
Revan berhenti sambil terengah- enggah ketika ia sampai di parkir mobil, tempat Renata memparkirkan mobilnya. Ia menatap Renata sambil tertawa begitupun Renata. Mereka menertawakan tingkah mereka yang berlari dari kejaran fansnya Renata seperti anak kecil.
"Ya...akhirnya kita sampai juga di mobilmu" Revan segera melepaskan genggamannya.
"Eh iya, Terimakasih ya kak. Sudah menolongku. Dan maaf karena kejadian ini kita jadi gagal makan bersama." Renata menyesal dan menatap Revan malu karena tangan mereka bergandengan erat tadi.
"Sama-sama. Gak papa kok gak makan bersama sekarang. Masih ada hari esok. Lagipula aku paham sekali dengan kondisimu. Model cantik sih, sekarang udah banyak fansnya" Gurau Revan. Renata hanya tertawa renyah.
"Baiklah, Aku pergi dulu ya kak" Renata membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
"Hati hati di jalan ya" Pesan Revan sambil tersenyum hangat.
"Kak Revan yakin tidak mau ikut aku?" Tanya Renata sambil menurunkan kaca.
"Kalau aku ikut kamu, mobilku bagaimana? Lagipula ada sesuatu yang ingin aku beli" Terang Revan sambil tersenyum meyakinkan. Ia tidak mungkin meninggalkan Raisa sendirian di mall sebesar ini. Raisa bahkan tidak tahu jalan pulang.
"Hm... Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu ya kak. Sampai jumpa lagi." Seru Renata sambil melajukan mobil meninggalkan Revan. Revan melambaikan tangan sambil menatap mobil Renata sampai tidak terlihat lagi.
Revan tersenyum manis mengingat kejadian unik hari ini. Lalu tiba-tiba Revan teringat Raisa. Oh iya Raisa masih menunggunya. Semoga saja gadis itu memilih baju lama sehingga tidak bosan menunggunya.
Revanpun segera beranjak pergi menaiki lift. Begitu lift terbuka ia langsung bergegas menuju ke dep. store tempat ia berbelanja bersama Raisa tadi. Revanpun memutarkan pandangannya ke seluruh wilayah di toko tersebut. Namun Nihil ! ia tidak melihat Raisa dimanapun. Revan bergegas menghampiri meja kasir.
"Mbk, lihat cewek yang tadi pakai kaos putih ndak?" Tanya Revan klimpungan mencari Raisa
"Maaf pak, disini banyak orang jadi saya tidak hafal satu-satu" Jelas kasir itu menyesal.
Revan reflek mengambil handphone ingin menelpon Raisa. Kemudian ia terdiam termangu sejenak. Ini kan di luar rumah, Raisa tidak mempunyai handpone. Bagaimana ia bisa menghubunginya?! Revan lalu beranjak pergi menyusuri lantai demi lantai untuk mencari Raisa. Terlihat sosok yang memakai baju putih. Revanpun segera menghapirinya.
"Raisa!" Revan menepuk bahu orang tersebut. Namun Revan salah, orang itu bukan Raisa.
"Maaf anda siapa?" Tanya cewek itu bingung.
"Maafkan saya. Saya salah orang. Saya kira teman saya". Revan meminta maaf lalu pamit pergi kembali mencari Raisa.
Revanpun turun dengan menggunakan eskalator sambil melongok ke kanan dan ke kiri. Sepasang mata elangnya mulai menatap tajam menyusuri sudut-sudut mall. Lantai demi lantai sudah ia jajahi. Sudah hampir dua jam ia mencari Raisa kemana-mana tetapi ia belum menemukannya. Revanpun mulai mengacak-acak rambutnya kesal. Frustasi karena tidak menemukan Raisa.
"Mohon perhatian para pengunjung JTY Mall. Telah hilang kakak saudara kita. Atas nama saudara Revan, dengan ciri-ciri tinggi sekitar seratus delapan puluh cm, mata tajam elang, rambut lurus menggunakan baju hem berwarna biru, berperilaku sedikit menyimpang. Mohon bagi pengunjung yang menemukan pria dengan ciri-ciri tersebut dapat melaporkan ke bagian informasi. Terimakasih atas perhatiannya". Sebuah pengumuman terdengar dari pengeras suara di mall.
Revan mengernyitkan dahinya ketika mendengarnya. "Pengumuman itu ditunjukan untukku kan?"
"Revan adalah namaku. Ciri-ciri tinggi sekitar seratus delapan puluh cm, mata tajam elang, rambut lurus menggunakan baju hem berwarna biru, jelas itu aku" Revan melihat dirinya dalam kaca etalase toko yang ia lewati sambil memegang bajunya yang berwarna biru.
"Tapi kenapa ada kata-kata berperilaku menyimpang?! Ini pasti akal-akalan Raisa! Dasar anak itu!!" Geram Revan kesal sambil bergegas menuju ruang informasi sebelum pengumuman itu diulang dan membuatnya malu.
Hanya beberapa menit Revan sudah sampai di tempat informasi. Ia mendekati petugas yang duduk di ruang informasi tersebut. "Mbk, maaf mau menayakan tentang informasi yang barusan. Dimana gadis yang melaporkan kehilangan?"
"Oh, yang melaporkan saudaranya yang hilang ya?" Tanya petugas tersebut sambil melihat Revan. Revan hanya mengangguk.
