
Raisa mengaduk-aduk minumannya sambil menatap Kevin yang duduk di sebelahnya. Ia masih canggung merasa tidak enak telah menguping pembicaraan Kevin dengan pacarnya. ups... mantan macarnya lebih tepatnya.
"Ehm.. Raisa tadi kamu mendengarnya ya?" Tanya Kevin berusaha memecah keheningan diantara keduanya.
"Ah...yang mana ya?" Raisa pura-pura tidak tahu.
"Pembicaraanku sama Natasya, Kamu mendengarnya?" Tanya Kevin memastikan.
"Hm... aku minta maaf aku tidak bermaksud menguping." Raisa menyatukan kedua telapak tangannya memohon maaf kepada Kevin.
"Jadi benar kamu mendengarnya?" Kevin memegang rambutnya malu. Ia awalnya tidak menyangka jika orang yang sedari tadi melihatnya benar-benar Raisa. Semenjak Raisa menoleh ia memang merasa mengenal gadis yang duduk tak jauh dari ia duduk. Ia malu harus bertemu dengan Raisa dengan cara begini.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja. Jangan marah ya!" Pinta Raisa sok memelas.
"Marah?! Hahhaa... ya gak lah Raisa. Justru aku malah malu kamu melihatku seperti ini?" Kevin menunjuk kaos atasnya yang sedikit agak basah. Disiram dengan air di depan orang memang memalukan. Dasar Natasya tidak punya etika, memang seharusnya sudah dari dulu ia memutuskannya.
"Jadi kamu gak marah?" Tanya Raisa senang, ia sudah khawatir kena semprot.
"Gak lah, bukan kamu yang salah. Natasya yang salah. Suaranya terlalu kencang sampai kemana-mana." Keluh Kevin kesal. Dasar Natasaya, tidak bisa mengontrol emosinya. Lalu ia tersenyum karena dengan kejadian ini ia bisa bertemu Raisa.
Tetapi, makasih ya Natasya! Berkat kamu aku justru bertemu wanita yang aku cari ini!
"Kamu gak papa? Bajumu basah lho?"Tanya Raisa sambil menunjuk baju Kevin.
"Gak papa. Nanti juga kering kok." Sahut Kevin. Ia tidak mau kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan Raisa.
"Hm... Wanita tadi pacarmu?" Tanya Raisa hati-hati.
"Yups... lebih tepatnya mantan". Jawab kevin
"Ow... Cantik ya... " Gumam Raisa saat membayangkan wajah Natasya yang cantik dan mempunyai bodi luar biasa. Pakaian mahal, bahkan semua yang ia bawa dan kenakan tampak mahal. Dibandingkan dia yang hanya berpenampilan biasa, bahkan dulu ada yang menyebutnya gembel. Siapa lagi kalau bukan pria menyebalkan si Revan.
"Kamu juga lebih cantik". Ucap Kevin, spontan Raisa langsung tertawa bahagia.
"Kamu orang pertama yang bilang aku cantik" Raisa tertawa senang. Akhirnya ada yang memujinya. Huh.. Liat tu Revan, ada juga yang bilang aku cantik!!
"Kamu nunggu siapa? Kok dari tadi pesan minum, gak makan?" Tanya Kevin
"Gak nunggu siapa-siapa" Jawab Raisa singkat. Gara-gara seseorang nafsu makanku udah hilang! Apalagi uang yang kubawa hanya beberapa, Tidak mencukupi kalau aku makan banyak yang mahal-mahal. Hufh
"Hm... gak nungguin pacar?." Tanya kevin hati-hati.
"Pacar?! Ya gak lah. Aku gak punya pacar. Mana sempet mikirin". Sahut Raisa.
Jangankan memikirkan untuk punya pacar. ketemu pria dan ngobrol santai saja gak pernah! Mana ada kesempatan. Cuma Revan terus yang ada di depan mata dan kehidupanku. Mana ada orang mau dengan gadis hilang ingatan yang tidak jelas asal usulnya.
"Hm... kalau begitu, temanin aku makan, apa kamu tidak keberatan? Seperti yang kamu tahu. Aku juga single barusan". Kevin menatap Raisa sambil tersenyum.
