
Revan memutar langkahnya kembali, namun langkahnya terhenti. Ia melihat Raisa keluar dari ruangan tersebut sambil terpogoh-pogoh. Ia berlari menuju ke kamar mandi. Revan menghentikan langkahnya dan segera mengikuti Raisa yang menuju ke kamar mandi. Revan menunggunya di depan toilet kamar mandi perempuan.
Kenapa malah aku kesini?? mengikutinya? namun aku penasaran dengan hubungan mereka.
Tak lama kemudian, Raisa keluar. Revan segera menarik tangan Raisa.
"Aww.. Siapa kamu. Lepaskan!" pekik Raisa.
"Stt! Jangan berteriak, ini aku. Revan," ujar Revan sambil memperlihatkan wajahnya.
"Revan??" Raisa keheranan.
"Iya, sebenarnya apa yang kamu lakukan disini? Kalian tidak sedang berkencan di belakangku kan?" tanya Revan penasaran
"Kencan?! Tentu tidak! Aku hanya menemani Kevin untuk pergi ke pesta temannya. Baju, sepatu ini dia yang memberikannya padaku. Jadi aku tinggal berangkat," jelas Raisa.
"Aku pikir kalian sedang___" terang Revan terputus.
"Sedang apa? Berkencan? di hotel? Apa kamu gila? ," sahut Raisa, lalu ia memandangi Revan dari atas sampai bawah. "Kamu tidak sedang mengikuti kami karena penasaran kan?"
"Mengikutimu?! hahaha, yang benar saja! aku ke sini karena ada sesuatu ada urusan pekerjaan aku mau bertemu dengan temanku," jawab Revan berbohong.
"Urusan pekerjaan dengan pakaian seperti ini?." Raisa melirik Revan penuh selidik.
"Memangnya ada apa dengan pakaian seperti ini?," tanya Revan balik.
"Ya aneh saja kamu bertemu klien dengan baju ini?" Raisa menatap Revan dari atas ke bawah. Bukankah bertemu klien harus rapi??
"Ini kan hari Minggu aku bebas make apapun yang aku mau. Lagipula ini sedang tidak di kantor kan?" Revan mencari alasan
"Terserah lah kalau begitu. Baiklah, aku harus masuk kedalam. Kevin sudah menunggu," ujar Raisa sambil masuk ke dalam ruangan.
Revan hendak mengikuti Raisa, namun langkahnya terhenti saat dua penjaga pintu menghentikannya, tidak mengijinkan nya untuk masuk.
"Maaf, tuan apa anda mempunyai undangan untuk masuk ke dalam?" tanya kedua penjaga itu kalau tidak mempunyai undangan anda tidak boleh masuk.
"Tetapi wanita yang baru saja masuk itu adalah teman saya," ucap Revan sambil menuju ke arah dalam.
"Mohon maaf, tapi kalau anda tidak bersama dengan orang yang membawa undangan. Anda tidak diperbolehkan untuk masuk. maafkan kami, tetapi begitulah peraturannya," jawab penjaga dengan nada menyesal.
"Biarkan dia masuk! dia bersama saya." Sebuah suara mengagetkan mereka. Revan menoleh ke arah suara tersebut. Renata sambil memperlihatkan undangannya ke arah mereka.
Renata menatap Revan dari ujung atas sampai ujung kaki dengan rasa penasaran penuh tanda tanya.
Bukankah, kak Revan mengatakan dia sibuk? lalu apa yang ia lakukan di sini dengan baju seperti ini di pesta ini?
"Renata, apa yang kau lakukan di sini?," tanya Revan seraya menghampiri Raisa.
Ya Tuhan, kenapa di saat seperti ini. Aku selalu bertemu harus dengan Renata??
"Seharusnya itu yang kutanyakan kak!." Renata menatap Revan tajam.
Revan segera menarik Renata pergi dan membawanya ke restoran hotel. Renata dan Revan saat ini duduk di sebuah kursi di restoran di hotel mereka terdiam sesaat.
"Aku disini untuk bertemu dengan salah satu temanku," ucap Revan berbohong.
Renata hanya menatap Revan namun, ia hanya terdiam. Ia tahu bahwa Revan sedang berbohong saat ini padanya.
"aku tidak berbohong Renata," ucap Revan kembali untuk menegaskan
"Kak Revan, sudahlah! jangan berbohong lagi! Aku sudah mengenalmu lama. Semakin Kakak menegaskan, semakin Kakak terlihat bahwa Kakak sedang berbohong saat ini", Renata menatap Revan kesal. Ia memang sudah merasa aneh dengan sikan Revan. Ia tampak membunyikan sesuatu, bahkan sekarang ia berbohong!
