LBA

LBA
Basah



Revan memasuki rumah dengan enggan. Gara-gara kalah taruhan ia harus menjadi pembantu membereskan rumah selama seminggu ini. Revan melemaskan badannya ketika memasuki rumah. Hari ini badannya pegal semua serasa ingin copot. Sudah beberapa hari ini mengerjakan pekerjaan yang biasa dikerjakan Raisa ditambah pekerjaan kantor yang berjibun membuatnya semakin lelah.


Revan melonggok ke kanan dan ke kiri, Raisa tidak menampakkan batang hidungnya. Revan lalu tersenyum senang. Raisa mungkin sedang tidur!! Revan lalu menaruh sepatunya ke rak dengan pelan. Lalu ia berjalan berjinjit dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.


Yes!! Raisa tidur!! aku bisa langsung masuk kamar dan rebahan. Badanku sudah lelah, aku butuh istirahat hari ini!.


"Ehem... Ehem..." Sebuah suara mengejutkan Revan.


"Raisa!!" Revan terpekik kaget. Ia tidak menduga kalau ternyata Raisa berada di belakangnya. Dari mana gadis ini berasal? Kenapa bisa tiba-tiba muncul!?


Kenapa aku malah seperti pencuri yang tertangkap basah masuk rumah?! Padahal kan ini rumahku! Aku bebas melakukan apapun kan?


"Ngapain kamu jalan pelan-pelan sambil jinjit-jinjit begitu?" Raisa menatap Revan penuh selidik. Hmmm. Revan pasti mau kabur. Hahaha... Jangan harap bisa kabur ya Revan!


"Eh... Raisa... Hahaha... aku kira kamu tidur jadi aku pelan-pelan agar kamu tidak terganggu". Revan meringis tertangkap basah.


"Wah... wah.. kamu baik banget ya..." Raisa tersenyum mengejek.


"Iya donk... aku baik." Revan mulai melangkah biasa menuju ke kamarnya.


"Eit.. mau kemana kamu!" Raisa menarik lengan Revan.


"Mau ke kamar..." Ujar Revan ingin segera kabur.


"Hm... No...No...No... Jangan lupa kamu belum membuang sampah dan menyiram tanaman sore ini!" Raisa mengingatkan.


Revan melirik Raisa kesal, hufh.. Mengapa Raisa bisa tahu kalau ia terlupa menyiram tanaman dan membuang sampah hari ini?! Gadis ini seperti punya mata dimana-mana!


"Sa... Aku hari ini lelah sekali". Pinta Revan memelas.


"No...No...No...Janji adalah janji!" Raisa menggeleng tidak mau tahu.


"Kamu kejam sekali Sa. Lebih kejam daripada ibu tiri!". Guman Revan kesal.


"Haaahaha.... Ibu Tiri?! Hm... kamu kan yang udah mengajariku? Selama ini kamu yang jadi ibu tiri kejam versi cowok!". Raisa merasa puas. Kapan lagi ia bisa bersikap seperti raja?! Revan selalu menindasnya! Sekarang gilirannya.


Revan mendengus kesal. Salahku sudah menindasnya sebelumnya. Raisa sekarang menjadi pintar membalasku! Hm... tenang Revan, cuma tinggal 2 hari lagi aku bisa bebas dari kekejaman Raisa. Setelah itu aku yang akan berkuasa!


"Iya.. iya... Aku ganti baju dulu!" Sungut Revan kesal. Ia lalu beranjak ke atas sambil memijat tenguknya yang lelah karena berkutat dengan laporan seharian ini.


Raisa menatap revan sambil tersenyum menang. Ia kemudian melihat Revan yang tampak lelah. Lalu ia merasa tidak tega.


Tampaknya ia sangat lelah... Hm.. sebaiknya hari ini aku bantu dia.


*****


Raisa bersenandung riang sambil menyiram tanaman. Lihat!! Ia baik kan? Membantu Revan yang kalah taruhan. Ia tak sekejam itu pada Revan. Meskipun Revan menyebalkan tetaplah Revan seorang yang baik. Cukup melihatnya kesal saja sudah membuat Raisa puas.


"Raisa!!!" Teriak Revan dari dalam.


Raisa yang sedang menyiram tanaman dengan terhentak kaget mendengar teriakan Revan dari dalam rumah. "Jangan jangan ia sudah melihatnya?!


Revan keluar dengan terpogoh-pogoh dengan membawa beberapa barang. "Raisa!! apa ini?!Mengapa banyak barang baru di rumah. Mengapa ada banyak tagihan di kartu kreditku?!"


Raisa hanya meringis. "Hm... Aku membeli beberapa hal. Kan kamu bilang kau aku boleh beli sesuatu. Aku perlu beli sesuatu, karena kamu akan menuruti mauku jadi aku beli beberapa hal dengan uangmu".