"Di drama, kalau orang putus itu harusnya sedih Vin karena kehilangan pacar, atau kalau kasusmu harusnya marah. Habis putus, di porotin trus di siram air pula. bukan malah senyam-senyum begitu." Timbal Raisa
"Hahaha...Raisa, yang begituan cuma ada di drama aja Life must go on. Banyak hal yang perlu dilakukan. Lagipula untuk apa aku menangisi wanita seperti Natasya". Kevin terkekeh.
"Hm... Begitu ya?"
"Eh, kamu jadinya mau makan apa ini. Ada menu spesial yang enak sekali disini. aku paling suka pizzanya. Aku traktir deh." Kevin membuka menu dan menunjukan sebuah gambar pizza.
Raisa menatap menu yang bergambar pizza. Gambar pizza itu sungguh menggiurkan, dilengkapi dengan irisan daging, jamur, keju mozerella, bawang bombay, dan lain lain. Raisa menelan ludahnya, mulutnya tiba-tiba seolah olah ingin menelan gambar di depannya. Tiba-tiba nafsu makannya kembali. Apalagi ini gratis kan?
"Kamu yang traktir kan? Aku gak perlu bayar lagi kan besok?" Tanya Raisa penuh selidik. Ia tidak boleh lengah dengan pria. Bisa saja pria itu seperti Revan yang menjebaknya dengan membelikan sesuatu tetapi menyuruhnya menuliskan di buku hutang!! Menyebalkan bukan?
Ups!! Mengapa aku malah ingat Revan?!
"Membayarnya?! Ya gak lah Sa. Pilih saja yang kamu mau." Kevin terkekeh melihat Raisa yang asik memilih menu.
Raisa lalu membuka-buka menu dengan bersemangat. Ia bisa makan sepuasnya yang ia mau. Kevin baik hati rupanya, kalau Revan pasti udah melotot dan menggeleng tegas kalau ia mencari menu yang aneh-aneh atau yang mahal.
Tunggu dulu! kok malah keingat Revan lagi?!
Raisa langsung menggelengkan kepalanya berusaha menyadarkan diri agar tidak mengingat Revan terus.
"Kamu kenapa Sa? Gak mau?" Tanya Kevin bingung melihat tingkah Raisa yang aneh.
"Oke... nice choised." Kevin tersenyum. Ia lalu mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.
"Mas aku pesan ini dan ini dua ya" Kevin menunjuk sesuai yang dipesan Raisa.
"Lho kok sama?" Tanya Raisa merasa tidak enak, ia masih teringat obrolan Kevin dengan pacarnya. Pacarnya selalu memesankan makanan yang sama yang mana Kevin tidak menyukainya
"Iya, itu juga favoritku. Pilihan kita sama" Kevin mengangkat telapak tangannya mengajak Raisa tos. Raisa hanya menatapnya bingung.
"Kita bisa jadi teman. Ayo tos. Mau kan jadi temanku?" Kevin masih menunggu sahutan tosnya.
Raisa hanya menatap tangan Kevin, lalu dengan ragu ia mengangkat tangannya dan menyambut tos Kevin. Raisa lalu tersenyum meskipun merasa aneh.
Teman?? Aku akhirnya punya teman!!
Selang tak berapa lama makanan mereka tersaji di depan meja mereka. Semerbak harum pizza yang tersaji di meja membuat cacing di perut Raisa berteriak minta segera diberik makan.
"Wow... tampaknya lezat!!" Raisa menatap makanannya dengan gembira. Rasanya ludahnya sudah mau keluar.
"Yuk kita makan" Ajak Kevin yang sedari tadi sudah lapar.
Tanpa basa basi Raisa segera mengambil dua set piring, garpu dan pisau. Kemudian ia mengambil dua potong pizza dan meletakkan ke masing-masing piring. Lalu ia memberikan ke Kevin. Tanpa sadar ia menyiapkan makanan seperti yang ia lakukan kepada Revan di rumah selama ini.
