LBA

LBA
Kesal



Revan memasuki rumah dengan langkah gontai. Ia menghempaskan badannya begitu saja di sofa sambil memijat mijat kepalanya. yang tampak berat. Mata Revan menatap langit-langit atap sambil menerawang jauh. Pikirannya mulai di kacau dihinggapi berbagai pikiran. Revan lalu mendesah dan menutup matanya dengan lengannya dan merasa dirinya frustasi.


aku kecewa denganmu kak


Sebuah kalimat yang di lontarkan Renata, masih teringang jelas di pikirannya. Ia masih mengingat bagaimana wajah cantik Renata yang biasa selalu bahagia dan tersenyum berubah kecewa. Wajah yang tidak pernah ditunjukan Renata kepada Revan selama ini.


Sebenarnya, Revan ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Renata. Tentang Raisa yang hilang ingatan dan dia harus menolongnya. Namun, di lain pihak dia ragu karena belum siap untuk menceritakan segalanya. Biar bagaimanapun, Revanlah yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa Raisa dan membuatnya hilang ingatan.


Di sisi lain, Revan juga menyesal mengapa ia tidak menceritakan hal yang sebenarnya sedari dulu. Jika dari dulu ia jujir mengenai hal ini, Revan yakin Renata akan memahaminya. Sehingga, tidak terjadi kesalahpahaman seperti yang terjadi pada hari ini.


Renata bahkan menuduhku sedang berkencan dengan seseorang yang aku sembunyikan !


Revan menarik nafas berat mengingat tuduhan Renata padanya. Renata salah paham kepadanya. Revan memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berat.


Andaikan saja Renata tahu, bahwa aku tidak mempunyai seseorang pun yang sedang kukencani karena aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk melamarnya. Andai ia tahu aku ingin melamarnya waktu itu. apa ia akan semarah dan kecewa ini padaku?


Semua ini gara-gara aku bertemu dengan Raisa. Andai saja, aku tidak bertemu dengan Raisa. Hubunganku dengan Renata pasti tidak akan seperti ini. Mungkin aku dan dia sudah akan menjadi sepasang kekasih dari dulu. Atau bahkan kami sudah menikah!


Suara pintu rumah terbuka, suara langkah kaki kecil terdengar dari luar menuju ke dalam rumah. Tampak Raisa masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Kevin yang berdiri tak jauh darinya. Raisa membalikkan badan dan melemparkan senyum ke arah Raisa.


"Terima kasih telah mengantarku sampai rumah, Kevin. Terimakasih telah mengajakku ke pesta. Mungkin, lain kali kita bisa pergi lagi tapi jangan ke pesta seperti tadi ya? ke tempat lain yang lebih asik," ucap Raisa dengan nada bahagia.


"Aku yang harusnya berterima kasih padamu. Aku sudah malas dengan cewek-cewek yang datang mendekatiku sok mengenalku. Berkat kamu, tidak seorangpun cewek yang mendekatiku. Semuanya sudah minder karena wanita cantik sudah berada di sampingku," jelas Kevin sambil memuji Raisa


"Ah bisa saja kamu, aku kan hanya membantumu saja," Raisa tersenyum malu dipuji 'cantik'


"Oh ya, sudah malam aku pamit pulang dulu ya," pamit Kevin sambil melihat jam di tangannya yang sudah menunjukan pukul sembilan malam. "Sampaikan salamku untuk Revan ya"


"Iya nanti aku sampaikan. Sepertinya dia sudah tidur," sahut Raisa sambil melirik ke arah dalam ruangan yang terlihat sepi.


"Aku pulang dulu ya Raisa cantik," pamit Kevin sambil beranjak pergi.


"Bye juga Kevin, hati-hati di jalan ya. Sampai jumpa lagi," balas Raisa sambil menutup pintu rumah.


Raisa tersenyum manis lalu beranjak ke dalam, ia terkaget saat mendapati Revan tengah tiduran di sofa. Lengannya menutupi matanya. Namun, Raisa tahu Revan belum tidur. Sesekali ia melihat Revan menarik nafas berat. Raisa lalu mendekat dan duduk disamping Revan.


Revan sepertunya dalam kondisi tidak baik? Kenapa dengannya?


"Revan Kamu belum tidur kan?" tanya Raisa sambil duduk disamping Revan.


"Ehem....."


Revan hanya menjawab pertanyaan Raisa dengan deheman saja. Ia masih enggan berbicara dengan Raisa. Ia masih frustasi dengan Renata yang marah kepadanya.


"Revan, bagaimana dengan pertemuan mu dengan klienmu tadi di hotel tadi? apa semua berjalan dengan lancar?," tanya Raisa pada Revan saat melihat pria di depannya itu tampak frustasi.


"Tidak semuanya berantakan buruk," jawab Revan kesal


'Apa perlu aku buatkan minuman untukmu tampaknya kamu sedikit tidak baik?" tanya Raisa khawatir. Revan hanya menjawab dengan gelengan kepala tampa jawaban.


"Maaf aku tidak bermaksud untuk mengganggumu. Apa aku mengganggumu?" tanya Raisa lagi.


