LBA

LBA
Penjelasan Revan



Kevin menatap Raisa dan Revan bergantian. Mata mereka sejenak saling beradu, kemudian mereka mengarahkan pandangan ke sekitar. Langkah kaki Revan sedikit kelu, ia duduk menyandarkan punggungnya ke sofa. Kini Revan dan Kevin tengah duduk berhadapan dalam diam. Sudah hampir 30 menit mereka terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.


Sebenarnya apa sih yang di rahasiakan Revan? Mengapa Raisa bisa ada disini? Aku sudah lama bersahabat dengan Revan, tapi tak pernah satu kalipun aku mendengar kisah tentang Raisa. Apa hubungan mereka?! Teman? Sepupu atau apa?! Kevin dalam hati


Kenapa Kevin bisa ada disini?! Ah ya, aku kan mengganti pasword pintu kembali ke lama. Pantas saja ia bisa masuk. Tunggu! Kevin tadi memanggil nama Raisa kan? Mereka mengenal?! Bagaimana bisa?? Duh, Apa yang harus aku jelaskan ke Kevin, aku sudah tidak mungkin berbohong lagi. Revan dalam hati


Kenapa mereka diam terus begini? Aku kan jadi canggung sendiri! Kevin kenapa bisa disini? Revan mengenalnya ya? Duh, bisa mati aku dimarahin Revan kalau begini! Keluh Raisa dalam hati.


Raisa menghendikkan bahunya dan menarik nafas panjang. Ia mulai jenggah dengan kondisi canggung sedari tadi. Ia lalu menatap Revan dan Kevin bergantian. Senyumnya terkembang ketika mendapatkan suatu ide untuk memecah keheningan.


"Hm.. ada yang mau teh atau kopi?Aku buatkan," ucap Raisa memecah keheningan.


Revan dan Kevin terhenyak, tersadar akan pikiran mereka masing-masing. Sudah hampir setengah jam mereka sibuk dalam lamunan dan berbagai pikiran yang memenuhi otak mereka. Mereka tersadar, dan lalu menatap Raisa yang masih tersenyum.


"Aku mau white coffe," sahut Revan.


"Aku Americano late". Kevin tersenyum manis ke arah Raisa.


"Hm... permintaan kalian berbeda, aku tidak mempunyai keduanya. Krena aku mau teh. Jadi teh saja ya," ujar Raisa sambil berlalu pergi meninggalkan Revan dan Kevin yang bingung.


"Ok, teh juga boleh." Kevin melempar senyum ke arah Raisa.


"Teh?! Hei Raisa! Apa gunanya kamu menawari kami tadi?!" Revan protes dengan tawaran Raisa yang basa basi.


"Kalau Revan gak mau teh, air putih saja ya." Raisa menatap Revan sambil melotot.


"Ya udah, teh aja," sahut Revan akhirnya menyerah, meski dengan hati yang kesal.


"Nah gitu donk." Raisa mulai memasak air panas di teko dan mengambil toples berisi teh dari almari.


"Sepertinya kalian akrab." Kevin menatap Raisa dan Kevin bergantian.


"Kami gak akrab!!" Sahut Revan kesal.


"Jadi Revan, ceritakan siapa Raisa," pinta Kevin penuh arti.


"Hm... Ceritanya panjang Vin." Revan menengok ke arah Raisa. Terlihat Raisa sedang sibuk membuat teh.


"Aku tidak pernah mendengarmu menceritakan gadis bernama Raisa?" tanya Kevin lagi.


Revan bergegas berpindah duduk. Ia tidak mungkin membiarkan Raisa mengetahui bahwa ia yang menabraknya dengan cara begini. Bisa-bisa Raisa akan melaporkannya ke polisi!


Revan mendekati Kevin dan berbisik pelan. "Tolong pelankan suaramu. Aku akan menceritakannya. Sebenarnya Raisa amnesia, ia mengalami kecelakaan dan otaknya bermasalah. Ia tidak mengingat apapun."


"Apa?! Hilang ingatan?" Kevin terhenyak kaget, tak menyangka gadis polos di depannya adalah gadis amnesia.


"Sttt!! Sudah kubilang. Pelankan suaramu!" Revan langsung membungkam mulut Kevin. Menyuruhnya untuk pela.


"Jangan kencang-kencang atau aku tidak mau melanjutkan," ancam Revan. Kevin hanya mengangguk. Apapun yang berkaitan dengan Raisa membuatnya penasaran.


"Sebenarnya aku yang menabraknya," Jawab Revan pelan. "Tapi aku tidak sengaja. Aku pikir dengan merawatnya dan membiayai biaya rumah sakitnya. Semua akan selesai. Tapi, Raisa hilang ingatan semuanya semakin runyam. Aku terpaksa merawatnya karena ia hilang ingatan dan tidak mempunyai siap-siapa saat itu."


"Apa Raisa tahu kalau kamu yang menabraknya?" Tanya Kevin penasaran.


Revan mendesah lalu ia menjawab dengan gelengan kepala. Ia lalu duduk menyandarkan bahunya di sofa. "Raisa belum tahu kalau aku menabraknya. Waktu itu aku terlalu takut mengakuinya. Aku pikir dengan merawatnya, ia bisa memafkanku dan tidak mempermasalahkan ke jalur hukum. Namun, siapa sangka ia amnesia hingga sekarang."


