
Halo semua, sebelum membaca pastikan kamu tab jempol buat like ya. Syukur2 pakai vote dan rate 5. Terimakasih sudah menghargai karyaku..
______________
Revan dan Renata berjalan menuju arah pintu dengan tulisan EXIT di atasnya. Revan celingak celinguk mencari sosok Raisa. Dia tadi terlalu sibuk menenangkan Renata yang ketakutan karena melihat scene yang menyeramkan. Saat ia menoleh ke bangku sebelah, ia baru sadar kalau ternyata Raisa sudah meninggalkan bangkunya dan tidak kembali. Entah kemana anak itu?
"Kak Revan nyari apa?" tanya Renata bingung saat Revan seperti mencari sesuatu.
"Ah... Gak nyari apa-apa." Revan tertawa garing.
"Kak, Filmya seram ya tapi bagus ya. Kapan-kapan kita nonton film genre ini lagi ya?" Renata tersenyum menatap Revan.
"Jadi kamu berani nonton beginian lagi?" tanya Revan kaget.
"Ya kalau bareng ka Revan berani. Kalau sendirian ya gak," jawab Renata sambil tersenyum malu.
"Baiklah... pasti aku akan mengajakmu nonton lagi," sahut Revan seraya tersenyum.
Hatinya berbunga-bunga membayangkan kejadian di bioskop. Saat Renata takut dan memeluknya, Revan bisa berpura-pura jadi pahlawan untuk menenangkannya. Bahkan Revan tidak mengikuti film karena terlalu asik memandang wajah Renata.
Terimakasih ya Raisa, kamu memilih film yang bagus. Aku jadi mempunyai kesempatan dalam kesempitan seperti katamu. Hehehe... By the way, Raisa kemana sih? Kabur begitu saja! Dia pasti ketakutan trus pergi! Dasar! Gayanya sok berani, nyatanya takut juga.
"Eh kak, kita berpisah disini ya. Aku bawa mobil sendiri soalnya," ucap Renata saat mereka menuju ruang parkir.
"Iya, aku parkir disana. Kamu duluan saja. Aku akan pulang setalah kamu pergi." Revan membukakan pintu untuk Renata.
"Terimakasih ya kak. Sampai jumpa lagi." Renata memasuki mobil. Ia lalu mulai menyalakan mobil dan menginjak gasnya.
"Kak, duluan ya kak," pamit Renata sambil pergi.
"Iya Renata, hati-hati ya." Revan tersenyum sambil menatap mobil Renata yang melaju. Setelah itu, Revan langsung bergegas kembali masuk ke dalam mall untuk mencari Raisa.
Renata membayar tagihan parkirnya dengan menggunakan aplikasi uang elektronik dari handponenya. Kemudian yang melirik Revan di balik kaca spionnya sambil mengerutkan dahinya. Ia melihat Revan tidak berjalan menuju mobilnya. Revan justru kembali ke dalam mall. Saat Revan sudah tidak tampak, ia melajukan mobilnya kembali sambil keheranan.
Kak Revan kenapa kembali ke mall? Apa ia mencari sesuatu? Aneh. Mungkin lain kali aku tanyakan. Ia tampak mencari sesuatu atau seseorang setelah selesai menonton. Entah apa itu? Semakin hari Kak Revan semakim aneh!
******
Revan berjalan cepat menaiki tangga eskalator. Ia bergegas kembali memasuki aula gedung bioskop. Revan mengedarkan pandangannya mencari ke seluruh pelosok. Berharap menemukan sosok yang dicarinya. Raisa tidak akan mungkin pulang sendirian. Ia pasti menunggunya di suatu tempat.
Revan berjalan lagi mengitari sudut demi sudut, senyumnya terkembang saat melihat Raisa duduk di sebuah kursi sambil menyedu sekotak susu hangat. Revan bergegas mendekatinya, namun beberapa langkah ia terhenti. Ia terkejut melihat Raisa menyeka sudut matanya. Revan semakin memfokuskan matanya ke arah mata Raisa.
Benar! Raisa menangis?? kenapa? Apa gara-gara aku tinggal?
Revan berjalan mendekati Raisa, lalu ia duduk di sampingnya. Raisa terkejut melihat Revan tiba-tiba berada di sampingnya. Ia langsung bergegas menghapus air matanya dan menoleh ke arah Revan dengan senyum tipis.
"Revan ngagetin aja!" Raisa berusaha untuk bersikap biasa.
"Kamu nangis?" Revan menoleh ke Raisa heran.
"Gak, siapa juga yang nangis," elak Raisa sambil tertawa penuh kepalsuan
"Aku lihat kamu nangis. Kamu kenapa? Marah ya ama aku tinggal tadi. Maaf aku tidak sengaja bertemu Renata lagi," sesal Revan.
"Apaan sih! Aku gak nangis gara-gara itu kali! Aku tu takut ama filmnya tadi," ucap Raisa berbohong.
"Takut??"
"Iya takut. Bukannya filmnya sedikit menakutkan. Kamu gak takut?." Raisa menyakinkan bahwa ia menangis karena takut.
"O... jadi kamu takut toh. Hahaha... Dasar. Gaya aja sok berani. Ternyata ketakutan. Dasar." Revan mengacak-acak rambut Raisa.
"Ih.. Revan! Kenapa sih suka mengacak rambutku," Raisa protes, namun tetap saja sebuah senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. Entah kenapa, ia mulai menyukai Revan yang selalu mengacak rambutnya lembut.
