
Disebuah cafe, Raisa duduk sendirian sambil menatap menu. Ia melihat beberapa menu pilihan yang bisa ia pesan. Sudah sejam ia disini tetapi ia hanya melihat menu tidak segera memesan makanan, tiba-tiba nafsu makannya hilang. Raisa termenung sesaat meratapi nasibnya yang tidak jelas hari ini.
Mengapa hari ini hidupku sengsara begini? Tidak mengingat apapun? Ditinggalin sendirian. Harus main petak umpet! Sembunyi terus. Sekarang sekedar ingin tiduran di ranjangnya yang empuk tidak bisa.
Raisa melirik handponenya, berharap ada balasan chat ataupun panggilan. Namun dari pagi Revan pergi sampai sore ini. Tidak satupun balasan chat dan panggilan ia terima. Raisa menghela nafas kesal.
Revan sedang apa sih? Gak balas chatku? Telp juga tidak! Apa sesibuk itu sama gebetannya sampai tidak memberi kabar? Sukanya begitu menghilang tidak ada kabar!!
Raisa menerka-nerka apa yang sedang dilakukan Revan.
Revan pasti saat ini sedang duduk berdua dengan wanita pujaan hatinya sambil bersendau gurau dan tertawa bersama! Atau dia sedang melihat pemandangan berdua dengan kepala wanita itu bersandar di bahunya!
Tiba-tiba Raisa kesal sendiri dengan bayangannya. Raisa meraba dadanya yang terasa yang terasa sesak.
Ada apa denganku? Mengapa melihat Revan pergi dengan Renata aku merasa kesal?! dan ada apa dengan dadaku kenapa dadaku terasa sesak begini?! Apa aku sakit asma?!
Raisa lalu menepuk-nepuk pelan dadanya berusaha untuk mengurangi sesaknya. Ia lalu menghirup nafas dalam sebanyak-banyaknya supaya udara masuk ke dalam paru-parunya dan sesaknya hilang.
Raisa lalu mengambil menu dan membaca kembali menu tersebut. Ia tidak berselera untuk memakan sesuatu. Mungkin minum sesuatu yang hangat dan manis bisa menghilangkan rasa kesalnya. Raisa segera memesan coklat hangat. Selang tak berapa lama satu gelas coklat hangat hadir di mejanya.
Raisa tersenyum bahagia melihat secangkir coklat hangatnya. Ia langsung menghirup aroma coklat yang membuat moodnya menjadi baik. Coklat memang penenang yang baik di saat perasaan dan pikiran tidak menentu.
"Apa kita putus?!?!" Terdengar suara nyaring
Raisa yang hendak menyruput minumannya terhenti. Sebuah suara wanita tersengat jelas di telinganya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran. Saat itu memang sudah lewat jam makan siang sehingga restoran sepi. Ia lalu mendapatkan sepasang pria dan wanita yang duduk selang beberapa meja di belakangnya.
Oh, ada yang baru berantem rupaya.
Raisa segera kembali ke arah coklat hangatnya. Ia kemudian mengambil sedotan meneguk coklat hangatnya.
"Aku gak mau kita putus!" Sebuah suara wanita itu terdengar lagi.
"Sstt... Natasya jangan keras-keras!" Si pria terlihat malu.
"Biarin semuanya dengar, Aku tidak peduli. Pokoknya aku gak mau putus!" Si wanita yang bernama Natasya masih ngotot.
"Gak bisa Natasya, Sebaiknya kita sudahi saja. Kita putus" Suara si pria tetap tenang.
"Gak bisa Kevin! Aku mau tetap jadi pacarmu? Apa yang kurang dariku? Aku cantik, populer kamu tampan kaya. Kita cocok!" Natasya masih keras kepala.
"Ya kamu cantik, populer tapi kita gak sepahaman Natasya!" Jelas Pria yang bernama Kevin.
"Gak sepamahaman bagaimana? Kita sama-sama suka nonton film romantis, jalan-jalan, bahkan makanan yang kita makan selalu sama" Jelas Natasya.
