If Only

If Only
Kebenaran terungkap



Saat aku akan masuk ke mobil seseorang menarik tanganku dan ternyata ia adalah Arin. Aku sempat terkejut karena ku fikir ia akan melabrak ku tapi ternyata ia malah mengajakku duduk di sebuah cafe.


"Aku ingin menanyakan sesuatu" ucap Arin yang mulai membuka obrolan.


"Apa kau ingin menanyakan perihal Randu?" Tanyaku to the point. Aku bukan orang yang suka basa basi. Dan Arin menggelengkan kepalanya. "Lalu apa yang ingin kau tau?" Tanyaku lagi.


"Apa hubunganmu sebenarnya dengan Bian?" Tanya Arin. Pertanyaan macam apa itu? Apa dia berniat menggangguku dengan Bian? Aku bertanya tanya dalam hati.


"Apa itu penting?" Tanyaku akhirnya, karena aku juga tidak tau harus mengatakan apa.


"Ah kau tidak bisa menjawab ya?" Tanya Arin seperti menyindir. Ia kemudian menyunggingkan senyum sama seperti yang Rose lakukan. "Apa karena kau memang bukan siapa siapanya?" Tanya Arin lagi. Aku tau ia sedang memancingku tapi aku berusaha tetap tenang.


"Arin, sama seperti yang kau katakan bahwa aku tidak boleh mengganggu Randu lagi, jadi bisakah mulai saat ini kau jangan menggangguku?" Tanyaku padanya. "Aku tidak tau apa mau mu, jadi jangan mengusikku lagi" Aku mulai lelah dengannya. Arin tertawa, dan itu menakutkan.


"Kau benar benar ya" ucap Arin. "Apa kau tidak menyadari bahwa karenamu hubungan kakak beradik itu hancur?" Tanya Arin. Aku mengerutkan dahi ku.


"Siapa yang kau maksud?" Tanyaku bingung. Arin kemudian mengirimkan sesuatu ke ponselku. Aku hendak membukanya tapi ia melarang.


"Buka lah itu setelah kau sampai dirumah, aku tidak bisa kalau nantinya harus melihatmu menangis seperti anak kecil disini" ledeknya. "Dan satu lagi, sebenarnya aku bisa mengirimnya tanpa menemui mu, tapi untuk terakhir kalinya aku ingin melihat wajah sok polos mu itu" imbuhnya. Setelah mengatakan itu ia beranjak pergi dan aku sama sekali tak mencegahnya. Aku malah dibuat bingung dengan video yang di kirim Arin padaku.


[Rumah;kamar]


  Aku langsung pulang setelah menemui Arin tadi. Setelah makan malam aku langsung masuk ke kamar dan aku memilih duduk di balkon. Sedari tadi aku ingin membuka video itu tapi tanganku seperti bergetar. Apa yang aku takutkan rupanya? Aku menghela nafas, tanganku bergerak untuk menekan tombol unduh. Dan setelah terunduh video otomatis terputar. Aku mengerutkan dahi ku. Bukannya kedua pria yang ada di video itu adalah Randu dan Bian? Tanyaku dalam hati. Aku menguatkan volumenya lalu mendengar dengan seksama.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Randu.


"Menyingkirkan mu, mungkin" jawab Bian dengan wajah santai.


"Kalau kau ingin menyingkirkan ku berhentilah menyakiti Sofia" aku terkejut saat Randu menyebutkan namaku.


"Apa ibumu juga mengajarkanmu untuk mengambil apa yang bukan hak mu?" Tanya Bian.


"Jangan libatkan ibuku dalam hal ini" ucap Randu emosi.


"Kenapa? Apa kau takut aku akan mengambil Sofia sama seperti saat ibumu mengambil ayahku?" Tanya Bian. Aku langsung menghentikan video itu.


"Apa maksud Arin mengirimkan ini? Kenapa Bian bisa berkata begitu?" Aku terus bertanya tanya. Tadinya aku ingin berhenti melihat kelanjutan video itu tapi rasa penasaranku jauh lebih besar.


"Kenapa kau terus mengungkit hal itu?" Tanya Randu.


"Kau pikir aku bisa dengan mudah melupakannya? Bagaimana aku bisa melupakan fakta bahwa ibumu adalah penyebab ayah dan ibuku meninggal?" Tanya Bian yang juga mulai emosi.


"Lalu kenapa kau membawa Sofia dalam masalah ini?" Tanya Randu. "Apa kau menganggap ini semua permainan?" Tanya Randu lagi. Bian tampak mengangguk.


"Dengan mengambil Sofia darimu itu pasti akan membuatmu terluka" ucap Bian datar. "Kita berada di dalam sebuah drama, dan perlahan aku akan menyingkirkan mu agar aku bisa menjadi pemeran utama" imbuhnya.


