
Kevin membantu Raisa yang sedang berbenah untuk meninggalkan Rumah sakit. Ia melirik Raisa yang bergegas mengamb tas kecilnya ingin segera keluar dari rumah sakit.
"Kevin, terimakasih ya sudah membantuku dan membayarkan biaya rumah sakit. Kalau aku sudah punya uang banyak pasti akan aku ganti." Raisa menatap Kevin sambil tersenyum.
Kevin hanya tertawa kecil "Aku gak mau di bayar dengan uang".
Raisa menghentikan aktifitasnya lalu menatap Kevin. "Lalu?"
"Hm... Bagaimana kalau kamu traktir aku makan saja kalau sudah punya uang". Kevin tersenyum
"Hahaha... asal jangan yang mahal-mahal aku pasti mentraktirmu". Raisa tertawa.
"Hm... kamu yakin tidak mau aku antar sampai rumah sa?" Kevin mendekati Raisa.
Raisa menarik nafas panjang, Diantar? sebenarnya aku mau saja. aku masih lemas! Tapi aku masih ingat perjanjian dengan Revan kalau tidak boleh membiarkan orang tahu dia tinggal bersamanya.
"Gak usah Vin, terimakasih. Aku bisa sendiri kok pulang". Tolak Raisa dengan halus.
"Hm... sebenarnya aku kecewa kamu menolakku. Tapi ya sudahlah. Kabari aku kalau sudah sampai rumah ya. Tapi mana ponselmu. Aku belum punya no mu." Kevin menjulurkan telapak tangannya meminta ponsel Raisa.
"Hm... " Raisa sedikit ragu.
Apa boleh aku memberikan no ku ke orang lain?! Kevin akan marah tidak ya??
"Sa... masih tidak mau memberikan no hape mu? kamu masih mengira aku orang jahat ya". Kevin sok akting sedih.
"Eh... gak ... gak... Kamu bukan orang jahat kok. Malah baik banget." Raisa mengambil ponselnya dan membuka pasword layar ponselnya, Lalu ia menyerahkannya ke Kevin untuk.
Aku hanya memberikan no handpone saja kan? tidak melanggar perjanjian! aku tidak memberitahu apapun tentang Kevin padanya. Setidaknya aku mempunyai teman sekarang!
Kevin mengambil ponsel Raisa, ia memasukan no nya ke ponsel Raisa lalu menekan no handponenya untuk disimpan di kotak ponsel Raisa. Lalu ia menekan tombol untuk panggilan keluar, lalu handponenya berdering. Iapun langsung menyiman no Raisa di ponselnya. Kevin mengernyitkan dahi ketika melihat kotak no di ponsel Raisa. Hanya satu nama yang ada. Org Menyebalkan!!
"Sa, kenapa kamu cuma satu no yang tersimpan?" Tanya Kevin heran.
Raisa bergegas mengambil ponselnya sebelum Kevin menemukan hal lainnya. " Iya, ponselku yang dulu hilang. Ini baru dan baru satu yang tersimpan".
"O.... begitu...Ya sudah. Mari kita pulang. Aku antar kamu sampai mendapatkan taxi ya. Ingat! pastikan kamu menghubungi saat sampai rumah!". Kevin mengingatkan Raisa.
"Siap komandan!" Raisa menjawab sambil kedua tangannya memberikan hormat.
"Hahah... ada ada saja kamu". Kevin mengacak-acak rambut Raisa. Raisa hanya cemberut lalu merapikan rambutnya lagi
Kenapa semua pria yang aku temui aneh! Sama seperti Kevin hobinya mengacak rambutku terus!!
******
Raisa berdiri di depan pintu rumah Revan dengan ragu. Ia baru mengingat bahwa jam segini Revan pasti sudah berangkat kerja. Dan lupa bahwa ia tidak mengingat pasword rumahnya.
Aku masih tidak mengingat pasword rumah yang lama. Haduh...!!! bagaimana ini?? Masa aku tidak bisa masuk lagi??