"Bagaimana dengan keluarganya? Apa kamu tidak mencarinya?".


"Entahlah dia punya keluarga atau tidak. Aku sudah melaporkan berita kehilangan ke kepolisian. Sejauh ini belum ada kemajuan," Revan mengarahkan pandangannya ke arah Raisa yang masih sibuk di dapur.


"Kasihan ya Raisa," Kevin ikut menatap Raisa dengan iba.


"Justru itu yang membuatnya lebih menarik, sikap polosnya. Bukankah dia terlihat imut dan menggemaskan?," Kevin tersenyum melihat Raisa.


Raisa sedang menyeduh teh, kemudian ia memberikan beberapa sendok gula. Ia mencicipinya, pahit. Raisa kembali memberikan beberapa sendok gula kembali, sekarang terlalu manis. Raisapun menghela nafas. Kesal sendiri dengan teh buatannya yang tidak kunjung pas.


"Manarik? Menarik dari mana? Semua pekerjaan yang ia lakukan tidak pernah benar. Lihat gadis itu. Membuat teh saja berjam-jam," Omel Revan sambil melihat Raisa.


"Hahha... justru itu. Dia imut saat seperti itu, ekspresiny lucu," guman Kevin.


"Eh, Apa Renata tahu tentang ini? Kamu bel melamarnya bukan karena kejadian ini kan?," Kevin teringat bahwa Revan sedang merencanakan lamaran kepada Renata.


Revan terdiam sejenak, ia kemudian berfikir. "Renata belum tahu Vin, maka dari itu aku belum bisa melamarnya. Aku merahasiakan ini semua darinya. Tolong bantu aku merahasiakannya ya?"


"Mau sampai kapan merahasiakannya? Bukannya tidak baik jika Renata tahu kamu tinggal dengan gadis lain. Tinggal berdua seperti ini, tetaplah tidak baik," Kevin memberikan nasihat.


"Maka dari itu, bantu aku merahasiakannya. Sampai Raisa menemukan ingatannya dan kembali kekeluarganya. Setelah itu anggap tidak terjadi apapun. Aku kembali ke kehidupanku, dia dengan kehidupannya," Jelas Revan enteng.


"Tapi, tinggal serumah dalam waktu lama. Tidak terjadi sesuatu diantara kalian kan? kalian tidak saling menyukai kan?," Kevin memastikan.


"Saling menyukai?! Dengan gadis itu?! Hahaha...Itu hal bodoh yang aku dengar Vin. Aku sama dia itu ribut terus," Revan tertawa. Ia merasa konyol dengan pertanyaan Kevin.


"Ya asal jangan jadi benci jadi cinta. Tapi syukurlah kalau tidak terjadi apa-apa," Kevin tersenyum penuh arti.


"Hai, maaf aku lama," Raisa membawa nampan berisi 3 cangkir teh.


"Iya gak papa Sa, terimakasih ya sudah dibuatkan," Kevin tersenyum menatap Raisa.


"Sama-sama Vin, ini tehnya silahkan diminum," Raisa memidahkan teh dari nampan ke meja di depan Kevin


"Buat teh kok lama banget sih Sa? Bisa buatnya gak sih?," Sindir Revan sambil meraih teh untuknya ia mulai akan meminumnya.


Raisa menatap Revan kesal, spontan ia merebut teh yang diambil Revan dan meminumnya sampai habis.


"Hei, itu minumanku," Protes Revan kesal.


"Gak ada buat kamu. Bikin sendiri saja," Sahut Raisa kesal.


"Gak mau. Aku haus. Aku minum yang itu aja," Revan mengambil kembali cangkir teh terakhir.


"Gak boleh!," Raisa menarik kembali cangkir teh itu. Ia lalu mendekatkan cangkir teh itu ke sebelah Kevin seraya tersenyum."Kevin, tehnya enak kan? masih mau tehnya lagi kan?"


"ya enak," Kevin tersenyum geli melihat Raisa yang cemberut.


Revan hanya bersungut kesal, ia lalu mulai beranjak." Lihat Vin, gadis ini merepotkan dan menyebalkan kan?"


"Apa? Aku menyebalkan? Bukannya itu adalah kalimat yang pas untuk dirimu sendiri," Protes Raisa kesal.


"Awas Vin, jangan sampai lengah. Penampilan aja yang waras. Otaknya gini," Revan membentuk sebuah garis miring di dahinya.


"Revan!! Apa maksudmu? Aku gila? Sinting?," Cecar Raisa kesal.


Revan tertawa," Nah itu mengakuinya."


"Awas kamu ya Van!," Raisa berkacak pinggang.


"Tuh...tuh Vin, gadis gak tahu aturan kan?," Revan menunjuk Raisa.


"Sudah... sudah... jangan berantem," Kevin menggeleng geleng melihat tingkah mereka yang seperti Tom and Jerry.


Senyum terkembang di wajah tampannya saat ia melihat Raisa. Ada sedikit harapan untuk mengenal Raisa lebih dekat. Apalagi ia tahu dimana ia bisa menemui Raisa sekarang.