
Aku masih terduduk disini, mataku tidak berkedip melihat sesuatu yang sangat menyesakkan di depanku.
"Sofia" panggil kak Zoya. Ia memegang pundak ku, aku mendongak. Kak Zoya menangis dan membuatku ikut menangis. Saat aku tersadar dari koma, aku langsung bertanya dimana Bian dan Randu. Tapi kak Zoya dan yang lainnya hanya menangis. Aku terus bertanya dan akhirnya kak Zoya membawaku kesini.
"Seandainya malam itu aku bergerak lebih cepat, pasti semua tidak akan terjadi" ucapnya. "Malam itu, aku berniat menyusul mu ke mobil. Tapi sesampainya di basemant, aku melihat kau di seret masuk ke dalam mobil oleh seorang wanita. Aku berlari mencoba mengejar mu tapi mobil itu langsung melaju dengan cepat, aku yang panik langsung menelepon Bian yang saat itu ternyata sedang sakit. Aku lalu menelepon Randu, dan Randu bilang akan mencari mu" cerita kak Zoya. Ia kembali terisak. "Aku tidak tau apa yang terjadi selanjutnya, aku menunggu dirumah sedangkan kak Raksa pergi bersama polisi. Setelah kembali, kak Raksa memberi kabar bahwa Bian dan Randu tertembak" sambungnya dengan tangisan yang semakin menjadi.
"Lalu dimana Randu kak?" Tanyaku.
***
Disinilah aku sekarang, di sebuah tempat pemakaman. Aku memegang serangkaian buket bunga mawar. Mataku masih setia memandangi batu nisan yang bertuliskan nama Randu Winaja. Hatiku sangat sakit, lebih baik tidak bersama tapi masih bisa saling melihat. Aku masih ingat semuanya, tentang pertemuan kami, dan bagaimana semua itu berakhir. Aku masih ingat bau parfumnya, aku masih ingat seberapa hangat pelukannya. Semua cinta, kerinduan, ia sandarkan disini. Aku meremas bajuku, dan kembali menangis. Ini sangat menyakitkan untukku. Semua orang pergi meninggalkanku, hatiku seperti diremas-remas.
Flashback
"Lalu Randu dimana kak?" Tanyaku. Bukannya menjawab kak Zoya malah semakin menangis. "Jawab Sofi kak" aku mulai panik.
"Waktu itu Bian tertembak saat mencoba melindungi mu begitu juga dengan Randu. Kami membawa kalian bertiga kerumah sakit yang sama. Kalian bertiga langsung mendapat perawatan darurat" ucap kak Zoya. Ia kemudian menghela nafas. "Dokter mengatakan bahwa Bian dalam kondisi kritis karena penyakitnya dan juga luka tembaknya. Entah bagaimana ceritanya, dokter sempat mengatakan bahwa Randu sudah sadar. Dan ...." Kak Zoya berhenti bercerita.
"Dan apa kak?" Tanyaku panik.
"Randu mendonorkan jantungnya untuk menyelamatkan Bian" jawab kak Zoya. Seketika tubuhku begitu lemas. Aku beralih memandangi Bian yang masih tertidur di brangkar rumah sakit dengan alat bantu pernafasan yang masih menempel di mulutnya. Air mataku lagi lagi terjatuh.
"Tidak masuk akal sekali kak" ucapku tidak percaya. "Bagaimana mungkin? Apa kakak akan mengatakan kalau Randu sudah tiada? Tidak mungkin" tambah ku.
"Randu dimakamkan dua hari yang lalu" ucap kak Zoya. Tangisanku pecah mendengar itu.
Flashback end.
***
Semua berlalu sangat cepat, aku mencoba mengikhlaskan kepergian Randu. Aku mencoba memulai hidupku yang baru. Aku juga diberi kabar kalau Rose meninggal tertembak karena upaya melarikan diri. Setiap hari aku akan datang kerumah sakit untuk menjenguk Bian. Setiap hari aku akan membawakannya setangkai bunga mawar dan meletakkannya di vas kecil yang sengaja aku bawa. Setiap hari aku akan menggantinya dengan yang baru, menandakan bahwa akan ada harapan yang baru juga setiap harinya.
Hari ini untuk terakhir kalinya aku datang kerumah sakit. Setelah meyakinkan hatiku, aku sudah mengambil keputusan. Aku akan pergi jauh dan memulai cerita yang baru, aku akan meninggalkan Bian. Setiap melihatnya aku hanya semakin merasa bersalah dan berakhir dengan aku yang membenci diriku sendiri. Aku tidak sanggup melihat matanya, jantung orang yang sangat aku cintai berada di tubuhnya saat ini. Berdetak setiap detik bersamaan dengan rasa cinta yang ikut tumbuh setiap harinya. Aku memejamkan mataku lalu menarik nafas dalam dalam dan membuangnya perlahan. Aku akan merindukannya, bukan hanya dia, aku akan merindukan semuanya. Aku menyerahkan perusahaan kepada om Haris dan aku memilih melanjutkan pendidikan keluar kota. Aku menutup semua akses sosial media agar tidak ada yang bisa menemukanku kecuali om Haris dan Tante Dona.
Aku menghela nafas. Aku mulai melangkah, berharap semua akan baik baik saja. Aku berharap waktu bisa menghapus lukaku, dan luka orang orang yang terluka karena ku.
