If Only

If Only
Tragedi pahit



"Randu ...." Randu langsung memelukku dan itu membuatku menangis.


"Aku merindukanmu" ucapnya lirih. Randu melepas pelukannya lalu beralih mengusap kedua pipiku lembut. "Aku minta maaf" imbuhnya.


"Maafkan aku" ucapku senggugukan. Randu menggeleng.


"Ayo kita perbaiki semuanya" ujar Randu. Aku langsung menengadah dan kami saling menatap.


"Kamu tau kalau itu tidak mungkin" ucapku. "Semua sudah berubah" imbuhku.


"Apa yang berubah?" Tanya Randu.


"Waktu dan perasaan" jawabku. Randu terdiam dan perlahan menurunkan tangannya yang masih berada di pipiku. "Waktu mengubah segalanya Randu, perasaan, keadaan" tambah ku.


"Secepat itu?" Tanya Randu lirih.


"Hatiku ingin, tapi keadaan memukul mundur kita untuk saling menjauh dan melupakan" jawabku. "Karena banyak hati yang akhirnya aku sakiti" tambah ku dan kemudian aku menangis lagi.


"Sofia ...." Panggil Randu lirih.


"Aku akan pergi dan melupakan semuanya, jadi kau pun harus begitu" ucapku. Aku langsung masuk ke dalam mobil dan melajukannya meninggalkan Randu yang juga terluka sama sepertiku.


[Rumah]


Untuk pertama kalinya setelah hari itu, aku pulang kerumah. Bi Uma langsung memelukku dan mengelus punggungku lembut. Beliau memasak makanan kesukaanku dan juga membuatkan ku kue yang enak. Saat aku mengatakan bahwa beliau harus istirahat dulu, ia sempat kebingungan.


"Istirahat?" Tanya bi Uma.


"Sofi akan pergi ke kota XX dan mungkin akan tinggal disana, jadi bi Uma bisa istirahat dan bertemu dengan anak anak dirumah" jawabku.


"Maksudnya bibi di pecat?" Tanyanya lirih. Aku merasakan mataku memanas. Bi Uma sudah menjadi bagian di keluargaku, saat ini hanya dia yang aku punya. Tapi aku juga tak ingin melibatkannya dalam kondisi sulit nantinya.


"Bibi harus pulang, Sofi tidak ingin bibi sendirian dirumah ini" jawabku. "Sofi harap bibi mengerti, kita pasti akan bertemu lagi nanti" imbuhku. Bi Uma mengangguk pasrah dengan keputusanku.


Setelah selesai sarapan, aku langsung membereskan barang barang ku begitupun dengan bi Uma yang hari ini akan pulang ke kampung halamannya. Saat sedang membereskan meja kerjaku, hp ku berdering dan ternyata kak Zoya menelepon.


"Kalo kak" sapa ku.


"Kenapa kau tidak menceritakannya padaku?" Tanya kak Zoya.


"Maaf kak" ucapku. "Sofi tidak mau melibatkan banyak orang nanti" imbuhku.


"Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan?" Tanya kak Zoya.


"Sofi akan pergi ke kota XX dan mungkin akan tinggal disana untuk beberapa tahun" jawabku.


"Kenapa jauh sekali?" Tanya kak Zoya lagi.


"Disini terlalu menyesakkan kak" jawabku lirih. "Aku akan ke apartemenku apa kakak mau ikut?" Tanyaku mencoba mengalihkan suasana.


"Tentu aku mau" jawabnya. "Kita bertemu di lobi ya" aku menyetujuinya dan setelah itu sambungan terputus. Aku menghela nafas, hari ini aku akan mengakhiri semuanya.


***


Aku sudah sampai di lobi apartemen dan langsung bertemu kak Zoya disana. Ia berlari dan langsung memelukku.


"Kenapa harus pergi sih?" Tanyanya. Kami berjalan beriringan.


"Mau bagaimana lagi" ucapku dengan tawa kecil. "Setidaknya aku harus memulai sesuatu yang baru" imbuhku. Kak Zoya mengangguk-angguk kepalanya.


"Tapi ingat, jika kembali kau harus mampir ke rumahku" ucap kak Zoya. Aku tersenyum lalu mengangguk. Kini kami sudah sampai di depan apartemen ku. Aku merogoh tas ku hendak mengambil ponsel tapi sepertinya tertinggal di mobil. Aku membukakan pintu apartemen ku.


"Hai" sapa nya. Senyumnya sangat mengerikan. "Aku ingin bicara denganmu" tambahnya. Aku mengerutkan dahi ku.


"Bicaralah" ucapku. Rose menggeleng.


"Jangan disini, ikutlah" Rose berjalan ke dekat sebuah mobil. Aku langsung berjalan mengikutinya dan saat ini aku sudah berada di antara dua mobil. Aku terkejut karena Rose tidak ada disini. Tiba tiba kepalaku terasa nyeri, sesuatu menghantam kepalaku dengan sangat keras. Aku terhuyung ke depan dan setelah itu aku langsung tidak sadarkan diri.


***


Aku sedikit meringis karena rasa sakit di kepalaku. Aku mencoba membuka mataku, dan yang aku lihat hanya kegelapan. Aku sangat ketakutan kali ini, aku menangis saat menyadari sesuatu yang buruk terjadi padaku. Aku duduk dengan tangan yang terikat ke belakang.