"Lalu dimana pria itu? Katanya dia punya perilaku penyimpangan. Mbknya tadi ketakutan sewaktu kehilangan. Katanya takut kalau saudaranya itu menganggu pengunjung lain di mall." Terang petugas tersebut sambil mencari cari sosok di samping Revan yang mana jelas ia tidak menemukan siapapun.
Revan menyengir kesal dengan ucapan petugas tersebut. Jadi Raisa memang sengaja mengatakan itu. Perilaku menyimpang? Ia sehat jasmani dan rokhani! Justru Raisa si gadis hilang ingatan yang punya kelainan!!
"Mbk, Revan adalah saya. Saudara saya itu suka iseng. Justru dia yang bermasalah otaknya. Saya sehat kok! " Jelas Revan tegas. Petugas tadi melihat Revan dengan seksama. Membandingkan dengan ciri-ciri yang disampaikan oleh saudaranya.
"Iya mbk, gak papa. Emang saudara saya yang salah" Jawab Revan
"Saudaranya ada disana" Jawab petugas Informasi sambil menunjuk ke sebuah arah.
Revan menoleh ke arah yang telah di tunjuk oleh wanita petugas informasi tersebut. Tampak sesosok yang dikenalnya sedang duduk. Revan menggrutu dengan kesal menuju kesana. "Raisa!!! Dasar kamu ini sengaja mempermalukanku ya! Awas kamu!".
"Raisa!!! Kamu sengaja ya.... Kamu.." Perkataan Revan terhenti tatkala ia melihat Raisa yang menoleh ke arahnya dengan wajah pucat dan menangis. Ia tertegun melihat kondisi Raisa yang matanya sembab karena menangis, wajah pucat dan badannya terlihat lemas.
"Hiks... Revan... Akhirnya aku menemukanmu!" Raisa reflek memeluk Revan sambil menangis sesenggukan. Revan hanya terdiam kaget dipeluk tiba-tiba oleh Raisa.
Revan yang awalnya ingin memarahi Raisa mengurungkan niatnya. Tak tega melihat Raisa yang menangis sesenggukan. "Iya... Sudah kita ketemu. Sudah ya jangan nangis"
"Hiks... Aku mencarimu kemana-mana. Aku takut sendirian. Kenapa kamu meninggalkanku sendirian lama?" Raisa masih sesenggukan.
"Maafkan aku Raisa! Stt...sudah ya. Jangan menangis lagi. Kita pulang yuk" Revan melepaskan pelukan Raisa dan menatapnya lembut. Di usapnya tetesan air mata Raisa yang menetes di pipinya.
"Iya. Ayo pulang" Jawabnya lemah. Raisa menarik nafas panjang berusaha menghentikan tangisannya.
Revanpun membantu Raisa membawa barangnya dan menggandengnya untuk mengikutinya pulang. Raisa memandang Revan lekat.
'*Revan, aku sungguh takut sendirian. Terimakasih ya sudah datang menjemputku*' Batin Raisa sambil tersenyum sambil melihat tangan Revan yang menggenggam jemarinya. Iapun mulai beranjak mengikuti langkah Revan kembali ke mobil.
Langkah Raisa sedikit oleng ketika ia merasakan kepalanya pusing. Ia kelelahan mencari Revan selama berjam-jam kesana kesini.
"Sa? Kamu gak papa?" Tanya Revan khawatir saat merasakan tubuh Raisa yang sedikit oleng dan lemas saat berjalan.
"Aku pusing" Jawab Raisa sambil memegang kepalanya yang terasa berat.
"Ya sudah ayo masuk mobil. Kita pulang dan segera istirahat" Revan segera menuntun Raisa dan membukakan pintu mobil. Raisa dengan lemah duduk memasuki mobil.
"Sa, kamu mau makan lagi gak?" Tanya Revan sambil melajukan mobilnya meninggalkan baseman parkiran mall. Revan teringat kondisi lemas Raisa tadi, mungkinkah Raisa lemas karena lapar lagi?
Hening...
"Sa? Mau makan lagi gak?" Ulang Revan
Masih saja hening.
Revan menghentikan mobilnya saat berada di lampu merah. Ia melirik Raisa yang terdiam sambil memejamkan matanya tidur.
Revan hanya geleng-geleng kepala geli melihat Raisa yang mudah tertidur begitu saja. Revan lalu melihat sabuk pengaman Raisa belum terpasang. Revan melirik detikan lampu merah yang masih lama. Ia pun mendekati Raisa dan menundukan badannya untuk memasangkan sabuk pengaman Raisa.
Saat sudah selesai memasangkan sabuknya, Raisa justru mengeliat dan posisi badan Raisa tak beraturan tertunduk. Kepalanya miring kesana sanin. Revanpun membenarkan posisi tidur Raisa agar lebih nyaman. Sejenak ia terpaku melihat Raisa yang tertidur pulas. Revan melihat mata, hidung, dan bibir Raisa. Mengapa Raisa tiba-tiba jadi cantik?? Revanpun menelan ludah gugup melihat Raisa yang tertidur dengan polosnya.
Tit... Tit...Titt...
Suara klakson mobil yang berasal dari mobil yang berada di belakang Revan membuyarkan lamunan Revan. Revan melirik trafict light. Ternyata sudah hijau. Revan segera bergegas melajukan mobil dengan cepat untuk menghilangkan kegugupannya.
"Sadarlah Revan! Ia hanya gadis yang tidur dengan sembarang! Gak ada cantik-cantiknya! Jangan tertipu muka polosnya.' Batin Revan