LBA

LBA
Pria yang menyebalkan



"Raisa!!!" Revan berteriak kesal sambil mencari Raisa.


"Revan kenapa sih, teriak-teriak. Gendang telingaku bisa jebol!" Sahut Raisa sambil melihat Tv.


"Ini maksudnya apa?!" Revan menunjukan sms banking di handponenya.


"Apa ?" Raisa tak mengerti dengan pesan itu.


"Kamu mau membuatku bangkrut ya?! Belanja seperti ini?" Revan menatap Raisa kesal


"O... itu, hm... Kamu kan yang bilang mau membelikan aku baju? Kamu kan gak bilang aku harus beli berapa. Lagipula aku kan cewek banyak keperluannya. Aku perlu sepatu tas, make up dan lain lain." Raisa menyengir.


"Tapi gak seperti ini juga dong. Ini hampir gajiku bekerja selama seminggu!" Protes Revan sambil menjatuhkan badannya di sofa frustasi.


"Ya maaf, salah siapa meninggalkanku dan malah pacaran!". Balas Raisa kesal.


"Aku gak pacaran!" Revan membela diri.


"Kalau gak pacaran ngapain coba ketemu sama cewek trus pegang-pegangan. Dasar cowok genit. Trus malah pergi meninggalkanku." Sindir Raisa


"Aku belum pacaran. Aku gak genit. Aku terpaksa, cewek itu butuh bantuan. Pokoknya kalau ada cewek itu kamu harus langsung sembunyi" Bela Revan.


"Sepertinya kamu cowok yang suka membantu semua orang ya. Baik sekali". Sindir Raisa.


Revan terdiam kesal lalu ia mengambil buku kecil dan menuliskan sesuatu. Lalu menunjukan ke Raisa. "Sudah aku catat disini. Belanjaanmu aku hitung sebagai HUTANG! Pastikan besok kamu membayarnya,"


Raisa menatap Revan kesal. Mengapa Revan banyak perhitungan kepadanya. "Dasar depkoletor"


"Terserah. Biar kamu belajar hemat" Revan tersenyum penuh kemenangan sambil beranjak meninggalkan Raisa. "Oh ya, ada sesuatu untukmu di tas itu"


"Apa? sesuatu? untukku?" Raisa kaget. Lalu ia membuka sesuatu di tas kecil yang di tunjukan Revan tadi. Sebuah handpone!!


Mata Raisa berbinar melihatnya. Ia menatap punggung Revan yang beranjak memasuki kamarnya dengan gembira.


"Revan! Terimakasih ya!" Seru Raisa sambil tersenyum membuka-buka handpone barunya. Ternyata Revan tak sejahat yang ia pikirkan. Revan baik sekali.


"Sama-sama" Jawab Revan singkat.


Raisa mulai membuka hapenya dan melihat-lihat senang. Ia melihat di tv banyak hal yang bisa dilakukan dengan internet di handpone.


Revan yang mihat tingkah Raisa tersenyum geli. "Oh ya Sa. Harganya Tiga juta"


Raisa mengerutkan dahinya bingung "Tiga juta?"


"Iya Tiga juta" Jawab Revan.


"Maksudnya apa?" Tanya Raisa


"Pastikan kamu menulisnya di buku hutangmu" Jawab Revan sambik menunjuk buku kecil yang ia berikan tadi.


"Apa?!!"


"Aku tidur dulu ya. Jangan lupa ditulis dan dihitung hutang-hutangmu ya" Sahut Revan cuek sambil masuk ke kamarnya.


Raisa membanting dirinya kesal di sofa. Ia salah kalau sudah menyangka Revan baik. Ia tarik kata katanya tadi. Entah kenapa ia malah bertemu laki-laki yang ia anggap seperti malaikat. Ia salah karena mengira malaikat penolongnya tak sebaik dugaannya. Revan memang menyebalkan dan pelit!


*****


Revan memandang makanan di depannya. Nasi goreng lagi! Revan menatap Raisa yang sedang asyik dengan handponenya. Mengapa gadis ini tidak ada perkembangannya. Setiap hari ia selalu memakan Nasi goreng asin buatannya Raisa atau telor goreng gosong buatannya. Revan hanya menghela nafas.


"Kok gak dimakan? Gak mau ya? " Tanya Raisa sambil melotot.


"Iya ini baru mau makan" Sahut Revan sambil melihat nasi goreng buatannya Raisa. Ia menyiapkan batin dan lidahnya untuk memakan nasi goreng buatannya Raisa yang pastinya rasanya tidak jelas.


Revan mengambil sendok dan mulai menyendokkan beberapa nasi ke mulutnya dengan ogah-ogahan. Mata Revan terbelalak ketika ia mulai mengunyah nasi goreng tersebut. Rasanya gak asin gak aneh. Bahkan terbilang enak. Tak percaya dengan indranya Revan mulai mengulangin suapannya dan memakannya pelan-pelan sambil memastikan. Tapi tetap saja. Enak.


"Masaklah. Emang kenapa? Gak enak lagi ya? Keasinan ya?" Tanya Raisa


"Eh gak, enak banget kok. Aku malah kaget masakanmu bisa enak gak kayak biasanya" Jawab Revan sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Jadi selama ini masakanku gak enak ya?" Tanya Raisa kesal.


"Ya begitulah" Revan meminum segelas air putih.


Raisa hanya menghela nafas kesal. Lalu ia teringat sesuatu." Van, cara membuat e mail bagaimana? Beberapa aplikasi harus memasukan e-mail. aku tidak mengerti"


"Ya buat aja di gmail. Masuk register. isi biodatanya" Jawab Revan sambil makan.


