LBA

LBA
Balapan Lari




Revan yang sedang menunggu Raisa


"Raisa!! Ayo cepat!! Lambat sekali kamu Sa!!" Teriak Revan semangat sambil berlari-lari kecil.


Revan kemudian berbalik dan berlari mundur. Di belakangnya tampak Raisa hanya berjalan ogah-ogahan mengikutinya. Raisa hanya mencibir kesal. Ia masih tetap tidak rela dipaksa lari pagi. Matanya masih terlalu berat untik dipaksakan melek di jam segini.


Dasar pria kurang kerjaan!! Uahemmm... Aku kan masih ngantuk. Andaikan bisa tidur lagi. Pasti menyenangkan. Memang aku semalam yang ingin jogging karena merasa ada yang tidak beres dengan jantungku yang berdetak tak karuan. Cuma lihat!! Langit masih gelap, Ayam saja belum berkokok. Terlalu dini untuk olahraga. Kenapa Revan mengajakku di jam 4 pagi begini!! Kurang kerjaan sekali kan??


"Salah siapa kau memaksaku lari. Aku masih ngantuk tahu. Ini masih jam 4 pagi. Ayam saja belum berkokok!" Raisa kesal.


"Justru yang terlalu pagi jalanan masih sepi. Bebas untuk kita lari-lari sepuasnya sampai matahari muncul nanti". Revan berhenti lalu meluruskan tangannya ke atas lalu merenggangkan badannya ke kanan ke kiri.


Raisa menatap Revan kesal. Ini mah penyiksaan namanya! Semalaman ia tidak bisa tidur karena jantungnya yang bermasalah. Sekarang ia sudah harus bangun dini hari mengikuti maunya Revan. Kalau agak siangan sih masih mending. Ini?! Terlalu pagi buatnya! kalau bisa memilih, ia lebih memilih menarik selimutnya dan tidur lagi dengan memeluk gulingnya.


"Apa perlu aku tarik pakai tali biar kamu cepat larinya. Dasar siput!." Revan tertawa mengejek. Memang lebih nyaman kalau ia mengerjai Raisa. Terlalu memperlakukan Raisa lembut seperti semalam membuatnya justru tidak nyaman dan canggung.


"Apa katamu? siput?! ." Raisa berkacak pinggang kesal dengan ejekan Revan.


"hahaha... kamu lambat sih! Apa kamu tidak bisa lebih cepat sedikit?." Revan mulai berlari mundur sambil tertawa mengejek.


Kena kamu Raisa! Pasti kamu kemakan ejekanku. Yah, begini cara memancing Raisa untuk lari-lari. Ia pasti kesal dan tertantang mengalahkanku.


Raisa mendengus kesal melihat tawa Revan yang seolah-olah mengejeknya.


Dasar Revan menyebalkan! Mengapa dia tertawa mengejekku. Ia memang sengaja mencari masalah denganku! Baru saja baik semalam, paginya sudah kumat menyebalkannya. Ingin rasanya aku bungkam muka pria yang satu ini dengan bantal sampai dia tak bisa bernafas dan tertawa mengejekku seperti sekarang ini !!


"Awas kamu ya! Lihat saja!! Aku pasti bisa mengalahkanmu!!." Raisa mulai berlari kecil mengikuti langkah Revan.


Revan menghentikan langkahnya. Lalu tersenyum usil. "Ok... kalau kamu bisa mengalahkanku sampai ke tugu itu. Aku akan menggantikanmu membersihkan rumah hari ini."


"Beneran?? Hm... Jangan cuma hari ini, tapi selama seminggu. Lalu traktir aku makan dan nonton, dan turutin mauku". Raisa tertarik dengan tawaran Revan.


" Seminggu?? plus nonton, nurutin maumu??". Revan terdiam berfikir keras dengan tantangan Raisa.


Raisa, Raisa! Kamu ini lho sukanya menawar sesuatu kesepakatan, menyesal kalau kamu yang kalah!


"Kalau gak mau ya sudah aku balik ke rumah tidur lagi". Raisa membalikkan badannya.


"Tunggu... Oke aku terima!". Revan menarik tangan Raisa untuk menghentikannya.


Aku yang mau memancingnya kenapa malah aku yang menuruti maunya? Tenang Revan, kamu pasti menang melawan gadis mungil ini. Lihat aja Sa, aku pasti mengerjaimu habis-habisan!


"Kalau kamu kalah, kamu harus menuruti mauku selama seminggu!". Revan tidak mau kalah.


"Oke, setuju!" Jawab Raisa cepat. "Tapi awas kalau ingkar janji!".


"Tenang...Aku udah janji. Dan seorang pria tidak akan mengingkari janjinya". Revan menjawab dengan keyakinan. Ia tersenyum penuh usil. Aku pasti menang, dan lihat kamu Sa! Akan aku kerjain nanti!!


"Ok...setuju! Apapun yang terjadi jika aku menang kamu harus pegang janji !! awas kalau tidak!!". ancam Raisa sambil mengancungkan jari telunjuk ke arah Revan.


"Oke, kamu juga jangan ingkar janji lho ya. Dan jangan menyesal dan menangis kalau kalah!" jawab Revan enteng. Ia tak mungkin kalah dengan Raisa yang hobinya malas-malasan dan tiduran saja di rumah.


"Oke deal!" Raisa menyodorkan tangan, Revan menjabat tangan Raisa tanda menyetujui kesepakatan mereka.


Raisa dan Revan berjongkok mulai mengambil ancang-ancang posisi start. Pandangan mereka lurus ke depan dengan senyum licik di masing-masing sudut bibirnya.


"Aku hitung bersama. Pada hitungan ketiga kita lari. Mengerti?" Revan memberi aba-aba.


