If Only

If Only
Banyak terkejut



Semenjak kejadian hari itu aku kesulitan mengatur jam tidurku. Aku ingin memukul kepalanya tapi tanganku sama sekali tidak bergerak. sial, bocah itu sudah berani menggodaku. aku masih termenung dan tiba tiba ponsel ku berdering, astaga Fahyan meneleponku. aku menyesuaikan suaraku sebelum mengangkat teleponnya.


"halo" sapaku sedikit gugup, sedikit.


"belum tidur?" tanyanya dengan santai.


"eum, aku belum mengantuk" jawabku singkat.


"Apa ada yang salah?" tanyanya lagi. Aku menghela nafas.


"Tidak" jawabku. "Ada apa?" tanyaku


"ayo makan diluar" ajaknya. Aku mengerutkan dahiku.


"tiba tiba?" tanya ku bingung.


"besok aku sudah kembali ke asrama loh" jawabnya. Dan aku yakin sekarang bibirnya sedang manyun ke depan.


"Sudah malam aku tidak ingin kemana mana" aku sengaja menolak.


"AKU JEMPUT SEKARANG!" teriaknya, aku bahkan sampai menjauhkan ponsel ku. "kau bersiaplah" setelah itu ia memutuskan teleponnya. aku membuka mulutku lebar lebar sangking terkejutnya.


"BERANINYA!!" teriakku. aku melempar ponsel ku. "Sudah cukup Bian dan Randu saja yang membuat kepalaku pusing" ucapku kesal. Aku bangkit dari tempat tidur dan dengan malas berjalan ke kamar mandi.


[perjalanan;mobil]


Saat dia bilang akan menjemput ku, dia benar benar datang. dengan balutan jas hitam dan kaos biru tua. kenapa bisa setampan itu? aku bertanya tanya sendiri. Sedari tadi aku hanya diam saja, aku tidak berniat bicara sedikit pun.


"Bagaimana kabar kak Randu?" Tanya Fahyan tiba tiba.


"Baik" aku menjawab tanpa menoleh.


"Maaf" ucapnya yang langsung membuatku menoleh. "Aku harusnya tidak perlu memaksa" imbuhnya.


"Tidak" tukas ku. "Sekarang mau makan dimana?" Tanyaku sambil tersenyum manis. Dia hanya melirik lalu fokus ke jalanan.


"Aku tidak ingin makan apapun" jawabnya singkat. "Kita pulang saja" imbuhnya. Huh dasar bocah, menjengkelkan sekali.


"Kenapa?" Tanyaku. "Ayo makan ice cream saja" ujarku mencoba mengembalikan mood nya.


"Baiklah kalau kakak memaksa" jawabnya. hei bocah aku tidak memaksamu, batinku. Kami benar benar hanya makan ice cream dan duduk di dekat sebuah menara yang biasa di pakai orang orang untuk pacaran. Hem, aku dan Randu juga pernah datang kesini maka dari itu aku bisa bilang begitu. Kami sama sama terdiam dengan pikiran masing masing. Terlalu banyak yang aku fikirkan, perusahaan, Randu, dan satu lagi yaitu Bian. Aku belum mendengar kabarnya berapa hari ini sejak terakhir kali bertemu.


"Sofia" panggil Fahyan. Aku yang terkejut langsung memukul lengannya.


"Aish kau ini" ucap ku kesal. Bukannya minta maaf dia hanya cengengesan. "Kalau begini aku pulang saja" aku hendak berdiri mengambil tas ku tapi tangannya lebih dulu menggapai tanganku.


"mau kemana?" tanyanya. "ya sudah aku minta maaf" imbuhnya yang kemudian menyuruhku duduk kembali.


"awas saja kalau kau berani memanggil namaku lagi" ucapku memberi ancaman. Dia mengangguk dengan polosnya. Sial itu membuatku menjadi gemas. Kami melanjutkan dinner, ini bukan dinner sebenarnya. Aku melahap habis es cream ku yang kedua, ya es krim kedua.


"mau lagi kak?" tanyanya saat menyadari ice cream ku sudah abis. Aku yang sudah sangat kekenyangan pun menggeleng cepat.


"aku sudah kenyang" jawabku. "kau besok kembali ke asrama?" tanyaku tanpa memandang wajahnya.


"iya ... kakak yang akan mengantarkan ku ke bandara kan?" tanya Fahyan. Aku menoleh lalu mengangguk.


"jam berapa?" tanyaku.


"hem ... besok aku kabari lagi" jawab Fahyan "kenapa? Apa kakak sibuk?" tanyanya.


"Tidak juga, paling juga ke kantor dengan ayahmu" jawabku.


"enak sekali menjadi ayah" ucap Fahyan. Aku mengerutkan keningku.


"apa enaknya?" tanyaku bingung.


"bisa selalu dekat dengan kakak" jawab Fahyan. Mendengar itu sontak membuatku tertawa. Dia memanyunkan bibirnya. "Sama sekali tidak ada yang lucu" tukasnya kesal. Aku yang kesal langsung mengacak rambutnya.


"Sama ayah sendiri cemburu, seperti orang pacaran saja" ucapku yang masih terkekeh geli.


"Aku inginnya begitu" ujarnya yang tampak kesal. Aku menarik hidungnya.


"Selesaikan dulu kuliahmu" ujarku. "nanti kalau kau sudah lulus akan ku carikan pacar untukmu" imbuhku. Fahyan langsung mengeluarkan ekspresi tak suka.


"apaan?" tanya Fahyan kesal. "Lagi pula siapa yang mau mencari pacar" imbuhnya.


"Supaya kau tidak kesepian" ucapku cengengesan. Dia menatapku lekat.


