LBA

LBA
Benih yang mulai tumbuh



Raisa menatap nanar Renata dan Revan yang masih mengantri untuk membeli tiket. Raisa terdiam, kakinya tiba-tiba terasa berat. Rasa hangat yang tadi menjalar di seluruh tubuhnya berubah menjadi panas. Yah sepanas hatinya yang melihat Revan bersama Renata. Bunga-bunga yang yang menghiasi angan-angannya seketika menjadi gelap. Raisa menunduk, berusaha untuk mengontrol dirinya.


Kenapa?? Kenapa aku malah begini? Hati dan pikiranku kenapa tidak karuan begini melihat mereka?? Bukankah hal yang wajar kalau Revan bersama wanita yang ia sukai. Namun, kenapa aku jadi kecewa dan sedih begini? Kenapa?!! Tidak, Tidak! Aku tidak boleh begini!! Kenapa harus bersedih?! Tidak alasan untuk aku bersedih kan? Cemburu?! Tidak!! Untuk apa aku cemburu??


Raisa menarik nafas panjang berusaha untuk menghilangkan rasa sedih dan kecewanya. Bukan saatnya ia begini. Bukankah ini bukan untuk pertama kalinya Revan begini?! Ia datang kesini bukan untuk bersedih tapi untuk bergembira.


Raisa melirik ke depan, sepintas ia melihat Revan yang mencuri kesempatan untuk melihatnya. Beribu kalimat terpancar dari matanya. Raisa segera menghilangkan muka sedihnya, ia berusaha menatap Revan dengan tatapan seperti biasanya. Mereka berbicara lewat tatapannya.


Mengapa kamu bersama Renata? Kamu sengaja ya Tanya Raisa dalam matanya


Maaf, ini gak sengaja. Revan menjawab di balik tatapannya.


Trus gimana ini? Raisa


Aku juga bingung harus gimana? Menurutmu aku harus bagaimana? Revan


Mana aku tahu, pikir sendiri. Raisa mendesah dalam.


Tit... Tit... Tit... suara ponsel Raisa berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Revan


___📱📱📱___


- Raisa, jangan salah paham. Aku tidak sengaja bertemu Renata.


Revan


- Ya.. Ya.. ya.. selamat bersenang-senang ya


Raisa.


- Sekarang gimana?


Revan


Raisa menarik nafas panjang, Kenapa malah bertanya padaku? apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin kan aku mendatangi Revan saat bersama Renata. Bisa-bisa Revan akan mengusirku. Aku cukup tahu diri, tidak mungkin aku berada di antara mereka.


- Tenang, aku tidak akan mengganggumu. Aku akan pergi nonton sendiri. Kamu nikmatin saja filmnya.


Raisa


- Maaf ya Sa, Kali ini ini aku benar-benar tidak sengaja. Aku menyesal.


Revan.


- Kalau kamu menyesal, tebuslah dengan nyawamu! Sudah sana pergi pacaran.


Raisa.


- Enak saja! Tapi, terimakasih atas pengertiannya Sa.


Revan


___📱📱📱___


Raisa menutup ponselnya sambil mendesah sedih. Pengertian? Hahaha...Rasanya aku lebih tepatnya mengalah. Kenapa? Karena aku bukan siapa-siapa. Ayolah Raisa, semangat donk! masa karena Revan kamu sedih. Kan masih bisa nonton sendirian.


"Yap benar, aku kan disini untuk nonton. Entah ada Revan atau tidak kan harusnya tidak ngefek," gumam Raisa berusaha menghibur diri.


Raisa beranjak dan mulai mengantri untuk membeli tiket. Sudah sampai disini rugi kalau ia pulang, lagipula Revan pasti akan nonton film romantis bersama Renata kan? Jadi mereka tidak akan bertemu.


Raisa tersenyum tipis saat melihat tiket yang sekarang berada di tangannya. Setidaknya menonton dapat menghiburnya, melupakan kesedihan karena Revan dan Renata. Raisa menunjukan karcis masuknya ke penjaga teater.


Raisa berjalan memasuki theater yang masih menyala. Ia berjalan menyusuri tangga mencari tempat dimana ia seharusnya duduk. Yah, memang tidak sulit karena ia memesan tiket Primere yang terbatas orang di dalam ruangan. Ia tidak mau jika harus berdekatan dengan orang-orang yang tidak ia kenal. Raisa tersenyum saat melihat deretan No bangkunya. Ia berjalan melewati bangku itu.


Langkah Raisa terhenti saat melihat Revan duduk bersama Renata. Revan yang melihatnya juga tampak terkejut melihat Raisa. Ternyata bangku mereka bersebelahan! Raisa tersenyum kecut sambil duduk di bangkunya. Ia berpura-pura tidak mengenal Revan.


"Stt... Kenapa kamu disini?," bisik Revan pelan. Ia mencari kesempatan saat Renata sedang sibuk mencari petugas pop corn.


"Harusnya aku yang bertanya? Kenapa kamu disini? Kamu kan harusnya nonton film romantis bersama pacarmu!," bisik Raisa sambil menekankan kata pacar


"Kami belum pacaran!" Elak Revan masih berbisik, "aku sudah terlanjur beli tiket ini sebelum Renata datang. Dia bilang tidak apa-apa menonton ini denganku."


