If Only

If Only
Rumah Tante dona



Berawal dari pagi yang sangat sejuk, aku mengendarai mobilku menuju kantor. Pertama tama aku akan membeli bunga yang akan ku letakkan di ruangan ku. Bunga yang ada disana sepertinya sudah layu. Aku berhenti di sebuah toko bunga. Aku membeli beberapa tangkai, setelah membayar aku bergegas pergi. Aku melaju sambil mendengarkan sebuah lagu.


Ini juga adalah salah satu lagu kesukaanku. Arti dari lagunya sangat menyentuh, seperti mengisahkan tentang percintaan ku. Kali ini keberuntunganku tentang cinta agak bergeser, sepertinya hanya aku yang mencintai disini. Bahkan ia sama sekali tidak meneleponku, untuk sekedar menanyakan kabar. Setelah dari pesta kemarin, aku tertidur dan saat bangun aku sudah berada di tempat tidur. Ia sama sekali tidak membangunkan ku. Aku memukul stir mobil karena kesal, seharusnya dari awal aku tidak perlu menanggapinya. Dia memang Abian, tapi dia bukan lagi sahabat kecilku. Aku masuk ke area parkir di kantorku, aku turun dan dengan membawa tas, hp, dan juga bunga yang tadi ku beli. Aku menghirupnya, karena bunga ini memang wangi sekali.


"Berhentilah mencium itu sebelum kau terkena flu nantinya" suara itu tiba tiba muncul bersamaan dengan kehadiran Bian di sampingku. Aku sedikit terkejut tapi setelahnya mencoba tenang seperti tadi. Aku bahkan tidak menggubris omong kosongnya barusan. Aku terus melangkah tanpa memperdulikan kehadirannya. tiba tiba Bian menarik tanganku dan itu membuat ku langsung menoleh. "Kau mencoba mengabaikan ku?" Tanyanya. Aku menatapnya cukup lama, aku berusaha melepaskan tanganku tapi pegangannya semakin erat.


"Ada perlu apa kesini?" Tanyaku malas.


"Ini juga kantor ku" jawab Bian santai. Aku mengalihkan pandanganku.


"Kalau begitu biar aku yang pergi" aku hendak pergi tapi Bian kembali menahan ku. Aku ingin sekali memukul wajahnya itu. Aku kembali menoleh dan menatapnya. "Aku tak akan memberi pilihan tentang siapa yang harus pergi dari sini ... Baik kau atau aku yang berada disini aku tidak peduli lagi ... Jadi tolong lepaskan" pintaku. Bian menatapku lekat.


"Kau marah?" Aku tak percaya pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Aku menggeleng, Bian melepaskan genggamannya perlahan.


"Kau tau, sampai hari ini aku tak pernah menyesal karena pernah mencintai, tapi hari ini, aku menyesali sesuatu ...." Aku menggantung ucapan ku. Aku memandangi kelopak bunga mawar ku yang berjatuhan karena ulahku. Sial, air mataku menetes. Aku menghapusnya lalu kembali menatap Bian. "Aku menyesal karena pernah berfikir kita bisa melanjutkan kisah kita dulu. Aku menyesal pernah mencoba untuk mencintaimu, bahkan aku sudah jatuh cinta padamu, aku jatuh cinta sendirian, dan aku menyesal pernah berfikir bahwa kau tetap sahabat kecilku" ucapku lagi. "Bian, aku tau kau punya segalanya, kau berfikir menyakiti orang sepertiku sangat menyenangkan untuk sekedar hiburan. tapi, aku sudah cukup melalui masa sulit, aku terluka untuk kesekian kalinya. Jadi, Aku tak akan pernah berfikir untuk menyakiti orang lain dan menganggap itu sebagai hiburan sama seperti apa yang kau lakukan" setelah mengucapkan itu, aku langsung pergi meninggalkannya. Aku membuang bungaku kedalam tong sampai dan setelah itu aku masuk ke dalam mobil. Aku langsung keluar dari area parkir dan melaju tanpa tujuan. Dan akhirnya aku memilih menemui Tante Dona dirumahnya.


  Sekitar 30 menit aku akhirnya sampai, aku turun dan membawakan beberapa buah dan juga cake. Aku menekan bel beberapa kali, dan Tante Dona membukakan pintu. Beliau langsung memelukku dan mengajakku masuk ke dalam. kami berdua duduk di sofa ruang keluarga. Terakhir aku kesini, sewaktu Fahyan mengajakku dinner hari itu.


"Tante ini Sofi bawakan buah dan cake" aku mengeluarkan isi yang ada di dalam bingkisan itu. Tante Dona terlihat sumringah.


"Kau mirip seperti calon menantu yang mengunjungi rumah calon mertua" ucapnya sambil tertawa kecil. Melihat beliau tertawa seperti itu membuat hatiku sangat tenang.


"Kalau begitu Sofi akan datang lagi tapi sebagai anak yang mengunjungi orang tuanya" ucapku sambil tersenyum lebar. Tante Dona kembali memelukku dan mengelus punggungku. Aku membalas pelukannya dengan sayang.


"Rumah ini terasa kosong sejak kepergian Fahyan" ucap Tante Dona lirih. "Syukurlah kau ada disini" imbuhnya. Aku mengelus punggungnya.


"Tante tenang aja ya, Sofi pasti sering sering berkunjung kesini dan membuat rumah ini kembali terisi" aku melepaskan pelukannya kemudian tersenyum. "Oh iya, Sofi ingin kue buatan Tante, itu sudah lama sekali" ucapku.


"Tapi cake ini buat apa?" Tanya Tante Dona sambil mengangkat kota berisi cake itu. Aku sedikit berfikir.


