If Only

If Only
Dibutuhkan



Setelah mendapati kabar tentang Bian aku langsung berangkat ke rumah sakit. Fikiranku berkecambuk, antara khawatir dan juga takut. Aku melajukan mobilku dengan kencang agar aku bisa segera sampai. Di perjalanan aku mencoba menghubungi om Haris, dan tak butuh waktu lama panggilan tersambung.


"halo om ... sekarang om dimana?" tanyaku to the point.


"om sedang mengurus administrasinya Bian" jawab om Haris.


"om tunggu sofi disitu" aku langsung mematikan sambungan dan melesat dengan mobilku. Sesampainya aku dirumah sakit, aku langsung bertemu dengan om Haris. Aku mengikuti om Haris yang berjalan dengan cepat.


"bagaimana keadaan Bian om?" tanyaku.


"tidak baik baik saja" jawab om Haris dan itu berhasil membuatku semakin khawatir. Aku tidak ingin bertanya lagi sekarang. Aku dan om Haris masuk ke sebuah ruangan dan aku bisa langsung melihat siapa yang sedang terbaring disana. Entah kenapa tapi hatiku menjadi sakit seketika. Aku berjalan mendekat kearahnya yang tidak tau kalau aku datang. Aku sedikit membungkuk.


"Bian" panggilku lirih. aku mengelus dahinya yang terasa hangat itu. Aku terdiam sesaat kemudian aku menghampiri om Haris dan duduk di sebelahnya.


"Bian kenapa om?" tanyaku.


"Bian di diagnosa menderita Aritmia (irama jantung yang tidak beraturan, kadang cepat kadang lambat)" jawab om Haris yang langsung membuatku lemas. Kenapa aku baru tau fikir ku.


"tapi Bian baik baik saja kan om?" tanyaku. Om Haris mengangguk dan itu cukup untuk membuatku sedikit lega.


"untuk sekarang masih baik baik saja" jawabnya. "tapi yang namanya penyakit semuanya bisa berbahaya kalau tidak di obati" imbuhnya. Aku menghela nafas, rasanya seperti sangat sesak disini dan aku tidak bisa menahan air mataku.


"bagaimana bisa om?" tanyaku di sela sela isakan ku.


"om juga kurang tau soal kejadiannya" jawab om Haris. "doakan saja yang terbaik untuk Bian" imbuhnya. Aku berusaha keras untuk menjauh tapi kenyataannya aku malah ingin terus di dekatnya, dan aku mulai berfikir untuk tidak meninggalkannya lagi.


Aku tertidur di sofa dan tiba tiba aku terbangun saat mendengar suara seseorang yang sedang batuk. Aku langsung terduduk saat menyadari bahwa yang sedang batuk adalah Bian. Aku yang panik langsung keluar dan memanggil dokter. Cukup lama aku menunggu, dan akhirnya dokter itu keluar. Aku langsung berdiri dan menghampiri sang dokter.


"bagaimana dok?" tanyaku.


"dia mengalami sesak nafas, itu adalah salah satu gejala dari Aritmia" jawab sang dokter. "bersyukur dia berhasil melewati masa kritis. anda tidak perlu terlalu khawatir" sang dokter wanita itu menepuk punggungku pelan sambil tersenyum.


Aku masuk setelah mengucapkan terima kasih pada dokter. Aku membuka pintu perlahan lalu menutupnya pelan. Aku melihat Bian masih terbaring di atas tempat tidur, aku pun mendekat.


"Bian" panggilku. Dia membuka matanya perlahan. Aku tersenyum tapi dia malah mengalihkan pandangannya.


"apa yang kau lakukan disini?" tanyanya. Aku mengerutkan dahi ku. Oh mungkin dia masih kesal saat ku tinggal di taman hari itu.


"maafkan aku" ucapku.


"pergilah yang jauh" tukasnya.


"kenapa aku harus pergi?" tanyaku dengan bingung. Dia tak menjawab pertanyaan ku, dia hanya diam saja. "Bian" panggilku lagi.


"kau sudah tau kelemahan ku kan?" tanyanya. "kau sudah tau aku punya penyakit seperti ini" imbuhnya.


"terus kenapa?" tanyaku.


"jadi pergi saja" jawabnya. "tak usah sok perhatian" imbuhnya.


aku menggeleng. " aku tidak mungkin meninggalkan mu sendirian" ucapku. Dia kembali memejamkan matanya dan tidak merespon ku sama sekali. Aku menghela nafas, pasti dia butuh waktu. Aku berdiri dan memilih duduk di sofa, aku membaringkan tubuhku disana sampai akhirnya aku tertidur.


[rumah sakit;pagi hari]


Hari ini hari kedua aku menemani Bian di rumah sakit. Masih seperti hari sebelumnya, dia masih mendiamkan ku. Seperti hari ini aku sudah membuatkannya bubur dari rumah tapi dia masih enggan membuka mulutnya. Bahkan tanganku sudah pegal karena terus merayunya untuk membuka mulut.