Kevin menatap heran ke arah Raisa lalu ia tersenyum. Ternyata Raisa adalah wanita yang baik. "Ini buat aku?"
"Eh iya... Maaf, aku terbiasa menyiapkan makanan di rumah". Raisa tersadar dengan apa yang ia lakukan.
Hm... Raisa, raisa... ternyata kamu wanita yang perhatian. Calon istri yang baik**.
"Memangnya kamu tinggal dimana Sa?" Tanya Kevin sambil mengunyah makanannya.
"Aku... Hm... Rahasia..." Jawab Raisa sambil menyengir. Ia masih ingat perjanjiannya dengan Revan. Tidak boleh mengungkapkan kalau mereka tinggal bersama dengan siapapun.
"Kita kan sudah teman, masa masih rahasiaan?" Kevin pura-pura mengambek.
"Hm... aku menumpang tinggal ke orang. Jadi itu bukan rumahku. Jadi aku tidak bisa memberitahumu." Jelas Raisa, Kevin hanya mangut-mangut berusaha mengerti.
"Hm...jadi kamu pendatang ya disini? Keluargamu dimana kok kamu merantau?" Kevin menyimpulkan.
Raisa menghentikan makannya, sejenak ia berfikir. Keluarga?? Aku bahkan tidak ingat siapa diriku. Bagaimana aku bisa ingat keluargaku?!
"Hm... aku tidak bisa membicarakannya". Raisa menerawang. Kevin menatap Raisa penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh gadis itu.
Raisa...Raisa... mengapa kamu menyembunyikan tentangmu? Membuatku semakin penasaran saja.
******
" Yakin ini gak mau aku antar pulang? Udah mau magrib lho " Kevin menawarkan tumpangannya saat mereka ingin pulang.
"Gak Vin, malah merepotkan. Gak papa kok. masih ada angkutan lewat". Raisa menolak dengan halus.
Bisa diamuk Revan kalau aku diantar pria ke rumahnya!
"Ya sudah, aku ke sana ya karena mobilku aku parkir diasana" Kevin melambaikan tangan. Raisa hanya mengangguk.
Raisa kemudian berjalan menyurusi pinggir jalan. Ia harus menyebrang karena halte bus berada di seberang. Raisa menghentikan langkahnya ketika lampu telah hijau. Ia melihat sekelilingnya, kendaraan yang tadinya berhenti sekarang mulai berjalan. Raisa seperti dejavu!! Ia seperti pernah mengalami hal ini.
Sekelebat bayangan ia menggunakan gaun putih telah berlari sambil menangis. Lalu ia menyebrang ke sebuah jalan tanpa melihat sebuah mobil melaju kenjang ke arahnya. Ia pun terpental saat tertabrak mobil tersebut. Sejenak samar terlihat pria yang menabraknya bergegas turun dari mobilnya ke arahnya.
Raisa terdiam berusaha untuk mengingat lebih jauh. Namun nihil, justru kepalanya terasa sakit. Nafasnya mulai naik turun tak beraturan. Ia mengalihkan pandangannya ke selilingnya. Pandangannya mulai kabur.
Raisa merasakan di sekelilingnya mulai berputar-putar. Kepalanya bertambah sakit! Iapun terduduk sambil memegang kepalanya. matanya mulai berkunang-kunang. Matanya terasa berat untuk membuka. Raisa mulai tak sanggup untuk berdiri. Kepalanya bagaikan tertimpa benda yang sangat berat!
Raisa merasakan tubuhnya mulai berat. Kakinya sudah tak sanggup menopang badannya. Matanya semakin berat dan perlahan tertutup iapun mulai jatuh terkulai pingsan. Namun, seseorang menangkap tubuhnya dengan sigap.
"Raisa!! Kamu gak papa? Bangunlah!". Kevin menepuk nepuk pipi Raisa.
Kevin mulai panik ketika tidak ada jawaban dari Raisa, matanya masih tertutup rapat tidak sadarkan diri. Di letakkannya tangan kirinya di leher Raisa. Masih berdetak! Dengan sigap dibopongnya tubuh Raisa dan dibawanya ke mobil yang terparkir tak jauh dari mereka berada.
***"""