"Tidak apa apa tan ... Nanti kue buatan Tante Sofi bawakan ke kantor untuk om Haris" ucapku. Beliau pun setuju dan akhirnya kami bergegas ke dapur.


[Di dapur]


  Aku dan Tante Dona memakai celemek dan setelah itu mengambil bahan bahan yang sudah di sediakan.


"Tan coklat batang nya di lelehkan dulu kan ya?" Tanyaku yang sedikit lupa cara membuatnya.


"Iya. Habis itu masukkan lelehan mentega nya" aku mengangguk dan kembali fokus pada adonan ku. Dan setelah menunggu dengan perjuangan ekstra, akhirnya kue kue itu siap di angkat. Aku mengeluarkan nya dari oven dengan berhati hati.


Tan ini sudah matang" ucapku antusias. Aku lalu mengambil satu per satu dan meletakkannya di nampan.


Aku kemudian mengambil satu kue menggunakan garpu dan memasukkan ke dalam mulutku. Ah, ini enak sekali. Aku mengambil satu lagi dan menyuapi Tante Dona. Beliau dengan senang hati langsung membuka mulutnya lebar.


"Sofi pernah coba membuatnya sendiri di rumah, tapi tidak seenak ini" ucapku sambil mengunyah.


"Kok bisa?" Tanya Tante Dona lalu tertawa kecil. Aku mengedikkan bahuku. Aku lantas mengambil satu lagi dan melahapnya. Mata ku terus mengikuti Tante Dona yang bergerak kesana kemari mencari sesuatu.


"Cari apa tan?" Tanyaku.


"Cari stoples kue. Kok tidak keliatan ya?" Tanyanya sambil terus mencari. Aku menghampirinya dan ikut mencari.


"Yang biasa di bawa Fahyan ke asrama, atau mungkin tidak di bawa pulang" jawab Tante Dona. Aku seketika terdiam. Kami saling tatap, tapi kemudian berpura pura sibuk mencari lagi. "Pakai stoples ini saja deh" ujarnya sambil mengeluarkan dua stoples. Aku mengangguk lalu mengikutinya ke meja.


"Kok dua Tan?" Tanyaku. Aku ikut mengisi satu stoples dengan kue.


"Untuk om Haris satu dan yang satu lagi kau bisa membawanya pulang" jawabnya. Senyumku langsung merekah.


"Kebetulan sekali tan dirumah bola bola coklat punya Sofi sudah habis" ucapku dengan tak tau malunya. Tante Dona tersenyum.


"Jika ingin makan sesuatu kau bisa datang kesini, Tante akan membuatkannya untukmu" ujar beliau. Aku mengangguk anggukan kepalaku. Setelah membereskan dapur, aku dan Tante Dona duduk di ruang keluarga dan berbincang bincang santai. Aku sempat meminta izin untuk ke kamar mendiang Fahyan. Aku melihat lihat setiap inci kamarnya yang terlihat lebih rapi dari saat Fahyan masih hidup. Tapi tetap saja aku rindu dia yang berantakan itu. Aku melihat setiap bingkai foto yang masih terpajang.


Parfumnya bahkan masih tercium jelas, aku duduk di pinggiran kasur. Aku mengedarkan pandanganku, mataku terasa panas.


"Kau meninggalkan kamar ini dan memilih pergi ke asrama. Kau pasti menderita sendirian" ucapku lirih. "Maaf karena aku belum sempat membalas cintamu" Aku mendongakkan kepalaku untuk mencegah air mataku jatuh. Hatiku seperti teriris, membayangkan apa yang ia rasakan selama ini.


  Aku turun dan kembali menemui Tante Dona, dan kulihat matanya sudah basah. Aku tau beliau pasti menangis lagi. Aku langsung menghampirinya dan duduk di sampingnya.


"Tante tidak apa apa kalau Sofi tinggal sendiri?" Tanyaku. Tante Dona menggeleng.


"Kau jangan sungkan sungkan untuk datang kesini ya" Tante Dona lagi lagi memelukku.


"Sofi pasti sering datang kesini kok Tan" ucapku sambil mengelus punggungnya. Setelah berpamitan, aku langsung bergegas pergi. Aku harus kembali ke kantor untuk mengantarkan kue milik om Haris.


Sesampainya di kantor, aku langsung menuju ke ruangannya om Haris. Aku mengetuk pintu dan membukanya perlahan.


"Om!" Panggilku. Aku menutup pintu lalu berjalan mendekatinya. "Tebak Sofi bawa apa?" Om Haris sedikit berfikir.


"Membawa bunga?" Om Haris menjawab asal asalan. Aku memutar bola mataku. Beliau sama sekali tidak bisa di ajak bercanda. Aku lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik.


"Tadaaa!" Seruku memberi kejutan. Tapi wajahnya masih saja datar. "Om tidak terkejut?" Tanyaku kesal.


"Karena Tante Dona sudah menelepon tadi" ucap om Haris. Aku langsung terduduk.


"Aku gagal" aku menyandarkan kepalaku di mejanya.


"Bagaimana? Apa kuenya enak?" Tanya beliau. Aku langsung menegakkan tubuhku dengan antusias.


"Enak sekali" jawabku sumringah. "Om wajib coba" aku membukakan stoples miliknya dan menyodorkannya. Om Haris mengambil satu dan melahapnya.


"Masih sama" ucap om Haris. Wajahku kembali datar.


"Ekspresinya sangat diluar dugaan" ucapku kesal.


"Tadi ada yang datang mencarimu" ucap om Haris. Aku mengerutkan dahi ku.


"Siapa?" Tanyaku. Om Haris tampak berfikir lagi.


"Namanya Arin ...."


Bersambung....