Raisa mengambil ponsel dari tas kecilnya dengan ragu. Lalu ia menekan No ponsel Revan. Baru saja ia mau menekan tombol panggilan, sebuah suara mengagetkannya.
"Raisa!!!"
Raisa terkaget lalu membalikkan badan, terlihat Revan berdiri di belakangnya. Mukanya terlihat lelah. Berbagai pertanyaan hinggap di pikiran Raisa. Tiba-tiba dadanya terasa sakit membayangkan Revan berdua semalaman bersama Renata.
Mengapa dia di luar? Apa Revan tidak bekerja?Jadi dia baru pulang? Apa dia pergi dengan Renata dan baru kembali sekarang?! Mengapa mukanya terlihat lelah?? jadi mereka berdua semalaman!!
"Hm.. Revan? Mengapa di luar? Kamu baru datang? Kamu belum berangkat kerja?" Tanya Raisa ragu-ragu. Raisa memegang dadanya yang mulai terasa nyeri.
Revan menatap Raisa dengan kesal. Kenapa kamu seperti merasa tidak bersalah setelah menghilang semalaman?? Membuatku mencari kesana kesini?? Bahkan sampai aku cuti tidak bekerja karena untuk mencarimu dari semalam!! Dan sekarang kamu pulang seperti tidak terjadi apa-apa?!
"Dari mana saja kamu?" Tanya Revan marah tanpa menjawab pertanyaan Raisa.
"Aku tidak bisa masuk rumah kemarin. Jadi aku..." Jawab Raisa terputus karena Revan langsung menarik tangannya untuk masuk ke dalam rumah.
"Ayo masuk. Jelaskan di dalam". Revan manarik tangan Raisa dengan kesal.
"Revan lepaskan! Tanganku sakit!". Pekik Raisa berusaha melepaskan tangannya saat mereka sudah berada di dalam rumah.
Raisa memegang tangannya yang sakit akibat di cengkram Revan erat. Lalu ia melihat Revan sebal. Ia baru datang kenapa Kevin langsung memarahinya??
Berkeliaran tidak jelas?? Apa dia tahu kalau ia terbaring semalaman di rumah sakit!!
"Berkeliaran katamu?? Salah siapa? Kamu kan yang mengganti pasword rumah!". Raisa menatap Revan marah.
"Kemana saja kamu semalam? Kenapa menjawab telpku?!" Nada Revan mulai meninggi.
"O...Bukannya kamu yang tidak menjawab panggilanku duluan! Kamu asik dengan pacarmu sampai lupa pulang!". Raisa ikut menaikan nada bicaranya.
"Aku tidak pacaran!" Sahut Revan kesal.
Harusnya aku bisa bahagia karena bisa bertemu Renata. Gara-gara kamu kelayapan semalaman membuatku panik! Sampai aku lupa kalau hari itu aku harusnya mimpi indah karena saking bahagianya bertemu Renata.
"Lagipula apa pedulimu? Kamu sudah bersama pacarmu kan. Kamu juga tidak akan mencariku meskipun aku hilang!" Raisa melirik Revan kesal.
Kamu bersenang-senang dengan pacarmu dan menginap dengannya!! Lalu kenapa kamu marah aku tidak pulang? Bahkan aku tidak pulang karena sakit, bukan berkeliaran!!
"Ya!! Aku tidak akan peduli meskipun kamu menghilang!!". Jawab Revan menekankan nadanya. Ia memegang pundak Raisa dan menatapnya kesal.
Bagaimana wanita ini bisa bilang ia tidak peduli?? Ia bahkan mencarinya semalaman dan tidak tidur sampai saat ini? Raisa justru malah berkeliaran tidak jelas!
Raisa menundukkan pandangannya. Tiba-tiba dadanya terasa nyeri mendengar ucapan Revan. Mengapa ucapan Revan terasa menyakitkan saat ini?? Matanya mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba air matanya menetes membasahi pipinya.