"Tolong!!!" Teriakku parau. Tenggorokan ku terasa sakit dan kering. Pintu terbuka dan cahaya dari luar langsung menyoroti ku.


"Kau sadar?" Suara yang sangat aku kenal muncul bersamaan dengan lampu pijar yang menyala. Rose? Dia berjalan mendekatiku.


"Apa apaan kau ini?" Teriakku. Rose tertawa dan itu benar benar menakutkan.


"Kau takut?" Tanya Rose. "Aku sudah tidak tau cara bersikap pura pura baik lagi di depanmu" tambahnya.


"Dasar ular! Apa yang kau inginkan?" Teriakku.


"Aku ingin menghabisi mu" jawab Rose. Tubuhku langsung menegang.


"Kau benar benar sudah gila" teriakku, dan sebuah tamparan sukses mendarat di pipiku sangat kuat.


"Aku tidak segila ini sebelum aku mengenal Bian" teriak Rose. "Aku hampir memenangkan hatinya tapi kau datang dan menghancurkan segala upayaku, aku menunggunya sangat lama, aku rela memberikan segalanya" tambahnya dengan masih berteriak.


"Bukan salah ku kalau cintamu tidak terbalas" ucapku.


"Oh ya?" Tanya Rose. "Kalau begitu bukan salahku jika kau mati" Rose mengeluarkan sebuah pistol dari saku celananya. Aku hampir pingsan karena jantungku saat ini benar benar tidak terkontrol. Aku kembali menangis karena rasa takut yang benar benar menggerogoti ku.


"Jangan, aku mohon" ucap ku di sela sela isakan ku.


"Aku mungkin akan menerima permohonan mu kalau saja kau mendengarkan peringatan ku sewaktu di apartemen waktu itu" ucap Rose. "Aku sudah muak melihat wajahmu, aku muak karena namamu yang begitu sering Bian ucapkan saat sedang bersamaku" tambahnya.


"Sudah ku katakan, bukan salahku jika kau terluka karena cinta sepihak mu" ucapku dengan nafas yang tersengal-sengal. Aku tidak tau tapi ucapan ku benar benar membuatnya kehilangan akal. Ia mundur lalu mengacungkan pistolnya ke arahku. Tapi tiba tiba seseorang membuka pintu lalu masuk dan mengejutkanku juga Rose. Aku tercengang, Bian masuk dengan langkah gontai.


"Jangan lakukan itu" ucap Bian dengan suara serak.


"Bian, kau jangan ikut campur" teriak Rose. "Biarkan aku membunuhnya" tambahnya.


"Kau tidak bisa melakukan itu" Bian berjalan dengan memegangi dadanya dan wajahnya yang samar samar kulihat seperti sedang menahan sakit. Aku semakin menangis karena teringat dengan penyakitnya yang aku yakini pasti sedang kambuh.


"Pergi Bian, kamu harus kerumah sakit sekarang" teriakku. Bian menggeleng lalu semakin berjalan mendekatiku.


"Berhenti disitu!" Teriak Rose. "Atau aku akan menembak wanita ini sekarang" imbuhnya. Rose dengan gemetar kembali mengangkat pistolnya. Bian jatuh di pelukanku bersamaan dengan suara nyaring yang berasal dari pistol. Aku yang semula menutup mataku rapat, pelan pelan membukanya. Aku melihat Rose yang masih gemetaran lalu beralih melihat ke bawah.


"Bian" panggilku pelan. Aku kembali menangis karena tau Bian yang menjadi tameng untukku.


"Aku sangat mencintainya" Rose bergumam. Aku lihat air matanya menetes. "Semua ini karenamu, kau harus membayarnya" Rose kembali mengacungkan pistolnya, aku kembali memejamkan mataku pasrah. Suara pistol itu kembali muncul tetapi aku tidak merasakan apapun. Entah nasib buruk apa, tapi karena aku dua orang terluka saat ini. Polisi masuk bersamaan dengan hilangnya kesadaran ku.


***


Aku mendengar suara aneh di sekitarku. Seperti suara jarum jam, atau juga mirip suara bom yang akan meledak. Aku mendengar suara orang menangis dan itu membuatku ikut menangis. Ingatanku kembali pada beberapa waktu silam, tentang orang tuaku, masa kecilku, tentang Bian, Randu, dan kehidupanku sekarang. Aku seperti berada di suatu tempat, samar samar aku melihat orang tuaku berjalan bersama Randu. Aku berfikir kenapa mereka begitu tega meninggalkanku padahal aku sudah memohon agar mereka tetap tinggal. Tiba tiba tubuhku jatuh bersamaan dengan mataku yang terbuka sempurna.


Mataku menyusuri setiap sudut ruangan. Aku melihat Tante Dona, om Haris, kak Zoya, dan kak Raksa disini. Tapi aku tidak melihat Bian ataupun Randu. Aku bertanya tapi tidak ada yang menjawab. Aku kembali menangis mengingat kejadian yang benar benar membuatku trauma. Dadaku terasa nyeri dan nafasku juga sesak. Mataku kembali tertutup dan kesadaran ku kembali hilang.


Bersambung....