LBA

LBA
Cemburu??



Happy Reading teman-teman..


Please jangan sungkan untuk tap jempol kamu untuk rate, vote dan komentarnya ya..


Pastikan kamu jadiin favorit supaya bisa update terus...


Terimakasih banyak.


******



Revan menatap penuh selidik ke arah Raisa. Pria?? Dia bilang dia chatan dengan pria? Bagaimana bisa? Kenal dari mana coba? Internet?? Apa selama ini Raisa keluyuran tebar pesona menggoda para pria?? Tapi melihat sifat Raisa yang polos tampaknya bukan ia yang menggoda. Pasti pria itu yang mendekatinya!


"Raisa! Kenapa kamu bisa semudah itu memberikan no kamu. Raisa, Kamu tahu kan dunia ini keras. Banyak kejahatan." Omel Revan kesal.


"Tapi pria itu baik". Bela Raisa


"Baik? gimana kamu bisa berfikir dia baik. Kamu harusnya lebih berhati-hati dengan orang. Banyak pria penipu hidung belang, atau bahkan penjahat". Revan masih mengomel.


Raisa, kamu adalah gadis yang polos. Kamu mudah percaya dengan orang. Kamu terlalu lugu. Aku tidak mau kamu di bohongi orang lagi. Cukup sekali kamu bertemu pria penipu. Aku! aku tidak mau kamu tertipu oleh orang lagi.


"Gak Van, dia gak seperti yang kamu bicarakan. Dia baik. Sudah dua kali kami bertemu tanpa sengaja". Jelas Raisa membela Kevin


"Sudah dua kali?? Bagaimana bisa dua kali kamu bertemu dengannya??Apa saja yang sudah kamu lakukan di belakangku?Mengapa sampai aku tidak tahu?". Revan meninggikan suaranya.


"Aku gak melakukan apapun! Dia cuma menolongku". Raisa masih ngotot.


" Menolong? Jangan mudah percaya orang menolong. Bisa saja ia menipumu!". Revan masih tidak habis pikir. Raisa mudah sekali percaya sama orang.


"Gak. Aku yakin dia tidak menipuku". Raisa masih membela Kevin. Ia sudah menduga Revan terkadang mempunyai khawatiran yang berlebihan


"Tetap saja. Kamu tidak boleh ceroboh asal menemui pria". Revan menatap Raisa kesal.


" Aku gak asal. Hm... Kamu! Kamu yang membuatku bertemu dengannya!". Raisa menunjuk ke arah Revan berusaha mengalihkan pembicaraan.


Entah mengapa ia merasa Revan marah tidak jelas. Ia kan hanya berteman dengan seorang pria?? Hanya berteman bahkan baru beberapa hari berteman.


"Aku?? Bagaimana bisa?". Revan menatap Raisa bingung.


"Pertama, aku tidak sengaja bertemu dia saat kamu meninggalkanku di mall. Aku sudah mau pingsan saat itu. Beruntunglah dia menolongku. Kedua, kamu lagi-lagi meninggalkanku dan pergi dengan Renata. Masih ingat aku pingsan di jalan dan dibawa ke rumah sakit? Pria itu yang menolongku!"


Raisa menatap Revan kesal mengingat kejadian Revan yang meninggalkannya.


Revan terdiam berusaha mencerna dan mengingat kejadian yang di ucapkan Raisa." Jadi yang menolongmu pria?"


"Kamu yang selalu meninggalkanku kalau ada Renata. Cuma dia yang menolongku waktu itu". Tambah Raisa memojokkan Revan


"Maafkan aku tentang itu." Revan menyesal mendengar ungkapan Raisa.


"Kami hanya berteman Revan. Kamu tidak tahu kan, aku kesulitan dalam hidup. Tidak punya siapapun, teman juga. Tidak mungkin aku menggantungkan hidupku denganmu terus". Raisa menegaskan.


Revan terdiam mendengar kata-kata Raisa. Menggantungkan hidup? Dulu memang aku berfikir kamu menyusahkanku dengan sikap cerobohmu. Tapi lama-lama aku sudah terbiasa dan tidak merasa terbebani.


"Tapi, tetap saja. Kamu tidak boleh mempercayai pria semudah itu. Banyak pria penipu". Revan melunak.


"Tapi banyak juga yang baik. Contohnya kamu. Kamu kan juga pria. Kamu baik mau menolongku dan menampungku". Raisa duduk di sofa sambil menatap Revan.


Revan terhenyak dengan kata-kata Raisa. Aku baik?!Maafkan aku Raisa. Aku telah menipumu di awal. Aku yang telah menabrakmu dan menyebabkan kamu hilang ingatan. Aku mengiyakan kamu tinggal denganku karena rasa bersalahku padamu. Setidaknya dengan menampungmu akan mengurangi rasa bersalahku.


"Kamu itu kenapa sih kesal, aku kan cuma berteman kebetulan saja dia cowok. Bukan mau gimana-gimana. Kamu cemburu ya??". Tanya Raisa


"Cemburu?? Hahahha... Jelas gak mungkin lah Sa. Emang ngapain aku cemburu?? Dengar ya, kamu bukan tipe cewek yang bisa aku cemburuin". Revan tergelak.