Revan?? apa kamu benar-benar tidak memperdulikanku? Apa kamu benar-benar tidak peduli jika aku menghilang? Ya, siapa yang mau memperdulikanku? Gadis hilang ingatan yang tidak jelas asal usulnya!
"Raisa? Kamu menangis?" Revan melihat ke arah Raisa dilihatnya butiran air mata yang menetes ke arah pipinya. Raisa segera mengusap air mata di pipinya menyembunyikan tangisannya.
"Gak, aku gak menangis" Suara Raisa terdengar serak karena ia menahan tangisnya.
"Raisa...Jangan bohong! Kamu menangis kan?". Revan mendekati Raisa.
Kevin meraih dagu Raisa yang tertunduk dan menengadahkannya. Sekarang Revan bisa melihat jelas bahwa mata Raisa berkaca-kaca. Revan tiba-tiba merasa bersalah sudah memarahin Raisa. Padahal bukan sepenuhnya salah Raisa, ia juga bersalah!
"Raisa..Ssstt jangan marah. Maafkan aku... Aku marah karena aku khawatir". Revan mulai melembut.
"Aku tahu kok. Aku hanya gadis hilang ingatan tidak jelas asal usulnya. Wajar kalau kamu tidak peduli padaku". Raisa sesenggukan lalu ia beringsut ke lantai. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding dan menekuk kedua kakinya
"Sst... bukan karena itu Raisa!" Revan menenangkan Raisa. Ia semakin merasa bersalah.
"Apalagi? Kamu bahkan tidak peduli aku darimana". Raisa masih dengan suara parau.
"Aku peduli Raisa! Makanya aku menayakan". Sahut Kevin sambil ikut duduk di samping Raisa. Raisa hanya terdiam sambil menangis. Lalu ia melihat ke arah tangan Raisa yang terlihat bekas plester.
"Raisa, ini kenapa?". Revan meraih tangan Raisa dan melihatnya dengan seksama.
"Bukan urusanmu!" Raisa menarik tangannya kembali.
"Raisa!! Jawab aku! kamu dari mana?" Revan kembali menarik tangan Raisa dan menunjukannya ke arah Raisa.
"Apa pedulimu? ini bekas jarum infus dan suntikan! Aku pingsan di jalan dan semalaman di rumah sakit! Puas kamu?". Tangis Raisa pecah.
"Apa kamu pingsan di jalan? jadi semalam kamu di rumah sakit?" Revan terkejut.
"Iya..."
Jadi Raisa bukan berkeliaran?? Dia pingsan di jalan? Ia di rumah sakit dari kemarin? Jadi karena itu dia tidak menghubungiku lagi dan tidak bisa dihubungi??
Revan meremas kepalanya frustasi. Ia merasa bersalah dengan Raisa. Ia yang meninggalkannya pergi dengan Renata! Ia juga yang mengabaikan panggilan dari Raisa! Tetapi ketika Raisa pulang ia langsung memarahinya sampai ia menangis begini? Padahal Raisa baru saja keluar dari rumah sakit!!
"Maafkan aku Raisa, Aku tidak tahu kamu sakit.." Revan meraih kepala Raisa dan memeluknya dadanya berusaha untuk menenangkannya.
Raisa hanya menangis sejadi-jadinya di pelukan Revan. Sakit kepalanya belum seberapa jika dibandingkan dengan perkataan Revan tadi. Namun pelukan Revan terasanya hangat. Membuatnya sedikit lebih nyaman.
"Sst... sudah ya... maafkan aku. Jangan nangis lagi. Aku janji tidak akan meninggalkanmu sendirian lagi!". Revan menepuk nepuk kepala Raisa dengan lembut.
Raisa menatap wajah Revan, terlihat kesungguhan di wajahnya. Maafkan aku juga Revan, aku yang harusnya tahu diri karena sudah menganggu hidupmu. Harusnya aku tidak sakit hati melihatmu pergi dengan Renata semalaman! Harusnya aku tidak sakit hati saat kamu bilang tidak akan peduli meski aku menghilang!