
Revan masih mendekap Raisa dalam pelukannya. Raisa yang sudah mulai berhenti menangis merasakan sesuatu yang aneh. Dadanya yang tadinya sakit, sekarang justru berdetak semakin kencang! Ia langsung berusaha melepaskan pelukan Revan.
"Ah... maaf! Sudah gak nangis lagi kan?" Tanya Revan melepaskan pelukannya. Ia mulai sadar telah memeluk Raisa lama. Entah mengapa ia spontan memeluk Raisa saat melihat Raisa menangis. Rasanya ia tidak tega melihat Raisa menangis karenanya.
Apa yang aku lakukan?! Mengapa aku malah memeluk Raisa terus?? Ya, dia sudah kuanggap adek, makanya aku tidak tega ia menangis. Biar bagaimanapun aku yang bertanggung jawab telah membuatnya hilang ingatan dan jadi seperti ini.
"Udah gak kok. Maaf aku malah menangis". Raisa sedikit canggung sambil melepaskan pelukan Revan.
"Maaf ya aku marah. Aku marah karena khawatir. Aku sudah semalaman mencarimu kemana-mana". Terang Revan.
"Mencariku?" Raisa menatap Revan tidak percaya.
"Iya mencarimu...Coba kamu lihat aku? Aku belum tidur dari kemarin? Kamu pikir aku tidak mencarimu?". Revan memperlihatkan matanya yang memerah akibat tidak tidur semalaman.
"Aku pikir kamu pergi dengan Renata dan baru kembali tadi". Raisa masih tidak percaya.
"Dasar bodoh! Mengapa bisa berfikir begitu. Aku sudah kembali dari kemarin. Tetapi kamu tidak ada. Aku tunggu juga tidak ada. Aku semalaman mencarimu kesana sini". Grutu Revan kesal.
"Hm... Maaf ya Revan. Ternyata kamu peduli denganku ya". Raisa sedikit menyesal tidak memberi tahu Revan saat ia sakit.
"Ya jelaslah aku peduli! Kalau kamu menghilang siapa yang akan membersihkan rumahku, membayar hutang-hutangmu juga?" Revan bercanda.
Spontan Raisa langsung mencubit lengan Revan dengan kencang. Dasar Revan!! Masih saja menyebalkan!
"Aw... Raisa sakit!". Revan meringis memegangi lengannya.
"Apa kamu bilang tadi?!". Raisa berkacak pinggang.
"Aku kan cuma bercanda Raisa..." Timpal Revan
"Hm... kalau gak aku pergi lagi!". Raisa kesal.
"Jangan!! Bercanda kali Sa, Jangan pergi. Nanti aku sedih. Kamu udah aku anggap teman dan adekku sendiri". Ujar Revan.
Raisa menatap Revan. Antara senang dan sedih mendengar ucapan Revan.
Teman? Adek? Jadi seperti itu aku dalam kehidupanmu. Aku senang berarti aku berharga seperti keluarganya. Tetapi, kenapa aku juga merasa kecewa. Duh!! Raisa mikir apa sih. Iyalah teman atau adek! Kamu pikir mau jadi apalagi ??
"Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa pingsan di jalan?". Revan mengalihkan pembicaraan.
"Ah... iya... Aku kemarin sedang ingin menyebrang. Tapi, tiba-tiba aku mengingat kejadian dimana aku kecelakaan." Terang Raisa mengingat kejadian sebelum ia pingsan.
"Hah?! Kamu sudah ingat kejadian kecelakaan itu? Apa yang kamu ingat??". Revan panik. Jangan-jangan Raisa mengingat kalau ia yang telah menabraknya.
"Iya aku ingat... Aku ingat saat menyebrangi jalan, lalu tiba-tiba ada mobil sedang melaju dan menabrakku". Raisa berusaha mengingat kembali.
"Kamu ingat siapa yang menabrakmu?" Tanya Revan panik. Raisa hanya mengangguk.
"Siapa??"