"O...."


Jadi bangku itu harusnya aku yang duduk ya? Dasar pria menyebalkan! harusnya kan ia bisa ganti tiket!


"Kamu kenapa gak pulang saja?" Revan menanyakan kembali


"Kenapa aku harus pulang? Aku kan kesini untuk menonton. Sayangnya orang gak bertanggung jawab malah asik pacaran meninggalkanku," sindir Raisa kesal.


"Sudah kubilang kami tidak sengaja bertemu," jawab Revan membela diri.


"Van, Kamu ngapain? Udah mulai gelap ini. Aku mulai takut. Sepertinya menakutkan," suara Renata mengagetkan Revan, Revan langsung menoleh.


"Tenang Renata, aku disini." Revan menepuk tangan Renata menenangkannya.


Cih... Lihat Revan? Mengaku tidak pacaran tapi seperhatian itu dengan Renata. Duh.. kenapa sih aku memilih bangku ini? Aku pikir bangku paling pojok adalah yang paling nyaman. Ternyata malah aku mendapatkan pemandangan orang kasmaran di sampingku!


Film mulai di putar, adegan-adegan romantis dimulai hingga sampai adegan yang mencekam. Sesekali penonton dibuat berteriak histeris saat adegan mencekam tiba-tiba muncul di sertai suara yang mencekam. Begitupula Renata, ia yang tidak begitu menyukai cerita seram langsung berteriak histeris sambil reflek memeluk Revan.


"Stt... Gak papa Re, ada aku. Adegannya udah gak serem lagi." Revan menepuk bahu Renata dengan halus. Berusaha menenangkannya.


"Maaf, aku takut..." Renata memelas sambil melepaskan pelukannya. Ia tersenyum malu saat menyadari memeluk Revan sedari tadi.


"Iya gak papa." Revan menatap Renata tersenyum. Ada baiknya ia menonton film beginian dengan Renata, ia bisa mencari kesempatan salam kesempitan. Renata akan ketakutan dan memeluknya seperti tadi.


Revan melirik ke arah sampingnya, ia penasaran apa Raisa seberani itu melihat adegan mengerikan ini?


Revan tertegun saat menyadari Raisa memegang sudut baju lengannya sambil memejamkan mata. Revan tersenyum geli melihat Raisa yang ketakutan tetapi masih penasaran. Ia menutup matanya dengan tangannya sendiri, tetapi ia juga mengintip di balik sela-sela jarinya.


"Dasar, gaya saja sok berani. Ternyata takut juga," bisik Revan pelan.


"Biarin," sahut Raisa kesal.


"Awww..." Renata Reflek memeluk Revan lagi karena ketakutan.


"Tenang Renata. Gak papa." Revan memeluk Renata dan mengelus rambutnya lembut.


Raisa menatap Revan yang sedang menenangkan Renata. Revan mengelus rambut Renata dengan lembut. Ia menatap Renata sambil tersenyum untuk menenangkan. Renata menatap Revan ganti dengan tatapan cinta.


Kenapa malah aku melihat adegan romantis di tengah film menyeramkan begini? Revan pasti kesenangan Renata memeluknya ketakutan begitu. Kamu pasti sedang bahagia kan? Menyebalkan! Tapi kenapa aku malah kesal, sedih dan sakit hati begini??


Nyutt...nyuutt ...


Ada perasaan yang aneh! Dada Raisa langsung terasa sakit. Rasanya menyesakkan sekali melihat mereka berdua begini. Raisa langsung mengalihkan pandangannya ke depan. Ia menarik nafas panjang menahan rasa sakit yang semakin menyesakkan. Namun nyerinya tak kunjung hilang terlebih Revan masih menatap Renata sedari tadi.


Tes...Tes ...Tes..


Raisa menyentuh sudut matanya, air matanya menetes begitu saja. Tanpa sadar ia sudah menangis.


Sakit... Kenapa Hatiku sakit sekali melihat Revan memeluk Renata? Sesak rasanya melihat Revan menatap lembut Renata? Mengapa?


Raisa bergegas mengambil tasnya dan mulai berdiri, ia beranjak melewati beberapa orang yang tengah asik menonton. Ia sudah tidak tahan lagi di sini. Semakin lama ia semakin sesak.


"Permisi, maaf menganggu," ucap Raisa dengan suara parau saat melewati beberapa orang.


Raisa berjalan cepat menuju ke kamar mandi, ia langsung terduduk di closed duduk. Air mata yang ia tahan sudah tidak terbendung iapun menangis tampa suara. Sakit dan menyesakkan, itulah yang Raisa rasakan saat ini. Raisa menepuk dadanya berkali-kali untuk menghilangkan rasa sakitnya. Bayangan Revan dan bersama Renata masih terbayang-bayang di pikirannya.


Kini aku mengerti. Aku marah melihat melihat mereka bersama. Sekarang aku tahu bahwa aku sedang cemburu. Aku sedih melihat mereka bersama. Sekarang aku tahu kalau aku sakit hati melihat Revan bersama wanita lain. Akhirnya aku sadar ini semua karena aku telah jatuh hati. Aku tanpa sadar sudah mencintai Revan. Revan... Maafkan aku, aku jatuh cinta padamu.