
"Van! Tunggu donk!" Sebuah suara mengagetkan Revan yang saat itu hendak beranjak pulang dari kantornya. Revan melirik sesosok pria yang sedang berjalan ke arahnya.
"O... Kevin! Udah balik dari Paris?" Revan terkejut sekaligus gembira.
"Hahaha... udahlah. Seminggu yang lalu. Kamu sih sibuk banget gak pernah up to date" Sahut Kevin. Revan hanya tertawa sambil memeluk Kevin senang.
"Iya aku sibuk nih" Revan tertawa.
"Selamat ya atas jabatan barunya ya pak manager. Kapan pesta perayaannya" Kevin bercanda sambil melihat-lihat ruangan baru Revan.
"Wah, wakil direktur kita ini berlebihan" Balas Revan. Kevin hanya tertawa lepas.
Revan melihat Kevin senang. Sudah hampir beberapa bulan ia tidak melihat Kevin karena Kevin ada proyek di Paris. Kevin merupakan sahabat sekaligus bosnya. Ia adalah putra dari direktur di perusahaannya. Kevin tak seperti konglomerat kaya lainnya yang suka menggunakan kekuasaannya. Meskipun dia adalah putra dari direktur ia memulai semua usaha dari nol.
Kevin dan Revan bertemu saat mereka menjadi pegawai baru di perusahaan. Saat itu baik Revan ataupun semua pegawai di kantor tidak satupun orang yang mengetahui bahwa Kevin adalah putra pak direktur. Dalam suatu waktu Kevin dan Revan bekerja bersama dan tergabung dalam satu tim dalm proyek. Karena mereka sama-sama bekerja keras dan memiliki pola pikir yang sama membuat Kevin dan Revan menjadi dekat. Mereka akhirnya tak sekedar teman dalam bekerja sekaligus teman nongkrong. Kevin orang yang humble dan menyenangkan. Membuat mereka menjadi lebih dekat seperti saudara.
Kevin dan Revan selalu suport satu sama lain. Baik itu pekerjaan maupun kehidupan pribadi mereka. Setahun yang lalu ada kabar mengejutkan dari kantor mereka, pak direktur sakit sehingga tidak dapat maksimal berada di kantor. Dalam kondisi seperti itu, akhirnya pak direktur mengumumkan wakil direktur yang baru yang merupakan penerus perusahaan berikutnya. Siapa lagi kalau bukan Kevin.
Awalnya Revan shock mendengarnya, ia tak pernah menyangka sahabat dan rekan seperjuangannya merupakan anak dari direktur. Siapa yang akan menyangka, dengan sikap Kevin yang santai dan tidak pernah pilih pekerjaan baik sekecil apapun adalah seorang anak direktur. Revan awal mulanya menjaga jarak berusaha menghormati Kevin sebagai atasannya. Namun Kevin tidak pernah berubah, Kevin menyakinkan Revan bahwa terlepas dari anak direktur ia tetaplah seorang Kevin yang seperti ia kenal. Dan begitulah persahabatan mereka sampai sekarang. Mungkin bisa dibilang mereka saudara tak sedarah. Kevin lebih sering tidur di apartemennya daripada pulang ke rumah ketika ada masalah.
"Hei bro, lama gak ketemu. Nongkrong-nongkrong lagi yuk," Kevin mengapit lengan Revan.
"Nongkrong apa nemenin kamu godain cewek?!" Sindir Revan. Kevin hanya tertawa tak peduli. Revan menghela nafas melihat sahabatnya. Semua tentang Kevin sempurna! Kecuali satu! Playboy!
"Yah, gak papalah. Kamu kan tahu prinsipku selama belum ada istri aku bebas berkelana mencari yang terbaik" Sahut Kevin bangga.
"Ya tapi kamu udah waktunya menikah! Cari yang seriuslah!" Tegur Revan
"Kamu juga sudah waktunya nikah. Gak nikah-nikah juga. Eh...udah si Renata udah jadi kamu lamar belum?" Tanya Kevin penasaran.
"Belum " Jawab Revan singkat.
"Lho kok belum? Kan kamu yang bilang kalau sudah jadi manager punya rumah punya duit mau nglamar tu model." Kevin duduk di depan Revan sambil penasaran dengan sahabatnya itu.
Revan hanya menghela nafas berat, Yah seharusnya memang sudah ia lamar saat itu. Namun karena ada kecelakaan, Raisa hilang ingatan dan bahkan sekarang tinggal bersamanya membuat persoalan semakin rumit. Seharusnya memang ia menolong dan melaporkan kejadian ke polisi saja. Raisa tidak perlu tinggal dengannya.
