If Only

If Only
Tidak jadi menikah



Aku dan Bian sedang sibuk mengurus pekerjaan masing masing. Bulan depan aku dan Bian akan menikah. Sebenarnya aku belum ingin, tapi Bian terus memaksa. Tidak, aku juga terkadang menginginkan pernikahan ini. Aku sedang sibuk mengurus beberapa pekerjaan dibantu Tante Dona dan kak Zoya. Dan oh, jangan lupakan bahwa Wendy juga turun hadir disini. Sebenarnya aku tidak menginginkan pernikahan seperti ini. Tapi Bian bilang, pernikahan hanya sekali seumur hidup, jadi semuanya harus dipersiapkan secara matang. Bian bilang pernikahan ini akan lebih mewah dibanding pernikahan mantan kekasihnya kemarin. Huh membayangkan teman temannya akan datang membuatku berfikir, haruskah aku membatalkan pernikahanku dengan Bian? Haha itu terdengar masuk akal tapi mustahil.


"Sofi, apa konsep pernikahan kalian?" Tanya Wendy.


"Monochrome of color" jawabku. Mereka menatapku hendak meminta penjelasan. "Itu seperti, Hem bagaimana mengatakannya ... Kami melalui banyak rintangan sebelumnya, kami seperti sebuah lukisan monokrom. Perlahan tapi pasti kami mulai mengisi warna warna di dalamnya" aku menghela nafas. "Kita disini, semua pasti pernah mengalami masa masa sulit. Terutama Tante Dona dan om Haris, dan Sofi ingin menciptakan warna baru di kehidupan kalian" tambah ku. Aku melihat senyuman mereka yang mengembang.


"Aku tidak menyangka hari ini akan terjadi" sahut kak Zoya. "Aku sempat berfikir bahwa kenyataan pahit yang berada di benakku akan terjadi, tapi ini benar benar suatu keajaiban, baik kau ataupun Bian sama sama belajar menjadi dewasa dan melewati semuanya bersama sama, kalian seperti saudara kembar yang tumbuh bersama" tambahnya lalu tersenyum.


"Sofia dan Bian memang mirip ya" sahut Tante Dona lalu tertawa kecil.


"Benar, pertama kali melihat Bian, aku kira dia adalah kakak laki laki dari Sofi, tapi ternyata aku salah" sambung Wendy. "Aku hampir menyukainya waktu itu" tambahnya kemudian tertawa.


"Wah, apa terjadi cinta segitiga disini?" Celetuk kak Zoya. Dan ucapannya membuat tempat ini menjadi lautan tawa dalam seketika.


*****


Banyak yang bilang, saat mendekati hari pernikahan pasti selalu ada pertengkaran. Aku menganggap itu tidak benar, tapi sepertinya aku menyadari bahwa itu ada benarnya. Saat ini aku sedang kesal karena Bian terus menuduhku menyukai Taeil, karena beberapa hari yang lalu aku menemui Taeil. Padahal hanya membahas tentang chatering untuk pernikahan kami nanti. Tapi dia terus saja curiga dan bilang bahwa aku tidak benar benar serius dengan pernikahan ini.


Hari ini aku benar benar lelah, hampir semalaman aku duduk di depan komputer hanya untuk memilih dekorasi yang sesuai untuk konsep pernikahan ku nanti. Sebenarnya semua sudah selesai beberapa hari yang lalu. Tapi saat Bian tau ternyata Taeil juga ikut membantuku menemukan dekorasi yang sesuai, Bian langsung memintaku menggantinya. Hari ini Bian mengajakku makan diluar sekaligus membahas tentang konsep dan dekorasi pernikahan kami. Di dalam mobil, baik aku ataupun Bian sama sama terdiam.


Sesampainya di cafe, aku hanya pesan ice coffee Americano. Aku sama sekali tidak berselara untuk memakan sesuatu.


"Kenapa hanya pesan minum?" Tanya Bian. Aku tersenyum lalu mengangguk.


"Aku sedang tidak ingin makan apapun" jawabku. Bian menatapku lekat lalu menghela nafas. Aku langsung mengeluarkan laptopku dan menunjukkan beberapa dekorasi yang sesuai dengan konsepnya.


"Ini rekomendasi beberapa dekorasi yang sesuai dengan konsep yang kita buat nanti" ucapku. Awalnya semua berjalan dengan lancar. Kami membahasnya satu persatu sampai akhirnya Bian memilih salah satu dariĀ  enam dekorasi yang aku rekomendasikan.


"Ini yang paling cocok" ucap Bian. Aku mengangguk.


"Kau sudah lihat bajunya?" Tanya ku. Bian menggeleng.


"Aku hanya melihat gambarannya saja sewaktu mengukur baju kemarin" jawabnya. Aku kemudian menunjukkan fotonya.


"Kata penjahitnya, kita bisa menemuinya dan mencobanya besok" ucapku.


"Bukannya kemarin gaun yang kau pilih bagian bawahnya berwarna abu abu ya?" Tanya Bian heran. Aku menganggukkan kepalaku.


"Tapi aku rasa itu terlalu gelap, apalagi kemarin dekorasi yang kita pilih juga cenderung gelap kan" ucapku. "Jadi aku bilang pada penjahitnya untuk menggantinya dengan warna yang lebih terang tapi tetap terlihat soft" imbuhku kemudian tersenyum. Sejenak aku kira Bian akan ikut tersenyum, tapi aku salah.


"Apa gaun yang kemarin juga rekomendasi dari Taeil?" Tanya Bian. Aku mencoba untuk tetap tenang.


"Jadi benar Taeil juga ikut memberikan pendapat?" Tanya Bian. Aku menghela nafas.


