LBA

LBA
Tertunda lagi



Revan menghentikan mobilnya di sebuah parkiran mobil di suatu kawasan pantai. Di tatapnya Renata yang tertidur di kursi sampingnya dengan lembut. Hari ini mereka benar-benar piknik! Akhirnya setelah sekian lama mereka ada jarak sekarang mereka punya quality time.


"Maafkan aku Renata. Kamu pasti lelah menungguku. Bersabarlah, aku pasti akan melamarmu. " Bisiknya sambil menyingkirkan rambut Renata yang menutupi paras cantiknya.


"hm..."


Renata mengerjab-ngerjabkan mata lalu ia membuka matanya perlahan. Revan egera menyingkirkan tangannya takut Renata tersadar dan marah.


"hm...Kak. Dimana kita? Sudah sampai? Maaf, aku tertidur saat dijalan." Ujar Renata sambil memandang sekelilingnya.


"Ya, Kau tidur pulas sekali. Kamu pasti lelah ya. Maaf ya aku malah mencari tempat yang jauh."Sesal Revan. Ia memang mencari sebuah pantai yang jauh dari keramaian dan tentunya lokasinya jauh dari rumah mereka dan tentunya memakan waktu lama untuk sampai di pantai ini.


"Kak Revan tu lho..jangan berkata seperti itu. Bukannya dulu kita juga serung traveling seperti ini? Bahkan kita pernah pergi lebih jauh karena ada kakak senior yang mengejarku selalu menunggu di sekolah dan kita akhirnya berakhir kita malah main di pantai." Renata tersenyum manis.


Revan tersenyum lalu ia membayangkan masa masa remajanya. Dulu Renata merupakan primadona di sekolah. Sedang ia hanyalah lelaki biasa yang terlalu penakut untuk menyatakan cinta. Saat itu ia memang takut akan persahabatan mereka rusak karena cinta dan merasa belum sepadan dengan Renata. Banyak pria yang mengejar Renata, namun ia tahu Renata tak pernah menerima salah satu di antara mereka. Saat Renata enggan berhadapan dengan pria yang mengejarnya, ia selalu mendatangi Revan untuk membawanya pergi.


Revan melirik ke kaca spion dan memandang dirinya. Sekarang sudah merupakan pria dewasa, dan mapan. Terlalu lama ia memendam cinta kepada Renata. Sekarang ia bukan pecundang. Ia sekarang pria tampan yang mapan yang bahkan hanya dengan sekali kedip bisa membuat wanita manapun terpesona padanya.


Revan menatap Renata lekat. Ia yakin Renata juga menyukainya dan Renata tahu kalau Revan juga menyukainya tampa mereka membicarakan hal ini. Bagaimana mungkin tidak seorang wanita dengan setia menemaninya dan menyemangatinya dari nol sampai sekarang tampa pernah berpaling darinya. Renata juga tidak pernah menjalin cinta dengan pria manapun. Hanya Revan yang sedekat ini dengan Renata. Jelas Renata menaruh hati padanya dan menunggunya. Itu jelas sekali terbaca di gerak geriknya dan raut wajahnya.


"Kak Revan!! Lihat pantai itu indah sekali. Anginnya segar sekali.!" Renata menyembulkan tangan dan kepalanya keluar jendela mobil. Ia menikmati hembusan angin yang mengenai muka dan tangannya.


Revan mengepalkan tangannya bersemangat. Ini adalah saat yang tepat untuk menyatakan cintanya. Tapi bagaimana dengan cincinya?? Karena tergesa-gesa ia bahkan lupa dengan cincinya. Tapi kapan lagi ia punya kesempatan ini! cincin bisa ia susulkan untuk diberikan kepada Renata besok.


Fighting Revan!! batinnya dengan bersemangat.


Renata menoleh heran dengan ulah Revan yang tiba-tiba bicara bersemangat. "Kak Revan gak papa?"


"ah... haha..Tidak apa-apa. Aku bersemangat melihat pantai." Revan menggaruk garuk kepalanya malu.


Renata hanya tersenyum. "ada yang ingin kakak katakan padaku?"


Revan menatap Renata dengan muka serius. Ini saatnya! Jangan sampai terlewat. "Renata sebenarnya aku..."


Titt...Tittt...Tiiitt...


Ucapan Revan terputus saat ponselnya berdering kencang. Revan bersungut sambil mengambil ponsel pada sakunya. Dilihatnya layar kaca ponselnya. Tertera nama Raisa disana. Ya tuhan!! Ia lupa Raisa!! Apa ia tidak mengingat pasword lama rumah ?!


"Siapa kak?" Tanya Renata heran melihat Revan hanya memandang ponselnya.


Revan menatap ganti Renata lalu ponselnya. Ia ragu untuk menjawab panggilan dari Raisa. "Hm... Ini dari kantor. Biasa pekerjaan"


Renata hanya menghela nafas berat. "Ini hari minggu kak, mengapa masih saja memikirkan pekerjaan?"


"Hm..." Revan ragu untuk mengangkatnya.


"Gini aja... daripada kak Revan ragu, mending matikan saja. Bisa dilihat lagi nanti. Lagian ini kan hari minggu kak." Renata mengambil ponsel Revan lalu memencet tombol power off. Selang beberapa detik Ponsel Revan dalam kondisi mati.