"Ada beberapa hal yang manjadi semakin rumit" Jawab Revan berat.
"Tapi hubungan kalian baik-baik kan? Masih friendzonekah?" Tanya Kevin hati hati.
"Ya kami baik-baik aja sih. Ya sebenarnya tinggal melamar cuma..." Ucap Revan terputus. Ia ragu ingin menceritakan tentang Raisa.
"Cuma apa?" Kevin semakin penasaran
"Ah gak papa. Cuma belum ada waktu pas untuk melamar. Ngomong-ngomong pacar kamu yang hm... siapa namanya? Audy? ceryl? Atau siapa itu yang terkahir kamu pacarin?" Revan mengalihkan pembicaraan.
"Oh, si Natasya. Hm... masih sih tapi aku kayaknya mau putus aja. Habis dia membosankan. Shoping terus kerjaannya. Males aku ama cewek matre." Jawab Kevin.
"Ya makanya gak usah cari cewek aneh-aneh. Cari yang bener di seriusin" Omel Revan.
"Siap komandan " Kevin tersenyum sambil membayangkan sesosok gadis yang ia temui kemarin. Gadis yang tampak cantik meskipun tanpa make up. Gadis yang aneh karena membawa tentengan belanja banyak tapi saat jatuh dia tidak menghiraukan. Gadis yang tampak lemah tapi ia berusaha kuat. Gadis lain selalu mendekatinya dan meminta no hapenya saat mereka tahu ia seorang konglomerat, gadis lain akan langsung mencari cara untuk dapat dekat degannya. Tapi Gadis itu berbeda, ia bahkan bahkan menolak saat Kevin meminta no hapenya.
"Gak papa" Jawab Kevin sambil tersenyum.
*****
Revan menghentikan mobilnya ketika ia melintas di sebuah toko ponsel. Ia teringat kejadian kemarin saat Raisa hilang. Ia tidak dapat menemukannya dalam waktu lama. Revan membuka pintu mobilnya dengan ragu.
"Apa aku gak terlalu baik membelikan dia ponsel ya?" Tanyanya ragu. Namun ia tetap melangkah menuju toko dan membeli satu box ponsel.
Revan tersenyum membayangkan Raisa yang pasti akan kesenangan ia belikan ponsel. Raisa memang beberapa kali mengeluhkan ingin punya ponsel. Ia teringat kejadian beberapa waktu lalu.
#flashback#
"Revan, beliin aku hape donk" Rengek Raisa beberapa waktu lalu
"Kenapa? Kan ada telp rumah?" Ujar Revan sambil menunjuk telepon rumah yang terletak di meja dekat Tv.
"Ponsel itu gak bisa buat pesan makanan" Keluhnya
"Makanan?!" Revan heran mendengarnya
"Iya. Makanan. Sama kayak kamu kemarin mesenin aku makan?Kan enak tinggal klik datang deh tanpa aku repot masak" Jelas Raisa.
Revan hanya geleng-geleng kepala kesal. Mengapa hanya makan yang ada di otak Raisa. Alasan yang tidak masuk akal!
"Gak. Pokoknya gak!" Sahut Revan
Raisa hanya mendelik kesal. "Dasar pelit!"
#flashback end#
Revan menghentikan mobilnya ketika sudah sampai di depan rumahnya. Ia meraih handpone yang baru saja ia beli. Revan memasukan no nya ke ponsel Raisa dan no ponsel Raisa ke ponselnya. Langkah revan terhenti saat melihat notifikasi pesan di handponenya. Notifikasi belanja kemarin.
Trx Rek. 1748926: Pembayaran Kartu no 529 sebesar Rp. 6.500,000
Revan melotot melihat nominal rupiah di hapenya.
"6.500.00 ?? Apa saja yang ia beli bisa sebanyak ini?? Dia mau membuatku bangkrut???" Revan membuka pintu rumah dengan kesal. Ia mulai mencari-cari dimana Raisa.
"Raisaaa!!!!!!!"
****
Terimakasih bagi yang sudah membaca novelku.
Dukung selalu karyaku dengan memasukan ke novel ini ke favorit kalian ya. Supaya bisa up date terus kelanjutannya.
Lalu jangan jangan lupa vote tiap episodenya dan tinggalkan jejak komentarnya ya...