Sementara Raisa mengaduk-aduk gelasnya sambil menyimak pembicaraan pasangan yang berada di belakang mereka.
Bukan maksudku untuk menguping, tetapi suara mereka terdengar jelas di telingaku. Bukan salahku kalau mendengar dan menyimak pembicaraan mereka. Salah sendiri bertengkar di tempat umum denhan suara kencang pula.
"Natasya, sadarkah kamu kalau kita selama ini selalu melakukan yang kamu mau saja? Bukan yang aku mau?". Kevin menatap Natasya.
Natasaya menatap Kevin bingung. "Maksudnya?"
"Aku tidak suka menonton film romantis. Jalan-jalan.. hm... lebih tepatnya aku selalu menemanimu shoping atau mengikuti gaya hidupmu yang berlebih, makanan... kamu bahkan tidak tahu bahwa aku tidak suka makanan yang kamu pesankan di depan meja ini?" Tegas Kevin sambil menujuk piringan makanan yang tersaji di depannya.
Raisa tersenyum geli mendengarnya. Jadi selama ini sejoli ini berpacaran atau cuma si pria hanya mengikuti maunya si cewek?! Wah hidupnya pasti membosankan melakukan hal yang ia tidak suka terus! Ternyata bukan aku saja yang bernasib kurang mujur.
"Kenapa kamu tidak pernah bilang?!" Natasya shock
"Apa kamu penah menanyakan apa mauku? Kamu selalu sibuk dengan dirimu sendiri" Kevin mulai jengah.
"Aku akan berubah, mari kita perbaiki!" Pinta Natasya setengah memaksa.
"Natasya... tidak ada yang bisa diperbaiki. Kita putus saja". Kevin bersikukuh.
"Tidak! Aku tidak mau putus. Kamu pasangan yang sempurna untukku. Kamu tampan kaya! Apa nanti kata teman-temanku?Aku nanti bisa malu." Natasya mulai kesal.
"Natasya, kamu kan bisa cari pria tampan dan kaya lainnya. Yang bisa kamu manfaatin dan kamu pamerkan." Sindir Kevin, ia sudah bosan dengan Natasya yang mengajaknya kesana sini menemui teman-temannya dan memamerkan tentang kekayaan Kevin.
"Gak Natasya, kita harus putus!" Tegas Kevin
Byur!!!
Raisa spontan menoleh terkaget. Ia tak percaya melihat apa yang terjadi. Si wanita menyiram si pria dengan minuman yang ada di depan mereka. Si pria hanya mengambil tisyu yang berada di depannya. Kevin mengelap mukanya yang basah karena minuman. Ia lalu menatap tajam Natasya dengan marah.
"Maaf Kevin, aku tidak sengaja!" Natasya menyesal.
"Ini yang aku tidak suka dari kamu. Memaksakan kehendak orang. Setiap menginginkan sesuatu kamu selalu memaksa, dan jika tidak memperolehnya kamu langsung marah. Tidak peduli siapapun itu!" Jelas Kevin dengan nada menekan.
"Kevin, kumohon jangan tinggalkan aku!" Natasya meraih tangan Kevin, Kevin langsung menghempaskan tangannya.
"Kalau kamu masih seperti ini, aku akan memintamu mengembalikan semua barang yang sudah aku berikan termasuk mobil yang kamu pakai saat ini!" Kevin menatap Natasya kesal.
"Jangan! Jangan ambil mobilku dan lainnya...Hm... Baiklah aku pergi tapi jangan ambil mobil dan lainnya dariku!" Natasya spontan mengambil kunci mobil yang tergeletak di mejanya lalu menyimpannya di tas.
Kevin hanya terdiam melihatnya. Pacar macam apa yang lebih mementingkan mobil dan benda-benda kesayangannya saat ini. Toh semua itu pemberian Kevin. Kevin hanya menghela nafas berat. Putus memang pilihan tepat, sudah waktunya ia mencari wanita baik-baik yang bisa diajak suka duka dalam hidupnya kelak.
