
Revan duduk di sofa sembari memijit-mijit badannya yang mulai pegal. Sudah lama ia tidak mengerjakan pekerjaan rumah semenjak ada Raisa. Jadi mulai adaptasi lagi
Ditambah pekerjaan kantor yang padat merayap. Hari ini adalah hari minggu seharusnya ia bisa istirahat dan menikmati hari liburnya dengan bersantai dan bermalas malasan seharian. Namun apa daya, Raisa sudah dari pagi mengoceh untuk menyuruhnya membersihkan ini itu dengan muka galaknya seolah-olah ada tanduk di kepalanya.
"Van, udah selesai semuanya?". Tanya Raisa penuh selidik.
"Udah..."
"Hm... good boy". Raisa tersenyum puas saat melihat seisi rumah yang bersih.
Revan hanya melengos kesal melihat Raisa yang sok berkuasa seminggu ini. Lalu baru teringat, ini sudah seminggu. Revan menatap Raisa penuh tatapan licik.
Ini adalah hari terakhirmu bersikap layaknya penguasa di rumah ini. Lihat saja pembalasanku besok. Akan kubuat kamu menyesal telah mengerjaiku seminggu ini.
Tit...Tit... sebuah pesan singkat berasal dari ponsel Raisa. Raisa meraih ponselnya sambil tersenyum ketika melihat siapa pengirimnya.
- Hai Raisa, bagaimana kabarmu hari ini- Kevin
Raisa tersenyum membacanya, sudah beberapa hari ini ia sering wa an dan telp an dengan Kevin. Kevin adalah pria yang menyenangkan dan baik padanya.
"Kesambet apa kamu Sa? Senyam senyum sendiri". Revan melirik Raisa penih selidik.
"Rahasia.." Raisa menyembunyikan ponselnya.
"Ih... main rahasiaan ya sama aku. Sini aku lihat ada apa di ponselmu". Revan mendekat, ia mengulurkan tangan meminta ponsel Raisa.
"Gak.. Gak...!". Raisa memegang erat ponselnya.
"Sini...!!!".
"Gaak!!!!".
"Sa...ponselmu bunyi lho". Revan berhohong.
"Bohong!!".
Dasar penipu! emangnya aku akan tertipu dengan jurusmu. Hahaha...Revan.. Revan.. aku sudah lumayan ahli melihat gerak gerikmu! Jelas ponselku gak bersuara!
"Sa... sini pinjam. Aku mau pesan makanan pakai go food". Revan tidak kehabisan ide.
Nah, biasanya kalau udah masalah makanan, Raisa suka langsung ngiler. Aku yakin kalo ini ia akan menyerahkan ponselnya. Hahaha...
Raisa lalu terdiam, ia lalu meraih ponsel Revan yang berada di sofa. Raisa lalu menyerahkannya ke Revan.
"Ini ponselmu. Pakai punyamu aja. Pesen yang enak-enak dan banyak ya. Aku mau pizza juga". Raisa tersenyum senang.
Revan menerima ponselnya sambil menyengir kesal. Ternyata rencananya juga tidak berhasil. Ia melihat Raisa yang masih sibuk dengan ponselnya.
Sepertinya Raisa chat dengan seseorang. Tapi dengan siapa? Raisa bahkan tidak mengingat apapun dan mengenal siapapun. Lalu dengan siapa dia chat sambil senyam senyum begitu? Mencurigakan!
"Sama siapa sih kamu chatan?". Revan berusaha melongok mencuri lihat ke ponsel Raisa.
Raisa lalu bergegas memasukannya ke dalam sakunya. Ia lalu melihat Revan melotot. Raisa lalu menunjukan jari telunjuknya dan mengarahkan ke kanan dan ke kiri.
"No...No...No... Revam gal boleh ngintip ya! Nanti matanya bisulan!". Omel Raisa.
"Siapa juga yang ngintip. By the way. Kamu chatingan ama siapa sih Sa. Bikin penasaran aja". Revan menatap Raisa penih penasaran.
"Rahasia...Bukan urusanmu juga". Raisa mengibaskan tanganya menyuruh Revan menjauh.
"O...jadi begitu? Mau main rahasiaan? Oke lah...Jadi aku gak bakal kasih kamu uang jajan seminggu.". Ancam Revan
"Apa?! Gak kasih uang jajan seminggu?" Raisa membelalakkan matanya.
"Iya seminggu". Revan tersenyum penuh kemenangan
Nah kena kamu Sa. Aku yakin kali ini kamu akan menyerah. Hihihi... Dia pasti sudah kelimpungan kalau tidak aku kasih uang jajan.
"Gak bisa begitu! Kan uang jajan upahku bersih-bersih!". Raisa protes.
