LBA

LBA
Sembunyi (2)



Raisa melirik jam di dinding kamar Revan. Sudah 3 jam ia berada disini dan ia mulai bosan. Raisa lalu berkeliling menjelajah kamar Revan, hm... Kamar Revan rapi dan bersih. Dinding yang berwarna abu-abu dengan beberapa list berwarna putih. Raisa mulai menjelajah dan melihat beberapa hiasan disana. Beberapa foto Revan yang terpanjang. Ia tersenyum geli saat menemukan foto Revan sewaktu kecil.


"Dia ngatain aku gendut. Padahal dia sendiri kecilnya gembul begini. hihihi... lucu banget. Pipinya kayak bakpao" Raisa menatap geli foto Revan.


Raisa lalu melihat foto lainnya, Dia tampak tampan dan baik hati. Gak seperti aslinya. Bawel, menyebalkan, pelit. Foto ini memang menipu.


Pandangannya terhenti saat melihat beberapa foto Revan yang terletak di meja samping tempat tidurnya. Dalam foto tersebut, Revan menggunakan seragam abu-abu sedang tersenyum lebar. Di sebelahnya berdiri wanita cantik yang mengenakan seragam yang sama. Raisa segera mengambil foto tersebut dan melihatnya lebih teliti. Memastikan wanita yang ada di foto tersebut


"Ini benar perempuan itu kan? Jadi mereka sudah kenal dari SMA? Sudah pacaran dari lama?" Gumam Raisa.


"Pantes saja Revan kelabakan, takut perempuan itu melihat Revan bersamaku. Tapi, Revan pernah bilang mereka belum pacaran" Lanjut Raisa teringat ucapan Revan tempo dulu.


Raisa melihat foto yang memang foto Revan dan Renata terpajang. Banyak moment bahagia yang terbingkai dalam foto tersebut. Raisa menatap sedih. "Mereka tampak bahagia dengan banyak kenangan berharga. Memori ini yang tidak satupun aku miliki"


Raisa merebahkan dirinya di ranjang, matanya mulai mengantuk. Revan pasti marah kalau ia tidur di ranjangnya. Tapi ia sudah mulai bosan, dan mengantuk.


Raisa melirik pintu kamar Revan, berharap ada ketukan yang menyuruhnya keluar. Raisa menatap langit-langit kamar Revan. Berbagai pikiran terbersit di pikirannya. Saat ini ia hanya mempunyai memori bersama Revan. Ia tiba-tiba teringat beberapa peristiwa yang sudah ia lalui bersama Revan. Raisa tersenyum ketika mengingat pertama kali ia tersadar dan menonjok Revan. Ia teringat saat ia sakit Revan merawatnya, dan ia teringat kejadian tadi.


Raisa merasakan jantungnya berdengup kencang. Ia meraba dadanya yang mulai terasa aneh. A**pa jantungku bermasalah juga ya?Jantungku sekarang semakin gak karuan. Terkadang ia berdetak lebih kencang. Mungkin aku harus segera memeriksakannya.


Satu... dua... tiga... empat... lima...enam...


Raisa mulai menghitung domba berharap bisa segera tidur. Selang berapa lama iapun sudah terlelap dengan mimpi indahnya.


*****


Revan menghentakkan kakinya gelisah. Ia melirik jam di dindingnya. Diliriknya Kevin yang masih asik bercerita sambil menonton TV. Sudah 3 jam Kevin disini membicarakan banyak hal yang mereka bicarakan dan temannya itu tidak mempunyai tanda-tanda akan pulang. Revan tak tenang beberapa kali melirik ke atas ke arah kamarnya. Memastikan bahwa Raisa tidak membuat masalah.


"Van, aku mau putus ama Natasya" Ucap Kevin.


"Ya" Jawab Revan asal sambil melihat ke atas gelisah.


" Manurutmu bagusnya aku putus ya?" Tanya Kevin


"Ya" Jawab Revan. Kevin hanya melirik temannya yang singkat menjawab. Revan hanya menjawab iya/tidak dari tadi.


" Renata buat aku ya?" Kevin usil memastikan sahabatnya ini mendengarkannya atau tidak.


" Ya..." Jawab Revan asal. Lalu ia terdiam sejenak. "Apa tadi katamu?"


"Jadi boleh ya, Renata buat aku" Tegas Kevin


"Tidak!!! Awas jangan macam-macam kamu ya" Runtuk Revan kesal


Kevin hanya tertawa penuh kemenangan. Ia lalu menatap kesal temannya yang ternyata tidak menyimaknya sedari tadi. "Van. Kamu kenapa sih dari tadi aku ajak ngobrol gak nyambung terus. Cuma jawab iya tidak aja. Gak biasanya kamu begini?"