[Dua tahun kemudian]
Aku berjalan menuju koridor kampusku. Hari ini aku benar benar disibukkan dengan berbagai agenda di kelasku.
"Sof hari ini kita akan pergi ke kota XX" celetuk Wendy, teman dekatku disini.
"Untuk apa?" Tanyaku bingung. "Hari ini kita tidak ada agenda kerja nyata disana" imbuhku.
"Pak Han baru memberitahu ku kalau ada perusahaan baru yang mengundang universitas kita, untuk mewakili dan kita adalah dua dari sepuluh mahasiswa yang terpilih" jawab Wendy antusias.
"Selebihnya?" Tanyaku.
"Mahasiswa dari semester akhir" jawab Wendy. Aku mengangguk-angguk an kepalaku. Aku tau kota itu tidak jauh dari rumahku yang dulu. Tapi aku juga perlu berkunjung kerumah tante Dona. Entah kenapa, aku sangat merindukannya.
"Baiklah, kita harus bersiap siap" ucapku. Aku dan Wendy langsung bergegas ke asrama untuk bersiap siap dan segera berkumpul di lapangan.
***
Kami sudah berkumpul di lapangan dan bersiap untuk berangkat. Aku duduk di samping jendela bus dan di sebelahku ada Wendy.
"Kenapa daunnya banyak yang gugur?" Gumam ku.
"Karena sebentar lagi musim gugur" saut Wendy yang mendengar gumaman ku.
"15 September" jawab Wendy. Aku terdiam dan kemudian menatap Wendy lekat.
"Kau serius? Kau tidak salah tanggal?" Tanyaku terkejut. Wendy menggeleng dengan wajah heran. Aku melihat ke depan. "Hari ini hari ulang tahunnya" gumam ku.
"Ulang tahun siapa?" Tanya Wendy.
"Adikku" jawabku lirih.
"Kau punya adik?" Tanya Wendy antusias. Aku mengangguk.
"Dia adalah orang yang membuatku tak berhenti menangis karena kepergiannya" ucapku. Seketika langit ku menjadi mendung. Selama dua tahun ini aku melupakan hari ulang tahunnya sekaligus hari dimana aku terakhir kali melihatnya. Wendy memegang pundak ku.
"A-adikmu sudah meninggal?" Tanya Wendy terdengar ragu. Aku mengangguk lagi.
"Aku kehilangannya sebelum aku mengatakan bahwa aku menyayanginya" jawabku. Mataku memanas. "Orang orang yang ku sayangi pergi meninggalkanku satu per satu" imbuhku. Wendy memelukku sama seperti apa yang Tante Dona lakukan dulu.
"Jangan menangis, biarkan mereka tenang dan bangga melihatmu tumbuh menjadi wanita baik seperti ini" ucap Wendy menenangkan. Ia kemudian sedikit menjauh. "Aku saja bahagia bisa mengenalmu, aku jadi penasaran bagaimana bahagianya mereka yang sudah bersamamu sejak lama" tambahnya sambil tersenyum menggoda.
"Jangan mencoba menggodaku" celetukku kesal. Bukannya menjauh, ia malah semakin memelukku sambil cekikikan.
Beberapa jam kemudian, aku merasa seseorang menepuk pipiku. Aku membuka mataku perlahan.
"Bangun, kita sudah sampai" ucap Wendy. Aku langsung merenggangkan tubuhku yang sudah lelah karena duduk berjam jam. "Ayo turun" ajaknya. Aku menganggukkan kepalaku. Aku dan Wendy turun bersama setelah senior yang lain sudah turun. Aku langsung mengedarkan pandanganku, pemandangan yang tidak asing.
"Berapa hari?" Tanyaku. Wendy menatapku bingung. "Berapa hari kita akan bertugas disini?" Tanyaku.
"Seminggu" jawabnya.
"Apa selama seminggu kita tidak diberi hari libur?" Tanyaku. Wendy langsung menatapku sinis.
"Kalau perusahaan itu milik ayahku aku akan memberi kau liburan setiap saat" jawabnya. Aku melengos kesal.
"Sofia, Wendy" panggil seorang senior. Aku dan Wendy langsung berlari menghampirinya.
"Iya kak, kenapa?" Tanya Wendy.
"Harusnya hari ini kita akan berkeliling, tapi karena hari sudah mulai gelap, kita akan melakukannya besok dan kalian bisa istirahat" ucap senior itu.
"Apa mereka(perusahaan)menyediakan asrama untuk kita?" Tanyaku. Sang senior mengangguk.
"Sekarang bersihkanlah diri kalian dan beristirahat lah, tapi mungkin kita akan berkumpul sebentar untuk pembinaan bertahap" jawabnya. Kami menganggukkan kepala tanda mengerti.
Setelah senior itu pergi aku langsung mengeluarkan ponsel ku. Aku menekan sebuah nomor.
"Halo"
"Tante Dona" panggilku. Ya, aku menelepon Tante Dona.
"Sofia" suara Tante Dona terdengar lirih. "Kau apa kabar sayang?" Tanyanya.
"Baik Tante, Tante baik baik saja kan?" Tanyaku khawatir. Tante Dona tidak langsung menjawab. "Sofi sedang berada di kota xx" tambahku.
"Haruskah kita merayakan ulang tahunnya?"
Bersambung....