"Hmmmm"


Revan yang mulai risih ditanya-tanya Raisa, lalu membuka matanya. Seketika ia duduk menatap Raisa dengan mata melotot ke arah Raisa. Menatapnya dengan tatapan kesal dan marah.


"Kenapa menatapku seperti itu? kamu marah padaku? aku kan tidak melakukan apa-apa? Apa suara aku mengganggumu tidur? Kupikir kamu sedang tidak tidur tadi jadi aku menanyaimu," tanya Raisa beruntun melihat raut wajh Revan yang tampak mulai kesal.


"Iya! gara-gara kamu aku tidak bisa tidur! Jangankan suaramu kehadiranmu saja sudah menggangguku." Revan melampiaskan kekesalannya pada Raisa.


Raisa lalu menghendikkan bahunya dan kembali menatap Revan bingung. "aku kan cuma bertanya tentang bagaimana pertemuan mu dengan klienmu, kamu tambah frustasi hari ini. Apa itu mengganggumu juga?"


"Iya itu menggangguku! sudah ku bilang Slsuaramu itu mengganggumu! Apapun yang kamu lakukan, yang kamu tanyakan, itu semua menggangguku. Jadi, tolong jangan ganggu aku,". jawab Revan kesal melampiaskan kemarahannya pada Raisa yang membuat Raisa bertambah bingung.


"Kalau kamu marah dengan klienmu apa hubungannya denganku? Kenapa kamu marah dan melampiaskan kemarahan mu denganku?" tampak Raisa mulai kesal bercampur bingung.


"Iya semuanya karena kamu! Semuanya jadi berantakan karena kamu!" nada bicara Revan meninggi.


"Karena aku? bagaimana bisa?"protes Raisa bingung dengan ucapan Revan.


"Iya semuanya karena kamu!" tukas Revan.


"Jangan ngaco! Hei Revan, kalau kamu memang sedang marah dengan seseorang. Jangan melampiaskan padaku. Aku kan tidak tahu apa-apa," jawab Raisa ikutan kesal


"Sudah, sebaiknya kamu jangan ganggu aku lagi. Aku mau tidur." Revan beranjak pergi menaiki tangga demi tangga lalu memasuki kamarnya.


Blak!!


Terdengar suara pintu kamar yang tertutup dengan kasar. Revan menutup pintu kamar dengan kencang. Raisa hanya menghela nafas lalu geleng-geleng kepala melihat Revan yang marah tanpa sebab.


Revan masuk, lalu menghempaskan badannya di kasur dengan kesal. Ya benar, Renata marah kepadanya karena kehadiran Raisa. Revan rasanya menyesal dan marah karena ini. Dia sudah berandai-andai jika Raisa tidak hadir dalam kehidupannya, apa semua akan baik-baik saja?


Tapi benar kata Raisa, kalau Raisa tidak tahu apa-apa. Kecelakaan ini bukanlah kemauan Raisa juga. marah kepadanya karena kehadiran Raisa tapi benar kata Raisa kalau Raisa tidak tahu apa-apa. Revan yang menabraknya waktu itu. Namun, semuanya juga bukan salah Revan kan? Raisa yang waktu itu berlari ke arah mobilnya. Jadi baik Revan atau Raisa sama sama salah kan?


Revan menutup matanya frustasi. Saat ini, ia dalam kondisi yang tidak baik. Kemarahan Renata membuatnya hilang kendali. Sehingga ia melampiaskan kemarahan yang pada Raisa yang mungkin saat ini sedang bingung.


Sementara itu, Raisa yang masih di bawah hanya terdiam. Sesekali ia melihat pintu kamar Revan yang masih tertutup rapat. Raisa lalu menuju dapur dan membuat secangkir teh hangat. Ia memasukan gula dan mengaduk-aduknya. Banyak pertanyaan terlontar dipikirannya.


Ada apa dengan Revan? Kenapa dia semarah itu padaku? Apa aku melakukan kesalahan?


Raisa mengingat-ingat apa yang ia lakukan sehari ini. Ia bahkan tidak banyak berkomunikasi dengan Revan karena ia pergi dengan Kevin sedari tadi.


Tidak, aku merasa tidak melakukan kesalahan apapun hari ini.


Apakah terjadi sesuatu padanya? Apa pertemuan dengan kliennya benar-benar berantakan seperti katanya tadi?


"Tapi Revan bukan tipe orang yang suka membawa permasalahan pekerjaan di rumah.Tapi sepertinya Revan tidak pernah marah seperti ini karena pekerjaan agi. Apa ada kejadian buruk yang menimpanya hari ini? apa terjadi sesuatu yang dengannya? kenapa ya?" gumam Raisa.


Raisa terdiam sejenak berfikir keras. Memikirkan sebuah alasan yang mungkin membuat Revan seperti ini.


"Renata!!" pekiknya ketika ia terpikir sosok cantik itu.


" Ya pasti karena Renata! pasti terjadi sesuatu antara Revan dengan Renata sehingga Revan marah-marah seperti ini. Apa mereka bertengkar? Tapi mengapa? bukan kas kemarin baik-baik saja?"


Raisa menghela nafas panjang, ia merasa sedih mengingat Revan yang marah karena Renata. "Karena Renata kamu semarah ini? sebesar apa cintamu padanya hingga seperti ini?"