"Oke aku anggap deal. Kita putus mobil tetap milikku. Aku pergi!" Sambung Natasya lagi sambil bergegas pergi tanpa menunggu jawaban dari Kevin.
Raisa melirik Natasya yang melewatinya lalu beranjak pergi dari restoran. Wanita itu berjalan cuek menuju keluat tanpa ragu sedikitpun. Bahkan tidak merasa bersalah.
Cih! Wanita seperti apa itu?! Bilangnya cinta gak mau putus?! Kenyatannya lebih cinta mobil dan benda berharganya daripada pacarnya sendiri! Pantas saja si cowok minta putus.
Raisa geleng-geleng sendiri melihat kelakuan si cewek. Lalu ia tersadar saat menyadari dirinya tak jauh beda.
Bukankah aku juga memanfaatkan Revan dengan tinggal gratis di rumahnya?! Lalu apa bedanya aku dengan wanita itu. Tidak! Aku berbeda! Aku kan bersih-bersih dan memasak aku tidak tinggal gratis! Aku bekerja sebagai pengganti biaya makan dan tidur! Aku juga mencatat semua uang dan benda yang ia beli dari uang Revan, termasuk uang yang ia gunakan untuk membeli minuman ini. Sudah ia catat di buku Hutang!
"Ehem... Ehem..." Terdengar suara deheman dari belakang. Raisa menoleh ke belakang, dilihatnya Kevin yang sedang duduk melihatnya.
Raisa kaget, langsung ia segera memalingkan wajahnya dan segera meminum minumannya. Berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Jangan-jangan pria itu menyadari kalau kalau aku menguping pembicaraan mereka!
"Kursi ini kosong kan?" Sebuah suara terdengar. Raisa mendongakkan kepalanya melihat sekilas. Pria yang tadi di belakangnya sekarang sudah berpindah di kursi depannya.
"Eh, iya.." Jawab Raisa blingsutan. Iapun langsung berpura-pura melihat menu sambil meminum coklatnya.
Mati aku!! Bisa kena semprot karena sudah menguping!!
" Raisa kan?" Tanya Kevin memastikan.
Raisa mendelik kaget. Dari mana cowok ini tahu namanya?! Raisa langsung mengangkat kepalanya dan melihat pria yang duduk di depannya. Raisa memincingkan matanya dan melihat dengan seksama. Sambil mengingat-ingat. Wajahnya tidak asing, tapi siapa?!
"Ah... kamu pasti sudah lupa. Aku Kevin! " Jawab Kevin saat melihat ekspresi penuh tanda tanya di wajah Raisa.
"Kevin...?." Raisa mencoba mengingat sesuatu.
"Iya, Kevin! Masa kamu lupa dengan yang menolong kamu hampir pingsan di mall. Baru beberapa minggu yang lalu lho!" Sesal Kevin
Menolongku saat hampir pingsan di mall? Tunggu! Jangan-jangan pria yang di mall saat Revan meninggalkannya sendirian! Pantas saja wajahnya tidak asing.
"Kevin yang menolongku pinsan di mall. Yang membantuku kan?" Raisa memastikan.
"Iya... akhirnya kamu mengingatku" Kevin tersenyum manis.
"Maaf, aku sedikit suka lupa" Raisa tersenyum.
"Tidak apa-apa. Aku bertemu kamu lagi saja sudah senang." Terang Kevin.
"Hahaha... ini kedua kalinya kita bertemu ya" Raisa tertawa bahagia bertemu malaikat penyelamatnya.
"Iya, kedua kalinya. Hm... Raisa, kamu tahu tidak? Kalau kita bertemu tiga kali dengan seseorang secara kebetulan, artinya kita jodoh." Terang Kevin
"Hah?!"
Raisa menatap Kevin sambil mengerjab-ngerjabkan matanya bingung. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud Kevin. Namun Raisa hanya tersenyum membalasnya.