"Hm... Tidak terlalu jelas wajahnya. Tapi dari perawakan, dan bajunya ia seorang pria". jelas Raisa.
Kevin menghela nafas lega. Berarti Raisa belum ingat kalau ia yang menabraknya."Hm... kamu tidak ingat wajah pria itu?".
Raisa terdiam lalu berusaha mengingat-ingat wajah pria yang menabraknya. Lalu ia memegang kepalanya yang terasa sakit. "Kepalaku sakit Vin.."
Revan spontan langsung memegang kepala Raisa yang sakit. Ia lalu menepuk-tepuk kepala Raisa dengan halus. "Sudah-sudah! Jangan memaksakan untuk mengingat lagi! Nanti kepalamu sakit lagi".
"Iya..."
Raisa memegang kepalanya, sejenak tangan mereka bertemu. Raisa dan Revan terdiam dan saling pandang. Revan langsung menarik tangannya cepat. Raisa langsung memegang dadanya yang langsung berdetak semakin kencang.
"Hm... Kamu sebaiknya chek ke dokter Jimmi" Ucap Revan sambil berdiri. Ia merasakan detak jantungnya jadi semakin cepat.
Kenapa jantungku berdetak semakin kencang? Apa karena kopi yang aku minum semalam? Aku harus stop minum kopi dan rajin olahraga! Aku harus mulai olahraga supaya jantungku sehat!!
"Ya... Sepertinya jantungku juga sedikit bermasalah." Keluh Raisa.
"O... kalau begitu mulai besok kita jogging! Supaya jantungmu sehat!". Timpal Revan. Padahal ia yang ingin olahraga.
"Ya... ide bagus... Besok kita joging! Pastikan kamu bangun pagi lho! Awas kalau tidak!!" Ancam Raisa.
******
Hari mulai pagi, Revan bergegas turun dengan memakai baju olahraganya. Ya, ia harus lebih rajin olahraga. Supaya sehat. Ia kemudian beranjak ke kamar Raisa.
"tok...tok...tok..!". Revan mengetuk pintu kamar Raisa pelan.
Revan membuka perlahan pintu kamar dan melongok ke dalam. Dilihatnya Raisa masih terlelap manis dalam mimpi indahnya
"Raisa! Ayo bangun! Katanya mau joging! Ayo temanin aku olahraga." Ucapnya Revan berusaha membangunkan Raisa.
"hm...." Raisa hanya memolet dan tidur lagi.
Revan masuk ke kamar dan duduk di ranjang. Dia mulai akan menepuk pipi Raisa untuk membangunkannya, namun terhenti. Entah mengapa dia tidak tega membangunkan Raisa yang terlelap manis dalam mimpinya.
Raisa... Raisa... kamu kalau tidur begini lucu. Tenang sekali, dan jadi terlihat cantik. Coba kamu begini terus, tidak bawel dan menyebalkan.
Revan menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi muka Raisa. Kemudian ia memegang rambut Raisa dan mengelusnya dengan lembut.
"hm...hm..." Raisa mulai memolet lagi. Revan segera menarik tangannya cepat.
"Bodoh!! apa yang aku lakukan!!" runtuknya sambil memegang tangannya agar tidak memegang rambut Raisa lagi.
Raisa mengerjab ngerjabkan matanya perlahan. Matanya mulai terbelalak kaget ketika melihat Revan berada di kamarnya dan duduk di ranjang. Sedangkan ia masih dalam posisi tidur dengan posisinya berantakan.
"Hei!!! Apa yang kau lakukan!." Bentaknya bingung sambil menarik selimutnya menutupi tubuhnya sampai lehernya. Raisa malu karena hanya memakai tangtop saat ini.
"Tidak! Aku tidak melakukan apa-apa?" Revan mengelak. Ia lalu tersadar kalau Raisa menutupi badannya dengan selimut karena hanya menggunakan tangtop.
"Awas kamu ya!! Jangan macam-macam denganku! " Ujar Raisa sambil memegang erat ujung selimut.