"Kenapa kamu semakin pintar untuk berbohong? aku tahu saat ini Kakak sedang berbohong padaku", ucap Renata kembali menegaskan.
"Tapi Renata aku___"ucap Revan terputus.
"Aku kecewa denganmu kak!" Putus Renata.
"Renata, dengarkan dulu aku bicara," Revan memohon.
"Kak Revan, aku pikir hubungan kita sudah cukup dekat untuk saling berbagi. Kenapa kakak seperti merahasiakan sesuatu?! Aku kecewa denganmu," cecar Renata.
"Maafkan aku Re, aku tidak bermaksud merahasiakan apapun darimu." Revan menyesal sambil memegang tangan Renata.
"Semenjak menjadi manager. Kakak berubah! Tampaknya jabatan yang tinggi telah membuatmu berubah. Kau bahkan sekarang mulai berbohong terus!.” Renata melepaskan tangan Revan dan menatap Revan tajam.
Revan mengalihkan pandangannya dari Renata. Ia sungguh tak bisa melihat amarah Renata.
"Ow... bahkan kakak sekarang tidak mau menatapku?," tanya Renata merasa kecewa mengira Revan membuang muka padanya.
“Bukan begitu Renata, kau salah paham. Aku ___” Ucapan Revan terputus
“Salah paham bagaimana aku sudah melihat tingkah kakak yang aneh. Saat kita bertemu kemarin, kakak tidak sendirian kan? kakak menyembunyikan sesuatu dariku?." Renata masih menatap Revan mencari kebenaran.
"Maafkan aku, aku berbohong. Aku menyembunyikan sesuatu," jawab Revan lemah.
"Jadi kakak benar tidak sendirian kemarin?," tanya Renata dengan nada kecewa.
"Maafkan aku, aku belum bisa menceritakannya saat ini padamu?" Revan berusaha untuk menyakinkan Renata.
"Hahhha...." Renata tertawa getir, " jadi itu benar? kakak tidak sendirian kan? kakak sudah mempunyai seseorang kan?"
"Bukan begitu Renata," tukas Revan.
"Seharusnya aku sadar diri ya kak. Hubungan kita hanya pertemanan. Tidak seharusnya aku marah bukan?" tanya Renata dengan getir.
"Renata jangan salah paham." Revan meraih tangan Renata.
"Aku seharusnya sadar dari dulu, kakak pergi seorang diri itu tidak mungkin. Pasti sedang bersamanya kan? Maafkan aku, menganggu kencan kalian kemarin." Renata melepaskan tangan Revan, lalu menunduk menahan air matanya.
"Renata, tolong percaya padaku. Bukan itu maksudku. Aku memang berbohong padamu. Tapi aku tidak berkencan," jawab Revan sambil memegang dagu Renata menatap dalam-dalam wajahnya.
"Kak Revan, maafkan aku. Kami pasti belum berkencan karena merasa tidak enak denganku kan? Maafkan aku terlalu berharap padamu. Maafkan aku yang salah dengan hubungan kita. Merasa kakak menyukaiku," suara Renata terdengar sendu.
"Sst... jangan berkata seperti itu. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan". Revan masih menatap Renata.
"Kak, tolong jangan tatap aku seperti itu. Aku bisa salah paham. Aku tahu hubungan kita hanya sebuah persahabatan," Renata kembali memalingkan wajahnya.
"Renata, aku ____" ucapan Revan terputus.
"Sudah kak, jangan berkata apa apa lagi. Aku cukup tahu diri. Berkencanlah sesukanya. Aku tidak akan menganggumu lagi." Renata beranjak pergi.
"Mau kemana?" Revan memegang tangan Renata. Menahannya untuk pergi. Renta hendak melepaskan tangan Revan, namun Revan menariknya ke dalam pelukannya.
"Percayalah padaku Renata, aku akan menjelaskannya nanti," Revan berusaha untuk menenangkannya, "akan ada saatnya aku akan menjelaskannya padamu"
Renata melepaskan pelukannya. "sampai saat itu tiba, sebaiknya kita tidak usah bertemu kak"
Renata lalu beranjak pergi meninggalkan Revan seorang diri. Revan hanya termangu seorang diri.
"Sial!!," umpatnya kesal.