"jangan begitu, aku jadi gemas" ucapnya yang langsung membuatku menutup mulut seketika.


"ayo pulang" ujarku sambil pura pura


"Kau aktris yang baik" ucapnya kesal.


Aku tertawa kecil. "ayo pulang, besok kau kan harus bangun pagi" ujarku. Dia menggeleng.


"ada bi Tini yang mengurus semuanya" ucapnya dengan santai.


"Kau harus mandiri" celetukku. "Bagaimana kau bisa menjadi seorang suami yang baik kalau kau tidak mandiri" imbuhku. Aku memang pandai menggoda haha. Tapi setelahnya aku langsung menyesali perkataanku.


'oke ayo pulang ... aku ingin menjadi suami yang baik untuk kakak" ujarnya. Aku menarik nafas dalam dalam. Lain kali aku harus benar benar hati hati saat bicara dengan Fahyan, dia makhluk yang super sensitif.


[Pagi hari;kamar]


Pagi ini benar benar sial, aku bangun kesiangan. Aku langsung berlari ke kamar mandi dan memakai jurus angin topan yang super cepat. Aku keluar dengan memakai dress warna orange dan blazer warna coklat susu. Aku benar benar tak punya banyak waktu lagi, aku langsung menggapai ponsel dan tas ku kemudian berangkat. Ini aneh tapi Fahyan hanya menghubungiku sekali, biasanya dia akan menghubungi berulang ulang pada saat saat seperti ini. Tapi karena aku sudah terlanjur panik aku langsung pergi tanpa meneleponnya.


Sampailah aku disini, ditempat kami membuat janji untuk bertemu hari ini. Aku sempat dibuat kesal karena dia sama sekali tak mengangkat teleponku. Aku akhirnya memilih untuk duduk di sebuah bangku yang sudah di sediakan disini. Entah kebetulan atau bagaimana, aku bertemu Randu. Aku benar benar merindukannya, dia yang juga melihatku langsung datang menghampiriku. Tanpa basa basi dia langsung memelukku dengan erat.


"kau sedang apa disini?" tanyanya saat sudah melepaskan pelukannya.


"Sedang menunggu Fahyan" jawabku. Randu mengerutkan keningnya.


"untuk apa?" tanyanya bingung.


"dia kemarin ambil cuti dan hari ini dia akan kembali ke asrama" jawabku. sumpah, suasana ini lebih canggung dari yang ku bayangkan. Randu hanya mengangguk. "Kau sendiri sedang apa disini?" tanyaku.


"Sedang melihat lokasi pembangunan di sekitar disini" jawab Randu. "kau baik baik saja kan?" tanyanya. kalau ku ingat ingat terakhir kali aku bertemu dia saat dia di pukuli oleh Bian dan pengawalnya. Ah, itu kenangan yang buruk untukku.


"aku baik kok" jawabku sambil tersenyum. "kau juga baik baik saja kan?" tanyaku. Randu menghela nafas lalu mengangguk.


"akhirnya cintanya berbalas" ujar Randu tiba tiba.


"cinta siapa?" tanyaku bingung.


"cinta laki laki itu" jawab Randu. Ah aku paham arah pembicaraan ini.


"dan nyatanya kami tak memiliki hubungan apa apa" ucapku dengan penuh keyakinan.


"Tak harus ada hubungan untuk bisa bersama" ucap Randu sambil tertawa kecil dan itu terdengar menyedihkan.


"jangan memulai apa yang tidak harus kita bahas sekarang" tukas ku. Percakapan ini dengan mudah merusak mood ku.


"Baiklah. bag ...." omongannya terhenti karena ponselku berdering.


"ini Fahyan ... sebentar aku angkat telepon dulu" aku langsung mengangkat telpon dari Fahyan.


"Kau dimana?" tanyaku.


"kak aku tidak jadi pulang ke asrama" jawab Fahyan. aku mengerutkan keningku.


" kenapa?" tanyaku bingung.


"ayah menyuruhku dirumah dulu ... banyak yang harus di urus katanya" jawab Fahyan.


"om Haris kemana?" tiba tiba perasaanku menjadi tak enak.


"kakak tak tau? ayah kerumah sakit katanya" jawab Fahyan. aku mengerutkan keningku.


"siapa yang sakit?" tanyaku.


"kak Bian masuk rumah sakit" jawab Fahyan. Mataku membelalak lebar.


"Bian masuk rumah sakit?" tanyaku. Seketika aku langsung memandang Randu yang sedari tadi masih memperhatikanku. Aku mengalihkan pandanganku ke sembarang arah. "rumah sakit mana?" tanyak ku.


"rumah sakit XX" jawabnya.


"Katakan pada ayahmu aku kesana sekarang juga" ucapku. Aku langsung mematikan sambungan. "aku pergi dulu" ucapku pada Randu. Aku hendak berdiri namun tangannya menggapai lenganku.


"kau lebih memilih dia?" tanya Randu. Apa aku bisa menjawab pertanyaan itu? kurasa tidak.


"kita bahas ini nanti ya" aku hendak pergi dan lagi lagi Randu menahan ku.


"aku mau kau menjawabnya sekarang" ucap Randu. Aku hanya diam, aku bahkan tidak bisa menjawab iya atau tidak.


"aku harus pergi sekarang" ucapku memelas. Randu melepaskan tanganku.


"jika kau pergi ini akan benar benar berakhir" ucapnya sebagai finally. Aku diam, siapapun tolong bantu aku menjawab. Aku menatap manik matanya yang sedang menatapku tajam. Tapi aku tidak menjawab apapun, aku memilih pergi dan meninggalkannya disana. Bagaimana pun akhirnya aku sudah siap, apapun itu.


Bersambung.........