"Habis kamu sih. Sok gaya nonton begituan padahal ketakutan sendiri. Di tengah jalan sudah kabur." Revan terkekeh membayangkan ekspresi Raisa yang ketakutan lalu kabur dari bioskop tadi.
Raisa menatap Revan. Kamu tidak perlu tahu yang sebenarnya mengapa aku pergi tadi. Aku sudah tidak tahan melihatmu bersikap lembut kepada Renata.
"Memangnya kamu gak takut?" tanya Raisa balik sambil merapikan kembali rambutnya.
Aku terlalu menikmati kebersamaan bersama Renata. Bahkan aku tidak merasa takut meihat film horor tadi. Justru aku senang karena menjadi tumpuan Renata ketika dia ketakutan!
"Bohong!!"
"Beneran. Hehehe... tapi terimakasih ya. Karena kamu aku jadi lebih dekat dengan Renata tadi." Senyum bahagia terkembang di wajah Revan.
"Cih! lihat, lihat ! ekspresi macam apa itu. Jadi kamu senang ya berduaan dengan Renata. Dipeluk-peluk begitu," goda Raisa, dalam hatinya ia merasa seperti satu bilah pisau mengiris ulu hatinya. Perih.
"Iya iyalah aku senang. Hubunganku jadi semakin dekat karena kamu. Eh, karena kamu berjasa. Aku traktir makan deh. Kamu boleh bebas memilih," ajak Revan sambil menarik tangan Raisa untuk berdiri
"Ehmmm Revan...Aku gak mau makan. Aku sepertinya lekah. Kita pulang saja ya," ucap Raisa sambil enggan mengikuti Revan.
"Pulang?!" tanya Revan heran mendengar Raisa mengajaknya pulang. Sesuatu yang sangat aneh, biasanya dia akan bersorak gembira ketika Revan mengajaknya makan atau kemanalah.
"Iya pulang, aku lelah," jawab Raisa sambil berpura-pura menunjukan wajah lelah.
"Lelah? Hm...Baiklah kalau begitu. Ayo kita pulang saja." Revan tersenyum lalu berjalan mendahului Raisa.
Bagaimana aku bisa makan sedangkan kamu asik bercerita dengan gembira bersama Renata?! melihatmu berdua dengannya sudah membuat hatiku sedih. Aku tidak mau bertambah sedih lagi.
*******
Raisa turun dari mobil dengan lesu. Sepanjang perjalanan ia hanya mendengarkan cerita tentang Renata dari mulut Revan. Apa memang orang kalau sedang jatuh cinta seperti itu? Raisa hanya bisa menanggapi dengan senyuman, anggukan atau jawaban iya atau tidak.
"Wah, akhirnya sampai juga di rumah," ucap Revan seraya memparkirkan mobil dengan gembira.
Tit...Tit...Tit...
Ponsel Revan berbunyi, Revan melirik nama yang tertulis lalu tersenyum gembira.
"Sa, kamu masuk dulu ya. Renata menelponku. Nanti aku susul," bisik Revan.
Raisa hanya terseyum kecut, lalu dengan lesu ia turun dari mobil. Sepintas ia menoleh ke arah Revan yang tengah berbicara dengan Renata melalui Hp. Sesekali Revan tersenyum bahagia saat berbicara dengan Renata.
Raisa menghela nafas panjang. Ternyata jatuh cinta itu menyesakkan ya? Kenapa aku bisa suka sama orang yang sudah menyukai orang lain itu?!
Raisa melanjutkan jalannya menuju rumah Revan, kali ini ia bisa langsung memencet tombol. Revan sudah menyimpan kode pintu rumah di handponnya. Raisa membuka pintu dengan lemas, ia lalu berjalan dengan langkah gontai masuk ke ruang tengah. Raisa menyalakan lampu dan melihat sekelilingnya.
"Akhirnya kamu pulang juga Van! Kenapa sih handponemu tidak bisa dihubungi terus!!" Sebuah suara mengagetkan Raisa.
Raisa melihat sosok yang berjalan mendekatinya. Sosok itu berhenti dan terkejut saat melihat Raisa.
"Raisa???"
"Kevin??!!"
"Kenapa kamu disini?, tanya Kevin sambol membelalakkan mata melihat Raisa. Ia mengucek mata berkali-kali berusaha memastikan bahwa yang ia lihat adalah benar-benar gadis yang membuatnya lunglai dari tadi karena membatalkan janjinya.
"Aku___" Raisa tidak melanjutkan kata-kata karena ia mendengar suara langkah kaki Revan yang mendekat.
"Sa, Aku kok lapar ya. Buatin makanan ya. Mie instan gak papa kok," suara Revan terdengar bersamaan dengan derap langkahnya yang menuju ke ruang tengah.
"Sa... Kok diem." Revan menghampiri Raisa kesal.
"Sa.. Kok diem." Reflek Revan memberantakan rambut Raisa karena Raisa terdiam mematung. Namun, ia menghentikan kegiatan sepintas saat menyadari Raisa mematung karena melihat sesosok yang menatapnya dan Raisa dengan wajah terkejut.
"Kevin?!" Revan terkaget saat melihat Kevin sudah berada di hadapannya.
****
BERSAMBUNG
Hai, Terimakasih sudah membaca novelku. Jangan lupa ya... Tap jempol kamu untuk like, vote, rate.
Tinggalkan jejak kalian ya...share novel ini dan bantu aku ya.
😍😍😍😍