"Aku gak sewot, cuma khawatir kalau kamu ketemu pria gak bener, penipu, jahat. Kalau kamu diculik gimana? Kan aku juga yang repot nantinya. Siapa yang membayar uangku yang sudah kamu habiskan?". Revan membalas Raisa.


"Revan!!!" Raisa mencubit lengan Revan keras. Bisa-bisanya cowok ini memikirkan hutang-hutangnya di saat begini!!!


"Awww... Sakit Sa! Aku cuma bercanda. Aku benar-benar khawatir kalau kamu bertemu orang jahat". Revan mengelus lengannya yang dicubit Raisa. Ia heran, kenapa gadis hilang ingatan ini yang selalu bertingkah seperti anak kecil tetapi mempunyai tenaga sebesar gajah!


"Revan, tenanglah. Aku bisa jaga diri kok. Aku senang karena pertama kali ini mempunyai teman. Selama ini aku hanya berkutat di sekelilingmu. Tidak mempunyai teman siapapun". Raisa menatap Revan.


Revan menatap Raisa, Raisa benar, Raisa hanya di rumah dan keluar sebentar. Ia memang hanya mengenalku saja. Mungkin saatnya ia bergaul dengan orang banyak. Mungkin dengan mempunyai teman ia berhenti mengangguku. Tetapi aku kok kesal ya dia kenal dengan pria? Hm... Kenapa aku sewot begini? Harusnya aku senang kan, tidak akan di ganggu gadis hilang ingatan yang bertingkah seperti anak kecil ini?


"Oke... baiklah kalau kamu ingin mempunyai teman. Aku tidak melarangmu. Tapi jangan aneh-aneh!". Revan dengan berat hati.


"Beneran?"


"Iya..."


"Asikk... Makasih Revan, kamu memang terbaik!". Raisa mengencungkan jempolnya le arah Revan.


Terbaik? Cih! Dasar gadis licik. Kamu hanya mengatakan ini saat ada maunya saja kan?


πŸŽΆπŸŽΆπŸŽΆπŸŽΆπŸ“±πŸ“±πŸ“±πŸ“±


Ponsel Raisa berbunyi lagi. Kali ini bukan pesan Wa tetapi nada telp yang berbunyi. Raisa menatap layar kaca ponselnya. Ia lalu tersenyum saat mengetahui Kevin yang menelponnya.


"Ya... Kenapa? Sibuk? Gak Kok. Apa? Nonton? Sekarang?.... Hmmm... Oke...Oke... sampai ketemu ya". Raisa menjawab telp Kevin dengan tersenyum senang.


Kevin mengajakku nonton! Hore... akhirnya aku bisa juga nonton. Udah lama pingin aku nonton film horor tapi gak berani sendirian. Pas banget Kevin mengajakku!


"Senyam senyum sendiri kayak kesambet apaan aja". Sindir Revan melihat Raisa yang masih senyam senyum sambil melihat handponenya. Entah kenapa ia masih kesal melihat Raisa bertingkah sok manis dengan pria itu.


Raisa hanya menoleh dan tersenyum tanpa membalas sindirannya Revan. Mulai lagi si Revan sewotnya. Cemburu gak? Lalu ngapain dia sewot begitu. Ah, udahlah kali ini aku abaikan aja. Aku terlalu senang dan gak sabar ingin nonton film!


Revan menatap heran Raisa. Raisa tumben tidak membalas sindiranku? Apa ia benar-benar kesambet sesuatu. Aneh! Lihat-lihat dia senyam senyum lagi.


"Eh sa? Kamu gak kesambet beneran kan? kamu gak sakit kan?". Revan memegang dahi Raisa memastikan bahwa dia baik-baik saja.


"Ih Revan! Apaan sih! Aku baik-baik saja kok. Aku terlalu senang hari ini. Aku mau pergi dulu ya." Raisa beranjak menuju ke kamarnya. Ia harus segera bersiap-siap sebelum terlambat sampai di tempat.


"Mau kemana?". Tanya Revan penasaran sambil mengikuti Raisa.


Raisa berhenti di depan kamar ketika menyadari Revan mengikutinya. "Mau pergi"


"Kemana?".


"Nonton"


"Ama siapa?".


"Sama teman rahasiku lah. Udah jangan tanya lagi. Jangan ikutin aku masuk". Jawab Raisa mulai kesal melihat Revan mulai lagi banyak tanya.


"Kenapa gak boleh masuk? Ini kan rumahku sendiri". Sahut Revan.


"Aku mau ganti baju. Mau ngintip?". Raisa menatap Revan tajam.


"Gak lah! Ngapain aku ngintip. Kurang kerjaan aja". Revan lalu berbalik arah.


Blek.. Raisa menutup pintu kamar. Ia bersengut kesal karena sikap Revan. Awalnya kan sudah memperbolehkan ia punya teman. Kenapa sekarang tanya-tanya lagi mau kemana?! Bukannya ia sendiri yang bilang tidak akan mungkin cemburu sama cewek sepertinya?!


**BERSAMBUNG


Terimkasih sudah membaca novelku sampai episode ini. Semoga bisa menghibur kalian. Jangan lupa dukung aku dengan tap jempol kamu untuk vote, like dan rate. Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar ya**!