"Iya, mengerti".


"Satu...Dua...Tiga...Go!!!"


Raisa dan Revan langsung mengambil langkah untuk berlari. Merekapun mulai berlari dengan semangat saling mendahului satu sama lain. Berharap bisa memenangkan tantangan ini. Tampak bahwa Revan yang terbiasa olah raga lebih berlari cepat dibandingkan Raisa yang memang tidak pernah olahraga


"Tidak usah terlalu pede. Kamu akan menyesal kalau aku mengalahkanmu!". Timpal Raisa kesal


Duh kaki!! kenapa kamu lambat sekali larinya! Lihat Revan sudah mendahuluimu terus!! Kalau begini aku bisa kalah?! Harus ganti strategi ini! Aku gak mau Revan mengerjaiku selama seminggu ini!!


Revan tersenyum mengejek tanpa mengindahkan ejekan Raisa. Ia tetap berlari menuju tugu, finish mereka. Ia masih melirik Raisa yang masih berlari beberapa meter di belakangnya.


Raisa... Raisa... gak usah berlagak. Aku ini saja tidak menggunakan tenaga maksimal untuk berlari, kamu masih tertinggal di belakangku! Lihat!! sebentar lagi aku akan sampai di finish. Sudah pasti kamu akan kalah!


"awww...aduhh ...." Raisa menjerit.


Revan reflek berhenti mendengar suara teriakan Raisa. Ia mulai menoleh ke belakang. Tampak Raisa yang sedang berjongkok memegang kakinya.


"Kenapa Sa?". Revan melihat Raisa dari kejauhan.


"Kakiku terkilir... Aww... sakit Van!". Raisa meringis sambil memegang pergelangan kaki kirinya.


Revan mengernyitkan dahi. Terkilir? Revan bergegas berlari berbalik menghampiri Raisa.


"Kamu gak papa Sa?" Ia mendekati Raisa dengan perasaan khawatir.


Raisa hanya terdiam, ia memegang pergelangan kakinya sambil meringis kesakitan. Revan semakin khawatir dan ikut berjongkok dan untuk menengok pergelangan Raisa.


Tiba-tiba Raisa berdiri membuat Revan terhentak kaget. Raisapun segera berlari sekencang kencangnya ke arah Tugu. Dan Yaps... ia berhasil!!


"Hore!!! Aku menang!!". Raisa berloncat-loncat bahagia.


Revan menatap Raisa bingung, ia melihat Raisa yang berloncat-locat bahagia.


Bukannya pergelangannya terkilir? Sekarang ia baik-baik saja, bahkan bisa loncat-loncatan dan tertawa bahagia. Hm..Jadi Raisa membohongiku!


Sadar bahwa ia telah dikerjai Raisa, Revanpun menyusul Raisa sambil kesal. "Raisa! kamu curang!"


Raisa hanya menjulurkan lidahnya mengejek.." Wekk... kan tidak ada aturannya tidak boleh curang. "


"Gak bisa gitu donk!". Protes Revan


"Ya bisa donk. Kan dari awal kamu tidak memberi peraturan bahwa tidak boleh melakukan apa saja untuk menang. Hmm.. Itu namanya strategi dalam berperang. Jadi aku tetap menang". Raisa tertawa mengejek puas dengan kemenangannya.


"Dasar siput!"


"Hahaha... siput?! Hm... kamu tahu kisah siput dan kelinci balapan? Meskipun kelinci larinya cepat dia selalu lengah, sedangkan siput pelan tapi dia cerdas dalam menyusun strategi. Makanya menang". Raisa tertawa bangga bisa mengerjai Revan.


Revan hanya mendengus kesal mendengarnya. Strategi?? Ada aja alasannya untuk menghalalkan kecurangannya! Hmm. aku kan yang berniat mengerjai Raisa! Kenapa malah aku yang dikerjain gadis licik ini?!


"Huahem... hari ini cerah ya...". Raisa menatap matahari yang mulai menampakkan diri di langit. Revan menatap sejenak dan tertegun melihat wajahnya. Wajah Raisa yang tersapu sinar matahari tampak berbeda. Raisa terlihat cantik dengan senyum berkembang di bibirnya, ditambah dengan sinar matahari yang menyinarinya.


Mengapa Raisa tampak jadi cantik menyilaukan begini sih!! Hufh.. Sadar Revan!! Itu efek matahari aja!


"Ayo pulang... Aku mau berangkat kerja.". Revan mengajak Raisa untuk pulang.


"Hm... masih ada waktu buat kamu beres-beres sebelum berangkat kerja. Kalau belum selesai, pastikan kamu langsung pulang sehabis kerja dan kerjakan semua pekerjaan rumah!". Raisa tersenyum mengejek mengingatkan Revan.


Pletakk..Revan menyentil dahi Raisa pelan. Ia masih tidak terima dicurangi! Ditambah lagi ia semakin kesal melihat senyum Raisa yang seolah olah mengejek berkembang di wajahnya. Ia pasti kegirangan karena sudah berhasil mengelabuhinya.


"Dasar siluman rubah!". Revan kesal namun puas telah menyentil dahi Raisa. Setidaknya ia bisa membalas kecurangan Raisa.


"Aduh! Kamu ini ya Van!! Jangan menyentil dahiku! Sakit tahu !". Raisa meringis sambil memegang dahinya.


"Duh.. ada yang ngomong ya? Kok gak keliatan!". Revan melongok ke kanan ke kiri pura-pura mencari asal suata. Ia lalu tersenyum tanpa mengindahkan Raisa yang mulai kesal. Ia dengan cuek langsung beranjak meninggalkan Raisa.


"Revan!!"


*****