If Only

If Only
Demam



Entah perasaanku saja atau bagaimana, pagi ini dingin sekali tapi aku merasa kegerahan. Aku melenguh saat kurasakan sesuatu yang dingin menyentuh dahiku. Aku membuka mataku perlahan, aku terkejut saat melihat Bian sudah berada di hadapanku.


"Sudah bangun?" Tanya Bian. Aku mencoba untuk duduk namun dia melarangku. "Kamu istirahat saja" imbuhnya.


"Kau disini?" Tanyaku. Aku benar benar tak punya tenaga.


"Jadi aku harus dimana?" Tanyanya balik. "Tidak mungkin aku membiarkanmu sakit sendirian" imbuhnya.


"Siapa yang sakit coba?" Tanyaku kesal. Bukannya menjawab, dia malah mengambil semangkuk bubur yang sudah berada di atas nakas.


"Ayo makan dulu" ujarnya. Aku mengerutkan keningku. Dengan raut wajah kesal, dia meletakkan sendoknya. "Apa kau tau? Seisi rumah begitu panik karena kau tidak bangun seharian" imbuhnya. Aku langsung terduduk.


"Randu dimana?" Tanyaku tanpa sadar. Bian menatapku lekat.


"Jangan coba mencarinya lagi" jawabnya dengan penuh penekanan. Aku menyadari yang terjadi sebelum aku berada disini. Aku menunduk dan menangis lagi. Bian langsung memelukku saat tau aku menangis. "Jangan tangisi dia" ucapnya.


"Kenapa jadi seperti ini?" Tanyaku sembari menangis senggugukan.


"Ini bukan salahmu" ujarnya menenangkan ku. "Sekarang kau makan dulu" imbuhnya.


Aku masih merasa lemas sampai sekarang, aku hanya makan tiga sendok dan rasanya aku sudah mau muntah. Bian masih setia di sampingku, aku sudah menyuruhnya pergi tapi dia memang anak yang keras kepala. Aku tidur menyamping menghadap Bian yang duduk di sofa dengan laptopnya. Aku memperhatikan dia lekat lekat, aku kembali teringat bagaimana dulu dia menolongku saat teman teman di sekolahku membuliku. Saat kami biasa pergi dan pulang sekolah bersama, makan di tempat yang sama, sembunyi di tempat yang sama, dan bermain bersama.


"Abian ..." Panggilku lirih. Dia melihatku sebentar lalu meletakkan laptopnya. Dia berjalan mendekatiku dan duduk di pinggiran kasur.


"Ada apa?" Tanyanya lembut. "Ada yang sakit?" Tanyanya lagi. Aku menggeleng lemah, kemudian memejamkan mataku. Aku merasa tenang saat dia berada di sampingku seperti ini. Apa lagi saat kurasakan tangannya mengelus rambutku dengan lembutnya. Tanpa menunggu lama, aku langsung tertidur.


[Rumah; ruang makan]


Aku sudah bangun sekitar beberapa jam yang lalu. Siang ini masih seperti hari kemarin, hatiku masih mendung. aku duduk di meja makan sendirian, om Haris memberiku waktu istirahat yang banyak sampai aku bosan. Aku tidak berharap, tapi Bian sama sekali tak menelepon ku.


"Kau menungguku?" Aku menoleh saat mendengar suara Bian. Dengan senyum lebar dia menghampiriku. Aku tidak menjawab ucapannya, aku hanya diam seribu bahasa. Dia duduk di sebelahku dan menatapku dengan tajam lalu mengecek dahiku. Dia menghela nafas kasar. "Aku ingin sedikit memberinya pelajaran" ujarnya yang langsung membuatku menegang.


"Apa maksudmu?" Tanyaku heran.


"Kau begini karena dia" jawabnya dengan emosi. Aku menarik nafas dalam.


"Kalau kau tidak memberitahunya ini tidak akan terjadi" ucapku. "Kau sadar kau yang memulainya" imbuhku lirih.


"Kau menyalahkanku?" Tanyanya. "Kau yang membuatku melakukan ini padanya" imbuhnya. Aku tertawa gak percaya sama apa yang baru dia ucapkan.


"Apa tujuanmu sebenarnya?" Tanyaku. "Apa kau sadar apa yang kau lakukan?" Tanyaku lagi. Dan kini gantian dia yang diam seribu bahasa. Aku bangkit dan meninggalkannya sendiri disana.


Aku masuk ke kamar dengan langkah gontai. Bian benar benar sudah berubah drastis. Dan jujur aku merindukannya, rindu senyum hangatnya. aku kembali merebahkan tubuhku di kasur. Aku kehilangan tenaga dan selera makan karena kehadiran Bian yang membawa emosi. Aku akan melanjutkan tidurku hingga malam berganti pagi lagi dan begitu seterusnya.


Namun nyatanya waktu tak berputar secepat itu. Aku terbangun jam sembilan malam, aku mengikat rambutku sembari berjalan turun ke dapur.


"Kemana laki laki yang duduk disini tadi bi?" Tanyaku pada bi Uma salah satu pelayan dirumah ku.


