
Hari ini aku dan Bian akan pergi ke makam orang tuaku. Di dalam mobil kami hanya diam.
"Kau sudah makan?" Tanya Bian. Aku hanya mengangguk. Bian kemudian memegang tanganku. "Ada apa? Sesuatu mengganggumu?" Tanya Bian.
Aku menggeleng. "Aku hanya merindukan mereka" jawabku.
"Hari ini kita akan pergi mengunjungi mereka" ucap Bian. Aku tersenyum lalu mengangguk.
Sesampainya di depan makam, Bian menghentikan ku kemudian menatapku lekat. "Berjanjilah kau jangan menangis, buktikan kau hidup dengan baik selama ini" ucap Bian. Aku memegang tangannya yang berada di pundak ku.
"Aku tidak akan menangis, aku berjanji" ucapku. Aku dan Bian kemudian berjalan menuju makam ayah dan ibuku. Aku dan Bian berjongkok di antara makam keduanya.
"Mereka pasti bangga memiliki putri cantik sepertimu" ucap Bian. Aku menoleh.
"Apa aku cantik?" Tanyaku. Bian menoleh lalu tersenyum.
"Kau sempurna" ucapnya lalu mengacak rambutku. "Katakan pada mereka bahwa kau bahagia bersamaku" ujarnya. Aku mengangguk. Aku kemudian memejamkan mataku.
"Papa, mama, kuharap kalian baik baik saja disana karena aku juga baik baik saja disini. Saat ini aku bahagia karena ada Bian yang kembali mengisi kekosongan ku. Aku selalu menganggap semua yang sudah ku lalui sebelumnya adalah mimpi buruk. Tentang bagaimana aku bisa kehilangan kalian, kehilangan orang orang terdekatku. Bagaimana aku hidup menderita selama bertahun tahun. Tentang bagaimana kemudian hidupku berubah drastis. Tentang lutut ku yang harus merasakan sakit karena terjatuh berkali kali. Aku pernah berfikir, harus menggunakan cara apa agar aku bertahan dan tetap tegar. Harus bagaimana aku menjalani sisa hidupku yang setengah tak berarti ini. Aku sangat merindukan kalian dan kalian juga pasti merindukan aku, sampai jumpa di kehidupan selanjutnya. Aku selalu berdoa, di kehidupan selanjutnya kita akan bersama lebih lama"
Bian mengelus pundak ku pelan. "Ayo kita pulang" ajaknya. "hari sudah mendung" imbuhnya.
"Tapi aku ingin ke makam Fahyan dan Randu" ucapku.
"Kita bisa pergi besok sayang" ucapnya sambil mencubit pipiku. Aku menghela nafas, hari memang sudah mendung. Padahal masih tengah hari. "Sekarang ayo pulang, besok kita pergi, aku juga merindukan adikku" ucapnya. Mendengar Bian mengucapkan itu, membuat senyumku mengembang.
"Baiklah tapi berjanjilah kita akan pergi besok" ucapku sambil tersenyum. Bian ikut tersenyum lalu mengangguk. Kami berjalan menuju mobil, aku terus memeluk lengannya. Dan aku selalu berdoa semoga cinta kami tumbuh bersama.
[Dua tahun kemudian]
"Sofia ayo kita foto bersama" Wendy berteriak sambil berlari ke arahku. Aku menyambutnya dengan baik dan senyum yang mengembang. Hari ini adalah acara wisudaku. Dua tahun berlalu, hari ini adalah puncak dari perjuanganku.
Setelah berfoto, Wendy menatapku yang memang sedikit murung.
"Apa sesuatu mengganggumu?" Tanyanya. Aku tersenyum kecut.
"Aku masih berharap bisa berbagi kebahagiaan ini dengan orang orang tersayang" jawabku.
"Kau bisa membaginya dengan ku juga ayah dan ibuku" ucap Wendy. Kami sama sama melempar senyum.
"Terima kasih banyak" ucapku yang hampir menangis. Wendy mengangguk lalu tersenyum.
"Selamat untukmu Sofia" tiba tiba ayah dan ibu Wendy muncul dari belakang. Aku langsung berbalik. Ibu Wendy kemudian memelukku. "Aku tidak menyangka masih bisa menemukan gadis kuat sepertimu. percayalah, orang tuamu pasti bangga memiliki putri seperti dirimu" beliau melepaskan pelukannya.
"Terima kasih Tante, om" aku menghapus air mata yang sempat menetes saat ibu Wendy memelukku.
"Jangan menangis" ujar ayah Wendy lalu mengacak rambutku. "Om bahagia Wendy bertemu dengan orang orang baik di sekitarnya" tambahnya.
"Padahal dia sangat keras kepala" celetuk sang ibu sedikit berbisik.
"Tega sekali ibu berbicara seperti itu, aku mendengarnya tau!" Sahut Wendy. Aku hanya bisa tertawa melihat interaksi keluarga itu.
Kami banyak mengobrol dan setelah itu ibu dan ayah Wendy pergi menemui teman temannya yang juga ada disini.