"Hm... udah ternyata udah malam ya. Ya udah kita tidur aja. Besok kan masih bisa ngobrol lagi. Besok kita kan libur. Aku menginap disini ya." Ucap Kevin


"Jangan!!!" Revan reflek melarang.


"Kenapa? Biasanya juga aku nginep sini?" Tanya Kevin heran.


"Hm...gak papa. Jangan malam ini pokoknya." Tolak Revan. Bisa ketahuan bahwa ia menyembunyikan Raisa kalau Kevin tidur di sini.


Kevin menatap Revan heran, entah kenapa sahabatnya itu menjadi mengotot untuk ia pulang. Ia lalu menghela nafas panjang "Baiklah Aku pulang"


Revan menyengir senang akhirnya ia bisa menyuruh Kevin pulang. " Nah pulang dulu sana. Aku mau tidur"


" Ya iya... aku di usir. " Canda Kevin sambil mengemasi barangnya. Iapun berjalan keluar rumah.


"Bye Kevin. Ati Ati ya" Revan segera menutup pintunya


Kevin masih berdiri di luar rumah Revan. Ia menatap Revan heran. Makin hari Revan jadi aneh. Ia seperti mempunyai sesuatu yang ia rahasiakan. Revan biasanya selalu pergi kemana-mana bersamanya untuk nongkrong atau berpesta di bar. Sekarang Revan selalu menolak keluar malam dengannya. Ia juga bergegas pulang dari kantor saat pekerjaannya selesai. Sudah berkali kali Kevin ingin main rumahnya selalu di tolak. Baru ini ia masuk dalam sebulan ini, tetapi mengapa Revan tampak tidak tenang saat ia mengobrol?


Revan... Revan... apa yang kamu rahasiakan dariku?


Kevinpun beranjak meninggalkan rumah Revan dan masuk ke mobilnya. Kevin segera menginjak gas nya cepat. Berbagai pertanyaan masuk di kepalanya.


****


Revan menghela nafas panjang saat Kevin sudah meninggalkan rumahnya. Akhirnya Ia bisa lega dengan pulangnya Kevin. Maafkan aku ya Kevin, harus mengusirmu pulang. Aku belum bisa menceritakan hal ini.


Revan membuka kulkas dan mengambil air mineral dingin. Ia lalu melihat ke arah kamarnya. Raisa sedang apa ya. Ia pasti sudah bosan terkurung disana.


Kevin segera menghabiskan minumannya dan memasukan kembali ke kulkasnya. Ia mulai beranjak menuju ke lantai atas. Kevin memutar knock pintu dan membuka pintu kamarnya. Ia mulai kaget saat mendapati Raisa di ranjangnya. "Sa! Jangan di ranjangku!"


Kevin menghampiri Raisa, langkahnya terhenti. Dilihatnya Raisa itu sudah tidur terlelap sambil memeluk gulingnya. Revan yang melihat Raisa sudah terlelap tak tega untuk membangunkannya. "Malam ini aku ampunin kamu tidur disini."


Raisa lalu memolet dan mengubah posisi tidurnya. Sekarang ia tidur dengan posisi terlentang, tangan tidak beraturan di atas kepalanya dan kakinya ia tarus di atas guling. Kevin hanya ternyum geli melihat posisi tidur Raisa yang tak jelas.


Kevin melihat beberapa helai rambut Raisa menutupi wajahnya. Ia menatap Raisa ragu. Kevin mendekat dan mulai menyingkirkan helai demi helai rambut Raisa yang menutupi wajahnya. Kevin menatap Raisa yang tidur dengan damai. Raisa cantik dalam posisi tidur meskipun tanpa make up apapun. Tanpa sadar Kevin mengelus rambut Raisa dengan sayang.


Apa yang aku lakukan?!


Kevin tersadar dengan perbuatannya. Ia langsung menarik tangannya cepat dan langsung berdiri membalikan badan. Ia melirik Raisa yang masih tertidur. Revan memukul-mukul kepalanya pelan berusaha menyadarkan diri.


Revan segera beranjak pergi keluar kamar, sebaiknya ia tidur di sofa saja. Menjauh dari kamar. Revanpun menghempaskan diri di sofa ruang tengah. Revan masih gugup. Ia memejamkan mata berusaha untuk tidur. Namun justru bayangan wajah Raisa yang tidur bermunculan di benaknya. Revan menghela nafas kesal, ia duduk dan menghadap ke Tv. Iapun menyalakan TV untuk mengalihkan pikirannya.


Sadar Revan! jangan terbawa suasana. Dia hanya gadis yang ia tolong. Gadis hilang ingatan yang tinggal dengannya sementara. Ingat Renata!