya ke arah Kevin.


"Iya sama-sama. Jangan sungkan kita kan teman". Kevin tersenyum tulus ke arah Raisa.


Raisa, saat ini kita hanya teman. Mungkin beberapa minggu atau hari kita bisa jadi lebih dari teman.


Raisa!! sadar dirilah! Revan hanyalah orang yang kebetulan menolongmu. Sukur-sukur dia masih mau memberikan tempat tinggal untukmu. Dia kan tidak punya kewajiban untuk mengurusi hidupmu terus. Dia juga punya kehidupan sendiri!


*****


Revan memarkirkan mobilnya dengan riang, lalu ia memarkirkan mobilnya ke parkiran. Ia lalu berjalan sambil bersiul menuju rumahnya. Dipencetnya tombol pasword rumah. Setelah dari pantai, ia makan malam dengan Renata dan mengantarnya pulang karena sudah kemalaman. Banyak hal yang sudah mereka bicarakan.


Revan memasuki rumahnya. Masih gelap!


"Sa!!" Panggil Revan. Setelah berjam-jam memang sudah tidak ada panggilan atau chat masuk ke pinselnya dari Raisa. Revan pikir Raisa sudah mengingat pasword dan bersantai-santai di rumah. Makanya tidak ada satupun gangguan kepadanya.


"Sa!!!" Panggil Revan makin kencang. Nihil! Masih sunyi tidak ada jawaban apapun.


"Sa!!!!" Revan sedikit mulai khawatir. Ia memasuki kamar Raisa. Kamar itu masih gelap. Revan menyalakannya dan tetap tidak menemukan siapapun. Kamar itu masih rapi tampak belum digunakan semenjak pagi.


Raisa... jangan bilang kamu tidak ingat pasword dan tidak bisa masuk dari tadi?!


Revan menepuk jidatnya pusing, seharusnya ia menerima telpon Raisa barang sekali saja, atau bahkan mengirimkannya chat sandi rumah! Revan bergegas mengambil ponsel dari saku celananya. Di tekannya sebuah no.


'Maaf, No yang anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan meninggalkan pesan'


Revan menekan tombol sekali lagi.


Maaf, No yang anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan meninggalkan pesan'


Revan menghempaskan dirinya kesal di sofa ketika mesin penjawab yang menjawab panggilannya. Ia melihat jam di layar dinding. Sudah larut malam? Kemana Raisa berkeliaran sampai larut malam??


Revan bergegas mengambil kunci mobil di meja dan keluar menuju mobilnya. Ia segera membuka pintu dan masuk. Di tancapnya gas mobil dan ia pun mengendarai mobil perlahan mengelilingi kompleks dengan perasaan khawatir dan bersalah.


Revan turun saat ia melewati minimarket terdekat. Ia lalu memasuki minimarket dan mencari-cari Raisa. Nihil, Raisa tidak disini. Revanpun keluar dan berusaha mengingat-ingat tempat yang sering di datangi Raisa. Restoran!


Revan segera melajukan mobilnya ke restoran terdekat yang sering mereka kunjungi saat bosan makan di rumah. Revan meneliti meja demi meja. Ia memperhatikan secara seksama pengunjung di restoran tersebut. Ia tidak menjumpai sesosok yang sedang dicarinya.


"Maaf mas, Kita sudah last order dari sejam yang lalu. Sekarang sudah tidak bisa memesan". Seorang pelayan mendekati Revan.


"Oh iya, Maaf saya sedang mencari teman saya. Terimakasih banyak". Revan lalu keluar restoran dengan lesu.


Ia lalu memasuki mobil kembali dan mulai menjalankan mobilnya pelan-pelan sambil mengedarkan pandangannya ke arah kanan dan kiri. Beberapa jampun telah berlalu, Revan sudah beberapa kali menyusuri jalan berusaha untuk menemukan Raisa. Tetapi masih tidak kunjung kelihatan batang hidungnya.


Revan mengambil ponselnya kembali dan mulai memencet sebuah no. Berharap ponsel Raisa sudah aktif.


Tut...tut...tut...


Panggilan Revan tersambung, terbersit senyum di bibir Revan ketika ia berhasil menghubungi Raisa. Namun lama ia menunggu, tidak juga ada jawaban. Revan mulai menekan no kembali, tetap sama tidak ada jawabannya. Mengapa Raisa tidak menjawab panggilannya? Apa ia marah??


Revan mendesah lemas. Lalu ia menyandarkan kepalanya di stang mobil putus asa. Ia melirik ponselnya yang masih tidak ada kabar. Sudah hampir subuh! Harus kemana lagi ia mencari Raisa?!


Raisa! Kamu dimana???