
Tadi malam, Fahyan benar benar sadar dari tidurnya yang cukup panjang. Apa Tuhan mendengar doaku? Mungkin iya. Sekarang Fahyan sudah bisa menjahili ku dan itu artinya dia pasti sudah sembuh. Aku membantunya duduk untuk makan dan sekarang aku sedang menyuapi bayi besarnya om Haris dan Tante Dona. Tante Dona sedari tadi tidak berhenti memeluk Fahyan dengan senyumannya yang terus terlihat.
"Aa buka mulutmu" pintaku. Fahyan langsung menurut dan itu membuatku tersenyum lebar.
"Kak ayo kita pergi berbelanja" ajaknya antusias.
"Boleh. Tapi kau harus cepat sembuh" ujarku sambil memasukkan sesuap bubur ke mulutnya.
"Iya sayang. Kau harus sembuh oke" ucap Tante Dona. Fahyan mengangguk dengan polosnya.
"Kak aku mau jalan jalan" ucap Fahyan. Aku dan Tante Dona saling pandang. "Sama mama juga" imbuhnya. Tante Dona mengangguk dan mengiyakan permintaan anaknya.
[Rumah sakit]
Aku, Fahyan, dan Tante Dona duduk di sebuah kursi panjang yang di belakangnya terdapat hamparan laut luas. Fahyan sedari tadi hanya diam dan terus memegangi tanganku dan Tante Dona.
"Mana kejutan buat ku kak?" Tanya Fahyan protes. Aku mengacak rambutnya lembut.
"Aku akan berikan kejutan tapi saat kau sudah sembuh. kita juga harusnya bisa jalan jalan ke pantai kan tan?" Tanyaku pada Tante Dona. Tante Dona hanya mengangguk lalu tersenyum kecil.
"Aku sudah lelah, tidak ingin kemana mana lagi" ucap Fahyan lirih. "Sepertinya aku kurang tidur" imbuhnya. Aku tertegun sedangkan Tante Dona sudah terisak kecil.
"Kau ini bicara apa? Kalau mengantuk kenapa minta jalan jalan?" Tanyaku. Aku mencubit pipinya gemas. "Ayo kita kembali ke kamar" ajak ku. Tapi Fahyan menolak.
"Aku rasa aku sudah cukup banyak mendapatkan cinta di dunia ini, papa, mama yang mencintaiku, dan kakak yang pasti diam diam juga menyayangiku, teman yang banyak dan juga kehidupan yang layak" ucap Fahyan. Ia menghela nafas. "Aku tidak tau alasan kenapa aku berada disini, karena pada akhirnya aku juga harus pergi. Akhirnya orang orang akan terluka dan menangis untukku" imbuhnya. Tanpa sadar air mataku menetes.
"Apa kau sudah selesai bicara?" Tanyaku kesal. Aku mengambil tangan Tante Dona. "Tante, tolong katakan padanya untuk berhenti bicara begitu" ucapku pada Tante Dona. Tapi beliau malah semakin menangis senggugukan.
"Aku tidak tau tapi sebenarnya aku masih ingin berada disini, merasakan cinta yang lebih banyak lagi, tapi aku rasa aku akan terlihat egois nanti" ucap Fahyan yang masih berlanjut. "Aku ingin melihat orang orang di sekitarku tetap bahagia walau tanpa aku, bahkan ketika aku sudah tidak ada disini lagi kau harus tau bahwa cintaku akan tetap abadi" imbuhnya. "Kau, mama, papa tidak bisa egois. Menangis lah sehebat mungkin, tapi aku mohon jangan berlarut larut" ucapnya lalu tersenyum, dan akhirnya aku menangis merasakan dadaku yang seperti tertancap puluhan duri. Aku mulai mengerti maksud dari ucapannya. Seribu kali aku coba berfikir positif, tapi pada akhirnya aku tau, Fahyan ingin aku melepaskannya.
Sudah 15 menit berlalu setelah Fahyan memintaku untuk mengelus rambutnya. Fahyan menyandarkan kepalanya di bahu Tante Dona yang sedari tadi tidak berhenti menangis. Dia bilang dia mau tidur sebentar jadi aku mengizinkannya. Aku merasakan genggamannya yang berada pada telapak tanganku perlahan melemah. Aku juga merasakan tangannya yang semakin dingin.
"Fahyan" panggilku lembut. Dia sudah tidur? Fikir ku karena tidak ada jawaban. Tapi saat ku lihat Tante Dona semakin menangis, aku langsung tersadar. "Fahyan" panggilku lagi. "Tante, Fahyan" aku mencoba menyadarkan Tante Dona. Tapi beliau hanya mengangkat tangannya mengisyaratkan bahwa aku harus membiarkan Fahyan beristirahat. Aku tidak bodoh, Aku tau maksudnya. Aku menangis sejadinya dengan suara tertahan. Aku memukul mukul dadaku untuk menghilangkan sesak yang semakin menjadi. Aku harusnya lebih peka dengan ucapannya beberapa saat yang lalu. Harusnya aku memeluknya dengan erat, dan bilang padanya jangan pergi. Saat dia bilang aku diam diam menyayanginya, aku harusnya menjawab iya. Tapi aku menyesalinya sekarang. Dia sudah pergi sebelum mendengar kata kata yang ingin ia dengarkan.