Revan hanya menatap nanar ponselnya yang sudah mati. Maaf ya Raisa, saat ini memang Renata prioritasnya!


"Udah yuk kak! Ayo kita ke pantai. Masak kita hanya duduk saja disini" Renata membuka pintu mobil dengan gembira.


Revan menatap Renata yang tersenyum gembira. Ia pun segera membuka pintu mobil dan menyusul Renata. Mereka berjalan berdua menuju ke pantai. Renata lalu melepaskan sepatu flatnya dan lalu ia menginjakkan kaki telanjangnya ke pasir. Revanpun segera mengikutinya. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berdua dengan Renata!


"Renata! Main ombak yuk!" Ajak Revan sambil meraih tangan Renata dan membawanya ke tepi pantai.


"Ayo!!" Renata mengikuti Revan ke tepi pantai.


Renata mengedarkan pandangannya ke atas. "Layangan?! Gak ada kak? Mana..?"


"Hahhha.... Kena tipu!" Canda Revan.


"Ow... Jadi sekarang kak Revan main tipu-tipuan sama aku. Awas ya... Rasakan ini!" Renata kesal lalu ia menyipratkan air ke muka Revan.


"Aduh...Aduh... Ampun...Aw... kena mataku. perih!" Revan terdiam sambil memegang matanya.


"Perih?! Mana kak, coba aku lihat?" Renata merasa bersalah. Ia lalu mendekat ke arah Revan.


Revan melirik Renata yang mendekat sambil terseyum jahil. Saat Renata mendekat dan mencoba melihat matanya. Ia bergegas menggotong tubuh Renata dan langsung menghempaskankan badan Renata ke air dengan pelan.


"Kak Revan!!" Renata spontan berteriak saat ia terjatuh di air dan terkena ombak kecil.


"Hahhaha...." Revan terbahak-bahak.


"Kak Revan jahat!! Aku jadi basah semua!" Teriak Renata pura-pura kesal.


"Satu kosong!" Ejek Revan.


"O... jadi begitu ya... Awas ya pembalasanku!" Renata bersengut kesal sambil berdiri. Lalu mendekati Revan dan langsung menariknya jatuh ke air pantai.


Revan spontan langsung oleng dan jatuh. Semua badannya basah kuyup. "Renata... aku jadi ikutan basah!"


"Hahaha... Satu sama!" Renata tertawa gembira sambil menunjukan jari tulunjuk kiri dan kanannya. Ia segera berlari menjauh dari Revan takut Revan akan membalasnya lagi.


"Awas ya kamu Renata!" Revan mengejar Renata yang berlari ke tepi pantai seberangnya.


Renata dengan gesit berlari menghindari Revan sambil tertawa. Revan ikutan tertawa terbahak bahak. Melihat senyum bahagia di wajah Renata membuatnya ikut bahagia. Ia rela melakukan apapun untuk Renata. Moment yang indah ini sangat langka mereka dapatkan. Sudah dua bulan ia tidak bersama Renata seperti ini karena kesibukan masing-masing.


Beberapa jam mereka berlarian dan bermain ombak dan saling menyipratkan air sambil tertawa bahagia. Renata dan Revanpun akhirnya lelah. Renata duduk sambil meluruskan kakinya yang lelah di tepi pantai. Ia masih merasakan saat ombak kecil masih menyapu kakinya dengan lembut. Revan menatap Renata dari belakang. Revan kemudian duduk di sampingnya dengan ragu-ragu.


Renata tampak bahagia dan menikmati pantai hari ini. Kalau aku lamar sekarang? Bagaimana ya? Kenapa aku jadi ragu ingin melamarnya sekarang? Aku takut merusak kebahagiaannya saat ini.


"Kak... lihat sunsetnya. Bagus sekali ya!" Pekik Renata sambil menunjuk ke matahari yang mulai tenggelam.


"Iya bagus sekali." Sahut Revan sambil ikut menunjuk arah yang ditunjuk Renata


"Kak Revan, makasih ya. Sudah membawaku kesini. Aku bahagia sekali!" Ucap Renata sambil tersenyum bahagia.


"Iya sama-sama. Aku juga bahagia kesini bersamamu! Meski kita basah seperti ini" Sahut Revan sambil menatap Renata.


"Hahahaha... Ia kita basah dan bau asin air laut." Renata tertawa sambil mencium rambutnya yang basah. Revan hanya tersenyum.


"Oh ya kak, tadi apa yang mau kakak katakan?" Tanya Renata serius.


Revan terdiam sejenak. Ia lalu melihat penampilan mereka saat ini. Basah dan berantakan! Masa ia melamar dengan kondisi seperti ini?!


"Hm... Apa ya? Gak ada apa-apa kok. Abaikan saja. Lagi pula aku sudah lupa." Ucap Revan berbohong.


"Hm... Begitu ya.." Sahut Renata sambil tersenyum getir.


Renata...Melihatmu bahagia saja aku sudah ikut bahagia. Aku tidak mungkin melamarmu dalam kondisi seperti ini! Akan kubuatkan moment yang lebih indah daripada ini untuk melamarmu. Tunggu aku ya!


*****