"Bian, itu benar benar pilihanku sendiri, Taeil juga tidak ada sangkut pautnya dengan ini. Kenapa kau selalu membawanya?" Tanyaku kesal. "Setiap orang bebas berpendapat bukan?" Tanyaku lagi.


"Tapi aku tidak menyukai itu, seharusnya kau cukup tau kalau aku membenci pria yang mencoba dekat denganmu" ucap Bian. "Atau kau memang tidak serius dengan pernikahan ini?" Tanyanya lagi. Astaga, kata kata itu keluar lagi dari mulutnya. Cukup, aku sudah lelah.


"Mau sampai kapan kau akan menyalahkan ku?" Tanyaku. "Hari ini, saat kau mengajakku makan bersama, aku kira kita sudah baik baik saja. Aku kira kau akan berhenti mengajakku bertengkar" tambah ku. Aku menghela nafas. "Kepalaku pusing karena hampir semalaman aku tidak tertidur, aku terus berada di depan komputer hanya untuk mengganti dekorasi yang menurutmu salah. Aku kewalahan mencari chatering yang sesuai denganmu, aku mengurus hampir 70 persen dari acara pernikahan kita nanti, aku mengurus baju, makanan, dekorasi, dan kau terus menyalahkan ku saat orang lain membantuku" imbuhku. Astaga, aku seperti ingin menangis. Aku merasakan kepalaku yang seperti akan meledak. "Jika kau tidak mempercayaiku, kau urus saja semuanya sendiri, kalau perlu kita batalkan saja pernikahan ini" setelah mengucapkan itu, aku langsung bangkit dan pergi meninggalkannya. Aku tau Bian mengejar ku maka dari itu aku langsung naik taksi dan pergi dari sana. Aku menangis di dalam taksi, aku tidak menyadari sedari tadi sang supir memperhatikanku dari kaca.


"Kau baik baik saja?" Tanyanya.


"Eum?"


"Kau tampak pucat, biar saya antar kerumah sakit" ucap pak supir.


"Tidak usah pak, terima kasih" aku kemudian meminta beliau untuk mengantarkan ku pulang kerumah.


Sesampainya dirumah, Tante Dona langsung membuka pintu saat aku mengetuknya. Aku bisa melihat Tante Dona terkejut melihat wajahku yang memang sangat pucat. Beliau langsung mengantarkan ku ke kamar. Ya, sekedar info, setelah lulus, aku tinggal bersama dengan om Haris dan juga Tante Dona. Aku menempati kamar Fahyan yang memang sudah menjadi tempat favorit sejak awal.


Tante Dona langsung membuatkan ku bubur dan juga membawakan ku obat. Dan aku sudah merasa lebih baik sekarang. Aku memejamkan mataku yang terasa panas dan akhirnya aku tertidur.


****


Aku terbangun saat kurasakan sesuatu menyentuh dahi ku. Perlahan aku membuka mataku dan aku lihat Bian sedang menatapku khawatir. Aku yang masih terlampau kesal memalingkan wajahku dan kembali menutup mataku.


"Maafkan aku" ucap Bian. "Sofia" panggilnya. "Maafkan aku yang terus menyakitimu" imbuhnya. Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam kepalanya. Aku tidak merespon ucapannya. Aku kira dia akan pergi, tapi aku terkejut saat Bian juga ikut naik ke atas tempat tidur dan memelukku dari belakang. "Jangan seperti ini, maafkan aku, aku salah" ucap Bian. Aku tidak kuat menahan tangisan ku. Aku berbalik dan membalas pelukannya sambil menangis.


"Kau tau aku sangat mencintaimu, tapi kenapa kau selalu mencurigai ku? Kenapa kau tidak pernah mempercayaiku? Melihat tatapan curiga mu saja sudah melukai hatiku" ucapku sambil menangis. Bian semakin memelukku erat.


"Maaf, maaf" Bian menciumi pucuk kepalaku. "Maafkan aku Sofia" ucapnya lagi. Aku tidak tau kenapa aku tidak bisa membencinya lagi. Rasa cintaku bahkan lebih besar daripada rasa sakit ku.


*******************************


Tibalah hari ini, hari dimana aku melihat semua orang berkumpul dan berbahagia atas pernikahanku. Aku melihat semua orang tersenyum bahagia bersamaku. Dan di sampingku, sudah berdiri orang yang akan aku lihat setiap hari, yang akan aku lihat setiap pagi saat aku terbangun dari tidurku.


"Akhirnya kebahagiaan berpihak kepadaku. Awalnya aku fikir aku akan sendiri sampai aku mati, hari ini akhirnya aku bisa melihat semua orang tertawa padaku. Tidak, mereka tertawa bersamaku. Semua orang terluka dalam proses tumbuh dewasa mereka. Tetapi jangan berkecil hati, karena setelah rasa sakit, itu akan menjadi kita yang baru. Kebahagiaan tidak selalu memiliki jalan yang mulus. Tokoh utama juga tidak harus selalu kehilangan untuk menjadi kuat. Semua orang menjadi tokoh utama dalam perjalanan hidup mereka. Mereka juga pernah jatuh dan kehilangan. Itu sebabnya jangan pernah ukur kebahagiaan orang lain dengan kebahagiaanmu. Setiap orang punya porsi kebahagiaannya masing masing. Setelah hari ini, aku tidak yakin akan selalu bahagia. Tapi yang pasti aku akan selalu bersyukur"


...The end...


...Terima kasih untuk dukungannya selama ini. Terima kasih untuk pembaca yang selalu setia dengan kisah cinta Sofia dan juga Abian. Aku sebagai pengarang dan penulis, berharap kalian yang membaca ini, lebih bisa menghargai hidup. Cintai orang orang yang juga mencintai kalian. Aku berharap kalian akan bahagia dan jangan lupa selalu bersyukur. daaaa!!!...