[Pemakaman;menjelang sore]
Setelah selesai mengurus semuanya, acara pemakaman pun berlangsung. Yang tadinya cuaca sedang cerah, menjadi mendung seketika. Ternyata bukan aku saja, langit pun ikut berduka atas kepergiannya. Air mataku kembali mengering setelah terakhir kali aku menangisi kepergian ayahku beberapa waktu lalu. Aku melihat Tante Dona yang masih diselimuti air mata, aku langsung berjalan menghampirinya. Saat menyadari kehadiranku, beliau langsung memelukku dan tangisannya semakin memecah. Aku mengelus punggungnya lembut, berharap aku bisa meredakan rasa sakitnya.
Setelah selesai, saat semua orang sudah pergi dan hanya menyisakan aku, Bian, Tante Dona dan juga om Haris.
"Sejak kapan?" Tanyaku dengan suara yang terdengar parau. Ketiganya menoleh menatapku. "Sejak kapan penyakit itu berada di tubuhnya?" Tanyaku lagi.
"Sofi ...." Panggil Bian. Aku tau ia berusaha mencegahku karena suasana yang tidak mendukung seperti ini.
"Kenapa kita membiarkan Fahyan berjuang sendirian?" Tanyaku yang kembali menangis. "Aku tak ingin egois, tapi kenapa kita tidak berusaha membantunya?" Tanyaku lagi.
"Fahyan tidak pernah memberitahukannya pada Tante Dona ataupun om Haris" jawab Bian. Aku langsung menoleh padanya. Bian mengangguk. "Tante Dona dan om Haris mereka tidak mengetahuinya. Fahyan memilih pergi ke asrama, dia memilih melanjutkan pendidikan diluar dan jauh dari orang tuanya" ucap Bian. "Kau mungkin bertanya tanya kenapa aku tau semuanya, tapi yang harus kau tau, dia tidak ingin membuat kita semua sedih karena harus melihatnya tersiksa dengan penyakitnya" imbuhnya.
"Kenapa Tante dan om Haris tidak mencari tau dari kemarin? Sewaktu Fahyan mulai jatuh sakit?" Tanyaku protes.
"Kami sudah tau sejak tiga bulan terakhir, saat itu kami mendapat kabar bahwa Fahyan jatuh sakit" jawab om Haris lirih. "Saat itu, dokter memvonis Fahyan hanya mampu bertahan tiga sampai empat bulan lagi. Kami membujuknya untuk melakukan kemoterapi tapi dia selalu menolak dan bilang bahwa dia akan baik baik saja" imbuhnya.
"Kami selalu berdoa untuk kesembuhannya ... Tapi kami sadar, tanpa adanya usaha semua akan sia sia. Kami berusaha memberikan cinta kami untuknya sebanyak mungkin, sehingga dia tidak akan kekurangan cinta saat masih bersama kami" lanjut Tante Dona. "Tuhan menitipkan dia sebagai kado terindah, dia seperti bayi mungil yang walau hanya melihatnya saja sudah cukup membuat kami bahagia. Tapi hari ini, tuhan mengambilnya. Kami selalu berfikir dokter itu adalah pembohong karena kami yakin Fahyan akan selalu bersama kami, kami selalu yakin Fahyan tidak akan pergi meninggalkan kami, tapi hari ini ...." Tante Dona berhenti bicara karena tangisannya lebih dulu meledak. Om Haris langsung memeluknya dan mencoba menenangkannya. Aku memandang ke langit berusaha mencegah air mataku, tapi nyatanya hatiku tetap terasa sakit. Aku memejamkan mataku dan meremas dadaku yang terasa sesak.
***
Saat hendak pulang dari pemakaman, aku lihat mobil kak Zoya terparkir. Saat melihatku, ia langsung berlari dan memelukku sambil menangis. Ia meminta maaf karena terlambat mengetahui yang terjadi disini. Kak Zoya dan Bian mengantarku pulang. Sesampainya dirumah, aku langsung tertegun saat melihat dekorasi ulang tahun yang sempat aku pesan kemarin. Lagi lagi kak Zoya meminta maaf karena karyawannya yang sudah mendekorasi ruangan itu dan ia lupa mengabarinya. Aku bilang tidak apa apa karena bagaimana pun hari ini tetap hari spesialnya. Mereka tetap menemaniku. Tiba tiba seseorang masuk dengan membawa satu kotak berisi cake, kak Zoya menyuruh karyawannya untuk membawa kembali cake itu tapi aku mencegahnya.
"tidak apa apa kak" ucapku sambil tersenyum. Aku mengambil cake itu lalu membuka kotaknya. Namanya terukir indah disana, aku tersenyum walau hatiku sakit. Aku menghapus sisa air mataku lalu memandang semua orang. "Kita bisa tiup lilinnya sekarang" ujarku sambil tersenyum. Aku mengambil korek lalu menyalakan lilinnya. Fahyan bilang, meski raganya sudah pergi, tapi cintanya akan tetap abadi. Dan kini aku akan hidup dengan sisa cinta yang ia berikan selama ini. Aku menutup mataku dan berharap setelah hari ini, langit akan kembali cerah, matahari akan kembali bersinar terang seperti Fahyan yang akan selalu bersinar dihati kami.
..."Langit cerah yang mengiringi kehadiranmu 21 tahun yang lalu, tepat di hari ini, ia berubah mendung, menciptakan suasana duka yang mendalam ...."...
...R.I.P Fahyan Irham...
Bersambung.....