"Tapi kan seminggu ini aku yang bersih-bersih. Jadi kamu tidak dapat uang jajan. Hm... Justru harusnya kamu membayarku lho." Revan tersenyum senang.
"Gak...Gak!! Aku gak bisa bayar. Kamu kan kalah taruhan! Jadi aku gak harus membayarmu". Raisa menggeleng membela diri.
Enak aja mau mengerjaiku!! Kan kamu yang kalah! Tenang Raisa... Berfikir yang cerdas! Revan sedang memancingku!
"Oke. Bisa diterima. Kamu tidak usah membayarku. Tapi tetap ya gak dapat uang jajan seminggu. Hahaha... " Revan tertawa mengejek. Ia belum menyerah.
"Ya... kok gitu? Kamu curang!". Raisa merengut kesal
"Curang?? Itu kan keahlianmu Sa. Aku hanya mengikuti cara bermainmu aja". Revan mengejek.
Salah siapa Raisa mencurangiku pas balapan, belum lagi kamu mengerjaiku seminggu ini! Tapi yang lebih penting, aku penasaran dengan siapa dia chatingan sambil tersenyum-senyum seperti orang gila. Seorang priakah?
"Hm... Revan jahat!!! Trus nanti aku kalau pingin jajan gimana? Main-main gimana? Makan gimana? Kamu gak kasihan sama gadis hilang ingatan sepertiku? Gak punya siapa-siapa dan kelaparan". Raisa menunjukan muka memelasnya.
Revan kan paling gak tegaan orangnya. Lihat muka memelasku pasti ia langsung kasihan. hehehe...
"Gak ngefek muka melasmu, Sa". Revan menggelengkan kepalanya. Ia tahu Raisa sedang berpura-pura memelas.
"Hufh... Gak berhasil!". Gumam Raisa kesal.
"Kasih tahu donk, kamu chatan ama siapa? Nanti aku kasih uang jajan plus bonus." Tawar Revan. Dalam hatinya ia bersorak kegirangan
Yes... Yes... Udah mau berhasil. Raisa... Raisa... aku udah tahu tak tikmu.
"Ya... Ya... Aku menyerah." Raisa menghela nafas kesal.
Kalah juga ternyata ia. Lebih baik mengatakan kalau ia chat dengan teman barunya daripada gak makan enak seminggu. Meskipun ia sudah bisa memasak tidak gosong ataupun keasinan, kemampuan masaknya belum berkembang banyak
Ia hanya bisa masak nasi goreng dan sayur sop, atau sayur yang mudah saja. Tetap saja ia akan bosan makan di rumah dengan menu itu-itu terus.
"Jadi kamu chatingan ama siapa? Apa kamu mengingat sesuatu. Apa ada orang yang kamu ingat?" Tanya Revan penasaran.
"Hm... Gak. Aku masih gadis hilang ingatan yang selalu kamu tindas". Runtuk Raisa.
"Aku gak pernah nindas kamu ya. Kamu tahu kan aku penyelamatmu?". Revan membela diri.
"Penyelamat yang juga menyesatkan". Raisa mesih meruntuk Revan.
"Gak ada begitu. Penyelamat ya penyelamat". Omel Revan
"Lalu siapa? Apa polisi menemukan sesuatu? dia seseorang yang mencarimu?". Revan menatap Raisa dengan mimik serius.
Raisa mendesah, lalu ia menggelang. "Belum ada orang yang mencariku Van, Aku heran apa keluargaku tidak merasa kehilanganku ya? Apa terlalu sulit untuk mencariku?".
"Sudah sudah, jangan berfikir jelek. Keluargamu pasti sedang mencarimu. Hanya mungkin butuh waktu lama". Revan menepuk-nepuk bahu Raisa berusaha menghiburnya.
"Ya kamu benar. Pasti hanya karena waktu. Aku pasti akan segera ditemukan". Raisa tersenyum.
"Sekarang katakan! Dengan siapa kamu chatingan?". Revan kembali bertanya.
"Hm..." Raisa tampak ragu. Ia menatap Revan.
Kira-kira Revan marah gak ya? aku chatingan dengan pria? Tapi Kevin kan orang yang menolongku. Jadi gak papa. Lagi pula mengapa pula Revan harus marah?! Ia kan bukan siapa-siapa. Cuma bapak tiri jahat yang menemukan gadis menyedihkan sepertiku.
"Kok gak dibawab?".
"Hm... Aku chatingan ama seorang pria". Jawab Raisa.
"Apa pria???".
"Iya Pria"
"Kenapa bisa pria?"
"Ya bisalah, dia kan bukan wanita! Ya pasti pria!". Sahut Raisa asal.
"Raisa!!!"