
Raisa berjalan menuju ke dapur sambil melirik Revan yang sedari tadi terdiam sambil melihat TV. Pandangan Revan hanya fokus pada tanyangan TV. Ia bahkan tidak menoleh sedikitpun saat Raisa melewatinya.
"Aku buat teh. kamu mau?" Raisa memberanikan diri memecah kesunyian.
"Gak"
" Aku buat roti. Kamu mau?" Tanya Raisa sambil mengambil beberapa roti dan selai di pantri dapur.
"Gak"
"Mau makann apa?" Tanya Raisa masih berusaha sabar.
"Gak! aku mau makan di luar saja" Jawab Revan singkat.
Raisa mendengus kesal mendengar jawaban Revan yang singkat dan tidak mengenakan. Semenjak kejadian ia sakit yang tanpa sengaja mereka tidur bersama dalam satu ranjang, suasana menjadi semakin aneh. Revan yang biasanya bawel, jahil, jahat kepadanya hanya terdiam di rumah. Ia bahkan tak menegur sapa Raisa. Memangnya salah siapa mereka tidur bersama?! Bukan tidur bersama! Lebih tepatnya berbaring bersama. Karena meraka tidak melakukan apapun yang aneh-aneh.
Memangnya ini salahku? sampai Revan mendiamkanku seperti ini. Lagipula kita kan gak ngapa-ngapain. Aku kan sakit mana mungkin aku berbuat macam-macam padanya. Lagipula harusnya aku yang marah dia tiba-tiba berada di ranjang saat aku bangun!
Raisa mengoleskan selai dalam rotinya dengan kasar. Ia tidak suka dengan hawa aneh yang ia rasakan di rumah saat ini. Raisapun menatap rotinya yang telah siap santap di piring. Ia lalu membawanya ke meja makan dan duduk di mejanya. Raisa memotong-motong Rotinya dengan kasar, ia mendengus kesal sambil melirik Revan.
Revan melirik Raisa sepintas dengan perasaan tidak nyaman. Ia kemudian menghela nafas berat. Iapun teringat kejadian kemarin dimana saat ia terbangun wajah Raisa yang ia temui. Semenjak kejadian itu, entah kenapa setiap ia berhadapan dengan Raisa bayangan itu yang selalu muncul.
Revan seorang pria baik-baik, yang tidak pernah tidur dengan cewek manapun. Ia selalu menjaga cintanya kepada Renata. Namun saat ini, ia merasa aneh karena sudah bersama Raisa malam itu. Ia tak tahu apa yang ia rasakan saat ini, antara kesal, aneh, dan ia menjadi lebih gugup ketika melihat Raisa. Wajah mereka terlalu dekat saat itu. Akan tidak mudah baginya untuk berhadapan dengan Raisa saat ini. Sangat aneh dan canggung. Mengabaikan Raisa merupakan hal terbaik saat ini.
Revan berdiri dan hendak berbalik untuk bersiap-siap untuk tidur. Namun saat itu pula Raisa menuju ke arahnya.
Bruk...Revan dan Raisa bertabrakan tanpa sengaja. Revan menatap Raisa, rasa canggung itu kembali lagi.
"Maaf.. maaf... " Ucap Revan canggung. Ia pun bergeser ke kiri. Namun langkahnya terhenti juga tatkala Raisa spontan bergeser ke kiri bersamaan.
"Duh maaf," Ganti Raisa meminta maaf. Iapun bergeser namun lagi-lagi Revan juga bergeser sehingga mereka bertemu lagi.
"Gimana sih Sa, maunya kamu lewat mana?" Revan mulai kesal.
"Ya kamu kan yang jalan gak jelas" Timpal Raisa.
"Ya sudah aku diem kamu lewat duluan" Jelas Revan. Revan tidak mau berdebat karena bisa panjang jalannya jika berdebat dengan Raisa. Ia harus menjaga jarak dengan Raisa saat ini.
Raisapun tersenyum penuh kemenangan. Lalu ia berjalan berbalik arah namun karena tergesa-gesa ia pun kehilangan keseimbangan dan mulai oleng terjatuh.
Hap...
Revan yang melihat Raisa nyaris terjatuh dengan sigap segera menangkap Raisa supaya tidak terjatuh. Raisapun sekarang setengah terjatuh, sementara badannya tertahan oleh lengan Revan. Raisa mengerdipkan mata melihat Revan lekat. Saat ini mereka sedang dalam posisi yang tidak mengenakan. Terlalu dekat!!
Raisa bisa mendengar detak jantung Revan, hembusan nafasnya. Mata mereka beradu, sejenak mereka tertegun satu sama lain. Revan dan Raisa menelan ludah gugup. Revan yang mulai tersadar dan gugup langsung melepaskan tubuh Raisa begitu saja.
"Auw..." Pekik Raisa kesakitan saat Revan melepaskannya dan ia terjatuh.
"Maaf aku reflek melepaskan" Revan menyesal lalu mengulurkan tangan membantu Raisa berdiri
"Gak usah bantuin. Nanti kamu jatuhkan lagi. Kamu sengaja ya! Menyebalkan" Grutu Raisa sambil menepis uluran tangan Revan.