"Brengsek!!!" Aku ikut terkejut saat Randu akan memukul Bian tapi tiba tiba ia mengurungkan niatnya.


"Jadi kau hanya menjadikan Sofi bahan untuk membalaskan dendam mu pada ku? Apa kau lupa bahwa Sofi kehilangan ayahnya juga karenamu?" Tanya Randu lagi.


Aku langsung menghentikan video itu, air mataku tiba tiba menetes dan dadaku terasa nyeri. Aku kemudian menangis senggugukan dengan memeluk kedua lutut ku. Aku lalu kembali mengambil ponselku. Dengan sisa sisa isakan kecil aku langsung menelepon Bian. Panggilan langsung tersambung.


"Bisa kita bertemu?" Tanyaku dengan suara parau.


"Kau kenapa?" Tanya Bian di balik telepon.


"Temui aku di taman" ucapku. Aku tidak berniat menjelaskan apapun sekarang. Aku langsung mematikan sambungan telepon dan langsung bergegas pergi. Bi Uma yang melihatku tergesa gesa juga sempat mengejar ku tapi aku lebih dulu masuk mobil dan langsung melajukannya. Aku meremas stir mobilku sebagai cara menahan nyeri di dadaku. Air mataku terus mengalir tanpa izin, dan kepalaku terasa semakin pusing.


Sesampainya di taman aku langsung mencari Bian dan akhirnya aku menemukannya. Bian yang juga melihatku langsung menghampiriku. Wajahnya tampak khawatir saat melihat mataku yang sembab dan sisa sisa air mata yang masih membasahi pipiku.


"Apa yang terjadi?" Tanya Bian.


"Apa hubunganmu yang sebenarnya dengan Randu?" Tanyaku to the point. Bian tampak terkejut dan setelahnya ia kembali tenang seperti biasanya.


"Tidak ada hubungan apa apa" jawab Bian. Aku langsung mengambil ponselku dan memperlihatkan video tadi. Wajah Bian mulai berubah menjadi panik.


"Apa kau juga tidak berniat menjelaskan tentang ini?" Tanyaku. Bian ingin memegang bahuku tapi dengan cepat aku mundur beberapa langkah.


"Kau dapat dari mana video ini?" Tanya Bian. Aku tertawa tak percaya.


"Bukan itu yang mau ku dengarkan, apa hubunganmu dengan Randu? Kenapa kau melibatkan ibunya Randu yang juga sudah meninggal?" Aku menyerbunya dengan beberapa pertanyaan. "Dan kenapa kau tega menjadikan aku sebagai alat balas dendam? Kenapa kau juga melibatkan ku?" Tanyaku lagi.


"Itu bukan niatku" jawab Bian. "Aku hanya ingin mengambil hak ku" imbuhnya.


"Berhenti berkata konyol Bian!" Teriakku. Aku kemudian kembali menangis. "Kau hanya menganggap ini sebagai permainan?" Tanyaku di sela sela isakan ku. "Bahkan saat kebenaran itu terungkap aku masih mencoba mempercayaimu" tambah ku.


"Sofia ini bukan cerita yang sebenarnya" Bian ingin menggapai ku lagi dan lagi lagi aku mundur beberapa langkah.


"Apa yang kau lakukan sampai papaku meninggal?" Tanyaku. "Apa yang dikatakan Randu itu benar?" Tanyaku lagi. Aku terdiam dan aku semakin menangis saat Bian menganggukkan kepalanya.


"Sofi maafkan aku, Tolong maafkan aku" Bian kemudian ikut menangis dan kali ini ia berlutut di hadapanku. "Aku tidak tau kecelakaan itu akan terjadi" imbuhnya.


"Setelah apa yang kau lakukan, kau masih sanggup menyakitiku" ucapku dengan terisak. "Sekarang aku minta kau pergi, jangan pernah muncul lagi, pergi hilang seperti bagaimana dulu kau juga menghilang dari kehidupanku" imbuhku.


"Aku tidak bisa Sofia" ucap Bian yang masih menangis. "Katakan, dengan apa aku harus membayarnya" tambahnya.


"Dengan pergi dari hidupku, dan aku berharap hidupmu akan menderita setelah ini" ucapku tegas. Aku kemudian pergi meninggalkannya yang masih menangis senggugukan.


Di dalam mobil aku masih terus menangis, sampai akhirnya aku berhenti di depan rumah Tante Dona. Hanya disini tempatku mengadu, aku berjalan dan mengetuk pintu. Tidak menunggu lama, pintunya terbuka dan Tante Dona langsung panik melihatku yang masih menangis.


Bersambung......