"Bian aku sudah membuatkan mu bubur yang enak loh" ujarku.


"aku tidak meminta" ketusnya. Mungkin benar, orang sakit memang menjengkelkan.


"aku bisa minta bi Minah membuatkannya bubur kesukaanku" ucapnya.


"memang sangat menjengkelkan" celetukku. "biar ku buang saja kalau begitu"imbuhku dan aku sudah berniat untuk pergi.


"aaaaa ..." Bian membuka mulutnya lebar lebar. Aku tersenyum puas dan kembali duduk. Aku memasukkan satu sendok bubur ke mulutnya.


"enak kan?" tanyaku sumringah.


"biasa saja" dan aku mulai menyesali pertanyaan ku barusan. Tapi aku tetap memasukkan satu sendok lagi dan dia memakannya lagi. Dasar tukang bohong ucapku dalam hati. Finally, dia menghabiskan bubur yang rasanya biasa aja.


"kau bilang biasa saja rasanya?" tanyaku. " tapi kau menghabiskannya" imbuhku.


"kan biasa saja bukan berarti tidak enak" protesnya dan itu malah membuatku tertawa.


"cepatlah sembuh" aku mengelus pipinya lembut. Sesaat terjadi kontak mata antara kami, dan lagi lagi dia mengalihkan pandangannya. "kau berusaha keras untuk membuatku menjauh" imbuhku. "kau tau seberapa keras aku untuk mengabaikan orang orang di sekitar ku?" tanyaku padanya. "aku ada disini untuk mu, tapi kau malah mengabaikan ku seperti gini" ucapku lirih. Dia menoleh dan menatapku. "kau benar benar mau aku pergi?" tanyaku akhirnya. Dia hanya diam dan tak berkata apapun. Aku menghela nafas, aku menutup kotak bekalku dan kemudian berdiri. Aku akan pergi dari sana.


"jangan" akhirnya dia mengucapkan sesuatu. Aku menghentikan langkahku kemudian menoleh. "kau tidak bisa meninggalkan ku sendirian" imbuhnya.


"bukannya itu permintaan mu?" tanyaku. Aku berjalan dan duduk di sofa. "dasar plin plan" ucapku kesal.


"jadi jika aku memintamu pergi, kau benar benar akan pergi?" tanyanya.


Aku mengangguk. "untuk apa aku disini" jawabku. "aku masih punya banyak kesibukan" imbuhku. Padahal di hati yang terdalam aku sedang menangis haha.


"aku tidak sebodoh itu membiarkan mu pergi" ucapnya. "aku sakit juga karenanmu" imbuhnya. Aku membulatkan mataku, bisa bisanya dia menyalahkan ku.


"kenapa bisa salahku?" tanyaku bingung.


"iyalah. coba kalau kau tidak meninggalkan ku hari itu pasti aku tidak akan sakit begini" jawabnya. Aku tertawa kesal. dan aku menyesali kenapa aku tidak pergi saja dari sini


"harusnya dari tadi aku pergi saja dari sini" ucapku kesal.


"dan karena kau masih khawatir jadi kau tidak bisa pergi" tukasnya.


"terlalu percaya diri tidak bagus untuk kesehatan hati" celetukku. Dan seperti inilah yang aku rindukan dari pertemuan kami. Sebuah perdebatan yang menyenangkan.


[rumah sakit; pagi]


Matahari pagi ini sangat menyilaukan, aku terbangun dari tidur ku dan aku menyadari aku tak berada di sofa rumah sakit. Aku ternyata berada di atas brangkar rumah sakit, dan Bian berada di sampingku. Seingat ku aku tidur di sofa tadi malam. Siapa yang memindahkan ku? aku bertanya tanya dalam hati. Aku mencoba sedikit bergeser, tapi itu malah membuat Bian terbangun. Dia melenguh seperti anak kecil dan itu membuatnya terlihat menggemaskan.


"mau kemana?" tanyanya tanpa membuka matanya.


"mau bangun lah ini sudah pagi" jawabku. Bukannya menjauh, dia malah memiringkan badannya agar menghadap ku lalu tersenyum.


"kenapa kau menatapku seperti itu?" tanyaku. Dia menggeleng.


"kita pasti jodoh ya kan?" tanyanya.


"dari mana kau tau?" tanyaku balik.


"sejak kecil kira bersama dan dipertemukan setelah dewasa" jawabnya. Aku mengangguk pura pura setuju dengan pendapatnya.


"dan kau tidak berubah sama sekali" ucapku. "masih tetap menjengkelkan" imbuhku. Dia langsung memanyunkan bibirnya. Aku mencubit pipinya gemas, dan aku mulai merasa kalau aku masih mencintainya.


bersambung..........