"Aku kan gak sengaja. Aku tadinya mau menolongmu supaya tidak terjatuh" Jelas Revan sambil menarik uluran tangannya.
"Kamu cuma mengerjaiku kan. Menolong trus dijatuhkan!" Runtuk Raisa kesal sambil memijat bahunya yang agak sakit.
"Serius aku tadinya mau menolongmu" Revan mulai ngotot.
"Kalau menolong kenapa malah dilepaskan?
Sakit tahu!" Raisa kesal.
"Karena..." Ucap Revan terpotong. Sekilas wajah Raisa yang terlihat jelas dari dekat terlihat di pikirannya. Posisi yang tidak mengenakkan.
"karena apa? gak bisa jawab kan. Jelas-jelas kamu sengaja" Raisa berkacak pinggang kesal.
"Karena kamu gendut. Berat!" Jawab Revan asal.
"Iya. Kamu terlalu banyak makan. Makanya gendut dan berat." Tambah Revan
"Bohong! aku gak gendut!" Raisa tidak terima. Berat badan adalah hal sensitif bagi wanita. Hal yang harus tidak dibicarakan? Kenapa Revan malah mengataiku gendut! Ia pasti sengaja mengejekku.
"Sebaiknya mulai besok kamu diet" Ujar Revan. maaf ya sa. aku gak punya alasan lain untuk menjawab pertanyaanmu.
Raisa melirik sekelilingnya dengan kesal. Lalu ia mengambil bantal sofa dan melemparkan ke muka Revan. "Dasar menyebalkan!!"
"aw... awas kamu ya! " Revan mengambil bantal sofa yang mengenainya. Kemudian ia lempar balik ke Raisa.
Akhirnya aksi lempar melemparpun terjadi sambil beradu argumen di antara mereka. Suasana yang awalnya canggung berubah menjadi adu mulut. Namun..tiba-tiba...
Ting... Tong...Terdengat Bel rumah berbunyi
Revan dan Raisa berhenti sejenak. Mereka saling pandang lalu menoleh ke arah pintu.
"Belnya berbunyi!"
"Iya aku tahu. Tapi siapa? Aku gak merasa janji dengan siapapun hari ini?" Guman Revan.
"Lalu siapa?" Raisa penasaran. Ia sedikit gugup takut ketahuan.
"Sebentar aku lihat dulu. Mungkin tukang koran atau apa" Sahut Revan sambil beranjak menuju ke pintu.
"Siapa?" Tanya Revan sambil mengintip di lubang pintu.
"Aku. Aku baru bete. Aku mau main. Bukain pintunya cepetan!" Teriak suara dari seberang
Revan terbelalak melihat seseorang yang ia kenal berdiri di depan pintunya. Lalu ia menoleh ke arah Raisa yang masih cemas menunggu instruksinya.
"Tunggu! Aku baru mandi belum pakai baju. Tunggu ya!" Sahut Revan sambil bergegas melangkah menuju Raisa.
"Siapa?" Tanya Raisa penasaran.
"Teman"
"Teman? Siapa? Gimana ini?Aku harus bagaiman?" Tanya Raisa kelabakan. Ia teringat perjanjian mereka yang menyuruh Raisa jangan sampai ketahuan siapapun.
"Kamu harus sembunyi" Tegas Revan
Raisa bergegas menuju ke kemarnya yang terletak di lantai bawah. Revan teringat kamar Raisa beresiko. Kevin biasa slonongan kesana.
Revan memutar akal lalu ia mendekati Raisa dan menariknya mencegahnya untuk memasuki rumah. Raisa hanya menatapnya heran. " Jangan di kamarmu!"
"Kenapa?"
"Temanku suka tidur disana." Terang Revan
"Lalu aku sembunyi dimana?" Tanya Raisa panik.
"Ikut aku. Kamu sembunyi di kamarku saja" Revan menarik Raisa dan mendorongnya agar bergegas naik ke lantai atas menuju kamar Revan. Revan membuka pintu kamar dan menyuruh Raisa segera masuk
"Dengar ya Sa. Temanku ini suka main lama. Aku akan berusaha menahannya supaya tetap di bawah. Kamu jangan kemana-mana. Tutup pintunya dan sembunyi disini. Jangan keluar dari kamar sebelum aku memanggilmu" Tegas Revan.
"Iya aku mengerti" Raisa mengangguk menurut.
"Oke tutup pintunya! aku ke bawah dulu ya. Ingat, jangan keluar!" Pesan Revan lagi.
"Iya iya aku sembu bunyi!" Raisa kesal lalu menutup pintunya.
Raisa mendengar derap langkah Revan semakin jauh. Ia lalu berbalik melihat kamar Revan. Revan tak pernah mengijikannya masuk ke kamarnya. Sekarang ia di kamarnya!
Raisa menghela nafas kesal. Ia lalu meringkuk di belakang pintu. Sembunyi? Mengapa aku harus sembunyi seperti ini? Seperti orang bodoh saja. Apa salahku hingga harus bersembunyi? Aku hanya gadis yang hilang ingatan yang tidak punya siapapun.
Raisa melirik pintu dan membayangkan saat Revan meninggalkannya di mall. Pasti cewek yang itu lagi yang datang.