"Maaf tapi saya tidak tahu" jawabnya. "Bukannya tadi dia masuk ke kamar nona?" Tanya nya. Aku mengerutkan keningku.


"Dia di kamarku?" Tanyaku heran. Bi Uma mengangguk.


"Tapi mungkin dia sudah pergi karena mobilnya sudah tidak ada" ucapnya. "Apa terjadi sesuatu nona?" Tanyanya. Aku menggeleng.


"Tidak ada apa apa" jawabku sembari tersenyum.


"Tapi saya menemukan ini di lantai" jawab bi Uma. Ia memberikan sebuah kertas yang sudah di remas remas dan saat ku buka ternyata itu foto Randu.


"Foto Randu?" Tanyaku bingung.


" Iya, tapi saya tidak tau kenapa itu bisa ada di lantai" jawabnya. aku langsung bangkit dan berlari ke kamar. Benar aja, foto Randu yang aku simpan di laci udah menghilang. Aku langsung berlari mengambil kunci mobil dan jaket ku.


"Kau dimana?" Tanyaku langsung.


"Ada apa?"


"Jawab saja kau dimana?" Tanyaku lagi. "Aku yakin kau tidak akan melakukan hal itu" ucapku.


"Kau tau kan, dari kecil aku tidak bisa melihat kau sakit ... Apa lagi karena laki laki bajingan ini"


"Hei ini bukan kesalahannya" ucapku panik. "Kau dimana? Cepat beritahu aku" Tanyaku.


"Jangan keluar ... Kau belum sehat"


"Aku bertanya kau dimana" Tanyaku lagi.


"Aku di jalan XX"


Aku langsung melajukan mobilku kesana. Aku sudah mirip seperti mayat hidup sekarang. Akhirnya aku sampai di jalan XX yang di maksud oleh Bian. Dari kejauhan aku sudah melihat keberadaan mereka. Hatiku rasanya hancur melihat Randu yang sudah tidak berdaya. Aku berhenti tidak jauh dari mobil Bian. Aku turun dengan gontai dan langsung menghampiri Randu yang sudah tergeletak dengan wajah babak belur.


"Randu bangunlah hei" panggilku sambil menepuk nepuk pipinya. Randu membuka mata sipitnya dan itu mampu membuat ku menangis senggugukan.


"Maaf" ujarnya. Aku menggeleng kuat.


"Hei ini bukan salahmu" aku menangkup kedua pipinya. Aku mengelus pipinya lembut. Aku begitu mengkhawatirkan Randu, sampai aku lupa kalau Bian juga ada disini. Aku berdiri dan berjalan menghampirinya.


"Kenapa kau melakukan ini?" Tanyaku di sela sela isakanku. Tatapannya masih sama, dingin dan menusuk.


"Apa aku salah?" Tanyanya balik.


"Kau tidak boleh melakukan ini" jawabku. Aku memukul dadanya berkali kali. "Jika seperti ini kau sama saja menyakitiku" imbuhku.


"Sekarang ayo pulang" ucapnya datar. Aku langsung menengadah dan menatapnya heran.


"Kau benar benar gila" ucapku kesal. "Aku jadi semakin membencimu, aku tidak akan pulang denganmu" imbuhku.


"Aku bilang pulang!" Bentaknya. Aku tersentak namun segera aku melawannya.


"Kenapa kau datang? Kenapa kau tidak mati saja? Kau tak bisa datang dan melakukan ini padaku!" Teriakku.


"Baiklah jika itu maumu. Hari ini mungkin jadi hari terakhir kau bisa melihatnya" ucap Bian tiba tiba. Aku tidak menyadari keberadaan dua pengawal Bian yang ternyata udah bersiap untuk menghajar Randu lagi. Aku langsung berbalik, dan benar saja Randu sudah berada di tangan mereka. Aku kembali memandang Bian.


"Bian!" Bentak ku. "Kau ...." ucapanku terhenti, aku kembali menangis.


"Kau mau dia mati?" Tanya Bian. Aku menggeleng.


"Jangan lakukan itu" aku sampai mengatupkan kedua tanganku dan memohon padanya.


"Sekarang ayo pulang" ujarnya. Aku berbalik dan kembali melihat Randu. Mungkin caraku menyelamatkannya adalah dengan menjauhinya.


Aku kembali menatap Bian. "Aku pulang, tapi jangan mengganggunya lagi" ucapku.


"Ayo pulang" ajaknya lagi.


"Jangan tinggalkan dia disini, kau harus membawanya kerumah sakit" ujarku.


"Mereka berdua yang akan mengurusnya. Kau ikut aku pulang sekarang" ucapnya. Aku mengangguk pasrah. Aku berjalan di belakang Bian. Aku berhenti sejenak lalu menoleh ke belakang. Air mataku menetes.


"Aku berada pada sebuah bom waktu yang bisa menghancurkan mu dalam sekejap. Dan satu satunya cara menyelamatkan mu adalah menjauh darimu"


Bersambung........