"Yang mana?" Raisa bingung. Revan yang baru mau memasukan makanannya berhenti makan dan mendekati Raisa.


Ia berdiri di samping Raisa sambil menunjukan beberapa pilihan di handpone Raisa. Raisa yang awalnya duduk terkaget ketika Revan berada di dekatnya sambil menjelaskan dengan seksama.


Raisa melihat Revan Lekat. Aroma parfum Revan tercium jelas di hidungnya saat Revan mulai mendekat. Dilihat-lihat, Revan memang ganteng kalau diperhatikan dari dekat. Wajahnya tegas, Alis matanya tebal, matanya tajam seperti elang, hidungnya mancung, bibirnya tipis dan terlihat lembut. Raisa menelan lundah gugup. Entah kenapa ia jadi gugup begini berada sedekat ini dengan Revan.


"Sa? Udah ngerti kan?" Tanya Revan selesai menjelaskan. Raisa hanya mengangguk tak bisa berkata-kata. Berusaha mengendalikan rasa gugupnya. Revanpun kembali menghabiskan makanannya.


"Aku pergi dulu ya." Revan pergi setelah menyelesaikan makanannya.


Raisa hanya melihat kepergian Revan di balik pintu. Ia langsung bergegas masuk ke kamar dan membaringkan badannya di kasur. Raisa memegang dadanya dan ia merasakan detak jantungnya semakin cepat.


"Ada apa denganku? Mengapa jantungku berdetak secepat ini? Apa jantungku juga sakit?" Guman Raisa.


********


Revan membaca beberapa dokumen dengan teliti. Ia sedang meneliti beberapa laporan dari pekerjaan beberapa bawahannya. Tiba-tiba layar Revan berbunyi. Ia menatap layar di ponselnya. Sebuah pesan masuk ke dalam layarnya. Raisa mengirimkan pesan. Ini sudah ketiga kalinya Raisa mengirimkan pesan kepadanya. Revan menghela nafas lalu melanjutkan aktifitasnya kembali.


Tak berapa lama kemudian handponenya kembali berbunyi. Revan menghela nafas kesal. Revan mengambil handpone ia menekan tombol di handponennya. Bukan untuk menerima panggilan tetapi untuk mengaktifkan mode silent.


Revan meletakkan handponenya ke meja dengan kesal. Ia memang membelikan handpone untuk Raisa agar mempermudah komunikasi sehingga kejadian di mall tidak terulang lagi. Namun tampaknya ia salah! Raisa justru menganggunya terus dengan mengirimkan pesan atau menelponnya hanya untuk hal-hal yang tidak penting. Hari ini Revan mempunyai segudang pekerjaan yang harus ia lakukan. Laporan menumpuk untuk ia baca. Ia butuh kosentrasi jadi ia harus mengabaikan Raisa kali ini.


"Pak Revan, sudah malam. Bapak tidak pulang?Bolehkah saya pulang duluan? Saya ada janji penting. "Sebuah suara mengagetkan Revan. Dilihatnya Della sekretaris Revan di kantornya yang tersenyum sambil membawa tas.


Revan tersadar dan mulai melihat jam di dinding ruangannya. Ia mulai bersalah membuat sekretarisnya ikut pulang malam. "Oh... sudah malam rupanya. oh iya Del, kamu boleh pulang. Aku juga akan pulang" Jawab Revan sambil berberes-beres.


"Terimakasih pak Revan, saya pamit pulang dulu ya" Della pamit dan mulai beranjak pergi.


Revan melihat layar handpone. 10 pesan dan 22 panggilan tak terjawab. Ia hanya tertawa geli saat membaca pesan yang semuanya isinya dari Raisa dengan pesan yang sama.


- Revan kapan pulang, Cepat pulang ya -


Raisa


Revan hanya geleng-geleng kepala, Raisa kali ini gak kreatif hanya menanyakan kapan ia pulang berulang kali. Paling ia ingin meminta sesuatu padanya lagi. Ia sudah hafal gerak-gerik Raisa yang membaik-baikin dirinya dengan modus tersembunyi. Bila sudah terpenuhi keingannya ia akan sudah berhenti membaikinya. Bila keinginannya tidak terpenuhi ia akan ngambek sambil mengomel tentangnya.


Revan segera merapikan laporan dan mengambil tasnya. Hm... Ia harus mampir membelikan Raisa spageti makanan kesukaannya atau gadis itu akan mengamuk.


Sesampainya di rumah Revan hanya bingung karena melihat lampu rumah mati semua. Rumah juga masih tampak berantakan.


Tidak ada makanan satupun di meja makan.


"Raisa seharian ngapain aja. Rumah sudah seperti kapal pecah."Grutunya sambil menuju ke kamar Raisa yang masih tertutup gelap.


"Hei gadis malas! Bangun!" Seru Revan.


Hening tak ada jawaban. Revan melihat ke kamarnya Raisa. Tidak ada siapapun di kasurnya. Revan beranjak keluar kamar Raisa. Ia mulai melangkah menuju ke atas. Namun langkahnya terhenti tatkala melihat sesosok yang tergeletak di dekat kamar mandi. Revan langsung bergegas turun mendekati Raisa yang tergeletak di lantai tak sadarkan diri.


"Raisa! Kamu kenapa?" Revan mendudukan badan Raisa di bahunya. Ia menatap wajah Raisa yang tampak pucat.


******