"Apa Bian benar benar tidak bisa hadir?" Tanya Wendy.
"Apa yang aku harapkan? Dia bahkan lebih mementingkan pekerjaannya" jawabku kesal. Ya, Bian tidak bisa hadir karena ia sedang pergi keluar kota. Aku sempat marah dan juga kesal, tapi kemudian aku mencoba mengerti kesibukannya.
"Hei, ini sesuatu yang bagus, hari ini semua angkatan berkumpul disini. Kau dan aku bisa mendapatkan salah satunya" bisik Wendy menggodaku. Aku bergidik ngeri membayangkan apa yang akan dilakukan Bian.
"Aku tidak ingin mengambil resiko" ucapku ngeri. "Kau tidak tau Bian seperti apa" imbuhku. Wendy melengos.
"Wah apa kau merindukannya?" Tanyaku menggoda. Wendy mengangguk.
"Sejak putus ia tidak pernah menghubungiku ataupun muncul di hadapanku" jawab Wendy.
"Kenapa kau tidak mencoba mencarinya?" Tanyaku.
"Aku harus mencarinya kemana?" Tanya Wendy padaku yang jelas jelas tidak tahu menahu.
"Kenapa kau bertanya padaku? Kenapa tidak kau cari dirumahnya?" Ucapku memberi saran.
"Ah sudahlah. Kenapa aku yang harus sibuk mencari" ucap Wendy kesal. "Lagi pula aku bisa mencari yang lain" imbuhnya. aku hanya memutar bola mataku malas.
"Aku juga berniat begitu" ucapku.
"Berniat untuk apa?" Tanya Wendy.
"Mencari yang baru" jawabku lalu tertawa. Tapi setelah nya aku langsung terdiam karena mendengar suara deheman seseorang. Dan benar saja, Bian muncul dengan membawa buket bunga yang besar.
"Mau mencari yang seperti apa lagi?" Tanya Bian.
"Sof, aku tidak ingin mengambil resiko, aku pergi dulu" Wendy langsung pergi begitu saja.
"Wen!! Ah dasar tidak setia kawan!"ucapku setengah berteriak. Aku kembali ingat bahwa Bian masih berada disini. Aku langsung menoleh.
"Kau mulai nakal ya" ucap Bian lalu mencubit pipiku.
"Kenapa kau ada disini? Kenapa tidak diluar kota saja?" Tanyaku kesal. Bian tertawa lalu mengacak rambutku.
"Aku ingin memberi kejutan untuk calon istriku" jawab Bian. Bian kemudian mencium keningku. "Selamat hari kelulusan sayang" bisiknya. Pipiku langsung memerah. "Tetaplah menjadi bagian dari hidupku" imbuhnya. Aku mengangguk dan masuk kedalam pelukannya.
Hari ini, aku sudah menyelesaikan pendidikanku dan hari ini ku persembahkan untuk Fahyan. Fahyan pasti bangga melihatku melanjutkan sesuatu yang tidak bisa ia selesaikan. Tidak ada yang tau bahwa selama ini aku berkuliah di kampus Fahyan dulu. Rasanya menyenangkan bisa mewujudkan mimpinya.
Hari ini juga ku persembahkan untuk papa dan mamaku juga untuk Randu. Aku bahagia saat ini, om Haris dan Tante Dona juga turut hadir mengisi kekosongan di hidupku. Ketika aku berfikir aku akan selamanya sendiri, tapi kemudian orang orang ini hadir dalam hidupku.
"Kau sudah makan?" Tanya Bian. Aku menggeleng. "Ayo kita makan" ajaknya.
"Om, tante, ikutlah dengan kami" ajak ku.
"Wah iya, ini pasti akan seru" sahut Bian lalu tertawa.
"Kita akan makan dimana?" Tanya Tante Dona.
"Sofi tau tempat yang makanannya itu enak banget" jawabku. Dan aku yakin setelah tau tempatnya Bian pasti akan memasang wajah kecutnya.
****
"Apa ada menu baru?" Tanyaku pada Taeil. Ya, aku membawa mereka ke restauran milik Taeil yang membuka cabang baru yang jaraknya tidak jauh dari kampusku.
"Kami punya sesuatu yang baru, kau ingin mencobanya?" Tanya Taeil kemudian tersenyum. Aku mengangguk.
"Tentu, Tan, om, ini Taeil teman Sofi" ucapku memperkenalkan Taeil.
"Apa maksudmu dia temanmu?" Sahut Bian. "Dia kan temanku" imbuhnya sewot.
"Lagi pula Taeil juga tidak keberatan" ucapku. Bian melengos dengan wajah kesalnya. Tante Dona dan om Haris hanya tertawa melihat wajah Bian yang sudah memerah menahan kesal.
Kami akhirnya berbincang bincang setelah selesai menyantap makanan. Taeil juga ada disini bersama kami. Setelah semua yang sudah kami lewati, hari ini kami berkumpul disini.
bersambung.....