"Hm... Kamarku suram. Jadi aku beli walpaper dan beberapa hiasan. Kamu tahu kan mengerjakan pekerjaan rumah melelahkan, jadi aku beli mesin pemijat, kamu boleh kok meminjamnya. Hm... Lalu aku kan lihat baju dan tas lucu di online. Dan kurasa aku butuh baju baru. Jadi aku memesannya dan tanpa sadar barang yang aku beli sebanyak itu". Raisa menjelaskan isi beberapa barang yang ia beli.


Revan mengacak-acak rambutnya kesal. Gadis bodoh ini! Mengapa ia membeli barang yang tidak penting-penting!


"Tapi kan tidak sebanyak ini!! kamu mau merampok uangku!! Kamu kira cari uang itu mudah???". Revan mulai kesal.


"Kamu kan pernah bilang kamu manager di perusahaan besar. Pasti uangmu banyak. Tinggal kerja yang rajin nanti dapat uang banyak. Mudah kan!". sela Raisa ringan.


"Apa katamu?!"


"Eits... sudah jangan marah. Kamu kan kalah taruhan jadi aku bisa sesukaku. Lihat ini aku baik kan, membantumu menyiram tanaman". Raisa cuek


"Raisa!! Dasar kamu ini ya!!". Revan mendekati Raisa sambil meperlihatkan aura membunuhnya. Diambilnya salah satu paket kecil yang ia bawa, kemudian dilemparkannya kearah Raisa.


Raisa yang melihat spontan menunduk menghindar bungkusan paket tersebut. Karena menghindari lemparan Revan, tanpa sadar ia melemparkan selang air yang ia pakai ke arah Revan. Revan yang sempat melihat selang air yang terlempar ke atarnya segera ingin menghindar, namun sayang karena licin Revan terpeleset dan jatuh tersungkup. Air selang yang masih mengalir deras terjatuh mengenainya. Spontan seluruh badannya basah kuyup.


"Raisa!!!". Teriak Revan kesal masih dalam posisi tersungkup.


"Ups!! Maafin aku Revan. Aku tidak sengaja. Kamu gak papa?". Sesal Raisa sambil mendekati Revan.


Revan tersenyum licik saat melihat Raisa mendekatinya. Ia berusaha bangun dan tiba-tiba menarik Raisa dan mengguyurnya dengan air dari selang yang tadi mengenainya. Sekarang ini badan Raisa ikutan basah seperti Revan.


"Kena kamu Sa!!" Revan tertawa puas melihat Raisa yang basah kuyup.


"Revan!!" teriaknya kaget bercampur marah. Namun marahnya terhenti ketika melihat Revan tertawa bahagia.


"hahaha...Rasakan kau! Gadis bandel!! Sekarang kau juga basah..Hahaha! Lihatlah wajah kagetmu!! Hahaha..." ucap Revan sambil tertawa senang.


Raisa hanya tertegun melihat Revan tertawa lepas. Revan sering mengesalkan, bahkan memarahinya. Ia memang pernah melihatnya tersenyum namun, baru sekali ini ia melihat Revan tertawa lepas.


Raisa melihat Revan dengan seksama, ia melihat wajah Revan yang basah, dan otot-otot tangan dan perutnya yang menyembul di balik kaosnya yang basah. Mengapa Revan jadi terlihat ganteng dan... hm... Sexy?!


Riasa menelan ludah pelan dengan gugup. Tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat. Ia lalu menghela nafas dalam untuk menstabilkan dadanya yang masih berdetak tidak karuan. Raisa merasa gerah tiba-tiba, padahl ia harusnya kedinginan karena basah kan?


Mengapa Revan tiba-tiba terlihat ganteng dan sexi begini? Ah...mengapa aku jadi gugup sendiri seperti ini? Dan mengapa pula jantungku bermasalah di saat seperti ini?! jantungku makin berdetak kencang. Duh..Apa-apaan ini?? Hei jantung!! Ayo jangan bermasalah saat begini!!


"Sa! Kenapa kamu memandangku terus? Apakah ada sesuatu yang menempel di wajahku?" Revan menghentikan tawanya lalu memegang wajahnya memastikan apa ada sesuatu yang menempel.


"Gak" Jawab Raisa cepat. Ia harus segera bergegas pergi atau jantungnya akan berdetak semakin kencang.


"Gak?? Hm... Apa ada yang salah dengan wajahku?". Revan menatap pantulan wajahnya di kaca jendela.


"Gak!" Raisa memalingkan wajahnya.


"hm....pasti ada yang salah. Yah memang aku salah terlahir dengan wajah ganteng dan bodi sixpack!" Revan menjawab narsis. Kemudian Revan melanjutkan tawanya senang. Entah mengapa lelahnya dan kesalnya jadi hilang seketika.


"Jangan tertawa seperti itu di depanku!! Kamu seperti orang gila! Itu sangat menakutkan!!." Raisa sewot. Lalu ia beranjak menuju ke dalam rumah. Ia harus segera membersihkan diri dan segera ganti baju atau ia masuk angin.


Revan hanya menatap Raisa bingung, kemudian ia menyusul Raisa ke dalam. "Sa... aku kan hanya bercanda, mengapa kamu malah sewot begitu. Ah Raisa! Kamu tidak punya selera humor!!"


****


BERSAMBUNG