"Apa?? Kamu kira aku bisa macam-macam denganmu?." Raisa melipat kedua tangan di depan dadanya. Ia bahkan tidak menyadari kalau Raisa hanya menggunakan tangtop tadi!
"Lalu mengapa kamu disini?." Tanya Raisa penuh selidik.
Pletak... Revan menyentil kepala Raisa kesal. Raisa langsung memegang kepalanya yang sakkt.
"aw.."
"Yaa!! Jangan pernah berfikir macam-macam. Jika di dunia ini tak ada wanita sekalipun. Dan cuma kamu satu-satunya. Aku masih seribu kali berfikir untuk melirikmu!." Omel Revan
"Apa!? Kamu pikir aku juga akan melirikmu!! Mending aku jomblo seumur hidup daripada nglirik kamu!!". Balas Raisa kesal
"Bangunlah dan ganti bajumu dengan baju olahraga. Kita lari pagi yuk. Aku harus mulai rajin olahraga. Biar badan sehat, pikiran sehat dan wajah tetap ganteng." Kevin mengepalkan tangannya bersemangat.
"Apa?? Ganteng!! Kau ini punya kelainan virus pangeran apa?." Raisa menggeleng-gellengkan kepalanya. Mengapa ia mesti bertemu seorang pria yang narsisnya selangit.
Revan memegang dagunya dan mulai menampakkan mimik serius. "Kurasa mungkin aku di kehidupan lalu seorang pangeran sesungguhnya. Sekarang banyak wanita yang suka melirikku saat aku lewat."
"Dasar Narsis!!" Raisa melempar bantal ke muka Revan.
Raisa kesal, lalu mulai menarik slimutnya dan kembali ke posisi tidur sambil cemberut.
Revan ini benar benar mengesalkan!! Bagaimana bisa ia sepede itu mengangungkan dirinya sendiri!! Sepertinya Kevin yang perlu ke dokter Jimmi memeriksakan otaknya!!
"Hahaha....aku bercanda. Ayolah temanin aku. " Pinta Revan.
"Gak mau!! Aku mau tidur lagi !!"
"Apa? Gak mau?!."
Revan mulai berfikir sejenak. Bagaimana cara untuk memaksa si Raisa ini untuk menemaninya. Revan paling malas kalau mesti sendirian hari ini. Kalau ada Raisa, paling tidak ada yang bisa usili dan ajak bercanda. Revan menjentiikkan tangannya. Ia mulai tersenyum penuh usil. Di dekatinya Raisa, lalu ia menarik selimut yang menutupi mukanya
"Revan!!!" Teriak Raisa kesal.
Revan semakin mendekat. Di pegangnya muka Raisa kuat kuat. "mau tidur lagi? Pilih aku temanin tidur disini atau menemaniku lari pagi?"
"Apa-apaan kamu ini!." Raisa menarik bantal dan langsung membungkam kepala Revan kuat. Namun dengan sigap Revan merebut bantal itu dan melemparkannya ke belakang.
"Suka banget sih kamu main lempar bantal! Ayo Bangun! atau aku akan menemanimu tidur di sini!". Ancamnya usill sambil tak bergemang dari tempat tidur.
"Oke.. oke.. kamu menang...aku ikut pergi! Tapi kamu! Keluar dulu sana!! Aku mau ganti baju!" Raisa mendorong Revan kesal.
Aku sebenarnya masih mengantuk. Tapi tiada pilihan lagi!! Revan akan menggangguku sepanjang hari kalau aku tidak menurut**.
"Nah... gitu donk. Gadis baik!! Aku baik lho mengajak kamu lari-lari. Anjing tetangga suka senang kalau diajak lari-lari pagi". Ujao Revan penih senyum kemenangan.
"Keluar!!!"
Raisa melemparkan bantal kesal. Revan hanya tersenyum penuh kemenangan sambil beranjak keluar kamar Raisa.
Emangnya aku apaan? disamaain sama anjing tentangga yang diajak lari-lari pagi!!